
Sampai di kamar Althaf, Aimee segera melepas gaun besar yang ia gunakan sehari-hari dan menyisakan long dress tipis berwarna putih miliknya. Althaf sama sekali tidak meliriknya, pria itu berdiri tegak mematung ke arah jendela setelah tahu Aimee tengah melepas gaunnya.
“Lebih baik anda melepas jas kaku yang melekat di tubuh anda itu, karena tidur dengan pakaian seperti itu tidak akan membuat anda nyaman,” ucap Aimee, kemudian dia beranjak naik ke atas kasur dan merebahkan dirinya lebih dulu meninggalkan Althaf.
Althaf menoleh, melihat Aimee sudah berbaring memunggunginya. Ini adalah kedua kalinya mereka tidur bersama setelah malam pernikahan satu tahun yang lalu, setelah itu mereka memutuskan untuk pisah kamar. Althaf berjalan ke arah meja yang ada di kamarnya, lalu menaruh jas-nya di sana dan mulai mengganti semua setelan pakaiannya. Kini Althaf hanya memakai baju dan celana yang bahannya ringan untuk tidur.
Althaf segera beranjak naik ke tempat tidur, gerakannya segera terhenti ketika mendengar suara dengkuran halus milik Aimee. Mata elang itu menatap punggung Aimee yang putih, entah mengapa gerakannya menjadi kaku. Althaf memejamkan matanya sekilas, lalu kembali bergerak untuk mencari posisi tidur yang nyaman, namun gerakannya lagi-lagi terhenti karena Aimee tiba-tiba bergerak. Sepertinya wanita itu merasa tidak nyaman karena kasurnya sedikit bergerak akibat pergerakan dirinya. Lagi pula, mengapa wanita itu cepat sekali terlelapnya?
Althaf memperbaiki posisi tidurnya perlahan, kini mereka berdua tidur dengan saling memunggungi.
Keesokan paginya, Aimee terbangun. Ketika kepalanya menoleh ke arah posisi Althaf tidur, wanita itu tidak menemukan Althaf di sana. Aimee beranjak berdiri, lalu berjalan ke arah jendela kamar. Dia sedikit merasa iri saat melihat keluar, ternyata pemandangan halaman depan Grand Duchy jauh lebih terlihat indah dan sempurna jika dilihat melalui kamar utama.
“Sudah bangun?” Suara berat milik Althaf terdengar, membuat Aimee menoleh ke belakang. Begitu menoleh, Aimee segera kembali membalikkan badannya, mata wanita itu melotot kesal. “Bisakah anda memakai baju yang lebih lengkap terlebih dahulu?!”
Althaf, pria itu berdiri telanjang dada, hanya ada handuk mandi yang melilit bagian bawah tubuhnya. Rambut dan tubuh pria itu basah, sepertinya baru saja selesai mandi. Althaf tidak berekspresi apa pun, dia membalas sambil berjalan ke arah lemarinya dengan wajah datar. “Kau bertingkah aneh.”
“Kau yang aneh! Bagaimana bisa kau bertelanjang dada dengan sangat santai seperti itu di hadapanku?!” balas Aimee kesal, telinganya diam-diam memerah karena malu. Dia tidak terbiasa dengan pemandangan Althaf yang seperti itu.
“Lalu aku harus bagaimana? Memakai baju di kamar mandi? Ini adalah kamarku,” ujar Althaf sambil memakai pakaiannya dengan cepat, sementara Aimee tetap berada di jendela memunggunginya.
Aimee diam, dia merasa kesal dengan Althaf. Semakin dia sauti balasan Althaf, maka semakin bertambah lebar perdebatan mereka. Bisa-bisa suara keributan mereka terdengar sampai ke kamar ibunya.
“Mau sampai kapan kau mematung di jendela?” suara Althaf kembali terdengar setelah beberapa menit hening. Aimee sedikit melirik ke arah Althaf menggunakan ekro matanya. “Apa anda sudah selesai?” tanya Aimee.
“Silahkan lihat sendiri,” balas Althaf acuh. Aimee memutar kedua bola matanya malas, kemudian segera berbalik dan segera bernapas lega melihat Althaf sudah rapih mengenakan pakaiannya.
“Saya akan mandi dan memakai pakaian di sini, apa saya boleh meminta anda keluar sebelum saya selesai mandi?” tanya Aimee, sebenarnya tanpa harus bertanya Althaf memperbolehkan atau tidak Aimee akan tetap memaksa. Jika bukan di sini, di mana lagi dia harus mandi dan mengenakan bajunya?
“Ya,” jawab Althaf singkat, kemudian berjalan keluar menuju ruangan kerjanya. Aimee yang melihat sikap Althaf yang menyebalkan segera mengacungkan jari tengahnya diam-diam ke arah pria itu.
Setelah Althaf benar-benar keluar dari kamarnya, Aimee bergegas menuju kamar mandi yanga da di kamar Althaf. Berlianda dan Cecilia bergegas masuk begitu Althaf keluar untuk membantu Aimee mandi, memakai pakaian, dan berhias.
Dua jam kemudian, Aimee sudah siap dengan penampilannya. Rambutnya dikepang kemudian disanggul, menambah kesan elegan seorang Grand Duchess di dalam dirinya. Hari ini sudah dipastikan dia akan memulai sarapan bersama lagi dengan Althaf karena kehadiran ibunya.
Saat sampai di ruang makan, Aimee langsung disambut perasaan aneh karena melihat ibunya tertawa dengan Althaf, walaupun pria itu tidak menampilkan raut wajah apa pun, yang pasti ibunya tertawa karena berbicara dengan Althaf ‘kan? Tidak mungkin ibunya tertawa sendiri seperti orang gila.
Aimee dengan cepat memasang senyum lembut untuk ibunya, setelah itu segera duduk bersama di kursi meja makan. Sarapannya dengan Althaf hari ini setidaknya tidak terlalu buruk karena kehadiran ibunya.
“Asik sekali sepertinya, topik apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Aimee, berusaha terlihat santai.
Liliana tertawa kecil, kemudian melirik Althaf lebih dulu dan kembali menatap ke arahnya. “Masa kecilmu, ibu menceritakan kisah saat kau berumur delapan tahun ketika sedang belajar menunggangi kuda bersama Abighail, lalu kau terjatuh dan menangis. Sejak saat itu Abighail sering mengejekmu cengeng.”
Wajahnya Aimee segera memerah saat mendengar ini, mengapa ibunya menceritakan kisah kecilnya yang memalukan?!
“Bukankah wajar ketika anak kecil terjatuh dari kuda dan terjatuh?” balas Aimee kesal sambil menahan malu.
“Dan … ada lagi, saat pertama kali kau melakukan debutante di Istana. Anak ini sudah langsung membuat masalah dengan putri Count Vista hanya karena untuk membela putri dari Baron Philips yang dikucilkan dan selalu diejek karena gaunnya. Apa kamu tahu, nak? Bahkan Kaisar saat itu sampai turun tangan untuk menengahi mereka, saat Kaisar turun tangan inilah seluruh perhatian segera tertuju kepada mereka berdua. Aimee berdebat dengan Kaisar saat merasa kurang puas dengan keputusan Kaisar,” ujar Liliana tanpa mempedulikan Aimee yang wajahnya telah memerah.
Althaf hanya diam mendengarkan, walaupun wajahnya terlihat seperti tidak mendengarkan, namun sejatinya pria itu sangat memperhatikan cerita Liliana.
Mereka bertiga melaksanakan sarapan dengan diiringi ocehan dongeng Liliana, wanita paruh baya itu terlihat sangat bersemangat menceritakan masa lalu Aimee. Selesai melakukan sarapan bersama, Aimee mengajak Liliana ke taman Grand Duchy, sementara Althaf harus pamit undur diri karena dia harus menemui Putra mahkota di Istana.
“Duchess, anda harus melihat taman Grand Duchy! Di sana dipenuhi oleh bunga mawar putih, Grand Duchess sendirilah yang menanamnya. Sebelumnya taman itu hanya dipenuhi rumput hijau, tetapi setelah Grand Duchess datang, beliau mengubahnya menjadi surge mawar putih!” ujar Cecilia dengan penuh semangat.
Aimee tersenyum saat mendengar cerita Cecilia, kemudian dia melirik Berlianda. Berlianda segera mengambil sesuatu dari dalam keranjang rotan yang saat ini tengah ia abwa, kemudian mengeluarkan sebuah benang dan kain polos lalu menyerahkannya ke Aimee.
Aimee menunjukkan benang dan kain polos tersebut ke arah ibunya. “Bagaimana kalau kita menyulam sapu tangan? Bukankah ibu menyukai kegiatan seperti ini?”
Liliana tersenyum saat melihat benang dan kain polos itu, kemudian mengangguk kecil. “Ya, ayo kita buat bersama. Bagaimana jika ibu membuatkan satu untuk Abighail dan kamu membuatkan satu untuk Grand Duke? Ah … ya, apa kau sudah pernah membuatkan sapu tangan untuknya?”
Aimee mengerutkan keningnya. “Untuk apa? Yang mulia bisa membeli seratus sapu tangan sendiri dengan uangnya.”
Begitu Liliana mendengar putrinya berkata demikian, dia segera mengetuk kening putrinya dua kali. “Tidak boleh bicara seperti itu mengenai suamimu, nadamu barusan sangat tidak sopan. Bagaimana bisa kau membicarakan suamimu dengan nada seperti tadi? Ibu tidak pernah mengajarkanmu seperti ini.”
Aimee mengelus pelan keningnya, kemudian menjawab,”Aku tahu … tetapi—“
“Satu sapu tangan buatan tanganmu sendiri akan jauh berbeda dengan seratus sapu tangan mahal yang dapat dirinya beli,” potong Liliana.
Aimee menghela napas gusar diam-diam, kemudian mengangguk tipis. “Baiklah, aku akan membuatkannya satu.”