The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 17. Lebih Baik Cerai



Aimee membuka kedua matanya pelan, hal pertama yang dia lakukan setelah terbangun dari tidurnya adalah menoleh ke belakang untuk mengecek posisi Althaf. Semalam Aimee tiba di kamar lebih dulu dan memutuskan untuk tidur tanpa menunggu Althaf, dia malas jika harus merasakan suasana canggung lagi bahkan sebelum dia tertidur., karena ini dia memutuskan untuk tidur lebih dulu.


Aimee beranjak turun dari kasur, kemudian berjalan ke arah jendela. Terlihat para pelayan sudah memulai aktivitas pekerjaan mereka. Aimee memanggil Berlianda dan Cecilia agar membantunya bersiap. Ketika sudah selesai mandi, memakai pakaian, kemudian berhias, Aimee bertanya,”Di mana Grand Duke?”


“Yang mulia sudah bangun lebih awal dari biasanya, beliau kini sudah berada di Istana menemui Putra Mahkota. Beliau berpesan, meminta anda untuk tidak lupa menyampaikan maafnya kepada Duchess Liliana karena tidak bisa mengikuti sarapan bersama,” jawab Cecilia.


Aimee menganggukkan kepala mengerti, lalu kembali bertanya,”Acara penyambutan perwakilan Kekaisaran Timur akan digelar besok, apa pria itu sudah memiliki pakaian?”


Berlianda yang mendengar ini menggeleng. “Maaf, saya kurang tahu, yang mulia.” Aimee mengangguk lagi setelah mendengar jawaban Berlianda.


Setelah selesai bersiap, Aimee bergegas berdiri dan berjalan keluar dari kamar untuk menuju ruang makan. Semenjak kedatangan Liliana, Aimee dan Althaf jadi sering mengunjungi ruang makan. Sebelumnya ruang makan tampak sepi dan kosong, karena Althaf dan Aimee hanya makan bersama satu bulan sekali, itu juga jika Aimee tidak ada bisnis di luar ibu kota.


Begitu dirinya sampai di ruang makan dan masuk, Liliana segera mengerutkan keningnya. “Di mana Grand Duke?”


Aimee tersenyum tipis. “Beliau sudah bangun lebih awal dari biasanya karena memiliki janji penting dengan Putra Mahkota di Istana.”


Cecilia menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian kembali tersenyum lembut mengajak putri dewasanya makan sama dengan seperti mengajak anak kecil untuk makan.


Saat sedang sibuk makan, Cecilia tiba-tiba bertanya,”Mau sampai kapan, nak?” Aimee yang mendengar ini segera menghentikan aktivitas makannya, kemudian menatap Liliana dan balik bertanya,”Apa yang ibu maksud?”


Liliana meletakkan pisau dan garpu sarapannya, kemudian tangan kanannya mengelus tangan kanan Aimee. “Bahkan sehebat apa pun kamu bersandiwara sampai bahkan dapat mengelabui seorang Kaisar pun, kamu tetap tidak akan bisa mengelabui dan berbohong pada ibumu.”


Deg!


Aimee mendadak kaku, namun dia masih berusaha tenang. Cecilia tersenyum tipis dan berkata,”Ibu mengetahui sandiwara kalian begitu masuk ke dalam Grand Duchy. Ibu sudah menduganya, bahwa pernikahan politik ini akan berat untuk kau jalani.”


Kedua mata Aimee mengeluarkan sorot dingin, hal ini disadari oleh Liliana, membuat hati wanita itu terenyuh. Dia sedih karena putrinya banyak sekali berubah, dia tidak melihat putrinya Aimee yang hangat saat ini.


“Kalau begitu aku dan Grand Duke tidak perlu bersandiwara lagi di hadapan ibu. Maafkan aku karena membohongi ibu, aku melakukan semua ini agar ibu tidak mencemaskan aku dan pernikahanku,” ucap Aimee, kepalanya tegak lurus ke depan menatap objek kosong. Dia tidak berani melihat langsung ke wajah ibunya.


Liliana memijit keningnya pelan. “Tidak, seharusnya ibu yang minta maaf. Jika dulu ibu tidak lemah dan dapat melindungi Leandra, kamu tidak perlu sekeras ini dan akhirnya terluka.”


Aimee melirik ibunya, keberaniannya sudah terkumpul. Aimee menimpa kembali tangan Liliana yang mengelus tangan kanannya menggunakan tangan kiri. “Ibu tidak perlu berpikir seperti itu, memang sudah risiko dan tanggung jawabku sebagai anak pertama dan seorang kakak. “


Liliana mengernyitkan keningnya lebih dalam. “Kenapa, nak?” Aimee sedikit menunduk dan menjawab,“Kami berdua sama-sama keras, pria itu juga tidak akan tertarik untuk memiliki rumah tangga yang hangat denganku. Kami sudah membeku lebih parah dari yang ibu tahu, sangat sulit memecah bongkahan es batunya.”


Liliana menggelengkan kepalanya pelan. “Tetapi ibu rasa masih bisa diusahakan, nak. Grand Duke memiliki setitik rasa kepedulian padamu, begitu juga dengan dirimu. Kalian bisa saling peduli dan hangat, namun kalian kurang berusaha, kalian hanya mau tetapi tidak ada usaha.”


Aimee balas menggeleng juga. “Tidak, bu. Sesuai yang ibu tahu, kami berdua berakting. Jadi apa yang ibu rasakan dan lihat kemarin di diriku dan dia, semuanya adalah sandiwara.”


Liliana melepaskan genggaman tangannya, kemudian membalas,”Kamu yakin? Setelah kamu marah tanpa alasan yang kuat hanya karena pria itu membohongi rasa sebenarnya dari dessert buatanmu itu … kamu yakin bahwa kamu tidak memiliki sedikit saja perasaan kepadanya?”


Aimee terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Setengah menit hening, Aimee kemudian baru bisa menjawab. “Aku marah karena itu menyangkut harga diriku, tidak lebih.” Liliana menggelengkan kepalanya pelan, wanita itu berusaha membujuk Aimee dan membuat rumah tangga putrinya membaik sebelum besok dia harus kembali ke Kastil lama Leandra yang ada di luar ibu kota.


“Kalau begitu kalian harus bercerai setelah Abighail menyelesaikan study-nya di luar ibu kota dan mewarisi gelar ‘Duke’ dengan lancar. Untuk apa kamu bertahan di rumah tanngga palsu ini? Jika kamu menikah hanya untuk keluarga kemudian menderita seumur hidupmu, ibu tidak akan sanggup melihatnya,” ujar Liliana, membuat jantung Aimee berdetak lebih cepat lagi. Melihat raut wajah keraguan di putrinya, Liliana diam-diam menahan senyum.


“Tidak sanggup?” tanya Liliana setelah melihat Aimee terdiam cukup lama.


Aimee menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku hanya sedang berpikir tentang keuntungan dan kerugian bagi Leandra jika aku bercerai dengan Grand Duke.”


Bohong. Bukan itu yang sebenarnya Aimee pikirkan. Aimee diam-diam merasa berat dan terenyuh saat mendengar kata ‘cerai’ dari Liliana, namun dia tidak tahu sebab utama mengapa dirinya merasa berat. Aimee sesekali pernah memikirkan tentang perasaannya, tetapi dia tidak mempercayai apa yang ada di pikirannya. Hal ini tidak terjadi saat Liliana datang ke Grand Duchy saja, tetapi bulan-bulan sebelumnya seperti setelah pertengkaran besar mereka, Aimee mulai dari situ terkadang senang melamun dan memikirkan tentang hubungan dingin mereka walaupun tidak terlalu sering. Tetapi, setelah Liliana Leandra berkunjung ke Grand Duchy dan menyalakan api, perlahan es di antara mereka sedikit mencair dan membuat Aimee semakin merasa tidak karuan atas dirinya sendiri.


Percakapan Aimee dan Liliana berakhir di sini, Aimee memutuskan untuk menyudahi percakapan dan kembali ke kamar. Liliana tidak marah atau menolak, dia sengaja melakukan ini agar putrinya mau membuka pikirannya tentang perasaannya sendiri.


Aimee kembali ke kamarnya, seharusnya sekarang dia sudah bersiap untuk menemui rekan bisnis yang akan datang berdiskusi bersamanya di Grand Duchy. Tetapi karena hari ini Aimee merasa pikirannya tidak jernih, membuat dirinya meminta Berlianda dan Cecilia untuk membatalkan jadwal tersebut dan diganti ke lain hari.


Saat sedang termenung di sofa, tiba-tiba Cecilia mendekat dan memberi kabar bahwa Althaf sudah tiba kembali di Grand Duchy. Aimee dengan cepat mengangguk dan berdiri, kemudian berjalan keluar dari kamar menuju ruangan kerja pria itu. Althaf pasti langsung menuju ruang kerjanya setiap pulang dari Istana. Aimee ingin menemuinya sekarang karena ingin memberitahu pria itu bahwa akting mereka sudah selesai.


Ketika sampai di depan pintu ruang kerja Althaf, langkah Aimee pun berhenti karena mendengar diskusi Althaf dengan seseorang.


“Apa anda sudah menentukan pilihan anda? Wanita mana yang anda pilih?”


Suara pria paruh baya terdengar. Aimee diam mematung di depan pintu yang sedikit terbuka dan menguping pembicaraan. Sejujurnya, dirinya bukanlah orang yang gemar menguping, namun entah mengapa untuk yang kali ini Aimee tidak bisa menolak mendengarkan.