
Kembali lagi nih manteman..
happy reading...
and enjoooooyyyy
***
Seperti yang ada dalam perjanjian sebelum menikah, Sara tidak mau ada yang melarang nya pergi ke makan suaminya. Termasuk Juna suaminya.
Pagi tepat pada hari Jumat, Juna tidak pergi ke perusahaan Jaya Group karena pertemuan bersama klien di luar kantor. Kaos putih yang cukup ketat masih melekat pada tubuh six pack.
Kamar sudah tertata rapi, seprei yang asalnya berwarna biru gelap telah diganti menjadi warna putih, tumpukan buku yang berserakan tersusun rapi di atas nakas, pakaian yang akan dipakai ke kantor pun sudah siap berada di atas kasur, siapa lagi yang membereskan kalau bukan sang istri bangun pagi untuk hal ini, karena semenjak menikah pelayan yang biasa membereskan kamar Juna tidak lagi di perbolehkan masuk kecuali ada hal yang penting. Karena takut mereka tahu jika mereka tidur pisah ranjang.
"Apa Kau mau ke Cafe?" Tanya Juna yang mengagetkan Sara, jarang-jarang suaminya bersikap lembut apa lagi bertanya masalah pribadinya
Apakah dia sedang bertanya?
"Aku tidak suka mengulang pertanyaan ku" suaranya sedikit meninggi
"Ah ya Tuan, Siang ini saya akan ke makam suami saya dan melihat ke Cafe terus pulang"
Kepalanya hanya mengangguk kemudian meninggalkan Sara.
Mempersiapkan diri akan pergi ke makam, Sara hanya memakai dres berwarna putih panjang nya dibawah lutut, rambutnya tidak di ikat karena setelah melakukan perawatan yang diberikan Papa Jaya Sara jarang sekali mengikat rambutnya. Tas kecil berwarna merah muda menyelempang di atas bahu menambah kesan yang lebih feminim.
Berjalan menyusuri anak tangga dan menikmati sarapan yang ada di meja makan bersama suaminya, sikap mereka saat ini memang sudah normal tidak ada lagi hinaan ganas yang terlontar dari mulut Juna. Mungkin karena Sara terlihat lebih baik akhir-akhir ini.
"Tuan, tidak bekerja?" Tanya Sara kemudian meneguk minuman berwarna putih
"Tidak" jawabnya cukup singkat
Sara membulatkan mulutnya berkata oh
"Saya pergi dulu ya Tuan"
Memperhatikan Sara yang berdiri memberi kata pamit dan berjalan meninggalkannya, Hati Juna merasa terdorong oleh penasaran kemana istrinya akan pergi, akan tetapi niatnya terurung karena ada pertemuan klien siang ini.
Mobil pun berjalan menyusuri arah ke pemakaman elit, tempat mendiang Wildan di semayamkan. Tidak lupa karangan bunga yang selalu Sara bawa menjadi kebiasaan yang wajib baginya.
Tiba di pemakaman, Sara menaburkan bunga di atas pusaran yang sudah ditumbuhi rumput hijau. Air matanya masih menetes kala mengingat masa itu, di saat pengantin wanita lain menerima kasih sayang yang manis dari suaminya, justru yang di rasakan Sara saat itu berita pahit tentang kepulangannya.
"Sayang, aku tidak tahu sampai kapan air mata ini terus mengalir, lihatlah aku terlihat cantik bukan? semua yang aku lakukan demi masa depanku sayang bukan bermaksud mengkhianati cinta kita. Maafkan aku memilih jalan ini" kembali menetes kan air mata.
Istri mana yang tidak bersedih ketika lagi sayang-sayangnya ditinggal tidak kembali.
"Aku pamit dulu, dan aku akan kembali Minggu depan"
Menegakkan dan membalikkan tubuh berniat untuk kembali ke dalam mobil, namun ada sosok yang selalu hadir setiap Sara mengunjungi makam suaminya itu.
"Selamat Pagi Nona" ucap Sam yang berdiri tepat di belakang Sara selisih 5 meter.
"Sam...? Kenapa setiap kali aku kesini kebetulan ada kamu?" ucap Sara terheran melihat sekretaris suaminya berdiri seperti patung di depan
"Kebetulan Makam Ibu saya juga di sini Nona, dan kebetulan juga setiap hari Jumat kita sama-sama kesini, jadi mungkin Nona mengira saya menguntit anda"
"Oh pantas saja, Kalau begitu saya pamit" Sara melangkahkan kakinya mendahului Sam yang masih berdiam diri, Sam pun mengikuti langkah kaki Sara dari belakang.
Tiba di gerbang pemakaman, Sara mencari benda kecil untuk menghidupkan mobilnya.
"Bolehkah saya bertanya Nona" Suara Sam membuat Sara menoleh dan kembali fokus mencari sesuatu didalam tas.
"Tanyakan saja Sam jangan sungkan" tangannya masih sibuk mencari benda yang belum juga ketemu.
"Apakah Nona tahu Tuan Muda adalah Sahabat dari mendiang suami Nona terdahulu?"
Seketika aktivitas nya terhenti, Sara melihat Sam yang berada di sebelahnya, matanya membulat seakan apa maksudnya ini?
"Mungkin Nona tidak tahu, sama halnya Tuan muda yang tidak tahu bahwa Nona adalah istri dari sahabatnya"
Sara masih mencerna apa yang dikatakan Sam padanya
"Benar Nona, Tuan Wildan dengan Tuan Muda bersahabat, tapi karena kesibukan mereka merintis Usaha jadi jarang bertemu"
"Tapi kenapa berbeda sekali dengan Wildan? dia terlihat lebih egois, kasar dan tempramen"
Akhirnya mereka duduk di kursi bercat putih dan hitam, menceritakan kejadian masalalu yang terjadi pada suaminya saat ini. Sara hanya menahan tawa mendengar kelakuan Juna bersama mendiang suaminya dulu.
"Dan kau tahu Nona? Tuan Muda berubah seperti ini karena perempuan" Sam melihat pohon-pohon di hadapannya bergerak tanpa arah karena tiupan angin, ya Dia seperti ingin menyatukan hati bos mereka.
Mendengar kalimat itu Sara mengakhiri tawanya dengan wajah yang serius
"Nona masih ingat kan kejadian di Toko Kue 3 tahun yang lalu? ya, hari itu adalah hari 1 tahun pernikahan Tuan Muda, namun sayang Istrinya malah mengkhianati Tuan muda, Dia marah besar kepada setiap orang yang dia temui pasti kena imbasnya termasuk toko anda Nona"
"Dan semenjak perceraian dengan istrinya, Tuan Muda berubah jadi seperti ini. Apa Nona akan percaya jika Tuan Muda sungguh baik dan penyayang?" Tanya Sam seraya melihat Sara yang sedang memandang dirinya penuh keseriusan
"Sepetinya Nona penasaran dengan cerita Tuan muda, Apa Nona juga mulai tertarik padanya?"
Deg.... jantung Sara berdetak kencang, tingkahnya jadi serba salah.
Mungkin karena sudah menjadi Suaminya Sara penasaran dengan cerita masa lalunya atau karena benar Sara sudah mulai tertarik pada Juna? entahlah yang pasti Sara merasa sedikit aneh
"Lebih baik kita pulang Sam, ini sudah menjelang siang aku harus ke Cafe"
Tubuhnya berdiri dan segera meninggalkan Sam.
"Baiklah Nona maaf saya bercerita banyak sampai membuang waktu Anda" Sam membungkukkan badannya lalu memperhatikan Sara pergi terburu-buru.
***
Keramaian terjadi di Cafe bernuansa romantis itu, Sara yang baru saja turun dari mobil mencari informasi kenapa di Cafe nya banyak Wartawan dan media mengambil foto dan video menggunakan kamera yang dibawa rekan kerjanya.
Apa yang sedang terjadi di Cafe.
Menerobos kerumunan orang-orang yang sedang menonton dan mengambil foto, mata Sara tertuju pada sosok laki-laki yang sedang duduk penuh dengan amarah. Disampingnya seorang perempuan cantik sedang bergelayut manja dengan kekasihnya.
"Apa yang sedang terjadi?" Tanya Sara pada salah satu pegawainya bernama Vina
"Ada Model datang kesini membawa media Nona"
Sara menghampiri mereka, bermaksud datang sebagai pemilik Cafe akam menanyakan keramaian yang sedang terjadi, namun belum menyapa tamunuang dianggap model itu tiba-tiba tangannya ditarik tubuhnya di peluk oleh seseorang yang wajahnya sudah memerah.
"Sayang, kenapa baru datang?" Tanya Juna pada Sara dengan penuh kelembutan sambil mencium kening istrinya
"Kenalkan dia Istriku namanya Sara, dan ini. dia Angela mantan istriku Sayang" Juna memberi senyuman manis pada Sara baru kali ini ia berikan kepada Sara, tapi itu adalah kode untuk berakting
*Oh Jadi ini Mantan Istrinya Suamiku...
Cantik sih tapi berwajah licik
aku harus hati-hati ~ Sara
Cukup Cantik, tapi terlihat kampungan
~ Angela*
Untung Kau ada disini, terimakasih telah memudahkan urusanku Ra. ~ Juna
"Sayang, Kamu sudah makan?" Sara bertanya pada suaminya seolah meneruskan akting Juna.
Tidak ada yang tidak diam, semua media mengambil kamera dihadapannya telah terjadi adu pasangan.
Juna yang menikmati akting sang Istri membuatnya takjub dengan apa yang dilakukan Sara.
Karena Juna menggelengkan kepala, terpaksa Sara memesan makanan dan menyuapi suaminya dengan penuh kasih sayang, Angela yang memandang penuh dengan rasa iri dan gusar.
Ya, keberanian Sara yang dulu telah bangkit, Juna yang melihat itu semua masih merasa terkejut dibalut dengan rasa bahagia
***