The Last Game In Love

The Last Game In Love
Mogok



Musim hujan yang masih terus mengguyur membasahi kota X, terlihat Cafe Kopi cukup ramai meskipun diluaran hujan, namun seperti menambah kesan romantis bagi mereka yang bercengkrama bersama kekasih masing-masing.


Sara yang sedang berkutat dengan kertas dan pulpen menghitung jumlah keuangan karena besok waktunya membagikan gaji untuk para pegawainya, selama Ia menjadi pemilik Kue ataupun Cafe tak pernah seharipun telat pada saat pembagian gaji mereka.


Setelah lama berkutat dan memasukkan selebaran uang kedalam amplop, Sara beranjak berdiri dan melihat suasana jalanan dekat Cafenya yang tergenang air, dilihat jam tangan di tangannya menunjukkan pukul 9 malam


"Sudah malam, aku lupa tidak memberitahu orang rumah" imbuhnya sedikit cemas karena takut dimarahi suaminya. Meskipun Juna tidak pernah peduli dengan apa yang dilakukan istrinya.


Ketakutan itu masih tersirat dalam lubuk hatinya, meskipun sekarang lebih berani berbicara namun sikap dan ucapan yang diberikan Juna masih belum bisa di toleran.


"Aku pulang duluan ya, besok pembagian gaji jangan sampai pada sakit" Pamit Sara yang memberikan senyuman khas nya


"Silahkan Nona, hati-hati dijalan kami akan mengatasi ini semua, semangat" sahut salah satu pegawai yang berada di kasir sambil mengepalkan tangan tanda semangat


Sebagian pegawainya hanya menganggukkan kepala, jarang sekali ada bos yang ramah seperti Sara maka dari itu mereka tidak pernah kecewa Sara datang atau tidak, pulang cepat atau tidak karena perilakunya yang lembut dan penuh dengan perhatian membuat pegawainya memberikan dedikasi yang terbaik dalam mengelola Cafe Kopi itu.


Sara masuk dan menyalakan mobil di parkiran kakinya basah terkena genangan air hujan, bajunya tertembus butiran air yang mendarat di punggung.


"Ya Tuhan hujannya lebat sekali aku lupa membawa payungku" tangannya menyibakkan rambut yang tergerai menjadi lusuh karena basah


Mobil pun melaju sekitar 500 meter dari Cafe tiba-tiba berhenti tanpa alasan, Sara kembali menyalakan mobil itu namun tak kunjung berhasil.


"Kenapa dengan mobil ini" Dia kembali mencoba dan masih tetap sama, dilihat bensinnya masih terlihat full


Tanpa memperdulikan diluaran sedang hujan deras, Sara langsung keluar dan membuka bagian depan mobil seolah bisa padahal nihil, Sara hanya melihat tanpa menyentuh mesin yang tidak tahu fungsinya itu. Tubuhnya basah kuyup matanya menjadi merah karena percikan air hujan terasa perih.


Dalam suasana hujan deras dan gelap tidak ada seseorang yang bisa dimintai bantuan, Sara beranjak kembali ke dalam mobil tiba-tiba seseorang datang dan memarkirkan motor dengan cepat


"Kenapa anda hujan-hujanan Nona" Sam datang dan menyuruh Sara kembali ke dalam mobil, Sam memeriksa mobil istri bos nya itu dan sepertinya mobil itu mogok tidak mau jalan kembali meskipun Sara sudah mencoba ulang menghidupi mesin mobil.


"Nona?" ketukan diluar kaca membuat Sara terkejut merasakan dirinya yang sudah basah kuyup kedinginan ditambah diluar seperti orang aneh dengan jubah jas hujan tidak bisa di kenali.


Sara membuka jendela kaca dan bercengkrama dengan Sam sekretaris suaminya yang kebetulan melewati jalan dan melihat mobil Sara terparkir dan pemiliknya berdiam diri melihat mesin mobil.


"Kenapa dengan mobilku Sam?"


"Mobil anda mogok Nona, sebaiknya anda pulang naik Taksi, saya akan tunggu Taksi nya"


10 menit sudah Sam tidak berhasil menemukan satu Taksi pun, badannya sudah merasa kebas dan dingin mengurungkan niatnya menunggu Taksi


Belum sempat Sam memberitahu bahwa tidak ada Taksi yang lewat, Sara berbicara dibalik mobilnya itu


"Sepertinya akan lama Sam, bagaimana kalau kau mengantarkan aku apa kau mau?"


"Baiklah Nona, tapi saya sedang pakai motor apa Nona mau?"


Sam merasa cemas akan membawa Sara pulang, selain khawatir juga akan lebih basah kuyup Dia takut tak beralasan membawa istri bosnya dalam keadaan seperti ini. Harusnya mereka diam saja dulu ditempat yang teduh tapi karena Sara buru-buru ingin pulang makanya tidak ada jeda berteduh terlebih dahulu.


Setelah memakai jas hujan yang diberikan Sam, Sara meninggalkan mobilnya dan telah menghubungi bengkel. Duduk di kursi belakang.


Jalanan begitu sepi, hujan semakin terasa deras, pikir Sara tidak salah ikut dengan Sam karena kalaupun menunggu hujan reda, malam akan semakin larut hujan pun tidak tahu sampai kapan akan surut.


Sesampainya di rumah mewah itu, Sam pamit karena ada urusan lain.


"Nona kau pulang juga, cepatlah masuk didalam ada Nyonya sudah marah besar" ucap seorang pelayan dengan penuh kekhawatiran karena kebetulan Mertuanya sedang berkunjung


"Terimakasih, aku masuk sekarang"


Belum beranjak masuk ke dalam rumah bahkan Jas hujan yang diberi pinjam Sam masih melekat ditubuhnya, suara perempuan paruh baya mencegahnya melangkah


"Dari mana saja kau? Ini sudah malam lihat jam berapa sekarang?" Nada marah Mama Mona sedang memaki menantunya


"Sara dari Cafe Mah kebetulan banyak pelanggan, dan ini yang pertama kalinya Sara pulang Malam kok" dengan suara takut Sara menjelaskan dengan perlahan takut ada kata yang salah dimengerti oleh mertuanya


"Wanita macam kau ini, membiarkan suaminya pulang duluan dan tanpa kabar, dan itu seperti jas seorang laki-laki, jangan-jangan kau sudah berkencan huh?"


Suara Mama Mona semakin tersulut meskipun Sara bukan menantu idamannya tapi Dia tidak ingin kejadian yang dulu terulang


"Tadi Mobil Sara mogok Mah dan Sam datang menolong Sara, karena menunggu taxi akan terlalu lama jadi Sara berinisiatif meminta Sam .."


"Sudah kuduga, kau memang wanita murahan tidak baik untuk putraku" Mona memotong penjelasan Sara yang belum selesai


Air Mata Sara terjatuh seperti air hujan membasahi tubuh, sakit di dadanya terasa sesak. Bukan karena tidak bisa melayani kedatangan suaminya tapi mendengar ucapan Mona yang melukai perasaan.


Kegaduhan yang terjadi di depan rumah terekam oleh kedua mata Juna yang sedari tadi memperhatikan apa yang terjadi di halaman rumahnya dari atas balkon kamar.


Juna merasa geram dengan apa yang dilakukan istrinya itu, entah kenapa Juna merasa terganggu pikirannya mendengar Sam menolong Sara dan memberinya tumpangan.


Setelah Mama Mona merasa puas memaki menantunya itu, Ia masuk dan duduk di atas sofa memijat keningnya yang sedikit berat.


Sementara Sara membuka jas hujan dan masuk ke kamar dengan baju yang basah kuyup masih menempel pada tubuh seksinya.


ceklek Sara membuka pintu kamar dengan hati-hati, di dapati suaminya yang sedang fokus pada layar laptop.


"Maafkan saya Tuan, Saya baru pulang. Tadi saya lupa memberi kabar karena suasana Cafe cukup ramai pengunjung" Sara segera menjelaskan karena takut kejadian dibawah terulang kembali


"Aku Tidak perduli"


Syukurlah Raja singa tidak marah


Sara merasa sedikit lega, dilangkahi tiap ubin dengan penuh penghormatan karena di depan ada Suaminya yang terjaga


"Tunggu..." Suara tegas dan dingin menghampiri telinganya


"Jika kamu pergi berkencan setidaknya jangan bawa laki-laki mengantarmu ke rumah ini kau paham?"


Deg,,, hatinya merasa teriris mendengar hinaan yang kedua kalinya


Bisa diibaratkan Juna sedang memarahi Sara dan membuatnya sakit berulang, menuduh yang bukan-bukan


Kehujanan, mendapat penghinaan dari mertua dan suaminya.


Sara hanya menganggukkan kepala menahan air mata yang dari tadi menggelayut di mata merah akibat percikan hujan.


Percuma jika dijelaskan kembali bahwa yang mengantar adalah sekretaris Suaminya sendiri dan itu kebetulan dia menolong dan membawanya. Sara memilih Masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menangis disana, biasanya hanya 10 menit tapi karena tangisnya tidak berhenti sudah hampir 50 menit Sara mengguyur tubuhnya.