
Kabar Juna yang menanggapi kerjasama dengan Arya yang dipandang sederhana, akhirnya terdengar oleh Sanjaya dan menemui langsung sahabatnya itu. Mereka bersahabat sejak lama dan sampai sekarang mereka terlihat akur dan harmonis dalam setiap pertemuan.
"Maafkan anak kecilku Arya, dia tidak bisa membedakan saat kerja bersama orang lain dan yang sudah ia kenal sejak lama"
"Tidak apa-apa aku rasa cukup wajar dia masih muda dan mirip seperti mu dulu" tawa Arya yang khas membuat hati Sanjaya merasa lega
"Bagaimana kabar menantumu? sudah berapa cucu yang sudah dia berikan? ah rasanya bahagia jika aku memiliki cucu" teror pertanyaan yang cepat dari mulut Arya
"Kenapa kamu diam saja? kalau belum punya cucu juga bukan masalah Jay masih bisa di program" sambung Arya sambil tersenyum dan menepuk pundak sahabat nya itu
"Aku tidak mempublikasikan masalah yang ada dalam rumah tangga anakku, jadi wajar jika kamu tidak tahu bahwa anakku sudah bercerai dari istrinya sejak 3 tahun yang lalu" imbuhnya dengan suara mereda
"Astaga maafkan aku, aku tidak tahu dan tidak bermaksud menyindirmu Jay"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Arya, ini memang sudah jalan Juna menjadi Duda di umur nya yang terbilang muda"
"Duka kita memang sama Jay, kamu ditinggal menantumu dan aku ditinggal anakku. Tapi kejadian yang menimpa kita beda jalan, kamu bisa mencarikan Juna wanita lain sedangkan menantuku" Arya menggantung ucapannya dan meminum Kopi dan menyimpan kembali
"Menantuku sudah aku jodohkan dengan 7 laki-laki tapi baru pendekatan 2 hari pria itu langsung menyerah, entah apa yang dibuat menantuku"
"Mungkin menantumu masih mengingat Wildan dan laki-laki yang kamu jodohkan merasa keberatan" Jaya mencoba menebak
"Ya mungkin saja, tapi aku merasa kasihan padanya sekarang usianya menginjak 24 Tahun dan selama 3 tahun dia menjanda, aku takut terjadi sesuatu padanya jika tidak segera memiliki pendamping"
"Dia masih muda ternyata, Apa menantumu Wanita baik?"
"Sangat dia sangat baik, perempuan yang sangat Cantik mandiri, memiliki prinsip dan cerdas."
Sanjaya berpikir sejenak mengingat anak dan menantu sahabatnya adalah sama-sama pernah menikah, terlintas ide cemerlang yang berkeliaran di kepalanya
"Bagaimana kalau kita jodohkan menantumu itu dengan Anakku? ideal bukan menantumu usia 24 tahun dan Juna berusia 30 tahun yang paling penting mereka pernah menikah alias Duda dan janda"? Sanjaya menjentikan jari telunjuk dan jempolnya serasa memiliki ide brilian
"Kamu yakin Jay, Karena menantuku dulu benar benar cantik tapi setelah menjanda dia tidak pernah berdandan mungkinkah Juna akan mau?" tanya Arya ragu
"Kamu bilang menantumu sudah dijodohkan dengan 7 pria dan semuanya gagal? mungkin karena jodohnya si Juna anakku. Dan jangankan dulunya cantik Ar, yang dulunya jelek pun sekarang bisa berubah menjadi lebih cantik" menyeringai lebar dengan penuh harapan
Arya sejenak berpikir takut akan hal buruk terjadi
"Aku setuju, kita jodohkan menantuku dengan anakmu tapi jika itu kembali gagal dan persahabatan kita tidak akan sebaik ini Jay"
"Kali ini Dia tidak akan menolak ide ku Ar?" jawab Jaya meyakinkan hati sahabatnya
Perbincangan mereka semakin tak terarah dan gelak tawa masih terdengar kuat. Lama tidak bercanda membuat mereka menceritakan banyak hal.
Di Cafe
Sara masih pada kebiasaanya duduk di tempat khusus di Cafe miliknya sambil memainkan laptop atau meminum Latte.
Semenjak 3 tahun terakhir Sara tidak mempunyai sahabat, memang dari dulu tidak memiliki sahabat karena sahabatnya sekaligus berstatus pacar.
ting ... ting... suara pertanda pesan masuk
"nak, bisakah malam ini kamu ajak ayahmu mengunjungi rumah papa. Papa rasanya kangen pada ayahmu"
"Baik Pah"
Sara meletakkan kembali Handphone nya di atas beberapa lembar kertas penting
"tumben papa ingin bertemu Ayah" gumamnya
Sara melewati kasir dan berpamitan dengan para pegawai, karena langsung menundukan kepala mencari sesuatu di dalam tas nya ada seorang Pria yang menghalangi langkah kakinya
"Permisi tuan, anda menghalangi jalan saya"
"Oh Maafkan saya Nona, Silahkan"
Sam dan Sara saling menatap salam
"Kamu?" tunjuk Sara pada Sam
"Nona Kue" celetuk Sam tak percaya mereka bertemu
Sara sedikit terheran disebutnya Nona kue, dan dia berpikir dulu tidak sempat berkenalan setelah kejadian bos nya yang gila mendadak.
"Kamu tidak membuat onar kedua kalinya kan Tuan, mana majikanmu aku rasa kemarin dia bersamamu dan untungnya tidak buat onar lagi" Sara mengangkat bibir tipisnya
"Maaf nona, ternyata ingatan anda sangat kuat, Tuan saya ada di kantornya dan saya diperintahkan membeli Latte di Cafe ini karena Latte nya sungguh sangat enak"
"Sungguh? aku sangat bahagia sekali Tuan. lanjutkan saya mau pergi dulu" Pamit Sara memberikan senyuman pemilik Kafe kepada konsumen
"Apa nona itu Sif Siang nona?" tanya Sam pada penjaga kasir
"Perempuan yang barusan Tuan?" tanya penjaga kasir dan Sam mengangguk
" Nona Sara pemilik Cafe ini Tuan, bukan pegawai"
"ohh namanya Sara, pemilik Cafe ini, cukup berbeda setelah kepergian suaminya, apakah dia sudah menikah kembali?"
Sam bergumam pelan dan membayar pesanannya. Dia tahu Sara adalah istri Wildan Sahabat Tuan Mudanya. Namun sayang Tuan Muda yang berstatus Duda tidak mengenali Sara jadi Sam leluasa untuk lebih mengenalnya.
Sam lari mengejar Sara yang sudah masuk kedalam mobilnya
"shiitt telat, sampai jumpa lagi nona biar takdir yang mempertemukan kita" ucap Sam dengan nada rendah yang hanya bisa terdengar olehnya. Ya, Sam berniat mengenalkan dirinya namun belum ada waktu yang tepat dan pas sampai saat ini.
di rumah Sanjaya
Semenjak tahu tujuan Arya memanggil Ikhsan dan Sara, suasana menjadi canggung
"Jika itu yang terbaik, lakukanlah" ucap Ikhsan yg tak lain adalah ayah Sara
"Bagaimana Ra? mau mencoba kembali?"
tanya Arya
"Selama dia mau memiliki komitmen Sara setuju saja Pah" dengan enteng tanpa beban Sara selalu menyetujui perjodohan itu, karena lelah dengan dengan perjodohan sang mertua, Dia juga ingin membalas kebaikan mertuanya
Dilain tempat Juna telah membaca profil calon istri yang dijodohkan Papanya itu.
Perempuan yang sedang tersenyum duduk meminum segelas es lemon tergerai rambutnya tanpa polesan makeup.
"Tidak terlalu cantik, malah terlihat kucel, Cukuplah" gumamnya sambil meletakkan kembali handphone nya dengan cukup keras setelah Juna membaca pesan besok mereka akan bertemu, jadwalnya masih dalam aturan Sanjaya yang bersemangat mengenalkan dan menjodohkan mereka.
Ternyata Juna tidak mengetahui bahwa Sara adalah istri sahabatnya yang meninggal, Juna tidak banyak bertanya tentang asal-usul calon istrinya karena ada niat terselubung dari pernikahan yang akan dilakukannya kembali.
Akhirnya perjodohan kedua orangtuanya di setujui oleh anak-anak mereka.
***