
TELAPAK NAGA
Essensi petir dalam lumut racun petir sangat mempengaruhi pemahaman prinsip petir bagi Yan Shu.
Yan Shu terus berusaha meningkatkan pemahaman nya tentang prinsip petir, hari demi hari dilalui dibawah tekanan gravitasi dia berkultivasi, berkat lumut racun petir dia telah pemahaman Yan Shu telah memasuki tingkat pedua dari prinsip petir,
Yan Shu mengakhiri kultivasi nya dia membuka mata nya perut nya terasa lapar, karena persediaan air nya sudah habis, dia perlu memanen lumut dan mengisi kembali persediaan airnya, sekarang langkah kaki nya keluar dari tempat itu terasa lebih ringang, karena semakin keluar tekanan nya semakin kecil, dia merasa perlu menyempurnakan prinsip angin dan prinsip air nya,
Yan Shu Memanen Lumut dalam jumlah banyak sekarang dengan kekuatannya dia telah mampu mengangkat tong air tersebut kemana dia menginginkannya.
Yan Shu memikul tong air tersebut tong tersebut, kekuatan nya sekarang melebihi tingkat kultivasi orang normal, setelah meletak kan tong tersebut pada pasir teluk Yan Shu segera melihat hembusan angin yang berbentuk pisau tersebut, kali ini pemahaman nya benar benar meningkat, pola pola yang terbentuk dari pisau angin tersebut segera memasuki alam sadarnya, didalam alam kesadarannya segera membentuk pisau angin, saat ini batu satu pisau angin yang dibentuk nya, angin berputar diatas kepala Yan Shu,
Diantara angin yang berputar tersebut ada satu pisau angin, pisau tersebut panjang nya Cuma sejengkal itu arti nya pemahaman Yan Shu telah mendekati Niat angin itu arti nya dia telah berada dipuncak prinsip angin.
Yan Shu Membuka matanya, tetapi belum mengakhiri kultivasinya, dia berencana meningkatkan kekuatan pemurnian tubuhnya melalui tulangnya, kali ini dia menyerap energi yang berada disekitanya, meyerapnya melalui meridian besar nya mengallir keseluruhan meridian kecil nya dan seluruh tulang nya, proses ini berjalan setiap waktu tanpa terasa tulang nya sudah sekeras baja tetapi belum menerobos ke tingat tiga tekhnik pemurnian tubuh.
Dari pemahanan nya berdasarkan informasi kitab seni bela diri kuno membutuhkan waktu lama menyempurnakan tulang nya jika tidak menggunakan sumber daya.
Kali ini Yan Shu mengkultivasikan Tapak Naga nya, Seni bela diri Tapak naga menggunakan banyak energi jadi Yan Shu melatihnya dengan hati – hati.
Yan Shu memasang kuda kuda nya kemudian mengalirkan energi nya ke lengan kanan nya, Langsung Separuh dari energi nya tersedot ketelapak tangan nya, Yan Shu merinding menyadari energi yang dibutuhkan dalam melatih jurus ini, dia mrngarahkan telapak tangan kanan nya ke batu yang biasa dipergunakan nya untuk bersembunyi satu tahun yang lalu.
Wussshhhhh
Energi dalam Jumlah besar melesat keluar dari telapak tanganya, yang aneh nya seluruh energi nya ikut terkuras habis.
Wuusssstttt batu tersebut pecah berkeping keping...., tapi resiko nya Yan Shu kehabisan energi muka nya pucatm sekarang dia terduduk lemas, dipasir.....
Dia kagum akan hasilnya tapi jika dia sedang bertempur menggunakan jurus ini dan musuh nya tidak mati pasti dia yang mati karena di saat dia kehabisan energi, musuh akan menyerang balik.
Butuh seharian penuh bagi Yan Shu untuk memulihkan energinya, malam harinya sehabis makan kulit Yan Shu telah berubah menjadi hijau pekat, akumulasi darah lumut racun petir sudah sangat banyak didalam tubuhnya, racun dari lumut racun petir telah menyebar melalui darahnya bahkan masuk kedalam sumsumnya.
Yan Shu berlatih dengan giat, tanpa kenal waktu, istirahatnya hanya disaat dia berkultivasi, selama ini dia hanya tidur seperlunya, Yan Shu mencoba berlari disekitar pasir teluk, dia mengalirkan energi nya kekaki, hasil nya sungguh luar biasa, kecepatannya setara dengan seorang yang telah menembus tahap pembentukan roh.
Jika aku berlatih lebih lama di bawah tekanan gravitasi didalam seberapa cepat aku pikir Yan Shu, dia buru buru kembali ke dalam teluk, dengan memikul tong airnya.
Sesampai didalam nya Yan Shu mengisi kembali dengan penuh tong air nya dan menutupnya kembali.
Yan Shu punya ide extrim dia kan melewati gravitasi dengan cara memikul tong yang berisi air, benar benar ide gila, orang waras tidak akan melakukan itu.
Tangga kedua
Tangga ketiga
Sampai tangga kesepuluh Yan Shu tidak merasakan tekanan
Tetapi begitu Yan Shu melompat menginjakkan kaki nya di atas tangga kesebelas, sampai ke tangga dua puluh Yan Shu praktis terdiam, dia tidak dapat meneruskan ketangga selanjutnya.
Dia berkultivasi sampai sore di tangga ke dua puluh satu sambil memikul Tong air diatas kepalanya, Malam harinya Yan Shu Melanjutkan ke tangga kedua puluh dua.
Di tangga ke dua puluh dua Yan Shu terhentikan sama dengan tangga ke dua puluh satu, dia membutuhkan waktu sampai pagi hari.
Dari hasil dia berkultivasi selama ini lingkar energi nya sudah sebanyak empat ratus tujuh lingkar, semakin hari semakin sulit dia meyerap energi untuk membuat lingkaran yang baru, karena setiap lingkar yang baru butuh waktu dua kali lipat dari lingkaran sebelumnya, sebab lingkaran energi yang baru dua kali lebih besar dari lingkaran sebelumnya.
Seperti tadi malam dia hanya mampu membentuk setengah lingkaran energi, kali ini Yan Shu melompat ke Tangga ke dua puluh tiga, setiap dua belas jam dia hanya mampu menyelesaikan satu anak tangga, butuh waktu total empat puluh hari bagi Yan Shu untuk mencapai tangga ke sembilan puluh sembilannya.
Setelah menyelesaikan tangga ke sembilan puluh sembilan Yan Shu merasa lega dan sedikit puas, dia sudah bisa melewati tangga tersebut dengan memikul tong yang berisi air itu berarti fisiknya sekarang sudah sangat kuat.
Yan Shu kembali menghadap tangga pertama dia masuk kesini, kali ini dia berniat melatih gerakan tapak naga tanpa energi sambil memikul tong dibawah gravitasi. Selama lima puluh hari Yan Shu meletakkan tong diatas kepala nya, setiap hari dia kini telah mampu berlari bolak balik dari tangga kesatu ketangga sembilan puluh sembilan Yan Shu Hanya butuh waktu satu jam.
Jadi total waktu yang dibutuhkan Yan Shu untuk menyelesaikan bolak baliknya adalah dua jam.
Sekarang Yan Shu sudah sangat mahir menggunakan tapak naga nya meski, dia belum sempurna dalam mengendalikan energi nya tetapi pemahaman nya terhadap pengendalian tapak naga sudah mencapai peningkatan besar.
Sekarang Yan Shu telah memahi perinsip angin, sebentar lagi dia akan menmbus tingkat niat angin, prinsip air meski Cuma awalnya saja, prinsip petir juga telah dikuasai nya, yang perlu Yan Shu lakukan adalah mempelajari cakar naga.
Yan Shu kemballi berkultivasi di tepi parit berair bening tersebut, dia sekarang sedang mempelajari seni kedua dari kitba seni bela diri kuno, yaiut cakar naga, penggunaan cakar naga lebih mudah dari pada tapak naga, karena energi yang digunakan tidak terlalu besar, tetapi Hasil nya hampir sebanding dengan Tapak Naga.
Yan Shu melanjutkan berlatih di bawah tekanan gravitasi, baru sekarang Yan Shu menyadari bahwa batu batu yang tersusun tersebut merupakan pola langkah kaki, yang teratur jika dialiri dengan energi maka langkah kaki sesorang akan yang memahami langkah ini akan sangat cepat.
Yan Shu memasukkan prinsip angin dikakinya saat dia menyadari langkah ini, langkah ini juga merupakan warisan kuno yang berguna jika dipakai saat pertempuran, dengan prinsip angin tingkat puncak langkah kaki yan Shu segesit angin, dia menggabungkan Prinsip angin, cakar dan cakar naga dalam langkah tersebut.
Hasil nya selain Yan Shu terlihat gesit dan lincah tubuh nya bisa bergerak dengan cakar mengembang seolah olah dia seekor naga yang sedang bertarung, tetapi kelincahan nya terlihat seperti burung elang,
Setiap dia mengibas kan tangannya akan terbentuk cakar yang dikelilingi Angin yang mengangung energi.