
Satu minggu telah berlalu, semua persiapan pernikahan diurus oleh Sanjaya karena merasa bahagia dirinya mendapat menantu sesuai keinginannya, beda ketika mempersiapkan pernikahan dengan Angel hatinya merasa bimbang melepas anak semata wayangnya. Pernikahan megah dan mengundang banyak kolega bisnisnya menjadi banyak perbincangan di media.
Ini pernikahan kedua untuk putranya namun ada sesosok mata yang tidak suka dengan pernikahan putranya itu siapa lagi kalau bukan Monalisa Hutomo, Mama dari Arjuna Hutomo yang selalu mendikte segala urusan pribadi anaknya itu. Namun pernikahan ini diluar kendalinya, perjodohan yang dilakukan suaminya mendadak karena dirinya masih berada diluar negeri, sehingga perannya dalam memilih menantu tidak dianggap.
Di ruang keluarga Sanjaya dipenuhi undangan yang baru saja dicetak siap dikirim ke tamu undangan, Jaya dan istrinya sedang melihat beberapa orang suruhannya merapikan undangan tersebut
"Mama tidak tahu asal usulnya Pah" ucap Monalisa dengan tatapan tajam kakinya yang dilipat diatas kaki kiri.
"Sekarang giliran Papa ya Ma, dulu Angel Mama sangat setuju tahu asal usulnya sementara Papa waktu itu sangat tidak setuju karena Juna sangat mencintainya Papah luluh dan apa yang terjadi lihatlah rumah tangga anakmu?" Jaya tersenyum meledek
"Pokonya Mama tidak setuju Pah"
"Terserah, Dia akan menjadi menantuku jangan sampai Mama mengganggunya" Jaya memberi peringatan pada istrinya dan pergi setelah menyuruh asisten pribadinya untuk datang ke ruang kerja.
Mona yang merasa diacuhkan suaminya menjatuhkan diri kembali diatas sofa setah memberi gertakan kecil, sambil memainkan handphone miliknya menyapa teman sosialita di WhatsApp Group.
***
Semantara di kediaman Sara, dia sedang memandang selebaran undangan pernikahan yang terbilang mewah, bahkan kemegahan mengalahkan pernikahan sebelumnya.
Benar, Sanjaya memang lebih kaya dari Arya.
Dengan Mata sendu Sara berdiri mengambil satu lembar undangan dan memasukan kedalam tas Selempang nya.
"Tante aku akan ke keluar, jika Ayah menanyakan aku Tante bilang saja aku ziarah ke makam Wildan dulu" Sara bersiap dan mengambil kunci mobil.
"Jangan terlalu lama sayang, ini sudah sore"
"Ya Tante"
Sara keluar garasi dan melajukan mobilnya secara perlahan, di sepanjang jalan dia hanya fokus pada arah jalan saja tanpa mengjiraukan apa yang ia lewati. Perjalanannya mungkin 30 menit dan di tengah jalan seperti biasa Sara berhenti di toko bunga membeli buket bunga mawar dan bunga untuk taburan diatas makam.
Tiba di pemakaman suaminya, matanya sudah memerah menahan air mata yang menggelayut ingin terjun tapi dengan kuat menahannya
"Apa kabar Sayang? sudah bahagiakah kamu disana? aku membawa buket bunga yang selalu kamu bawa setiap kita bertemu"
"Aku harap kamu selalu bahagia disana, dan ..." tak terasa derai air mengalir deras di pipi merah nya, yang dari tadi dia tahan ternyata tak mampu lagi bertahan
Sara menangis sesenggukan dan menahan air matanya supaya tidak terjatuh di atas pusaran
"Aku tidak bermaksud mengkhianati cinta kita, tapi aku mau membalas kebaikan Papamu sayang, dia sudah menjodohkan ku dengan 8 pria dan yang terakhir aku iyakan saja"
Sara mengusap pipinya yang dari tadi tidak mengering
"Dan kamu tau sayang, pria itu tidak jauh lebih baik darimu dari segala hal" tangisannya pecah dan membenamkan kepalanya sambil berjongkok
"Oh iya, ini undangannya sayang, lihat betapa mewahnya tapi aku tidak suka. Bukankah itu tanda keangkuhannya sayang? namanya Arjuna bahkan aku sangat membenci namanya tapi aku tahan karena betapa aku menghormati Papamu dan Ayahku." Sambungnya dengan penuh kepedihan
"Jika aku menikahinya, kemuadian sakit karena tertekan dan meninggal dunia, maka aku akan bahagia sayang mungkin aku akan bisa berjumpa denganmu" Sara mengusap dan menaburkan kelopak bunga berwarna putih
"tunggu aku sampai misi ini selesai" ucapnya dengan nada lembut, air matanya sudah bisa terkontrol
"Sayang, restui pernikahanku karena meskipun aku menikah lagi aku tidak akan pernah melupakanmu"
Sara bangkit mengusap peluh dan butiran air yang mengalir di pipinya, membalikan badan dan berlalu meninggalkan makam
Namun betapa terkejutnya Sara mendapati sesosok lelaki yang berdiri tidak jauh dari hadapannya
"Kamu lagi, sepertinya kita sering bertemu" ucap sara yang sedari tadi membersihkan sisa-sisa air matanya.
"Dan seminggu ke depan kita akan sering bertemu Nona" Sam ya dia pemuda itu yang memperhatikan Sara dari awal dia datang
"Maksud anda?" tanya Sara terheran
"Perkenalkan Nama saya Samuel, panggil saja Sam, dan saya Sekretaris tuan Juna"
"Oh My God, dari tadi anda menguntit dan mengintip saya? dan semua yang saya bicarakan akan anda laporkan? luar bisa seberapa berkuasanya bos mu itu huh?" Wajahnya yang melengos dan sebal membuat Sam semakin penasaran dengan wanita didepannya
Ya, bisa dikatakan Sam lebih dahulu luluh hatinya oleh gadis yang bernama Sara, yang nantinya wanita itu akan menjadi istri dari Bosnya
Kalaupun ia terus mencintainya dia akan menjadi perebut bini orang. Maka tidak ada jalan lain selain mengurungkan niatnya.
"Nona tenang saja, Saya tidak akan mencampuri urusan anda Nona, Permisi" Sam menundukkan kepalanya dan segera pergi.
"Laki-laki aneh apa dia menguntitku dari rumah.. hmmm tapi mungkin dia juga ziarah" pikir Sara yang positif
***
Begitu Padat jadwal Juna sehingga dia lupa untuk makan siang, kesibukan nya cukup padat karena sekretaris yang menjadi andalannya meminta izin untuk berziarah ke makam ibundanya.
"Sam, kalau kau bukan anak dari teman Papah akan ku turunkan jabatan mu" gerutu Juna tanpa menghentikan jari jemarinya memijit tombol yang ada dipermukaan laptop nya.
Suara ketukan membuyarkan suasana hening didalam kantornya itu
"Masuk"
"Tuan ada Ibu Anda" sekretaris perempuan bernama Vina memberitahu dengan sopan dan membungkukkan tubuhnya
"Biarkan dia masuk"
Monalisa masuk dengan mantel tebal, celana jeans dan syal di lehernya. datang dengan anggun meskipun usianya sudah hampir 50 tahun.
"Mama bawakan kamu makan siang Jun" tersenyum lebar dan meletakkan tempat makan di atas meja kerja Juna
"Mah, Kapan pulang?" tanya Juna yang dingin
"Kemarin Jun dan mamah datang dengan serangan jantung" ucapnya dengan serius
"Benarkah? kalau begitu Juna akan mengantar mama pergi ke dokter sekarang" ucap Juna dengan serius juga
"Tidak perlu Jun, Mama hanya jantung mama sakit setelah kamu mau menikah dengan gadis kampungan itu. Kenapa kamu mau sih Papah jodohkan dengan perempuan seperti itu?"
"Buat Permainan saja Ma, lagian tidak ada yang istimewa darinya" Juna menjawab dengan enteng dan berjalan menghampiri makanan yang telah dibawa oleh Mamanya.
"Oh syukurlah, Mama rasa jantung mama kembali sehat dan seharusnya Mama sudah tau itu" dengan senang Mona memeluk anaknya dari samping
"Mama akan gantikan menantu sesuai kriteria Mama setelah pernikahan keduamu kandas dengan perempuan rendahan itu"
"Jangan terlalu kepedean Ma, Angel juga gagal"
"Sayang kamu tidak benar benar serius dalam pernikahan inikan?" desak Mona yang meragukan niat putranya
Juna yang dari tadi memasukan makanan ke dalam mulutnya tidak menjawab.