The Last Game In Love

The Last Game In Love
Janda Muda



Di Rumah Pemilik Jaya Group


Tampak Wakil Pimpinan perusahaan terbesar di bidang tambang sedang duduk di kursi ruang kerja di rumahnya, tangan yang sedang mengoperasikan benda pipih langsung menoleh ke arah pintu.


Ya, suara ketukan pintu membuyarkan fokus nya


"Masuk" ucap Wakil Pimpinan yang tak lain adalah Arjuna Hutomo putra dari Sanjaya Hutomo yang biasa dipanggil tuan muda Juna. Badannya tinggi kekar berotot, wajahnya yang selalu berkarisma dan tampan.


Datang seorang lelaki yang telah lama menjadi sekretaris pribadinya masuk dan membungkukkan tubuh.


"Apakah berita duka itu benar Sam?" tanya Juna dengan wajah sendunya


"Benar tuan, semalam saat hujan lebat mobil yang dikendarai sahabat anda sedang melaju di jalan tol xx, ada kendaraan yang rem blong dan mobil tuan Wildan tertubruk truk dari belakang, mobilnya maju tak terkendali hingga akhirnya menabrak tembok pembatas. mendiang tuan Wildan sempat sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit namun akibat benturan di kepala cukup keras sehingga nyawanya tidak dapat terselamatkan" jelas Sam


" Padahal aku tidak sempat datang di pernikahannya Sam"


Juna meneteskan air mata mengingat sahabatnya telah meninggal meski terpaut beberapa tahun usia, Wildan lebih muda dari Juna namun persahabatan mereka telah lama dan dalam satu tahun ini mereka disibukan pada pekerjaan dan uruasan masing-masing sehingga tidak pernah saling bertemu.


" Siapkan mobil Sam, aku ingin datang ke pemakamannya" titah Juna


Di Pemakaman


Pemakaman elit yang biasa sepi dan hanya beberapa orang pengunjung tapi sekarang ramai oleh kerumunan orang penting dan kolega bisnis siap mengantar Wildan Purnama ke peristirahatan terakhirnya.


Tampak keluarga besar Sara dan Wildan


Tubuh lemah tak berdaya, Sara menatap kosong akan melepas sang suami, mata sembab dan pucat dibalut kerudung selendang berwarna putih menutup sebagian kepala dan rambut hitam, Sara duduk di pinggir makam suaminya yang masih kosong sesekali di usap punggungnya oleh Tante Wulan.


Arya Purnama Ayah Wildan yang dari tadi menyalami para pelayat yang datang, dia menutupi kepedihan yang dirasakan. Bagaimanapun seorang Ayah akan merasa kehilangan ditinggalkan anak laki-lakinya.


Arya duduk setelah menyambut tamunya dengan penuh kehampaan.


Tidak lama sebelum jenazah di kebumikan tibalah Juna dan Sam di belakangnya, semua orang di sana membungkukkan badan seolah menghormati tamu yang baru saja datang. Juna memeluk Papah Arya dengan wajah sendu, seolah tidak percaya sahabatnya akan lebih dulu pergi, Arya yang tadi menahan air mata tak kuasa melihat Juna teringat kembali Wildan tangisnya pecah sesegukkan saling memeluk satu sama lain.


" Aku masih belum percaya Om, bahkan saat menikah aku tidak sempat datang maafkan aku" ucap Juna dengan wajah yang sedih dengan derai air mata yang tersapu oleh kemeja


"Semoga Wildan tenang di alam sana, Om juga masih tidak percaya namun bagaimanapun ini adalah kenyataan yang begitu pahit"


"Om merasa kasihan pada istrinya, baru beberapa hari menikah dia menjadi Janda muda Jun" Sambung Arya menutup matanya dengan satu tangan


Sontak Juna dan Sam mencari mana istri yang ditinggalkan sahabatnya, melihat sosok perempuan muda yang duduk lemah di dekat pemakaman.


"Gadis itu seperti pemilik toko kue XX" gumam Sam dalam hatinya menebak


Namun dari tadi Juna tidak melihat jelas wajah perempuan itu


Pemakaman Wildan berjalan dengan penuh hidmat, semua para pelayat pulang kecuali keluarga dan sahabat, ya dia Arjuna Hutomo masih berdiri dekat pusara mendoakan sahabat


Sara yang masih terduduk mengusap permukaan pusara sesekali menahan air mata, kepalanya menunduk dikenakannya kaca mata besar berwarna hitam


"Sayang, seharusnya hari ini kita bulan madu tapi kenapa kamu pergi sendiri tidak mengajakku juga" imbuh Sara matanya yang tertutup tak terlihat, keningnya dipenuhi peluh bibirnya pucat pasi dan kering


Digotongnya tubuh Sara oleh Papa Arya menuju mobil dan membawa ke rumah besar nya, Sara belum juga sadarkan diri.


Arya memejamkan mata penuh dengan pikiran


"Aku akan bertanggung jawab atas semua yang menimpa anakmu" kata itu keluar dari mulut Arya memecah keheningan


Ikhsan yang mengkhawatirkan anak perempuannya yang tidak sadarkan diri merasa heran


"Apa maksudmu?" tanya Ikhsan


" Jika Sara kedapatan hamil aku yang akan mengurus semuanya, kamu jangan khawatir anakmu juga anakku, dia tidak akan menjadi Janda muda yang kesepian"


"Terimakasih aku percaya padamu" Ikhsan tersenyum seolah mengajak Besannya jangan terlalu terpuruk dengan situasi seperti ini


Seluruh keluarga masih ada dalam suasana duka, terutama Sara yang selalu melamun di dalam kamarnya sambil memandangi foto pernikahan mereka, tidak terbayangkan sebelumnya setelah beberapa tahun status mereka berpacaran tapi hanya beberapa hari status nya menikah dan sekarang menjadi Janda.


"Sayang, bagaimana hidupku sekarang" air matanya berlinang deras membasahi kaca foto yang di ciumnya


"Keadaan seperti ini terlalu cepat, terhitung beberapa hari kita bersama dan kau menjadikanku janda dengan status pernikahan kita paling singkat hiks hiks hiks"


" Sayang, bisakah kamu mengajakku juga? setidaknya kita berada di alam yang sama"


Mulutnya sudah tidak berkata lagi, tangisnya pecah menggelegar di dinding kamar, perih di hatinya menyayat tak berdarah


tok tok tok suara pintu kamar terdengar keras, mama mertuanya masuk tergesa-gesa mendengar menantunya menangis histeris di atas kasur, tidak banyak bicara Arin langsung memeluk erat tubuh ramping Sara.


"Sayang ikhlaskan suamimu nak, mama juga terpukul tapi mama ga mau kamu seperti mayat hidup selain menangis dan melamun dari semalam tidak ada makanan yang masuk dalam perutmu nak"


"Ayo kita makan sayang" ajak Mama mertua Sara


Sara terdiam dan menggelengkan kepala nya.


"Aku akan tidur ma, nanti kalau aku lapar bisa makan sendiri, mama tidurlah kita sama-sama lelah" pinta Sara seraya membaringkan tubuhnya


"Tidurlah sayang mama tidak mau kamu terus menerus seperti ini, Mama tahu kamu sangat kuat" belaian lembut penuh kasih sayang di kepala Sara membuatnya memejamkan mata teringat sosok ibunya yang lama telah pergi dan baru kali ini Sara merasakan kembali belaian itu


" Iya ma" Sara tersenyum pasi


Malam hening dengan rintikan hujan, Sara bisa memejamkan tapi tidurnya tidak lelap. Dia berjalan keluar balkon kamar merasakan tetesan air hujan yang membasahi tangannya.


Sayang, Apa yang sedang kamu lakukan


Kamu lihat aku saat ini


Tidak berdaya, rasanya seperti mimpi buruk


Tolong bangunkan aku


Air mata nya kembali membasahi setiap inci pipi putih bersihnya, tangis tidak terdengar keluar dan semakin lama semakin memerah hidung dan matanya