The Last Game In Love

The Last Game In Love
Minuman Favorit



Sinar mentari menusuk dinding yang berlubang, lampu kamar yang gelap membuat Sara menggeliat ke sembarang arah dan menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan yang sejak malam tadi menjadi kamar bersama suami barunya


Sara mendapati tubuh yang sedang memeluk guling tanpa baju di atas ranjang yang cukup luas. Sara tertegun mengingat malam pertama bersama Wildan suami pertamanya, tapi dia mengalihkan pandangan seolah sudah terbiasa dengan apa yang dilakukan suaminya dulu tertidur pulas tanpa mengenakan baju.


Terlebih dia tidak berharap apapun dengan pernikahannya yang sekarang, hanya sebatas balas Budi terhadap Papa mertua lebih tepatnya mantan mertua tidak lebih dan kalaupun pernikahannya kandas Sara sudah siap untuk melewati masa itu.


Sara yang dari tadi berdiam diri termenung, dikejutkan oleh alarm yang berbunyi


"Sudah jam 6, lebih baik ke dapur aku harus menyiapkan makanan"


Sara menuruni anak tangga menuju dapur, disana terdapat beberapa pelayan yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan


dimana arah dapur, aku hampir tersesat di rumah sebesar ini


kenapa membuat rumah besar kalau isinya hanya beberapa orang, bukankah itu keterlaluan


"ah ternyata aku menemukan tempat ini Bibi Meri, aku hampir saja putus asa di rumah benteng Takesi ini"


"Lalu sedang apa yang anda lakukan di dapur Takesi ini Nona??" tanya Bibi Meri yang sedang memberi bumbu masakan sambil menggoda Nona Muda barunya


"Boleh aku membantumu Bibi?"


"Tidak Usah Nona, kalau Nona membantu kami itu sama dengan Nona memberi kami kesalahan" suara Bibi Meri sedikit berbisik ditutup satu tangan


"Aku hanya membantu Bi, bukan membuat onar" gerutunya dan menyilangkan tangan di atas dada


"Oh Astaga bukan itu maksud Bibi..." belum sempat Bibi Meri menjelaskan ucapannya terdengar suara laki-laki paruh baya datang menghampiri Sara


"Kamu tidak perlu masak Ra, anggap saja ini rumahmu. Kalau kamu masak lalu apa gunanya Papa menggajinya hmm? Bibi Meri akan memakan gaji buta" ucapnya dengan senyuman hangat dari Papa mertua.


"Baiklah Pa, kalau begitu Sara akan kembali ke kamar"


Sara kembali ke kamarnya dengan hati yang hampa dari pada berdebat dengan Papa mertua, kebiasaanya di rumah mertuanya itu membuat badannya pegal karena sama sekali tidak boleh melakukan apapun dan itu baru setengah hari belum sebulan dua bulan.


Menyusuri anak tangga yang lumayan tinggi sambil dipegangnya gagang gelas berisikan Latte minuman favorit. Sara meletakkan gelas itu di depan kaca rias yang cukup besar.


Dilihatnya Juna masih tertidur lelap dengan tubuh kekar sedikit berkeringat karena terkena sinar matahari.


"Lebih baik aku mandi dulu" gumam Sara mengambil beberapa baju gantinya di lemari


Astaga bahkan pakaian dalam untukku tersedia, benar-benar sangat kumplit lemari ini bahkan aku tidak pernah memberi tahu ukurannya tapi semua terlihat pas.


Suara percikan air yang jatuh dari shower membuat mata Juna terbuka, dia melihat ke arah sofa wanita yang telah menjadi istrinya tidak ada, menandakan bahwa yang berada didalam kamar mandi adalah istrinya.


****


epilog


Malam menunjukkan pukul 2, Juna baru pulang dari acara party, merasa lelah setelah bercengkrama Juna membuka pintu kamar melihat ada gundukan badan tutupi selimut hanya menyisakan bagian rambut.


hm kau tau diri juga, baguslah tanpa aku suruh kau menyadari posisi mu


***


Juna berjalan membuka jendela balkon kamarnya, ia melihat ada segelas Latte yang masih panas. Tanpa berpikir panjang Juna meminum Latte tersebut dengan nikmat.


Beberapa menit berlalu, Sara keluar dengan baju santai, kepalanya tergulung handuk putih hendak meminum Latte yang tadi sempat ia bawa dari dapur


Tangannya mengangkat gelas yang sudah tidak berisi wajahnya terheran


Siapa yang meminum Latte ku


"Apa kau juga mau?" Tanya Juna yang dari tadi menajamkan matanya pada Sara


"Ya jelas untuk siapa lagi Bibi Meri membuatkannya" jawab Juna tanpa bersalah karena pikirannya Latte itu untuknya yang dibuatkan oleh Bibi Meri


"Baiklah tuan" Sara hanya pasrah dan berjalan dan duduk di depan kaca rias


dasar tidak tahu malu, Latte itu milikku bahkan ada bekas bibir ku yang tertinggal disana


"Kau hanya punya gelar istri saja, kita orang asing dan saya harap kau tidak melakukan hal yang lebih, jaga jarak diantara kita, jangan sentuh barang pribadi dan jangan banyak bertanya" Nada ancaman yang keluar dari mulut Juna membuat Sara membalikan badan melihat sorot mata Juna yang seakan membencinya


"Saya tahu tanpa harus anda jelaskan Tuan, dan entah sampai kapan kita bertahan saya harap Tuan mengakhirinya dengan baik" ucap Sara dengan penuh ketegaran meskipun ada sayatan yang menggores hatinya begitu dalam, bukan tidak mau berpisah melainkan meratapi nasibnya


"Bagus, Kau cukup pintar"


Sara meneruskan merapihkan rambut panjangnya yang basah tanpa terganggu oleh keberadaan Juna, kehidupan mereka tidak jauh seperti jin dan manusia. Sama-sama hidup tanpa melihat satu sama lain, bedanya hanya mana yang Jin dan Manusia.


"Dan sekarang semua orang tahu kau adalah istriku jadi jangan membuat noda pada namaku, berbuat baiklah dihadapan orang aku tidak mau citraku menjadi jelek dihadapan Media"


"Iya Tuan Muda Arjuna Hutomo" Sara memutar kepala menatap Juna yang berada di belakangnya, Laki-laki itu seakan syok melihat wajah Sara yang menyeringai berseri mengiyakan perintah yang barusan.


Juna memegang gagang pintu kamar mandi masih mengernyitkan keningnya, tanpa habis pikir Sara yang dari tadi terlihat pendiam dan menuruti semua ucapannya bisa bersikap seperti itu. Ia masuk dan mengusap bulu kuduk nya yang berdiri seram.


Wanita macam apa dia, tersenyum pun aku merasa takut


Sara hanya memandang laki-laki yang menjadi suaminya itu memasuki kamar mandi dengan wajah aneh.


Setelah meminum Latte tanpa dosa, Sara memandang gelas yang kosong dan membawanya ke dapur


"Memang perhatian Nona ini, belum sempat Bibi memberitahu, Nona sudah membawakan Latte kepada Tuan Muda"


" Hah siapa? Tidak bukan seperti itu" Sara bingung bagaimana menjelaskan pada Bibi Meri sementara kalau dijelaskan akan menimbulkan pertanyaan aneh


"Nona memang bisa menjadi penjinak Singa, buktinya minuman favorit Tuan Muda pun Nona mengetahuinya sebelum Bibi memberi tahu" ucap Bibi Meri menggoda Sara yang kebingungan


Apa? Jadi ini minuman favoritnya?


Oh tuhan haruskah aku mengganti minuman favorit ku? ini hanya kebetulan yang sangat aneh


"Bibi Meri bisa saja, ini hanya kebetulan tidak lebih" Jelas Sara hanya itu yang dapat Ia katakan


"Nona Tahu, mitos mengatakan kalau jodoh itu pasti ada kemiripan satu sama lain entah itu sama-sama penyuka makanan atau minuman tertentu, bahkan itu sudah dibuktikan oleh beberapa pasang pengantin.


Dan semoga Nona selalu menjadi Jodoh Tuan Muda." Bibi Meri tersenyum lebar sendirian


Semantara Sara hanya tersenyum pasi, mendengar penjelasan Bibi Meri yang membuatnya merinding sebelum berpikir jauh.


***


Hallo para reader...


Tinggalkan jejak setelah membaca yah


Like


Komen positif


Vote nya juga


Biar apa? Biar Author semangat menulis kisah ini


Terimakasih


Love You All ❤️❤️❤️