The Last Game In Love

The Last Game In Love
Satu Ranjang



Selamat Malam manteman...


Selamat membaca saja ...


***


Setelah masuk ruangan yang menjadi kamar mereka, tidak ada kata yang keluar kecuali suara gerakan tubuh masing-masing. Disela membuka baju Juna menekan tombol telpon menghubungi seorang pelayan


"Bawakan makanan ke kamarku, kami akan makan malam disini" Titah Juna dibalik telpon seorang pelayan hanya berbicara baik Tuan dibalik telpon


Sara yang kini sedang mengambil bantal dan selimut hanya menyimak dalam diam, meletakkan apa yang Ia bawa di atas Sofa berwarna putih tempatnya tidur, duduk dan membuka benda pipih melihat pesan yang masuk dan beberapa aplikasi sosial media hanya untuk melihat saja.


Tidak lama pintu kamar terbuka, dua orang pelayan masuk membawakan makan malam disimpan di atas meja balkon kamar, mereka kembali dan berjalan melewati Sara yang sedang duduk, satu diantara mereka melihat tumpukan bantal dan selimut berada di atas sofa, refleks tangannya dengan cepat mengangkat selimut dan bantal tersebut


"Ini kotor Nona? Saya akan mencuci nya" ucap pelayan itu


Pemilik kamar keduanya terkejut mendengar dan melihat apa yang dilakukan pelayan


"Tidak, letakkan kembali di atas tempat tidurku" Titah Sara tanpa memikirkan bahwa para pelayan tidak ada yang tahu kalau mereka tidak tidur satu ranjang, Gadis itu mendadak memutar otak mencari alasan yang masuk akal. Sementara Juna seolah hanya melihat apa yang akan terjadi


Kedua pelayan itu saling menatap penuh tanya, kenapa Tuan Muda dan Nona tidak tidur satu ranjang? Mungkin itu pertanyaan yang melintas di kepala mereka.


Sara yang merasa pelayan itu menaruh curiga, tangannya kembali mengambil bantal dan selimut yang dibawa oleh pelayan


"Maksudku, Ini tidak kotor ini baru aku keluarkan dari dalam lemari dan mau disimpan disini"


Sara berjalan menaruh bantal dan selimut dekat dengan kaki suaminya yang sedang duduk menjulurkan kaki, tersenyum meminta dukungan suaminya, Juna pun menganggukkan kepala dan menyuruh pergi pelayan dengan isyarat tangan yang diacungkan.


Setelah para pelayan keluar suara helaan nafas pelan terdengar oleh Juna, melihat raut wajah istrinya yang sedikit lega setelah apa yang terjadi membuat Juna mengerutkan dahi dibalik buku yang sedang Ia baca.


Duduk di kursi balkon saling menyantap makanan yang tersaji penuh dengan keheningan


"Apa yang kau lakukan hari ini?" Tanya Juna membuat kornea mata Sara melihat pemilik suara


"Hari ini Saya melakukan apa yang biasa Saya lakukan Tuan, Dan tadi saya bertemu dengan Mantan Istri anda" Jawab Sara dengan santai


"Angela?"


"Ya Tuan, Apakah ada wanita lain?" senyum nya merekah ketika tanyanya membungkam suaminya


Juna meletakkan gelas yang ada di tangannya, mengingat kejadian kemarin ulah Angela yang ingin memamerkan kemesraan kepada publik, membuat stigma mantan suaminya masih belum bisa melupakan nya. Untung saja Sara datang pada waktu yang tepat akhirnya stigma itu berubah menjadi sama-sama telah berbahagia.


Apa yang kau rencanakan Angela?


"Jangan berteman dengannya" Matanya melihat istrinya penuh dengan tekanan


Sara hanya terkekeh mendengar larangan dari suaminya


"Jangan khawatir Tuan, Saya bisa menjaga diri sendiri"


Kenapa aku tidak boleh berteman dengannya Tuan?


Apa mungkin Anda masih menaruh hati padanya?


Juna hanya berdecak sebal, mendengar jawaban Istrinya yang tidak menuruti perintah, Dia hanya takut kehadiran Angela akan membuat lebih sulit lagi.


"Besok tidak boleh ke Cafe, berdandan lah lebih cantik, kita akan bertemu dengan orang penting" Ucap Juna sebelum melangkahkan kaki masuk ke kamar


"Baiklah Tuan"


Ini misi anda yang pertama Tuan


kumohon segeralah berakhir


Sara melihat punggung suaminya yang terlihat berotot memakai kaos putih menerawang, Ia mengikuti langkah Juna kembali ke kamar dilihatnya telah menyandarkan tubuhnya pada tumpukkan bantal. Sara berniat mengambil kembali bantal dan selimut nya yang tadi diletakkan di atas ranjang.


Tubuhnya membungkuk akan mengambil barang yang akan dipindahkan, namun geraknya terhenti saat hendak mengangkat bantal


"Tidurlah disini" Ucap Juna, pandangannya tertuju pada benda pipih tidak melihat sesosok gadis yang berada di depan mata nya


"Apa?" suara terkejut, Sara membulatkan mata melihat suaminya yang tidak memperdulikan keberadaan nya


"Saya tidur di tempat biasa saja Tuan"


"Tidur disini atau diluar" nada nya mulai meninggi dan melihat tajam istrinya yang dari tadi menatap.


~Sara


Apa kau tidak salah bicara menyuruhnya tidur satu ranjang Jun?


~Juna*


"Baiklah Tuan" Ucap Sara


Perempuan itu memindahkan bantal yang berada di ujung ranjang ke samping suaminya yang saat ini sudah membaringkan tubuhnya


Sara segera ke kamar mandi, dan mengunci pintu, berdiri didepan cermin dan mengacak rambutnya


"Apakah dia akan meniduri ku? arrhhhh kenapa aku takut dan gugup"


"Oke tenang Sara, dia tidak akan melakukan itu padamu" Sambung Sara sambil membasuh muka, tubuhnya mematung kembali dibalik pintu, kegugupan menghantui Sara


"Kenapa aku takut dan gugup sih padahal ini hanya satu ranjang. Oke Sara jangan berfikir yang aneh-aneh" Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnua pelan dua kali


Tangannya membuka kunci pintu, ceklek pintu kamar mandi terbuka matanya langsung melihat sosok yang sedang berbaring ke samping kanan ranjang, gadia itu melangkahkan kaki mendekat.


Secara perlahan berjalan, berdiri di tepi ranjang dan melihat dua guling berada di tengah


"Oh Syukurlah" gumamnya


Melihat guling menjadi pemisah antara mereka membuat hati Sara lega.


"Kau pikir aku akan meniduri mu? dasar otak mesum. Ini guling batas kita tidur jangan menyentuh sehelai rambut pun kau mengerti?"


Suaranya Juna sedikit berteriak


Apa? aku yang mesum?


terus yang menciumiku di taman apakah dia tidak mesum?


dan mencium keningku di cafe juga apa dia tidak mesum?


Dasar Singa berdarah dingin otak mesum


sebenarnya kau memang sudah suka padaku dasar aneh


Gadis itu dengan cepat membaringkan tubuhnya kesamping kiri. Kini mereka saling membelakangi tidak ada suara yang keluar meskipun mata mereka saling menatap ke depan


"Kau tahu siapa sahabat suamimu?" Tanya Juna dibalik selimut yang membungkusnya. Juna masih penasaran dan mencari kebenaran bahwa istrinya itu adalah mantan istri mendiang Sahabatnya


"Aku juga tidak faham Tuan, kenapa bisa Saya menikahi Sahabat Suamiku sendiri"


"Apa maksudmu?"


"Tuan adalah Sahabat mendiang Suamiku"


Jawab Sara sambil memutar tubuh dalam selimut, menjawab apa yang dia ketahui saja.


Sebenarnya semenjak Sara tahu dia juga terkejut dan tidak pernah mengira mendiang suaminya memiliki sahabat karena selama hidup Wildan tidak pernah bercerita soal sahabatnya


ternyata dia sudah mengetahuinya


gumam Juna


"Dan mendiang suamiku tidak pernah berkata dia mempunyai sahabat seperti anda (yang sangat menyebalkan)" Sambung Sara dengan nada santainya


"Dia tidak pernah mengatakannya? Lalu Kau tahu kami bersahabat sejak kapan" Juna yang terkejut bangun dan duduk melihat Sara yang terbaring membelakangi nya


"Sejak Sam yang mengatakan kalau Tuan sahabat Suamiku"


Sam lagi? sepertinya dia tahu banyak hal


Bahkan aku tidak tahu perempuan ini mantan istrinya


~Juna


***