
Selamat Siang...
Maaf baru bisa Up, karena masih berada di luar kota aku sempatkan menulis
Semoga suka
Happy reading...
Setelah menerima bingkisan makanan dan membungkus sisa makanan yang tidak dimakan, mereka menyusul Juna yang didapati sudah ada di dalam mobil
"Tuan terimakasih, makanan ini dibawa untuk aku bagikan besok" duduk di samping suaminya yang fokus pada benda pipih
"hmm"
Irit sekali Tuan, kurang makannya sih jadi lesu kan
Sara bergumam dalam hati, bibirnya cekikikan membayangkan lamunannya
"Apa yang sedang kau tertawakan?"
Sontak Sara terkejut merapatkan bibir dan menutupnya oleh kedua tangan.
"Tidak Tuan, tadi dijalan ada hal yang lucu jadi aku tertawa mengingatnya lagi"
"Awas saja kalau kau menertawakan ku" ancam Juna dengan pandangan sinisnya
"Baik Tuan"
Mobil melaju cepat karena jalanan tidak terlalu padat kendaraan. Tiba di rumah menyimpan bingkisan makanan yang sudah dibungkus tadi kedalam lemari pendingin.
Pintu kamar terbuka mereka masuk dan membersihkan diri bergantian, dilihat pukul 9 malam
"Apakah setiap pertemuan selama ini Tuan?"
"Tergantung, tadi cukup lama karena memang banyak yang perlu di bicarakan"
"Benarkah, pantas saja"
Pria itu menoleh seolah bertanya apa maksud dari ucapan istrinya?
Pukul 5 pagi Sara terbangun dan merapikan diri memakai baju olah raga berwarna merah polet hitam, keluar dan menuju dapur mengeluarkan makanan yang dibawanya semalam dari lemari pendingin
"Nona sedang apa pagi-pagi sekali memasak?"
"Bibi Meri? kau disini?"
tangannya masih sibuk memasukkan makanan yang sudah hangat kedalam wadah
"Ya, kemarin Bibi ditugaskan disini karena Tuan dan Nyonya besar sedang keluar negeri"
"Ah benarkah? aku senang sekali lho Bi jadi ada temen ngobrol"
Seolah terpanggil melihat perempuan dihadapannya sedang menghangatkan makanan kembali, Bibi Meri membantunya tanpa diminta.
"Selesai Nona, kenapa dibungkus?"
"Aku mau lari pagi Bi, Suamiku juga belum bangun nanti pukul 7 aku sudah ada disini kok" Ucapnya dengan tangan merapikan bawaannya
"Lalu ini buat apa?"
"Semalam kami makan diluar dan makanannya banyak yang tersisa sayang banget kalau dibuang kan Bi, jadi akan aku bagikan di luar komplek ini ada beberapa orang yang semalam tidak makan Bi"
"Hatimu secantik wajahmu Nona" Bibi Meri memuji Sara sambil menyentuh pipinya
"Bahkan aku tidak pernah menganggap ku cantik Bi"
"Tidak mungkin Tuan Muda memilih menikah denganmu Nona jika tidak ada yang istimewa"
"Bibi bisa saja, Aku pergi dulu Bi, lemak ditubuh ku menunggu untuk bergoyang"
Sara berlalu meninggalkan Bibi Meri yang menatapnya jauh.
Sangat beruntung Tuan.
Di keramaian pagi jalanan hanya di penuhi oleh orang yang berlalu lalang menghirup udara yang masih sejuk, perempuan itu menyusuri jalanan dengan berjalan kaki.
Matahari mulai bersinar tubuhnya mulai berkeringat, benda yang dari tadi dibawanya sudah sampai pada beberapa orang yang ingin Ia berikan.
Tiba di depan rumah, diliriknya jam yang melingkar di tangan masih ada waktu 15 menit sebelum jam 7, Ia berniat lari kecil mengelilingi rumah. Namun langkah kakinya terhenti setelah melihat sosok pria yang berdiri diambang pintu kemudian berlari mendekat dan memeluknya.
"Syukurlah, kau tidak apa-apa? kenapa tidak membangunkan aku?"
Laki-laki itu terus memeluk sambil berbicara penuh pertanyaan, dilepasnya pelukan itu perlahan dari wanita yang dari tadi kebingungan menyimpulkan apa yang sedang Juna lakukan?
Ia hanya mengerutkan dahi sambil mencerna dari banyaknya kalimat yang terlontar dari mulut suaminya
"Setelah Pesta itu selesai aku akan pergi, carilah perempuan yang kau cintai"
"Bagaimana jika aku sudah mencintaimu?"
"Itu hanya sesaat, karena selama 6 bulan ini kita satu rumah. cukup beradaptasi beberapa hari kamu akan melupakan semuanya"
Sara pergi meninggalkan Juna yang berdiri dikeramaian pesta, heels yang digunakan terlalu tinggi Juna melihat Sara berlari kecil tidak nyaman sampai ujung jalan yang licin terkena air hujan, tubuhnya hilang keseimbangan setelah kakinya menginjak jalanan yang cukup licin Duugg suara dentuman kepala terjatuh dan menimpa batu hias yang berada di pinggir jalan
Laki-laki itu berlari menembus kerumunan orang yang sudah berkumpul, duduk bersimpuh didepan tubuh yang hilang kesadarannya, Ia mengangkat kepala istrinya yang sudah berlumuran darah digerakkan kepalanya ke kanan dan kiri namun tidak sadar lagi
SARAAAAA teriak Juna dalam mimpinya.
Matanya terbuka seketika dan membulat sempurna, peluhnya membasahi rambut dan dahi, tubuhnya yang masih kaku dan gemetar terpaksa duduk dan menyadari itu hanya mimpi
"Kemana dia?"
menyadari Istrinya tidak berada di samping tempatnya tidur, Ia terpaksa bangun dan mencari keberadaanya
Mulai kamar mandi, dapur, ruang tamu, kolam renang sampai di pintu utama Juna membuka dan melihat sosok perempuan yang Ia cari dari tadi sedang berdiri bersiap untuk berlari dengan pakaian olahraga berwarna merah polet hitam.
Juna berlari mendekat dan memeluknya
"Syukurlah, kau tidak apa-apa? dari mana saja? kenapa pergi sendirian? kenapa tidak membangunkan aku jika mau lari pagi? harusnya kau ajak aku"
Laki-laki itu terus memeluk sambil berbicara penuh pertanyaan, dilepasnya pelukan itu perlahan dari wanita yang dari tadi kebingungan menyimpulkan apa yang sedang Juna lakukan?
Ia hanya mengerutkan dahi sambil mencerna dari banyaknya kalimat yang terlontar dari mulut suaminya
"Aku hanya berlari Tuan, kenapa mengkhawatirkan ku?"
"Sudahlah jangan banyak tanya, yang penting Kau baik-baik saja. Terima kasih" Ucapnya sambil memeluk kembali
"Tuan kau melanggar aturan kita kembali"
Menyadari itu Juna melepas pelukannya
"Aku hanya ingin melindungi mu, izinkan hanya untuk itu, hm?"
"Melindungi? aku bahkan bisa menjaga diri sendiri Tuan"
"Kau memang banyak tanya, Suamimu adalah sahabatku Dia menitipkan mu padaku"
Sara semakin bingung, mencerna kembali perkataan yabg membuatnya berpikir keras
kenapa aku dititipkan?
sementara Wildan sudah tiada?
Atau mungkin dia berdusta?
Padahal sesungguhnya dia mulai mencintai ku?
"Boleh aku memelukmu lagi?"
"Peluk?"
Tanpa menunggu persetujuan, Juna memeluk tubuh ramping istrinya didepan rumah. Masih terngiang dalam ingatannya mimpi itu seolah nyata melihat perempuan yang ada di pelukannya berlumuran darah dan tidak sadarkan diri tetapi tidak, Dia baik-baik saja bahkan sedang ada dalam kungkungan tubuh kekarnya. Beberapa pelayan melihat mereka penuh dengan kebahagiaan
"Aku jadi pengen cepet-cepet menikah" ucap seorang pelayan bagian membersihkan kaca sambil memeluk lap yang ada ditangannya
"Hussh bubar, kalau ketahuan Tuan muda bisa bisa kalian dipecat" teriak Bibi Meri yang datang dari belakang
"Tuan seperti nya para pelayan sedang melihat kita"
Sara merasa malu, wajahnya memerah bagai tomat yang siap di jus.
Q : Lama beut up nya thor, niat nulis gak sih
A : Maaf beut.. makannya semangatin dong kasih like kek atau komen kek kalo ga punya poin mah gapapa
Q : Jadi ga ikhlas nih?
A : Ikhlas donkkk... Baperan amat siiihh cepet tua lho
Q : padahal udah mau vote nih, galak amat ga jadi ah
A : Ya kasih lah gapapa 100 poin juga wkwkwkkwkw