The Last Game In Love

The Last Game In Love
Cemas



Gemuruh suara angin membawa awan hitam menyelimuti pagi yang seharusnya indah menari di atas bumi. Pagi terdengar ramai di dapur, suara peraduan wajan dan spatula menjadi musik klasik untuk setiap pendengar pasti akan merasa perutnya lapar.


Sara yang baru bangun langsung terkejut mendapati dirinya terbaring lemah di atas ranjang yang biasa Juna tempati, melihat sekeliling ruangan tidak tampak hidung suaminya.


ceklek pintu terbuka, Suaminya keluar dari kamar mandi dengan sikap acuh. Sara yang melihat suaminya buru-buru turun dan merapikan kembali ranjang yang terlihat berantakan


Sara hanya membungkukkan badan memberi isyarat kata maaf, Dia pun heran apa yang terjadi pada dirinya semalam. Jaket dan selimut menjadi saksi bisu ditambah perban di siku memberi tanda bahwa malam telah terjadi sesuatu namun Ia enggan bertanya pada pemilik kamar apa yang terjadi denganku?


kepalaku masih terasa pusing


Sara memegang pinggiran ranjang sambil duduk menundukkan kepala yang terasa masih pusing


"Bangun dan minum, semalam kau mengalami hipotermia. lain kali jangan main hujan" sahut Juna yang berdiri jauh dari Sara


Tuan kau masih marah, ah aku tidak peduli badanku cukup lemah saat ini


"Maafkan merepotkan Tuan, saya akan lebih berhati-hati" ucapnya dengan lemah


Sikap dingin Juna kembali menggebu membekukan pikiran dan hatiya. Padahal semalam Ia terlihat begitu perhatian terhadap Istrinya.


epilog


Juna menyadari keanehan pada dirinya setelah mendekatkan wajah dengan wajah Sara.


jaga sikapmu Jun, jangan terlihat kau begitu mengkhawatirkannya


ini hanya status bukan hubungan dengan cinta


jaga jarak, kau harus bertanggung jawab atas segala yang kau ucapkan padanya.


***


Pagi ini hujan kembali turun, Juna yang sudah menyiapkan pergi bekerja dibuat penjadwalan ulang oleh Sam karena kliennya terjebak di bandara akibat hujan deras.


"Hallo Rin"


ya nona?


"Hari ini aku tidak ke Cafe, tolong kamu ambil amplop yang ada di meja ruangan saya dan bagikan sesuai namanya ya"


baik Nona, apa kau sakit Nona?


"Hanya kurang enak badan, sampai jumpa besok"


Semoga lekas sembuh Nona, dan sampai jumpa


Percakapan Sara dengan orang kepercayaan di Cafe nya terdengar jelas oleh Juna. Ia merasa bahwa istrinya masih belum pulih. Mengurungkan niat kepeduliannya, Ia rasa sikap khawatir yang diberikan cukup semalam saja yang membuat tubuh Sara kembali menghangat.


Untuk tidak perduli Juna keluar kamar dan duduk di kursi depan kamarnya.


Sara yang mengetahui suaminya keluar, merasakan kesedihan dan kepedihan yang menyeruak dari dalam hatinya


"Apa yang terjadi malam tadi, kenapa aku terlihat menyedihkan? bahkan aku tidak bisa berbuat apa-apa dan mengadukan nasibku ini pada siapa" Suara lembut keluar dari mulutnya yang lemah


Kepedihannya berubah menjadi buliran air mata yang terjun bebas setelah meluncur melewati pipinya


"Sayang, aku berusaha untuk tidak selalu mengenang mu, tapi dengan keadaan seperti ini, aku selalu merindukanmu" hiks hiks


Terdengar suara Sara yang menyebut kata sayang dari dalam kamar, Juna kembali masuk


"Kau masih merindukan Suamimu yang dulu? kenapa tidak mati saja!" suaranya terdengar marah


Mendengar ejekan Juna, Sara mengusap pipi basahnya


"Jika saya harus memilih semalam mungkin aku mati Tuan, kenapa saya ditolong huh?"


Sara memiliki keberanian untuk mengucapkan kalimat yang membungkam mulut Juna, menurutnya siapa lagi yang menolongnya selain Juna karena tidak ada lagi orang lain dalam ingatannya semalam.


"Kau mulai memepunyai keberanian untuk meninggikan suaramu huh? Kalau kau mati di rumah ini, siapa yang direpotkan?"


lihatlah suami baruku sayang, setiap kali dia bersikap kasar aku selalu mengingat kelembutanmu hiks hiks..


"Diamlah nanti pelayan mengira aku menyiksamu" ucapnya melemah dan keluar dengan setelah kerja.


***


Kecemasan bergejolak dalam pikiran Monalisa. Semenjak melihat perlakuan Arjuna terhadap Sara semalam, Dia merasa takut, khawatir putranya mulai menyukai Sara.


Tidurnya tidak nyenyak, seakan merencanakan sesuatu tapi tidak tahu apa yang akan Ia rencanakan.


Melihat rintikan hujan dari dalam kamar, Mona melangkahkan kakinya untuk keluar kamar, semalam menginap di rumah Juna karena merasa merindukan sosok anak semata wayangnya.


"Rick, kamu mau pulang sekarang?" Mona melihat Ricki menenteng tas dokter ditangannya


"Tante sudah bangun? Iya Ricko ada urusan di Rumah Sakit dan sepertinya kondisi Sara juga sudah membaik"


"Oh, baguslah kalau dia membaik setidaknya tidak ada yang direpotkan lagi"


"Menantunya dijaga Tan, disayang biar bisa cepat dapat momongan hehe" Ricky menatap wajah tidak suka dari Tante Mona


"ah sepertinya aku harus segera meninggalkan rumah ini, meskipun hujan turun rasanya terasa panas" sambung Ricko setelah melihat mata Mona membulat lebar setelah mendengar ucapan Ricko tentang momongan


Ricko pergi dengan tawa candanya melihat tingkah Mona seakan terpancing kemarahan jika mendengar tentang cucu.


Suasana hati dan pikiran Mona kembali tak menentu, setelah semalam tidak bisa tidur sekarang dibuat gundah oleh keponakannya tentang momongan. Ya, yang ditakutkan Mona adalah Arjuna jatuh cinta kepada Sara dan memberinya cucu dari perempuan itu.


"Astaga aku tidak bisa membayangkan itu terjadi" ucap Mona, kedua tangannya menutup seluruh wajahnya


***


Sore Pukul 5, Sam memarkirkan mobil. Sebelum mereka keluar ada sedikit perbincangan diantara mereka


"Apakah Nona baik-baik saja Tuan?" Tanya Sam meragukan langkah kaki Juna untuk keluar mobil.


Duduk kembali adalah pilihan tepat.


"Ya, Dia baik-baik saja" Dengan nada yang datar Juna menyembunyikan rasa yang aneh pada dirinya


Kenapa Sam bertanya keadaan istriku


oh iya aku melupakan Sam yang menolong Sara semalam


"Semalam Nona terlihat pucat setelah kehujanan, saya Khawatir terjadi sesuatu pada Nona"


"Kenapa kau mengkhawatirkan istriku? seolah kau memperdulikannya Sam"


"Saya perduli karena Dia Istri anda Tuan, semalam mobilnya mogok dan Nona tidak mau berteduh karena ingin segera pulang" Sahut Sam dengan santainya


"Cih benarkah kau perduli? atau mungkin kau menaruh perasaan pada istriku?"


Deg.... Jantung Sam seperti tersambar petir, memang benar apa yang dikatakan Juna tapi lebih tepatnya dia hanya ingin memberi empati atas istrinya tapi kenapa suasana jadi canggung setelah kata itu terlontar dari mulut Juna.


Berbeda dengan Juna yang menganggapnya candaan, namun dari candaan yang diberikan kepada Sam ada rasa yang aneh, seolah Juna tidak ingin ada laki-laki lain yang mengkhawatirkan kondisi istrinya. Padahal Dia sendiri tidak pernah memberi perhatian.


"Pulanglah aku hanya bercanda" titah Juna pada Sam


"Baik Tuan, dan yang semalam mengantar Nona adalah saya. Saya mendengar dari pelayan Nyonya besar marah dan menganggap Nona pergi berkencan dengan laki-laki" Sam seolah memberi penjelasan yang bersifat melarang Mamanya untuk terus mengolok-olok Sara atas kejadian semalam.


Sam mendapat informasi dari penjaga gerbang, karena setelah mengantar Sara Dia langsung pergi.


Mendengar penjelasan Sam yang cukup panjang, Juna tidak memberi respon apapun. Keluar dari mobilnya dan pergi meninggalkan Sam tanpa pamit.


***


Hallo para reader... apa kabar nya nih???


Masih setia kah untuk membaca???


Tinggalkan jejak setelah membaca yaa...


Love You All ❤️❤️❤️