The Last Game In Love

The Last Game In Love
Arjuna & Wildan Flashback



Flashback On


Pagi hari di depan gerbang salah satu Sekolah terfavorit di kota XX, Juna remaja yang menjadi pusat perhatian setiap siswa putri sedang menunggu kawannya yang belum terlihat datang, meskipun berbeda usia dan kelas, persahabatan mereka kerap terlihat akur. Pasangan sahabat itu menjadi pujaan setiap siswi, namun kepopuleran Juna masih mengalahkan sahabatnya.


Saat itu Juna yang sedang menunggu dan menyenderkan bahu ke gerbang yang masih terbuka, tubuhnya terlihat tinggi dan gagah tak diragukan lagi banyak siswa perempuan yang mengajak bicara sekedar basa basi hanya untuk bisa ngobrol dengannya.


Saat sedang asyik membaca buku, mobil berhenti tepat dihadapannya keluar seorang laki-laki yang sudah dia tunggi dari tadi, membuat Juna tersenyum dan menutup buku memasukkannya kedalam tas sekolah, Juna merangkul sahabatnya dan berjalan masuk melewati siswa perempuan yang dari tadi mencoba mendekati.


"Kau mau tau siapa perempuan yang aku sukai itu Jun?"


Tanya Wildan disela perjalanan mereka menuju kelas


"Siapa?" Tanya Juna penasaran


Sejenak Wildan menghentikan langkah kaki, membuat Juna ikut berhenti melangkah, pandangan Wildan tertuju pada seorang gadis yang sedang bercengkrama bersama temannya, gadis dengan rambut lurus sebahu, bibirnya yang tebal seksi membuat Juna terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Dia, namanya Karin aku menyukainya Jun, tolong bantu aku, katanya dia sekelas denganmu bukan?" Wildan menunjuk gadis yang berada di halaman sekolah, gadis yang dia sukai ternyata adalah kakak kelasnya


"Kau menyukainya Wil?" Tanya Juna memandang gadis yang ditunjuk Wildan


"Ya, aku sangat menyukainya Jun, bisakah bantu aku untuk mendekatinya?"


Juna berpikir melihat gadis yang sedang melihatnya dan tersenyum bahagia


"Bisa, beri aku waktu 2 hari" Jawab Juna mengalihkan pandangan dari gadis yang bernama Karin.


"Terimakasih Jun, kau memang sahabatku. Lihatlah dia tersenyum melihat ku bukan?"


Wildan membalas senyuman Karin yang sebenarnya tersenyum melihat Juna.


***


Ting... Ting...


Suara Handphone Karin berbunyi pertanda pesan masuk, Karin yang sedang duduk di meja paling depan melihat ke arah meja terdepan bagian siswa laki-laki.


*Aku tunggu di lapang basket.


Ada yang perlu aku bicarakan*


Karin kembali melihat pemilik kursi yang sedang duduk di meja sebelum membaca pesan, namun tampaknya sudah pergi. Karin menyusul dengan wajah berseri, siapa yang tidak senang mendapat pesan dari kekasihnya untuk bertemu.


Sesampainya di lapangan Karin tidak terlalu lama mencari kekasih nya, dia sudah hafal spot favorit Juna, Karin datang duduk dan memberi senyuman pada Juna.


"Kamu mau bilang apa Jun? tidak biasanya"


Tanya Karin dengan senyuman penasaran


"Aku mau mengakhiri hubungan ini"


Senyuman bahagia yang dari tadi terpancar dari raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi memerah


"Maksudmu apa Jun? Kita putus?" Suaranya meninggi akibat terkejut setelah Juna menyatakan apa yang ingin dia sampaikan


"Ya, tidak ada lagi yang perlu kita permasalahkan, aku mencintai wanita lain dan kebetulan sahabatku sangat menyukaimu. Aku tidak mau sahabatku sakit hati. Aku harap kamu mengerti"


Juna berlalu meninggalkan Karin yang masih berdiri mematung


"Juna... kita baru 2 hari jadian, dan Kamu memutuskan aku karena alasan yang konyol?"


Langkahnya terhenti dan kembali membalikkan badan, Karin seperti mempunyai harapan bahwa kekasihnya akan membatalkan ucapannya.


"Aku mohon terimalah cinta Wildan, dia sahabatku"


Kalimat yang di ucapkan Juna membuat harapan Karin pupus.


Juna memilih memutuskan kekasihnya demi sebuah persahabatan.


Tiga hari kemudian, tepat pada hari Minggu. Wildan mengunjungi Juna dan masuk ke kamarnya tidak sungkan.


Wajahnya penuh dengan binar kesedihan, masuk dan duduk di sofa bersebelahan dengan Juna yang sedang membaca buku.


"Kau terlihat murung Wil, bolehkah aku menebak?"


"Tidak ditebak pun Kau sudah benar Jun, seharusnya jangan Kau putuskan Karin. Dia menolak ku Dia tidak suka laki-laki brondong seperti ku"


Ucap Wildan penuh dengan penyesalan setelah tahu bahwa gadis yang disukai ternyata kekasih sahabatnya.


"Aku tidak mau persahabatan kita hancur hanya masalah ini Wil" Juna memberi alasan yang membuat Wildan termenung.


"Terima kasih, Jika itu terjadi padaku aku juga akan melakukan hal yang sama"


"Jangan ceroboh Wil, aku tidak mau istrimu menjadi istriku nanti" Timpal Juna sambil menertawakan ucapan sahabatnya itu.


Mereka saling tertawa Juna melupakan mantan kekasihnya dan Wildan melupakan gadis yang gagal menjadi kekasihnya.


***


"Siapa nama Suamimu yang meninggal itu?"


Tanya Juna yang ingin memastikan eecara pasti


"Wildan Purnama" Jawab Sara dengan mata terpejam.


Semakin yakin setelah istrinya mengucapkan nama yang tidak asing, Sara ya benar, dia adalah istri dari sahabatnya Wildan dan sekarang menjadi Istrinya sendiri.


Juna memejamkan mata, membayangkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka.


Seseorang mendekati Juna, tanpa sepengetahuannya entah dari mana asal mula orang itu, tidak diundang kedatangannya. Pakaiannya mirip sekali dengan seragam sekolah Juna dulu. Rapih bersih dan wangi ditangannya membawa dua tangkai bunga mawar merah tanpa duri.


Diselipkannya bunga mawar itu di jari tangan yang terkulai lemah, Juna melihat Sara masih dalam keadaan terlelap tidak sedikitpun terbangun.


Satu tangkai lagi diberikan kepada Juna, tersenyum dengan penuh kebahagiaan.


"Kau mulai menyukainya Jun?" Duduk di ujung ranjang yang sedang Juna membaringkan tubuhnya


"Kamu? Aku baru tahu sekarang dan ini terjadi tanpa kuduga" Tubuhnya setengah terangkat melihat seseorang yang duduk dekat ujung kakinya


"Aku mau kamu mencintainya lebih dari pada aku Jun, Apa kau bisa?"


"Aku tidak bisa, Kau berhak atas semua ini"


"Aku berharap Kau bisa melakukan nya" Tubuhnya mendekat dan tangannya memegang bahu Juna


"Kamu mau kemana? kenapa kau tidak menjaganya?" Tangan Juna ingin sekali meraih orang itu tapi tidak bisa


"Aku telah meninggalkannya, dan kau datang disaat yang tepat. Aku mohon demi aku"


Tiba-tiba seseorang yang telah datang itu sekarang sudah pergi, tidak tahu jalan mana yang jelas Juna merasakan sentuhan di bahunya terasa hangat.


"Sayang Jangan pergi"


Juna terbangun mendengar suara teriakan Sara, sosok perempuan yang gemetar dan berkeringat membuat Juna berlari mendekati dan meraih tubuh istrinya itu.


"Kamu kenapa? Minumlah" Titah Juna tangannya meraih gelas berisikan air dan membantu Sara untuk meminumnya


"Maafkan Saya Tuan, Saya hanya bermimpi" Jawab Sara setelah meminum air yang diberikan Juna.


Mungkinkah mimpi kita sama?


di waktu yang sama dengan orang yang sama


Membuka pintu balkon kamar, Juna berdiri melihat langit bertaburan bintang yang jauh disana. Tangannya masuk kedalam saku celana, matanya sesekali menutup merasakan tubuhnya telah disentuh oleh sahabat yang sudah lama meninggalkan dunia ini.


Kau kah itu Wil?


bahuku masih terasa hangat


tapi ini hanya mimpi


kau hadir dalam mimpiku dan istrimu


Memutar tubuhnya dan masuk kembali kedalam kamar, menatap Sara yang meringkuk kedinginan karena pintu terbuka.


Haruskah aku mencintaimu karena sahabatku?


atau mencintai mu karena keinginanku?


atau ku lanjutkan misi ini dan melepasmu pergi?


biarlah waktu yang menentukan takdir kita.


***


Nah gitu manteman, kalau bicara jangan banyak becanda takut kejadian kaya Wildan hehe...


Ucapan adalah doa tuh bener lho hihihi


Ayo dukung Author biar semangat


Like


Komen yang Positif


Dan Kalau kalian memiliki poin bisa kasih Vote


Love You All ❤️❤️❤️