
Angin pagi menghembus melalui sela-sela jendela kamar yang tidak tertutup rapat, ya setiap malam selama 3 tahun jendelanya selalu tidak terkunci. Untung Saja rumahnya aman dari jangkauan maling jadi bisa leluasa membuka atau menutupnya.
Semilir angin menusuk punggungnya yang tidak tertutup selimut, Sara menutupnya kembali karena merasa masih mengantuk.
tok tok tok "Sara bangun nak, sudah siang" suara dibalik pintu membuat matanya kembali terbuka, terdengar suara laki-laki yang biasa Ia dengar
Dilihat jam di layar handphone menunjukkan pukul setengah tujuh pagi
"Astaga sudah siang tapi kenapa dingin sekali" Sara tergesa membuka pintu kamarnya yang terkunci
"Ra sudah siang tumben belum bangun apa kamu sakit nak?" tanya Ayahnya dengan penuh khawatir.
"Tidak ayah, suasana pagi ini membuatku tarik selimut lagi, ingin rasanya aku tidur kembali"
"Diluar hujan, Ayah akan pergi ke kantor. Tante Wulan juga sudah pulang ke rumahnya. Ayah hanya memastikan kamu baik-baik saja" Ikhsan memegang kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Oh iya, siang ini kamu kedatangan tamu di Cafe. Ayah setuju jika kamu setuju, nanti kabari Ayah selanjutnya bagaimana ya"
Sara hanya mengangguk menurut saja apa yang dikatakan Ayahnya, seolah paham maksud dan tujuan pembicaraannya mengarah ke perjodohan yang dilakukan oleh mantan mertuanya.
"Ayah harap kamu memberikan kabar yang membahagiakan kami" suara Ayah ikhsan kembali terdengar setelah membalikkan tubuhnya dan memberi senyuman
"Mending aku tidur lagi, aaahh hujan ini membuatku selalu nyaman ditempat tidur" Sara bicara sendiri menuju kasur yang melambai lambai sejak dari tadi
***
Ditempat Lain Juna sudah dengan pakaiannya kerja Kemeja berwarna merah maroon dibalut rompi dan jas berwarna hitam yang rapi dan stylist, dasi yang melingkar di leher berwarna senada dengan kemeja terlihat menambah kesan tampan dengan karismanya yang tidak bisa ditutupi. Juna sudah siap pergi ke kantor Jaya Group
Keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah, Juna terheran melihat meja makan yang siap dengan hidangannya
"Sarapannya sudah siap Tuan Muda" Pelayan memundurkan kursi yang akan di duduki Juna
"Apa menu hari ini?" tanya Juna sembari duduk di kursi
"Sandwich dan susu hangat Tuan"
Baru saja Juna akan memulai sarapannya, terdengar suara mobil yang masuk di garasi, Juna memulai sarapannya tanpa menghiraukan Sam sudah datang menjemputnya
Karena pelayan tadi memberitahu Sam bahwa Tuan mudanya baru saja sarapan, akhirnya Sam masuk dan duduk bersama di meja makan
"Sarapanlah dulu" Titah Juna
"Silahkan Tuan, Saya sudah sarapan di Apartemen"
Juna hanya menganggukkan kepalanya.
"Tuan boleh kah saya bertanya sesuatu diluar pekerjaan?"
"Tanyalah, hanya satu pertanyaan"
"Apakah Tuan mengenal Istri dari Mendiang sahabat anda Wildan?"
"Tidak, kenapa? apa kau menyukainya?"
Sam tidak menjawab, tanpa memperdulikan jawaban Sekretaris nya itu Juna pun keluar dan masuk kedalam mobil yang terparkir lurus dengan pintu keluar, disusul Sam dengan hati bahagia tanpa alasan
Pantas dingin diluar hujan cukup deras gumam Juna merapihkan Jas nya
***
Di Cafe
Siang hari...
Hujan masih turun membasahi tanah yang lama kelamaan airnya menggenang dipermukaan jalan, Sara datang dan membersihkan sisa percikan air hujan yang menempel di rambut lebat indahnya itu.
"Nona ada tamu yang mencari mu" salah satu pelayan Cafe menghampiri Sara dan memberi tisu
"Aku akan keringkan rambutku dulu, tolong ambilkan Hairdryer ke ruangan ku"
epilog
"Sam, kita ke kantor kemudian makan siang di ke Cafe Kopi saja ada seseorang yang harus aku temui"
"Baik Tuan"
(Kesempatan emas bisa bertemu dengan nona itu lagi, sepagi ini ah senang sekali mungkin ini jodoh) Sam tersenyum bahagia mengingat Nona yang sudah dua kali dia temui dan ini yang ke tiga kalinya
***
Dia pria itu? yang mana ya?
Semoga bukan orang yang pernah memakiku
Dengan sedikit keberanian Sara memperkenalkan diri
"Selamat Siang Tuan, perkenalkan saya Sara Insani atau panggil saya Sara" Sara datang setelah merapikan tubuhnya yang tadi terlihat lusuh, uluran tangan nya yang tidak sedikitpun mendapat balasan
"Oh kamu, duduklah aku tidak memiliki banyak waktu"
Seenaknya saja di Cafe ku berlaga seolah Cafe ini miliknya, memang siapa dia
kenapa Papah memilihkan ku laki-laki seperti ini, kenapa tidak yang di sebelahnya saja
"Anda tidak mendengar Nona? Oh astaga kenapa Papah menjodohkan ku dengan perempuan tuli" Juna menyilangkan tangannya di atas perut rata dan kekar wajahnya melengos memandang ke lain arah dan melihat kembali wajah gadis dengan tatapan terheran
Sara tersentak mendengar perkataan yang keluar dari mulut Juna
"Bisa pelankan suara anda Tuan, Saya tidak mau ada keributan yang mengganggu pelanggan lain" pintanya dengan nada rendah
"Apa yang menjadi alasanmu menjanda?"
Tanpa basa basi Juna melempar pertanyaan pertama
"Suami saya meninggal"
"Baguslah, setidaknya tidak akan ada masalah kedepannya"
"Maaf tuan, Tuan sendiri kenapa menduda?" tanya Sara juga penasaran
"Itu bukan urusanmu, kita hanya perlu berkomitmen dengan pernikahan ini. selama kau menjadi istriku tugasmu hanya menuruti perintahku"
Deg... Sam yang duduk bersebelahan dari tempat Juna dan Sara merasa terkejut, ternyata wanita yang jadi incarannya adalah yang di jodohkan Tuan besar, tangannya mengepal tak bertuan. Sam marah atas takdir, kenapa saingannya adalah Bos nya sendiri.
Andai waktu bisa berputar mungkin saja Sam akan menikung takdir yang membuat dirinya merasa kecewa.
"Baiklah kita berkomitmen, saya harap Tuan mengabulkan permintaan saya setelah menikah nanti"
"Sebutkan hanya satu saya tidak suka dengan banyak syarat"
"Saya hanya meminta jangan larang saya pergi di hari Jumat dan Pergi ke Cafe"
"Baiklah itu hal yang mudah" Juna beranjak dari duduknya.
"Anda tidak akan marah jika saya mendatangi makam mantan suami saya"
"Aku tidak akan peduli"
Sara kaget mendengar persetujuan Juna
kenapa dia menyetujui itu semua?
padahal 7 calon sebelumnya melarang akan hal ini dan mereka membagalkan perjodohan, tapi kenapa laki-laki ini malah seperti ini
Akhir dari obrolan hari itu menentukan kapan mereka akan menikah, meskipun Sara tahu pernikahannya hanya sebatas status, karena dengan status tersebut Sara bisa membalas Budi san kebaikan Papa Mertua dan Juna lah yang paling diuntungkan dan hanya dia yang tahu.
Ada hati yang terluka, Dia Samuel, berharap akan berkenalan dan mendekati Sara namun apa daya ternyata perempuan itu telah menjadi Jodoh Tuan Muda, kekesalan Sam bukan hanya disana. Sam merasa kasihan pada Sara yang dijadikan mainan saja. Berandai jika Sam di posisi Juna, Dia tidak akan melalukan hal seperti itu.
***
Hallo para reader....😊
Gimana setelah membaca beberapa episode???☺️
Tinggalkan komen yang positif ya🤗
Jangan lupa dukung Author supaya lebih bersemangat lagi dengan cara Like, Komen dan Vote👌
Karena itu penting bagi Kami.
Semoga diganti dengan rejeki yang berlimpah Aamiin...
Love You All ....... ❤️❤️❤️