The Last Game In Love

The Last Game In Love
Bertemu Mantan (Part 2)



"Karin" Ucap Juna


"Kalian sudah saling kenal? " Fery bertanya pada mereka merasa terkejut


"Iya kita teman sekolah satu kelas, selain pintar Juna jadi rebutan perempuan satu sekolah loh Om. Dan Aku yang beruntung waktu itu meski hanya sebentar" jawab Karin sambil tersenyum


*Om? Karin keponakan nya? ~ Juna


oh ternyata perempuan ini mantannya? ~ Sara*


"Benarkah dia mantanmu Karin?" Davina mencondongkan sedikit kepalanya dihadapan Karin


"sayangnya Tuan Juna sudah menikah lagi, kalau belum mungkin Tante akan menjodohkan mu dan mempunyai ponakan yang sangat tampan" kali ini tangannya menutup sebagian wajahnya merasa malu telah berani mengucapkan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut nya didepan Sara


"Menikah? Apakah kamu berpisah dengan Angela" Karin merasa terkejut karena selama 3 tahun berada di luar negeri. Mendengar menikah dengan Angela pun ia tidak rela dan kali ini Ia melewatkan Duda sang mantan yang Ia incar


"Aku sudah menikah dia istri ku namanya Sara. Sayang perkenalkan dia Karin teman sekolah ku dulu" tangannya merengkuh pinggang ramping milik istrinya yang dari tadi mencerna pembicaraan antara mereka


Suasana menjadi canggung bagi Sara, dia hanya tersenyum pasi mendengar mereka saling bertegur sapa, terlebih setelah Davina berbicara akan menjodohkan dengan Juna jika belum menikah dengannya.


Sampai acara penandatanganan kontrak selesai.


Arjuna menegakkan tubuh, membuat semua memandang kearahnya terlebih wanita yang dari tadi mencari perhatian padanya


"Baiklah, karena kontrak ini sudah saya tanda tangan saya permisi" tangannya meraih pinggang istrinya


"Kita makan dulu Tuan Juna, bukannya kalian juga baru bertemu?" Ucap Fery dengan sedikit kecewa karena Arjuna tidak mau menyantap hidanganbyang sudah Ia pesan


"Seperti nya lain kali Tuan, istriku juga kelelahan ini baru pertama kali aku mengajaknya dalam pertemuan seperti ini" tubuhnya mendekat seperti memeluk tubuhku 7B bodoh Sara membuat Karin tidak lengah melihat keromantisan yang membuat hatinya terkikis


Fery berdiri dan memberi salam perpisahan memahami Sara bukan wanita seperti Angela yang sudah terbiasa dengan jamuan seperti ini


"Baiklah Tuan, aku sangat mengerti dan selamat untuk kerjasama kita"


Perjalanan menuju kediaman mereka duduk saling menatap luar jalan, pada awalnya Sara merasa heran kenapa Juna mendadak ingin pulang dan memberi alasan atas nama dirinya padahal perempuan itu tidak merasa lelah


"Maaf kalau saya membuat acara Anda jadi tidak baik Tuan"


Sam langsung melirik dibalik spion, sesekali melihat Sara yang sedang duduk bersandar


"Bukan salahmu" Jawab dingin Juna


Mendengar jawaban yang dingin, gadis itu memutar kepalanya menatap sesaat pria yang sedang duduk di sampingnya dan kembali memandangi suasana malam di tepi jalanan yang dilintasi mobil.


Suasana hening tanpa kata, suara mesin menjadi pengisi telinga mereka.


Kauuulkkkkk.....


Oooaaakkk...


Tiba-tiba suara aneh itu muncul mengagetkan dua orang laki-laki yang sedang fokus pada pikiran mereka masing-masing


"Kau lapar Sam?" tanya Juna melepaskan tangan yang dari tadi memangku dagu


"Bukan berasal dari perut saya Tuan, sepertinya Nona menahan lapar dari tadi" diliriknya lewat spion wajah Sara yang memerah, Juna juga memandangi istrinya. Wajahnya yang sudah tertekuk dengan mata terpejam menahan rasa malu, tangannya berada di atas perut supaya tidak mengeluarkan suara aneh lagi.


Tersenyum dalam diam, Juna menyuruh Sam mampir di restoran yang biasa Ia kunjungi.


Saat mendapati gedung restoran yang mewah dan menyusui jalan yang dipinggirnya terdapat kolam ikan yang sangat cantik dengan air mancur menambah kesan alam yang ikonik.


"Sangat mewah dan menarik jika dibandingkan dengan Cafe ku mungkin hanya ujung kukunya saja"


Sara melihat kagum dan merasa beruntung bisa datang ke tempat ini bisa menjadi referensi untuk Cafe nya


"Apakah perlu saya memperbesar Cafe anda Nona?"


"Sam kau mendengar apa yang aku ucapkan?"


"Tentu Nona"


"Aku akan membuatkan jauh lebih besar daripada ini jika kau mau" meraih tangan Sara yang dari tadi menggelantung tanpa arah


Mereka meninggalkan Sam yang menghentikan langkahnya kemudian mengikuti dua orang yang menjadi Tuannya


"Ah jangan Tuan, Cafe ku cukup besar Anda tidak perlu memberiku yang lebih" Sara menolah disela perjalanan mencari tempat duduk


"Kalau tidak mau diam dan duduk jangan banyak berkomentar" dengus Juna berhenti di tempat yang biasa Ia duduki, karena sudah ada pelayan yang menyambut dan membawanya menu untuk dipesan


*Apa yang salah dari perkataan ku Tuan? anda marah tidak tahu tempat dan kondisi ~Sara


Anda cemburu Tuan? ~Sam


Kenapa aku tidak suka dengan kedekatan mereka ~Juna*


Hening menyelimuti makan malam mereka. sekitar 1 jam mereka duduk di kursi penuh dengan hidangan.


"Ini masih banyak yang tersisa Tuan, boleh aku bungkus?" tanya Sara


"Kau mau lagi? kenapa tidak pesan saja?"


"Tidak Tuan ini mubazir kalau tidak dimakan, tapi kalau dimakan kita terlalu rakus memaksakan makanan masuk sementara perut sudah kenyang" jelasnya


"Lalu?" Juna masih kebingungan dengan kata-kata dari istrinya


"Mungkin maksud Nona dia mau membungkus makanan dan memberikannya pada anak jalanan Tuan" Sam membantu menjawab


"Sam. Aku tidak bertanya padamu" Matanya sedikit melotot melihat Sam yang membantu merapikan makanan


"Betul apa yang dikatakan Sam Tuan"


Jawaban Sara membuat Juna jengah, dipandangnya makanan dan menyuruh pelayan membungkus makanan yang tersisa lalu membungkus makanan yang baru dipesan


"Aku pesan lagi, jangan memberi barang sisa" tubuhnya berlalu begitu saja meninggalkan dua orang yang masih duduk mematung memandangnya


Mereka saling melirik satu sama lain


Kau memang berbeda Nona, dibanding mantan Tuan sebelum nya