The Last Game In Love

The Last Game In Love
Insomnia



Setelah Juna pulang dari kantor, Sara menyiapkan apa yang menjadi kebutuhan suaminya seperti menyiapkan segala hal yang pernah di ceritakan Bibi Meri. Sara berusaha menjalankan itu semua tanpa beban.


Juna menerima pelayanan dari istrinya ya lumayanlah seperti ada pelayanan khusus yang dia dapatkan dari pernikahan yang tidak ia kehendaki ini.


Seperti biasa, setelah makan malam bersama Juna akan melanjutkan membaca pekerjaannya yang belum sempat ia lakukan di kantor, sementara Sara ia sudah merasa mengantuk dari sore. Karena banyak sekali pelanggan yang datang membuat tubuhnya merasa lelah.


Cafe nya cukup populer dengan gaya kekinian sehingga yang pernah datang akan berlangganan, yang pernah mencoba Kopi pasti akan kembali.


"Tuan apa aku boleh tidur duluan?" Tanya Sara sambil meletakan segelas coklat hangat di atas meja yang dipesan Juna pada Bibi Meri


"Terserah" tanpa menoleh sedikit pun masih fokus membaca lembaran berkas dibaluti map berwarna biru.


ah syukurlah aku sangat lelah sekali


Setelah mengucapkan terimakasih Sara mendekati sofa membaringkan dan menutupi tubuh yang merasakan angin malam masuk menyeruak ke segala arah karena Juna membaca di sofa balkon membuka pintunya.


Tidak lama Sara memejamkan mata dan terlelap, kehangatan dari selimut tebal yang menutupi hampir semua badannya menambah pulas dengan mimpi mimpi yang tak menentu.


Malam dengan udara dingin Juna menatap seseorang yang berada di dalam gulungan selimut di atas Sofa sedang meringkuk


"Sungguh aneh, kenapa Ayah menjodohkan dengan wanita seperti dia tidak ada istimewa nya sama sekali"


Memang penampilan Sara sangat biasa dan jauh berbeda dengan Angel. Rambutnya yang terurai biasa atau di ikat, polesan wajah kadang tanpa bedak dan lipstika. Sara melakukan semua itu bukan tidak mau berdandan melainkan setelah ditinggal Wildan, dirinya merasa was-was jika suatu saat ada laki-laki yang tergoda oleh paras cantiknya.


Tatapan mata masih memandang gulungan selimut itu, tanpa sadar tubuhnya mendekat dan menjongkokkan tubuh menyibakkan rambut yang panjang menutupi wajah istrinya.


Bibir merah dan tipis tanpa polesan, matanya bundar sedikit sipit yang terus dipandang Juna tanpa henti tapi bukan karena suka.


"Sayang, jangan lakukan itu?"


Juna terkejut dengan apa yang dikatakan Sara.


"Suamiku...." ucapnya lagi seraya mengangkat tangannya mengarah pada posisi Juna sekarang dan mendaratkan di pipinya yang bersih


Juna berdiri setelah melepas tangan istrinya secara pelan sambil menghela nafas perlahan membuangnya takut yang tertidur membuka mata, ternyata Sara hanya ngelantur. Hatinya lega.


"Wanita yang aneh, jelek dan dekil"


Bagaimana bisa suami pertamanya bisa jatuh cinta dengan gadis seperti ini


Ia kembali berkutat di sofa balkon kamarnya ditemani laptop dan beberapa dokumen penting.


Malam hening hanya terdengar suara mesin mobil di luaran sana, tepat pukul 1.30 dini hari, entah kenapa malam ini ia tidak bisa memejamkan mata meskipun sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur, sudah kebiasaan jika terlalu lelah dan banyak pikiran Juna jadi Insomnia.


Karena terlalu lama berada di balkon, Juna keluar kamar dan turun kebawah mengambil Latte. Tidak ada pelayanan semuanya sudah tertidur pulas jadi Juna mengambil sendiri apa yang dia inginkan, Ya meskipun seorang Tuan Muda tapi sedikit ada rasa kasihan pada para pelayan yang melayaninya secara optimal.


Menaiki anak tangga dan melewati beberapa kamar di lantai atas, tiba-tiba suara Wanita paruh baya membuat Juna menghentikan langkah kaki bersama Latte di tangannya.


"Kamu pasti lelah nak, apa perempuan itu mengganggu pikiranmu?" tanya Mama Mona siapa lagi kalau bukan dia yang tahu kalau putranya tidak bisa tertidur pertanda ada sesuatu di pikirannya


"Bukan, hanya masalah di kantor Mah" ucapnya dengan penuh kehangatan, ia takut membuat ibunya merasa cemas


"Mama mau tanya Jun, berapa lama kamu akan bersamanya?"


"Sekitar 6 bulan, nanti Juna membutuhkan dia untuk bernegosiasi dengan istri dari pengusaha perhiasan syaratnya jika Juna membawa seseorang yang bisa membuat istrinya nyaman, suaminya akan menandatangani kontrak, dan di bulan ke enam Juna akan mengajaknya ke pesta Angela"


"Mama setuju, jangan terlalu lama Mama tidak suka dengan dia" belaian tangan Mona menyentuh bahu tangan Juna yang kekar


Dari perbincangan antara Juna dan Mama Mona tanpa tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengar semua pembicaraan, wajahnya memucat dan gemetar seolah ingin marah tapi tidak bisa meluapkan amarahnya, ia hanya bisa menyandarkan bahu dan kepala di atas permukaan pintu.


Terdengar suara langkah kaki yang menghampiri kamar, Sara terperanjat kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan suara nafas masih tidak bisa diatur pelan.


sehina itukah diriku tuan?


saya akan lakukan selama 6 bulan dengan akting yang baik juga tuan


jangan harap anda dan Mama bisa membuang saya seenaknya, setidaknya akan ada rasa kehilangan diantara kalian.


dan kita sama-sama tersakiti


saya dengan misi pribadi tuan


dan anda dengan misi pribadi saya


Sara bergumam dalam hatinya, seolah dia akan berusaha membuat Mama mertua menjadi sayang dan suaminya menjadi jatuh cinta padanya. Dia merencanakan sesuatu untuk itu semua


Hanya untuk balas dendam bukan untuk benar-benar saling cinta, itu tujuan Sara setelah ia mengetahui niat buruk Juna yang hanya memanfaatkan dirinya untuk urusan bisnis dan percintaannya. Kejam kata itu mewakili kata dari niat buruk suaminya.


Malam menjalang pagi, Juna tidak bisa memejamkan mata sama sekali, sudah beberapa buku yang dia baca di atas ranjang. Sementara Sara juga tidak bisa memejamkan matanya kembali setelah mendengar rencana semuanya, seolah hatinya terganggu akan hal itu.


aku pegal sekali, atau aku pura-pura ke kamar mandi?


Dilihatnya jam menunjukkan pukul 3 dini hari Sara pura-pura bangun pergi ke kamar mandi dan berdiam diri disana cukup lama


tok tok tok


"Apa kau tidur disana? cepatlah keluar"


Suara pintu mengejutkan Sara yang sedang berdiri di atas cermin, lalu membuka pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam


"Maaf Tuan"


"Lama sekali, apa yang kau lakukan didalam sana huh?"


"Saya hanya buang air Tuan dan sedikit mengantuk" senyum kecut Sara memberi alasan yang tidak logis, Dia terlalu gugup karena sedari tadi yang dilakukannya adalah melamun dan membayangkan apa yang akan dia lakukan hari esok untuk Misi hidupnya menjadi istri.


Kembali membaringkan tubuh dan telentang dilihat atap yang menjulang tinggi, melirik kasur yang ditempati Juna


Lalu apa yang dia lakukan dengan tumpukkan buku disana? apa dia tidak tidur? ternyata Singa juga bisa Insomnia haha


***


Jangan Lupa untuk para Reader tinggalkan jejak nya yah


Like, Komen positif, dan Vote


Supaya Author bisa semangat menulis


Thank You