
Lampu malam terpancar di setiap halaman rumah, bunga anggrek mulai tercium wanginya merebak masuk ke hidung milik gadis yang sedang duduk di kursi pekarangan rumah sambil meminum minuman favoritnya apalagi kalau bukan Latte.
Suasana malam sedang tidak dingin, langit bertaburan bintang dan satelit bumi sedang memancarkan auranya menerangi malam yang gelap. Alasan yang membuat Sara duduk di luar hanya dibaluti baju piyama berwarna hitam polet putih dipinggiran baju. Ditemani majalah lama yang terbuka pada halaman bisnis & entertainment terpampang jelas gambar suaminya bersama Angela sedang merangkul mesra.
"Sangat serasi, 3 tahun yang lalu mungkin Dia bahagia bersama istrinya, sama hal nya denganku yang bahagia bersama Wildan" Sara memberi komentar atas apa yang sedang dilihatnya, membuka lembaran selanjutnya yang menceritakan pernikahan mereka.
Perasaanya saat itu bukan cemburu, Sara hanya menerawang kebahagian yang dialami oleh suaminya bersama wanita yang dia temui tadi siang.
"Pasangan Ideal" Ucap Sara melihat foto pernikahan didalam majalah tersebut jelas terdengar oleh Sam, keberadaanya tidak Sara ketahui sekretaris itu muncul secara tiba-tiba
***
Pesan singkat telah dikirim
*Sam bawakan dokumen yang akan dilaksanakan Minggu depan ke rumah malam ini. ~Juna
Baik Tuan ~ Sam*
***
"Apakah Nona sedang cemburu?" Sam mengagetkan Sara yang sedang mengomentari isi dari lembaran yang terpampang jelas wajah suaminya.
"Sam, Kau mengagetkanku. Kenapa aku harus cemburu pada masa lalu!" Lembaran itu kemudian ditutupnya dan meletakkannya majalah tepat di samping minumannya
"Benar juga, Nona terlihat begitu santai. Apakah Nona tidak takut jika Tuan Muda berpaling?" pertanyaannya seolah memancing apa yang sedang dipikirkan oleh Sara saat ini
"Tanpa aku jawab seharusnya kamu sudah tahu Sam, aku yakin apa yang terjadi pada Suamiku dan pernikahan kami hampir 90 persen kau mengetahuinya bukan?"
Ucapan Sara memang benar, termasuk hubungan pernikahan Juna dan Sara, Sam mengetahui itu semua. Senyum kecil terlintas di bibir Sara yang memandang sekretaris suaminya berdiri memasukan tangan di saku celana berwarna hitam.
"Apa kau sudah menikah Sam?" kepalanya mendongak menanti jawaban dari Sam
Kenapa Nona bertanya seperti itu, seolah sedang mengejekku
"Ah seharusnya aku tahu, kamu belum menikah" sambung dengan bibirnya melengkung senyum nya lebar, kepalanya kembali menunduk
"Apa Nona sedang mengejek saya?" Tangannya sambil menggaruk tengkuknya
"Tidak, maksudku jika kau sudah menikah setidaknya istrimu bisa menjadi teman bagiku" imbuhnya sambil menengadah melihat bintang di atas sana
"Aku belum menikah Nona, Wanita yang aku incar sudah menikah dengan orang lain" Kepala Sam ikut menengadah keatas, tubuhnya masih berdiri tegap, entah dari mana keberanian Sam untuk mencurahkan isi hati didepan wanita yang sudah bersuami, bahkan Suaminya itu adalah Bos nya sendiri
"Ah payah, perempuan mana yang tidak mau denganmu. Kenapa bisa direbut orang lain sih Sam" Tatapannya berbalik melihat Sam yang masih menengadah, suaranya sedikit tertawa seolah tidak percaya
Termasuk anda Nona? Jika bukan Tuan Juna mungkin Saja saya akan merebut mu
"Tidak payah Nona, justru saya menunggu dia menjanda" Ucap Sam dengan serius
"Penantian yang panjang Sam. semoga kau mendapatkan jodoh yang terbaik"
"Semoga perempuan itu seperti Nona" Canda Sam penuh dengan gurauan supaya tidak terlihat bahwa dia begitu sangat menyukai wanita di depannya. Dalam diam Sam memandang wanita dihadapannya jika tidak bersuami mungkin saat itu Sam akan mengungkapkan cinta dan memeluknya.
Suasana menjadi hening, angin malam semakin menggebu, sama seperti seseorang yang sedang melihat kedekatan sekretaris dan istrinya.
"Mau berapa lama kau akan berbincang dengan istri orang Sam"
Suara setengah berteriak mengubah keheningan malam jadi mencekam, sorot mata yang tidak suka membuat Sam menjadi serba salah
"Maaf Tuan, Saya permisi pulang" Akhirnya Sam pamit dan meninggalkan mereka berdua dalam keheningan, hanya itu yang bisa menjernihkan suasana
Sara berdiri terpaku melihat sosok yang ada di depannya. Rasa takut menyelimuti hatinya seolah terpergoki selingkuh dengan laki-laki lain.
"Dan kamu perempuan kucel, MASUK" bentak Juna dengan wajah merahnya
Tubuh kekar dan tinggi meninggalkan Sara lebih dahulu, langkahnya lebar dan sedikit cepat,
Aww....
Seketika membalikkan badan mendengar suara kesakitan membuat Juna kembali memandang ke arah belakanh dan melihat kondisi istrinya setengah terkejut, namun Sara terlihat baik-baik saja. Niatnya yang akan menolong terhenti ternyata tidak terjadi sesuatu. Kembali berjalan memasuki rumah dan rasa penasaran menghantuinya dengan cepat membalikkan tubuhnya memutar pandangan di dapati Sara sedang mengambil sesuatu di telapak kakinya.
Aww Suara itu terdengar lebih jelas, Juna langsung berlari mendekati Sara yang kesakitan
"Awas, tanganmu akan terluka" Juna menyibakkan tangan Sara yang berusaha mengambil dahan tumbuhan putri malu yang menancap di kakinya. Perlahan Juna mencabut dahan itu dengan sangat hati-hati terlihat telapak kakinya yang putih menjadi memerah.
"Kenapa begitu ceroboh huh? pakai alas kaki jika keluar sangat merepotkan" Nada suara Juna masih terdengar marah ditelinga Sara namun sebenarnya Juna memberikan nada rasa khawatir melihat istri terluka kedua kali dihadapannya setelah hipotermia malam itu.
"Apa Tuan sedang Cemburu?"
Sara bertanya dengan berani setengah nada takut, posisi Sara duduk di atas kursi dan Juna berada dibawah sambil jongkok mencabut sisa sisa duri yang menempel di telapak kaki istrinya.
Kepala Juna mendongak melihat wajah Sara yang tersorot lampu malam halaman yang tidak terlalu terang, Juna ikut duduk di sebelah tubuh sara yang sedikit takut dengannya. Ya Sara takut Juna marah setelah pertanyaannya tadi.
"Jangan harap aku cemburu atas kedekatan mu pada Sam" Jawab Juna ketus, kaki kanannya menopang kaki kiri, tangannya menyilang di atas dada
"Ah tentu Tuan, Saya juga tidak bermaksud seperti itu. Maksud saya apa anda sedang cemburu atas apa yang terjadi tadi siang di Cafe? jadi kami kena imbasnya" Sara memberi alibi supaya tidak terlihat bahwa pertanyaan yang tadi memang tentang dirinya dan Sam sehingga menduga suaminya cemburu.
Juna memutar kepalanya yang tadinya fokus memejamkan mata merasakan angin malam, sekarang sedang menatap lekat wajah gadis yang menjadi istrinya. Dan tatapan itu saling pandang, Juna melihat setiap apa yang ada di hadapannya rambut Sara yang lurus dan ujung rambut bergelombang, matanya yang bulat tapi terlihat sedikit sipit, hidungnya yang mancung dan turun melihat bibirnya yang merah seakan menggoda Juna yang sejak lama tidak ia lakukan.
Sejak Juna menatapnya, Sara dari tadi mengerutkan dahi, seakan tahu alur yang akan terjadi tubuhnya kaku saat Juna mendekatkan wajahnya, semakin dekat Sara memejamkan mata dan mencondongkan tubuhnya ke belakang. Namun dengan cepat Juna meraih tengkuk Sara yang menjauh
Cup... terjadilah peristiwa yang sangat mendebarkan.
Juna mencium bibir merah Sara yang dari tadi menggodanya, Dia melupakan tentang perjanjian tidak akan menyentuh istrinya, apalagi Sara yang berubah menjadi menggiurkan memurutnya. Lama-lama ciuman itu semakin mengingatkan mereka pada masa lalu. Semakin dalam Juna mencium Sara, semakin Sara mengingat mantan suaminya yang telah tiada.
Berbeda dengan Sara, Juna yang tengah mencium bibir istri nya itu mengingat luka dalam yang pernah diberi oleh mantan istrinya. Semakin dalam Juna mencium semakin merasakan sesak namun ia menyadari perempuan yang sedang ia sentuh adalah istri barunya Sara bukan Angela, dan lamunan itu buyar menjadi ciuman yang penuh cinta dari Juna. Tanpa Sadar Juna sudah terperdaya dan mulai memberi hatinya kepada Sara.
Juna melepaskan ciumannya setelah menyadari ada aliran air mata menyapu pipinya, Dia menyadari bahwa hanya dirinya yang menaruh hati, sementara istri nya menangis karena mengingat Suaminya masih belum bisa menerima posisinya sebagai suami.
"Lupakan, maafkan aku."
Tubuh yang baru saja mendekap pergi begitu saja meninggalkan Sara setelah mengucapkan kalimat maaf. Malam kembali sunyi, lampu malam menjadi saksi apa yang barusan telah terjadi, suara angin dan hewan malam menjadi aksesoris keheningan malam.
Sara kembali menangis, meminta maaf dalam hati kepada Wildan yang dikira mengetahui perbuatan mereka.
"Sayang maafkan aku"
Kalimat itu terus terucap dari mulut Sara di halaman yang sunyi dan sepi.
***
Jadi Mas Juna udah mulai suka nihhh...
Neng Sara mah belum suka, masih belum bisa move on sih
Gimana nih para reader?
Masih setia membaca khaan?
Mohon tinggalkan jejak nya yah
Like, Komen dan Vote
Love You All ❤️❤️❤️