
Jam makan siang tiba, Aimee segera bergegas menuju ruang makan. Di pertengahan jalan dia bertemu dengan Xiao Li, pria itu segera tersenyum saat melihat Aimee, begitu pula dengan Aimee.
Aimee kembali memberi salam dengan budaya orang-orang Timur tersebut, membuat Xiao Li semakin tersenyum dalam.
"Grand Duke akan tiba beberapa menit lagi, beliau memang sangat sibuk. Mohon maaf jika nanti beliau akan terlambat sedikit," ucap Aimee, berpura-pura menyandang gelar seorang istri yang pengertian.
Xiao Li mengangguk. "Bukan masalah, Grand Duchess."
Selesai dengan percakapan singkat itu, mereka berdua bergegas berjalan menuju ruang makan. Begitu pintu ruang makan dibuka, Aimee menaikkan alis kirinya. Bagaimana mungkin Althaf sudah tiba lebih dulu? Biasanya pria itu akan terlambat satu atau dua menit.
Althaf yang melihat kedatangan Aimee dan Xiao Li segera berdiri, lalu berjalan ke arah Xiao Li sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
"Selamat datang di Grand Duchy saya, pangeran Li. Silahkan duduk dan nikmati makan siang hari ini," ucap Althaf, pria itu menyunggingkan senyum tipis persahabatan.
Aimee yang melihat pria itu bertingkah sok ramah hanya bisa diam dan menatap pria itu aneh, kemudian dia berjalan ke arah kursi makannya dan duduk. Aimee duduk di samping Althaf, sedangkan Xiao Li di seberang mereka.
Saat sedang sibuk memakan makanan yang ada di depan, tiba-tiba Xiao Li bertanya,"Sepertinya istri yang mulia memiliki bakat yang luar biasa." Aktivitas makan Althaf terhenti setelah mendengar pujian Xiao Li kepada Aimee. Aimee juga demikian, wanita itu segera tersenyum lembut.
Althaf mengangguk singkat. "Benar, terima kasih." Senyum Aimee segera menghilang setelah mendengar jawaban Althaf, kesal. Pria itu benar-benar ingin dirinya tusuk menggunakan pisau makan siang mereka kali ini.
Xiao Li memperhatikan raut wajah Althaf dan Aimee, ketika menemukan sesuatu yang aneh si antara keduanya, pria itu semakin memperdalam senyumnya.
Makan siang berlangsung sangat canggung dan kaku, itu semua karena Althaf. Pria itu benar-benar membuat Aimee kesal.
Sebelum berpisah di ruang makan, Althaf bertanya,"Pangeran Li, bagaimana jika anda menggunakan kereta kuda dari Grand Duchy untuk pergi ke Istana? Sepertinya kereta anda membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki."
Xiao Li menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum. "Terima kasih banyak atas tawaran anda, yang mulia. Tetapi sepertinya saya ingin menunggu kereta kuda saya saja, sebetulnya saya memiliki kebiasaan tidak bisa merasa nyaman berada di kereta kuda selain milik pangeran ini."
Aimee yang mendengar ini segera sedikit melangkah ke depan dan berkata,"Kalau begitu bagaimana jika saya membawa anda mengelilingi Grand Duchy? Seharusnya kereta kuda anda telah siap setelah selesai berkeliling."
"Baiklah kalau begitu, mohon maaf saya harus kembali ke ruangan kerja saya. Anda tidak keberatan kan ditemani oleh Grand Duchess?" ujar Althaf.
Xiao Li tersenyum ke arah Aimee dan mengangguk kecil, lalu beralih ke arah Althaf dan menjawab,"Tidak, yang mulia. Justru saya merasa senang, karena beliau adalah kawan bicara yang tidak membosankan."
Althaf mengangguk singkat, kemudian segera berbalik dan keluar dari ruang makan. Aimee menghela napas tipis diam-diam setelah Althaf keluar dari ruang makan. Wanita itu kemudian kembali menyunggingkan senyumannya ke arah Xiao Li.
"Pangeran Li, mari kita berkeliling," ucap Aimee, kemudian mereka berdua berjalan keluar dari ruang makan setelah dijawab anggukan lembut dari Xiao Li.
Di tengah asyiknya berkeliling Grand Duchy, Aimee sambil memulai obrolan santai.
"Bagaimana dengan anak istri yang mulia?" tanya Aimee.
Xiao Li tersenyum tipis. "Aku belum mempunyai anak, istriku hanya satu. Kami menikah karena titah Kaisar."
"Bagaimana dengan Grand Duchess?" tanya Xiao Li.
Aimee tersenyum tipis, ada kilat dingin dan hambar dari senyumannya, dan ini ditangkap oleh mata Xiao Li.
"Kami menikah atas kemauan bersama," jawab Aimee seadanya, tatapan mata wanita itu dingin.
"Oh, pasti anda berdua saling mencintai. Menikah tanpa paksaan dari pihak manapun pasti sangat menyenangkan," ujar Xiao Li.
Aimee diam-diam mengepalkan tangan kanannya. Kalimat konyol. Apa itu? Saling mencintai? Mereka bahkan tidak pernah tidur seranjang kecuali pada saat malam pernikahan satu tahun yang lalu, saat itu mereka berdua juga tidak melakukan apa pun selain tidur memunggungi satu sama lain.
"Ada apa, Grand Duchess?" tanya Xiao Li, langkah kakinya terhenti sambil terus melihat ke arah Aimee. Aimee juga menghentikan langkahnya, kemudian menatap Xiao Li dan berusaha tersenyum senatural mungkin seperti sebelumnya.
"Tidak apa-apa, maafkan saya karena sempat melamun," jawab Aimee.
"Anda tampak kesepian dan sedih, apa anda benar baik-baik saja? Jika anda mau, anda bisa berbagi kisah dengan saya. Saya senang mendengarkan cerita orang lain," balas Xiao Li.
Aimee menggelengkan kepalanya lagi, dia agak sedikit terkejut karena Xiao Li bersikap seramah dan seterbuka ini dengannya.
Aimee menggelengkan kepalanya pelan. "Sungguh, saya tidak apa-apa, yang mulia. Tadi saya hanya tidak sengaja melamun."
Melihat Aimee sepertinya belum terlalu ingin terbuka dengannya, Xiao Li tersenyum tipis dan mengangguk ringan. "Baiklah, tetapi jika anda memiliki masalah dan bingung ingin menceritakannya kepada siapa, anda bisa mencari saya. Saya sangat suka menjadi pendengar, saya juga sangat senang memberi solusi untuk membantu masalah seseorang. Apa lagi anda seorang wanita, sejujurnya saya tidak begitu senang melihat wanita menunjukkan raut wajah sedih."
Aimee sedikit tertegun di akhir kalimat Xiao Li, tetapi kemudian dia tidak menghiraukan kalimat Xiao Li. Semakin topik ini diperpanjang, kemungkinan suasana canggung muncul akan semakin besar. Aimee malas berhadapan dengan suasana canggung seperti itu.
"Sepertinya kesetaraan antara wanita dan pria di sini hampir setara, ya? Buktinya anda, anda masih diperbolehkan berbisnis setelah menikah," ujar Xiao Li.
Aimee mengangguk singkat. "Benar, yang mulia. Sepertinya kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan di Timur, ya?"
Xiao Li terkekeh kecil sambil mengangguk. "Benar, oleh karena itu saya sedikit terkejut. Apa lagi ketika mendengar anda melakukan bisnis bersama bangsawan Qin."
Aimee hanya tersenyum saat mendengar itu, tak lama kemudian datang seorang pelayan ke arah mereka berdua. Pelayan itu menyampaikan bahwa kereta kuda Xiao Li sudah selesai diperbaiki dan siap untuk digunakan kembali menuju Istana.
Xiao Li dan Aimee bergegas menuju tempat kereta kuda tersebut yang sudah diletakkan di depan gerbang Grand Duchy. Sebelum naik ke dalam kereta, Xiao Li sempat memberi salam ke arah Aimee dengan budaya barat Ventumia, lalu mencium tangan Aimee.
"Sampai bertemu lagi di Istana, Grand Duchess. Terima kasih banyak atas bantuan anda," ujar Xiao Li.
Aimee mengangguk singkat. "Bukan sesuatu yang besar, Pangeran Li. Jika anda mendapatkan kesulitan selama di Ventumia, anda bisa menghubungi saya."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu, saya senang mendengarnya," balas Xiao Li, setelah itu dia masuk ke dalam kereta kudanya.
Tanpa Aimee dan Xiao Li sadari, aktivitas mereka selama berkeliling sampai Xiao Li naik ke dalam kereta kuda dan pergi dari Grand Duchy, telah dipantau oleh sepasang mata elang yang dingin dan tajam dari lantai atas Kastil. Althaf, pria itu memperhatikan Aimee dan Xiao Li sangat lekat.