The Last Game In Love

The Last Game In Love
Tak Kembali



Beberapa hari setelah hari pernikahan tepatnya hari Kamis, Wildan mempersiapkan diri akan berangkat ke luar kota dan entah kenapa hati Sara sulit untuk melepas suaminya pergi.


Dari malam Sara menggelayut manja pada suaminya, dan terus merengek untuk tidak pergi meninggalkannya selama beberapa hari, tapi Wildan tetap akan pergi karena pekerjaan ini sangat penting dan tidak bisa diwakilkan mengingat dirinya adalah pemilik perusahaan.


Keesokan harinya Sara masih tetap membujuk suaminya tidak pergi


"Sayang, jangan seperti ini nanti kita bertemu lagi" Wildan mencoba menenangkan istrinya memegang kedua tangan Sara dan menciumnya


"Ra.. biarlah suamimu pergi dulu biar urusannya lancar" Ayah Ikhsan datang menepuk pundak anak gadisnya yang sedang manja mesra


Sara pun melepas tangan suami yang digelayutinya sedari turun dari kamarnya


"Hati-hati ya sayang, cepat pulang" wajahnya seperti anak kecil ditinggal Ayah nya pergi bekerja


Wildan hanya tersenyum dan mencium kening istrinya, masuk kedalam mobil setelah berpamitan kepada ayah mertua Tante Wulan.


Di toko


Untuk menghindari kejenuhan karena sudah 3 hari di rumah setelah keberangkatan suaminya kerja keluar kota, Sara pergi ke toko kue nya yang berada tidak jauh dari rumah nya, kira kira 500 meter.


Ketika Sara memarkirkan mobil, ada kejadian yang tidak mengenakan didalam toko kue nya


Suara laki-laki yang sedang memaki para pegawai dan bruugg laki-laki itu terjatuh tepat dihadapan Sara.


"Tuan tidak apa apa?" tanya seorang lelaki yang membantu laki-laki itu jatuh


"Hei nona, ini jalan bukan trotoar jangan menghalangi orang jalan apa kau buta?" bentak laki-laki yang perawakannya sudah tidak rapi lagi.


Sara hanya bingung dalam kondisi seperti itu di depan toko kue nya jadi serba salah, Sara pun hanya menghiraukan saja. tiba tiba datang laki-laki yang tadi membantu laki-laki yang terjatuh dihadapannya


"Maafkan tuan muda saya nona, dia sedang emosi jadi seperti itu saya harap nona memakluminya dan ini untuk mengganti rugi kerusakan toko anda nona" laki-laki itu memberi amplop yang isinya uang cukup tebal


Sara sempat melihat kedalam toko kuenya dan benar semua perabotannya berserakan dan sebagian kuenya rusak


"Saya ambil karena kejadian ini merugikan saya, tolong perhatikan lagi atasanmu itu kalau marah jangan ditempat orang"


"Baik nona, sekali lagi saya minta maaf"


Ya lelaki yang minta maaf atas nama tuan nya itu adalah sekretaris nya bernama Samuel.


"Apa kalian tidak apa apa?" tanya Sara kepada para pegawainya


"Tidak nona , cuman seperti yang nona lihat semua jadi memprihatinkan" ucap Rina salah satu pegawainya


"Sudahlah, dia sudah mengganti rugi, kalau boleh tau kenapa dia marah disini?"


"Kami juga tidak tahu nona, karena dia datang langsung marah dan memaki kue yang sebelumnya dia beli"


" Kue apa yang dia pesan?"


"Kue peringatan hari pernikahannya nona, dan kami rasa semuanya sudah sesuai keinginannya" sahut Rina dengan nada bersalah


"Sudahlah kita bereskan ini semua mungkin istri nya tidak datang atau mungkin selingkuh"


setelah membereskan toko kue nya Sara pamitan pulang


Di rumah


Sara merasa resah karena suaminya tidak kunjung memberikan kabar


"Sekarang sudah hari Senin kenapa belum ada kabar sekarang akan pulang" gumamnya dalam hati


Sara meraih benda pipih di bawah lampu tidurnya dan menelpon seseorang


"Hallo Roy"


hallo nona


"iya nona kami dalam perjalanan pulang, tuan tertidur dan Hp nya lowbat kebetulan perjalanan hujan lebat kami berada dalam mobil menuju rumah"


"Baiklah sampaikan salam ku pada suamiku"


"Baik nona akan saya sampaikan setelah tuan terbangun, kami berada di tol xx mungkin setengah jam lagi tiba"


"Sekarang pukul sembilan mungkin suamiku tiba pukul setengah sepuluh" ucap sara


Sara keluar dari kamarnya untuk menyiapkan makan malam bersama suami, ketika Sara membuka pintu dan keluar kamar tiba-tiba Tante Wulan yang membawa minum, gelas itu tersenggol oleh Sara


PRAAAANG suara gelas kaca pecah berserakan


"Ra kenapa tidak melihat Tante"


"Tante maaf aku tidak se..."


suara handphone Sara terdengar nyaring


"Hallo Roy"


"hallo ini dengan nona Sara?"


tanya seseorang dibalik suara


"iya benar, kenapa handphone Roy ada bersama bapak yah"


"maaf nona, kami hanya memberikan informasi bahwa kendaraan yang ditumpangi tuan Roy dan tuan Wildan mengalami kecelakaan berantai di gardu Tol xx, sekarang korban berada di rumah sakit xx"


Sara terkulai lemas mendapat informasi bahwa suaminya kecelakaan, segera mungkin Sara Ayahnya dan juga Tante Wulan mendatangi rumah sakit xx berharap Wildan selamat dalam kecelakaan tersebut


Namun ketika membuka satu persatu jenazah korban kecelakaan tidak ditemukan Wildan, Sara sedikit lega.


Baru saja merasa lega dan akan mencari sang suami tiba-tiba suster membawa blangkar isinya jenazah dan Sara tergesa membukanya


GUBRAG Sara tersungkur pingsan sesaat setelah membuka penutup jenazah dan didalamnya wajah Wildan suaminya dengan luka kepala yang cukup parah.


Ayah Ikhsan memeluk dan menggotong tubuh Sara ke belangkar yang kosong sambil terisak tangis.


Wulan menutup penutup jenazah kembali dan menanyakan kebenaran jenazah tersebut. Dan memang benar dia adalah Wildan Purnama suami dari Sara Insani


Tangis mereka pecah setelah kebenaran itu di ucapkan oleh tim polisi dan dokter yang menangani


Sara yang sadar kembali merasa tak bernyawa, tangisannya tanpa suara mengingat suaminya akan pulang ternyata tak kembali ke pangkuannya


Dia tak menyangka suaminya akan pergi meninggalkannya secepat ini, bahkan belum sempat 10 hari pernikahannya.


Di rumah papa Arya


Rumah Arya Purnama dipenuhi para pelayat, ya Arya adalah ayah dari Wildan, sama terkejutnya mendengar anaknya telah tiada. Kecelakaan yang menimpa anaknya membuat jantungnya hampir copot.


Malam itu malam paling suram bagi Sara dan keluarga. Sara pingsan beberapa kali di rumah mertuanya. Pemakaman akan dilaksanakan esok hari para pelayat masih berdatangan sampai subuh.


"Nak, yang sabar papah juga merasa belum percaya tapi ini takdir, kamu yang sabar ya nak" Papah Arya terbaring lemah mencoba memberi ketenangan kepada menantunya


Namun Sara tak bergeming, dia seolah berasa hampa ucapan para pelayat yang memberikan kata kata belasungkawa pun tak ia dengar sepenuhnya. dia hanya menatap dengan tatapan kosong


Berharap suaminya masih hidup Sara tidak jauh dari jenazah Wildan yang telah terbungkus kain kafan yang siap di makam kan. Sambil memeluk jas kantor yang sering Wildan kenakan Sara tak henti hentinya menangis, matanya yang sembab dan bengkak seperti tertinju tapi tidak membiru


Pelukan dari Mama mertua menjadi pelipur bahwa bukan hanya dirinya yang terluka dan kehilangan tapi ibu dari suaminya pun jauh lebih terluka.


Isak tangis mereka pecah disaat jenazah dibuka untuk yang terakhir nya.


Tidak ada kata yang mengakhiri hubungan mereka, tapi bisa memisahkan mereka. perasaan sedih kehilangan untuk selamanya menjadi awan hitam yang menyelimuti hati pikiran dan perasaan Sara, hingga akhirnya Sara kembali tak sadarkan diri di pangkuan mama mertuanya.