The Last Game In Love

The Last Game In Love
Hari Bahagia



Siang hari,,,


Sara kembali memeluk bantal panjang dan menggulingkan tubuhnya di atas kasur setelah membersihkan diri didalam kamar mandi, rasanya siang ini begitu panas diluar sana ditambah kalang kabut orang sedang mendekorasi bagian yang belum terlihat rapi.


Pernikahan, Ya perayaan yang akan dilaksanakan esok hari membuat Sara tidak sabar menunggu dan melewati hari terakhirnya menjadi seorang gadis yabg sebentar lagi berubah menjadi seorang istri dari seorang Lelaki yang dicintainya.


Garden Party menjadi tema pernikahan dengan Wildan kekasihnya.


"ah seperti ini rasanya berdebar akan menikah, aneh sih harusnya aku punya teman supaya menemaniku saat ini"


Ucap Sara dibalik guling yang dipeluknya


Halaman luas dipenuhi bunga segar dan berbagai hiasan menambah kesan elegan dan mewah. Ikhsan tidak mau memberikan pesta sederhana untuk putri semata wayangnya apalagi Wildan calon menantu merupakan pebisnis yang cukup hebat.


Sara termasuk gadis supel yang periang, baik hati, dan semua orang menyukainya. Mirip dengan mendiang Pamela, beliau Ibu yang melahirkan Sara, namun sayang beliau tidak bisa membesarkan Sara kecil karena saat melahirkan Sara, Pamela menghembuskan nafas terakhirnya.


"Sayang bangunlah, calon pengantin mengurung diri sendirian tidak baik, keluarlah Tante membawakan sesuatu untukmu!"


Terdengar suara perempuan yang tidak asing. Dia Tante Wulan dengan suara cemprengnya menggelegar dibalik pintu kamar.


Ceklek suara pintu dibuka, senyum seorang wanita kisaran usia sepertiga abad menjinjing gaun pengantin berwarna putih gading yang dibungkus godibag plastik bening di bawa ke tengah kamar.


"Cobalah, barusan Tante menerima baju ini dari Wildan" Titah Tante Wulan seraya mengeluarkan isi godibag seolah tidak sabar ingin segera melihat keponakannya memakai gaun pengantin.


"Kenapa Tante tidak memberitahu aku kalau Wildan datang ke rumah" gerutu Sara dengan wajah tertekuk, tangannya dilipat di atas dada


"Bukan Wildan, tapi asistennya Ra. Besok kalian akan menikah mana mungkin Dia datang kesini. Dari dulu memang kamu yang tidak sabar untuk menikah" suara tawa meledek Tante Wulan membuat Sara mengambil gaun dengan cepat masuk ke kamar mandi


"Jangan marah nanti gaunnya rusak sayang, pakailah sekarang Tante akan memotret mu"


teriak Tante Wulan yang tengah melirik keponakannya yang jalan terburu-buru. Handphone ditangan Tante Wulan sudah siap untuk mengambil foto


"Cantik sekali anakmu bang" Wulan memuji anak gadis yang ada di hadapannya itu, dan melihat ke arah pintu seseorang sedang berdiri memperhatikan apa yang sedang terjadi


"Apa aku terlihat gemuk? ini semua salah Tante kenapa suka memberiku makanan manis"


Memutar-mutar tubuhnya didepan cermin


Tante Wulan mendekat dan berdiri di belakang Sara


"Kau tetap terlihat cantik dan sempurna"


Pujinya


"Tuh kan, Tante mengakuinya meskipun dengan kata yang lembut" Mulutnya manyun


"Wulan, kau selalu menggodanya lihat wajahnya sudah seperti tomat"


Ikhsan sangat menyayangi putrinya apalagi mengingat sang istri meninggal disaat Sara baru berusia satu hari, Ikhsan menyuruh adiknya yang bernawa Wulan untuk menggantikan peran seorang Ibu, beliau tidak mau menikah lagi dan memberinya Ibu sambung atau Ibu tiri, Ia takut terjadi sesuatu dimasa depan anaknya.


Cukup Wulan saja yang menggantikan Pamela, Adik satu-satunya ini mampu diandalkan.


.


.


.


.


.