The Last Game In Love

The Last Game In Love
Kejujuran Sam



Malam itu menjadi mencekam, suara jam dinding berdetak lama sekali


Pria itu masih menahan tubuh perempuan yang membuatnya marah seperti ini


"Kau tahu aku seorang duda hm? dan aku pun juga tahu kau seorang janda muda" imbuhnya


Jarinya yang dingin dan basah menyusuri pipi lembut Sara, jarak antara mereka kian mendekat hingga mereka merasakan hembusan nafas hangat


"Aku juga tahu kau merindukan sentuhan ini"


Juna mencium aroma tubuh istrinya, Lehernya yang jenjang putih sedikit demi sedikit ia cium, tubuh gadis itu menjadi kaku ingin sekali menolak tapi takut, Ia hanya merasa merinding tak karuan


"Kau ingin melakukannya bukan?" kedua tangannya memegang pipi gadis yang sedang gemetar ketakutan akan sesuatu yang belum pernah ia lakukan bersama suaminya dulu


"Aku suamimu, aku cabut perjanjian kita waktu itu kau senang?" kedua alisnya terangkat


"Lakukanlah denganku jangan mencari laki-laki lain apalagi dengan Sam"


Tidak butuh waktu lama Juna mendarat kan ciuman pada bibir yang menggoda, Ia kehilangan akal sampai tidak bisa lagi menahan diri jika berada didekat perempuan itu.


Semakin lama semakin panas, ciuman itu berubah menjadi gigitan kecil. ******* demi ******* Juna berikan penuh dengan kelembutan. Sayangnya semua tak sejalan dengan yang dipikirkan Sara.


Gadis itu mendorong jauh tubuh suaminya, Juna tersentak gadis itu menolak Ia sentuh.


"Aku bukan wanita serendah itu Tuan"


tak terasa buliran air mata mengalir membasahi pipinya, duduk tersungkur merasa dirinya sudah dilecehkan padahal oleh suaminya sendiri.


Kembali dengan sikapnya yang dingin Juna menatap tajam istrinya yang duduk tidak jauh.


"Apakah setiap pergi ke makam selalu ada Sam?" Tanya Juna, tubuhnya tetap berdiri angkuh tidak sedikitpun merasa telah melecehkan perempuan nya.


"Ya, setiap aku ke pemakaman selalu bertemu dengan nya" tangannya mengusap mata melihat tubuh pria itu pergi menjauh meninggalkannya setelah mendapatkan jawaban


Sara mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut suaminya, Sam? Makam? apa mungkin Juna melihat mereka berdua di pemakaman?


Duduk di ruang kerja, sesekali menyesap rokok meskipun terlihat kaku memegang sebatang kertas berisi tembakau itu, karena bukan perokok Ia hanya merasa kesal dengan kejadian hari ini. Terakhirnya merokok saat pikirannya kalut mengetahui Angela mengkhianatinya. Dan kali ini terulang Ia merasa kesabarannya sedang di uji.


Aku mulai menyukaimu, namun belum juga aku memiliki seutuhnya kau bermain dengannya


Sam aku sudah percaya padamu


inikah balasan untukku?


***


Suasana hening menyelimuti ruangan Wakil Pimpinan Jaya Group, Juna duduk di sofa tangannya melipat di atas dada, kaki kanan juga menopang keatas kaki kirinya


Pikirannya masih diselimuti oleh amarah pada sekretaris nya, Sam. Namun Ia berusaha menutupi nya memberi contoh pada bawahannya masalah pribadi tidak boleh dibawa kedalam pekerjaan.


Pria itu sedang menunggu Sam yang sedang meeting bersama bawahannya.


Tidak lama Sam mengetuk pintu dan masuk, membungkuk memberi hormat kemudian Ia duduk diseberang Juna yang menunggunya.


"Sam bisakah kau mengcopy berkas ku yang ini?" setelah mengangguk berkas yang berada di atas meja diraihnya tanpa banyak pertanyaan, melangkahkan kakinya beranjak keluar namun suara Juna menahan langkahnya kembali


"Iya Tuan?" Sahut Sam membalikkan badan


"Bisakah aku meminjam Handphone mu? Handphone ku lowbat, aku ingin menghubungi Sara" pinta Juna


"Baik Tuan" Sam mengeluarkan benda pipih yang berada pada saku celananya, ada rasa aneh dan menaruh curiga karwna selama ini handphone Juna tidak pernah lowbat, namun Ia hiraukan,, Sam kembali membalikkan badan dan pergi untuk mengcopy berkas


Juna yang dari tadi penasaran pada pertanyaanya segera membuka beberapa aplikasi, tidak ada percakapan ataupun hal yang berbau perselingkuhan di dalamnya kali ini Juna merasa lega, ternyata dugaannya salah.


Namun saat dibuka galeri, matanya membulat sempurna terpampang dua keping foto istrinya saat berada di Cafe.


"Kau..." tangannya meremas handphone yang berada di genggamannya


Setelah beberapa menit Sam kembali dengan Doble berkas di tangannya, Ia menghampiri Juna yang sedang berdiri membelakangi dengan tangan melipat di atas dada melihat pemandangan kota X yang ramai dari ruangannya.


"Tuan ini berkas yang anda inginkan" Sam menaruh berkas itu di atas meja


Sontak Sam terkejut mendengar pertanyaan yang langsung menyudut.


Ia hanya diam tidak menjawab pertanyaan yang keluar dari Juna


"Harus berapa kali aku mengulang pertanyaan ku Sam?" kini badannya membalik, matanya menatap penuh penasaran


"Saya tidak memiliki hubungan apapun Tuan" Sam hanya menundukkan kepala


"Aku tidak menanyakan hal itu"


Sam berpikir keras dari tadi, dan sekarang Dia mencerna apa yang dilakukan Bosnya itu, meminjam handphone miliknya hanya untuk menyelidiki sesuatu tentangnya dan istrinya.


"Anda melihat foto Nona di handphone saya?" Pertanyaan Sam membuat Juna terperanjat


"Katakan sejak kapan kau menyukainya huh?" Nada bicaranya masih terdengar dingin tidak ada kemarahan yang keluar


"Foto itu saya ambil saat sebelum pertemuan perjodohan anda Tuan"


"Jadi kau bilang menyukainya sebelum kami menikah? dan aku menjadi orang ketiga? sungguh aneh"


" Cepat katakan Kau mencintai nya kan?"


Keheningan kembali terjadi, Samuel sangat berjasa pada perusahaan, dan juga Ayah nya dulu pernah menolong Juna dalam sebuah kecelakaan. Juna tidak bisa gegabah untuk marah pada Sam apalagi memecat. Namun kemarahan ini tidak bisa di toleran karena menyangkut perempuan yang menjadi istrinya.


"Apakah Tuan mencintai Nona?" Alih-alih memberi jawaban Sam melontarkan pertanyaan yang sama pada Juna


"Kau mulai berani menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan?"


"Jika Tuan tidak mencintai Nona, Saya siap menunggu Tuan melepaskan nya" Samemberanikan diri berbicara sejujurnya


"Kau" Juna mengambil remote untuk menutup jendela meskipun diluar sudah tidak ada lagi pegawai karena sudah pulang namun ia tetap waspada takut ada yang melihat apa yang sedang mereka lakukan.


Pintu telah terkunci jendela tertutup kini tangannya melayang dan BUUUGG sebuah pukulan mengenai dinding dekat pintu.


Tidak ada retakan disana namun terlihat ada bercak merah di sela jari tangan Arjuna.


"Katakan kenapa kau mencintainya huh?" kini amarahnya mencuat, pria itu tidak menerima bahwa sekretaris nya menyimpan perasaan yang sama.


"Nona adalah pemilik Toko Kue yang anda rusak waktu itu Tuan, mungkin anda tidak mengingatnya"


"Kemudian kami bertemu di Cafe Kopi milik Jona, saat itu belum ada perjodohan diantara Tuan dan Nona dan mungkin diantara kalian belum saling mengenal. Saya sempat menaruh hati padanya dan berniat untuk mendekatinya" sambungnya penuh dengan ketenangan. Sam tahu ini akan terjadi cepat ataupun lambat.


"Luar biasa, sungguh aku sangat berempati padamu Sam, tapi tidak jika harus merelakannya untukmu"


"Bukankah Tuan hanya membutuhkannya dalam sebuah Misi saja? Jika Nona hanya untuk menyempurnakan Misi dan disakiti lepaskan Dia"


"Lancang Kau Sam" Sebuah pukulan kini mengenai wajah Sam, tubuhnya tersungkur jatuh, tangannya memegang pipi yang terasa kebas terkena pukulan yang sangat kuat


"Aku akan mempertahankan pernikahan ini sampai kapanpun Sam"


Teriakan itu menggema mengisi langit-langit dinding Kantor Wakil Pimpinan


"Bagaimana bisa sebuah hubungan bertahan jika tidak saling memiliki" Sam berdiri tertatih


"Kau sedang menasehati ku Sam?"


"Saya hanya ingin melihat Tuan bahagia, bagaimana mungkin saya mengambil apa yang menjadi milik anda. Milikilah dia seutuhnya Tuan jangan terlalu egois dalam masalah Cinta"


"Dan ini sudah saya hapus Tuan" Sam menunjukkan foto Sara yang terhapus di galerinya


"Saya menganggap bahwa ini terakhir kali saya mengharapkan Nona, ternyata Tuan sangat dan begitu mencintainya. Dan kekhawatiran Saya tidak ada lagi, Tuan akan terus menyayanginya" sambungnya sambil menahan sakit karena ada lebam dan luka robek dibibir


Terimakasih atas kejujuran mu Sam


"Pulanglah, besok obati dulu lukamu jangan pergi ke kantor jika lukamu belum sembuh"


****