
Selamat membaca teman
Baca nya santai saja biar bisa menghayati isi cerita yeayy
***
Di ruang terbuka dengan pemandangan indah deretan pohon Pinus menjadi aksesoris alam yang menambah suasana sejuk.
Terdiam laki-laki paruh baya yang sedang duduk di kursi menunggu putrinya yang sedang mempersiapkan diri memakai gaun dan di hias pengantin, Ikhsan melamun jauh mengingat mendiang istrinya yang telah tiada, andai saja Ibu dari anaknya itu masih hidup pasti dia akan merasa bahagia melihat Sara kini menjadi tanggung jawab Laki-laki yang mencintai anak mereka.
Di dampingi oleh Wulan adik kandung Ikhsan Rahadi
“ pasti kak Mela sangat bahagia disana Bang” imbuh Wulan seraya menepuk bahu sang kakak.
“ aku merasa sedih bercampur bahagia, kalau mengingat rasanya baru kemarin aku kehilangan Ibunya Sara, sekarang Sara akan menikah” tutur Ikhsan sambil mengusap ujung matanya yang mulai berair.
“ Sara tidak akan jauh Bang, dia masih tetap anakmu dan akan tinggal dekat dengan kita. Percayalah anakmu selalu mengingatmu”
Ikhsan hanya menatap Wulan yang sedang menghibur hatinya sambil tersenyum, tidak terbayang di usia anaknya baru lahir, Sara harus kehilangan ibunya dan tumbuh menjadi perempuan dewasa di usia yang terbilang masih belia.
Menikah adalah impian Sara setelah lulus dari SMA namun niatnya bersama sang kekasih terhalang oleh restu kedua orang tua, mereka akan memberi restu jika Sara kuliah terlebih dahulu minimal memiliki gelar strata satu. Dan sekarang pernikahan itu terwujud setelah 4 tahun menunda.
Raut wajah Sara yang bahagia tidak bisa disembunyikan, setelah akad nanti ia akan mempunyai suami yang akan terus menyayanginya, meskipun Sara anak semata wayang dan masih memiliki Ayah namun kasih sayang Ayah masih terasa kurang terlepas dari sang Ayah selalu meninggalkan Sara untuk bekerja, dan selama bekerja Sara kecil di asuh oleh Wulan sampai sekarang jika Ayahnya pergi makan yang menemani adalah Wulan yang lain adalah Tante nya.
Tubuh Sara gugup dan gemetar ketika mempelai laki-laki datang pertanda acara akan segera dimulai, Ikhsan datang seraya memegang tangan anak gadisnya yang sangat dingin
“Berjanjilah pada ayah, kamu akan bahagia hidup bersamanya” pinta Ayah sambil memberi senyuman.
Bahkan Sara tidak bisa berkata apapun selain membalas senyuman dan menganggukan kepalanya sebagai tanda menjawab pertanyaan Ayah.
“Sara kamu sangat cantik sekali, mirip dengan ibumu” Wulan datang memberi pelukan hangat dan memuji keponakan satu-satunya.
“Ayah, tante, doakan aku, semoga pernikahanku ini adalah pertama dan terakhir dan kami menjadi pasangan yang sangat bahagia sampai maut memisahkan kami”
Tangan Sara merengkuh dan memeluk Ayah dan tantenya.
***
Puncak pernikahan telah dilaksanakan, Wildan sudah resmi menjadi suami Sara, mereka tampak bahagia dengan pernikahannya.
Karena masih ada resepsi, tamu undangan pun masih berdatangan sore hari dan selesai pukul 10 malam. Penghuni rumah pun sudah masuk ke kamarnya masing-masing termasuk pasangan pengantin baru.
Setibanya dikamar pengantin tepatnya kamar Sara tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, bertaburan bunga mawar diatas ranjang seolah bunga itu berkata selamat datang pengantin baru, gadis itu pun menjatuhkan tubuhnya dan merebahkan dan menggerak gerakan tangannya di atas kasur.
“Sayang aku lelah sekali” keluh Sara pada sang suami, tubuhnya masih dibaluti gaun pernikahan yang berwarna merah muda.
“Mandi dulu sayang, apakah kamu nyaman tidur berselimut keringat?” ucap Wildan yang sedang membuka tuxedo yang berwarna senada dengan istrinya
“Kamu duluan sayang, nanti aku setelahmu”
Sara masih merebahkan tubuhnya dan menutup mata.
“Baiklah”
Wildan masuk ke kamar mandi, handuk putihnya melingkar di leher
Selang 20 menit Wildan keluar, sekarang handuk nya sudah melingkar di pinggangnya
Perempuan yang berada dihadapannya menutup mata dengan kedua tangannya namun jari jemari tidak rapat tertutup
“Sayang, kau membuat mataku tidak perawan lagi”
Wildan tersenyum mendapat godaan dari istrinya
“Cepatlah mandi atau akan aku mandikan”
“Baiklah sayang” Gadis itu terperanjat setengah berlari menuju kamar mandi dan memberi kecupan di pipi suaminya secara singkat.
“Kau menggodaku sayang?” tanya Wildan kedua tangannya disimpan pada pinggang nya yang gagah
Sara hanya menyeringai tertawa tanpa suara dibalik pintu kamar mandi.
Wildan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku istrinya yang menggemaskan, kemudian Dia memakai baju, mengambil air putih di dapur dan membawanya ke kamar,
Seseorang mengejutkan nya
“hehe aku hanya tidak terbiasa mandi malam hari sayang, aku rasa 10 menit mandi cukup menghilangkan bau keringat ditubuhku” sara mengerucutkan mulutnya
Pandangan yang memabukkan, balutan handuk sedang membungkus tubuh putih bersih istrinya, Wildan mendekat dan memeluknya mencium setiap aroma pada tubuhnya
“aku hanya bercanda sayang” ucap Wildan sambil mengangkatt dagu istrinya, menatap lekat bibir ranum Sara yang dari tadi menghodanya
Merekapun saling menatap dan Cup… Wildan mencium bibir istrinya dengan lembut dan penuh dengan cinta. Menahan tengkuk Sara yang masih basah, melepaskan sesekali ciumannya supaya istrinya bisa bernafas dan ciuman yang kedua semakin memanas.
Tak lama Wildan melepas ciumannya lagi, menggendong Sara ala bridal style membawanya ke atas tempat tidur, tubuhnya sudah berada di atas tubuh Sara yang masih berbalut handuk menutup bagian dada dan sebagian paha, semakin tergoda oleh tubuh istrinya. Karena ini pertama bagi keduanya
“Apa kamu siap?” tanya Wildan dengan tatapan penuh maksud melihat bola mata yang berada tidak jauh dari korneanya
Jantung gadis itu berdetak sangat kencang, mungkin suaminya mengetahui, Sara belum memberi jawaban karena memang jantungnya dari tadi berdebar, Wildan mencium lagi bibir istrinya yang kesekian kalinya lebih lama dan kini menjadi ******* yang memabukkan mereka, kecupan itu mulai turun ke leher dan tangannya mulai nakal menjangkau sesuatu yang berada dibawah sana , namun saat tangan itu mulai masuk kedalam handuk, tiba tiba tangan Sara mendorong tubuh yang sedang penasaran dengan tubuhnya.
Tubuh Wildan terdorong kebelakang, Dia menatap Sara penuh tanya
"Apa yang kamu ragukan lagi sayang?"
"Tidak malam ini sayang" jawab Sara harap cemas, wajahnya menunduk malu
"Lalu kapan?"
"Aku datang bulan, dan ini hari pertama" jawab Sara setengah cemas takut suaminya kecewa
"Astaga, kenapa baru bilang" Wildan mendengus setengah kesal dan menjatuhkan tubuhnya disamping Sara
"Kamu marah sayang?" tanya Sara dengan nada melemah
Wildan kembali memeluk tubuh Sara yang berada disampingnya dan mencium keningnya
"Aku tidak marah sayang, bukankah itu tanda kamu sehat? tapi.."
Wildan menggantungkan ucapannya
"Tapi apa sayang?" Sara penasaran dan takut
"Setidaknya kamu bilang dari awal, jadi tidak ada yang diberi harapan palsu"
Wildan memberi senyuman dan kembali mencium kening istrinya
"Maafkan aku, biasanya sampai 7 hari dan ini hari Minggu mungkin minggu depan baru bisa" Sara menghela nafas di pelukan sang suami
" Tidak apa sayang, dan sepertinya Selasa depan baru bisa" Wildan menatap atap dan mengacungkan jari jemarinya seperti menghitung
"Maksudnya?" tanya Sara
" Iya hari Kamis aku ada acara diluar kota mungkin 5 hari, setelah urusanku selesai aku akan pulang dan Selasa depan kita akan pergi ke Dubai untuk honeymoon gimana?"
"Kita baru saja menikah sayang, kenapa harus kerja dulu kan bisa cuti " wajahnya mulai kesal
"Kamu pilih, pertama honeymoon sekarang aku tidak bisa menyentuhmu disela honeymoon ada panggilan kerja atau kedua kita honeymoon nanti setelah pekerjaanku selesai dan aku bisa menyentuhmu tidak ada yang menganggu hm?" tanya Wildan dengan penuh rayuan
"Ya mending pilihan kedua" ceplos Sara yang penuh dengan kepastian
Wildan tertawa dan membaringkan tubuh nya kembali
"Kalau gitu mari tidur sayang, besok aku tidak libur, supaya honeymoon kita nanti tidak banyak yg mengganggu"
cup Wildan mencium kening istrinya.
***
yeaayy episode 2 nya udah muncul
ini kisah pernikahan pertama nya Sara
mendapat suami yg super baik banget
tinggalkan jejak kalian ya teman
supaya mood ku menulis semangat hehe