The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 20. Kepulangan Liliana



Liliana masuk ke dalam kamar Aimee, tanpa mengetuk. Wanita itu membuka pintu kamar dengan sangat lembut. Kehadiran Liliana dapat Aimee sadari setelah mendengar Cecilia bergumam,”Nyonya Duchess ….”


Aimee menoleh sekilas dan menatap ibunya, kemudian kembali mengalihkan pandangan ke depan dengan kosong. Cecilia dan Berlianda sepakat pergi dari dalam kamar dan membiarkan Aimee dan Liliana berdua.


Liliana perlahan duduk di samping Aimee, dan meraih tangan kiri Aimee yang memar lembut. “Aish … bagaimana ini bisa terjadi ….” Gumam Liliana, setelah itu beralih mengambil handuk kompres dan lanjut mengompres memar Aimee menggantikan Cecilia.


“Bagaimana kondisi suamimu?” tanya Liliana hati-hati.


Aimee menggelengkan kepalanya pelan. “Pria itu bukan suamiku.”


Liliana balas menggeleng, lalu menghela napas dan membalas,”Nak, terkadang jika ingin menuju kebahagiaan rumah tangga bersama, salah satunya harus ada yang mengalah dan menjadi lunak. Jika keduanya sama keras, kalian berdua akan selalu bertabrakkan dan mental.”


Melihat Aimee hanya diam tidak menanggapinya, Liliana mengelus punggung anaknya dan menarik Aimee ke dalam pelukannya. “Saat di tengah perjalanan kemari, ibu mendengar telapak tangan Grand Duke mengeluarkan banyak darah karena pedang yang kau hunuskan ke arahnya?”


Aimee mengerutkan keningnya kesal. “Aku hanya menghunuskan pedang ke pria itu tanpa menusuk anggota tubuhnya. Dia sendiri yang gila mencengkeram badan pedang.” Liliana mengangguk pelan, kemudian menghela napas.


“Aku sama sekali tidak paham dengan pikiran pria itu, dia benar-benar membuatku muak! Dia tidak mau melepaskanku, tetapi dia juiga tidak pernah memberiku pengertian! Aku merasa … aku merasa seperti di dalam penjara dingin buatan pria itu!” keluh Aimee, akhirnya dia mengeluh kepada ibunya seperti anak kecil setelah sekian lama menghadapi Althaf dan segala macam besar lainnya sendirian.


Liliana memeluk erat putrinya, hatinya ikut terenyuh dan terasa sesak. Malam itu Aimee menghabiskan waktunya untuk menangis dan mengeluh kepada ibunya seperti anak kecil.


Sementara itu Althaf, pria itu duduk di sofa sambil menunggu Daniel selesai mengobati luka di telapak tangan kirinya.


“Grand Duke, sepertinya dan dan Grand Duchess benar-benar meledak mala mini, melebihi pertengkaran beberapa waktu lalu,” ucap Daniel, keningnya terlipat karena merasa cemas dan lelah dengan situasi ini.


Althaf hanya mengangguk singkat sambil terus memperhatikan lukanya, setelah itu dia teringat akan sesuatu dan segera bertanya,”Daniel.” Daniel yang dipanggil segera mendongak dan mengangguk. “Ya … yang mulia?”


“Kau sungguh juara dalam kompitisi bergengsi ilmu pengetahuan se-Kekaisaran ‘kan?” tanya Althaf dan dengan cepat diangguki oleh Daniel. Althaf yang melihat anggukan Daniel balas ikut mengangguk, kemudian berkata,”Kalau begitu berarti kau dapat menjawab segala macam tingkat kesulitan sebuah pertanyaan kan?”


Daniel mengangkat alis kirinya, jarang sekali Althaf membahas hal seperti ini. “Memangnya apa yang ingin yang mulia tanyakan?” tanya Daniel pansaran.


Althaf terdiam beberapa menit, kemudian menjawab dengan memberi pertanyaan,”Menurutmu, apa yang membuatku tidak ingin melepaskan Grand Duchess namun aku tetap bersikap acuh padanya?”


Daniel yang mendengar pertanyaan Althaf terkejut sampai ingin terjungkal ke belakang, Daniel bersumpah, ini pertama kalinya Althaf bertanya hal mengenai wanita yang biasa pria itu anggap tidak penting dan kini ia tanyakan. Nada bicara Althaf di telinga Daniel juga seperti seorang pria yang patah hati.


Daniel tersenyum tipis, kemudian dia mengikat perban Althaf rapih, setelah itu membereskan peralatan obat-obatan sambil menjawab,”Apa lagi jika bukan cinta yang besar namun gengsi anda juga tak kalah besar?”


Althaf mengerutkan keningnya. “Tidak ada jawaban lain?” Daniel yang mendengar ini segera menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, yang mulia. Ke mana pun anda bertanya, jawabannya akan selalu sama. Cinta dan gengsi.”


Althaf menggelengkan kepalanya pelan. “Entah kenapa aku tidak pernah mau menerima jawaban seperti itu.”


Daniel menghela napas tipis. “Itu karena gengsi anda, yang mulia. Ada sesuatu yang sejak awal tidak anda sadari.”


“Apa?” tanya Althaf, menatap Daniel dingin. Aura, perasaan, dan pola pikir pria itu sudah kembali tenang seperti sebelumnya.


“Anda telah mencintai Grand Duchess saat pertama kali anda bertemu dengannya,” jawab Daniel yang kemudian dengan keras dibalas gelengan kepala oleh Althaf. “Tidak.”


Althaf terdiam begitu mendengar ucapan Daniel, raut wajahnya terlihat keras dan dingin. Otaknya terus menolak jawaban dari Daniel.


Keesokan paginya, Aimee membuka matanya dan menoleh ke belakang tempat Althaf tertidur. Pria itu tidak ada di sana, sepertinya semalam dia juga tidak tidur di kamar karena sisi tempat pria itu tidur sama sekali tidak berubah seperti saat tadi malam.


Liliana semalam segera kembali ke kamarnya ketika Aimee ingin beranjak naik ke tempat tidur, mungkin saat ini ibunya tengah bersiap-siap untuk kembali ke Kastil lama Leandra.


Aimee mengecek pergelangan tangan kirinya, memar bekas cengkeram Althaf masih terlihat. Aimee beranjak turun dari kasur, kemudian memanggil Berlianda dan Cecilia untuk segera masuk ke dalam kamarnya untuk membantu dirinya bersiap.


Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian lalu berdandan, Aimee bergegas menuju ruang makan. Sampai di sana, ruang makan masih terlihat kosong, sampai akhirnya tak lama kemudian Aimee melihat ibunya datang.


“Althaf tidak datang lagi?” tanya Liliana.


Aimee menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak tahu. Lebih baik sekarang ibu segera sarapan, bukankah setelah sarapan ini ibu langsung bergegas kembali ke Kastil lama?” Aimee sengaja mengalihkan topik, pagi ini dia tidak mau membahas Althaf.


Liliana yang menyadari Aimee menghindari topik yang menyeret nama Althaf hanya bisa menghela napas tipis, dia tidak bisa berbuat apa pun. Dipaksa untuk berbaikan pun tidak akan bisa, Liliana takut justru malah memperparah kondisi.


Selesai sarapan bersama, Althaf belum juga datang. Sepertinya pria itu benar-benar tidak akan datang. Aimee dan Liliana tidak mengangkat topik tentang hal ini, mereka berdua segera bergegas berjalan ke pintu keluar dan masuk utama Grand Duchy.


Sesampainya di sana, Aimee melihat seluruh barang-barang ibunya telah dinaikkan ke dalam kereta. Bersaan dengan ini, tiba-tiba muncul sosok Althaf dari arah samping Grand Duchy. Pria itu Nampak berkeringat deras, sepertinya baru saja bermain pedang dengan Daniel, karena Daniel juga berpenampilan sama seperti Althaf.


“Duchess, anda sudah ingin pulang?” tanya Althaf, dia tidak melirik Aimee sama sekali.


Liliana mengangguk sambil tersenyum. “Benar, yang mulia. Mengapa yang mulai tidak datang di sarapan bersama tadi?”


“Oh … aku sudah sarapan lebih dulu karena harus berlatih pedang dengan Daniel lebih pagi dari biasanya,” jawab Althaf. Bohong. Bukan itu asalan yang benar. Alasan sebenarnya adalah karena dia ingin menghindari suasana canggung sarapan jika harus bertemu Aimee.


Liliana mengangguk lagi. “Ah … seperti itu, baiklah ….”


“Ibu, sebaiknya anda naik ke dalam kereta sekarang. Jika ditunda lagi, saya khawatir anda akan sampai dengan terlambar di Kastil,” ujar Aimee yang sejak awal diam semenjak kemunculan Althaf.


Liliana mengangguk, lalu memeluk putrinya dan mencium kening Aimee, setelah itu berbisik. “Tetap tenang dan hangat untuk es yang beku, nak.” Lalu dia kembali mengecup kening putrinya.


Setelah cukup mencium dan memberi pesan kepada putrinya, Liliana beralih menghadap Althaf. Wanita paruh baya itu membungkuk ke arah Althaf, lalu matanya menatap lekat pria itu. “Walaupun saat anda mengiyakan permintaanku dan berjanji itu dalam kondisi berakting, namun janji tetaplah janji. Saya pamit undur diri, Grand Duke. Terima kasih banyak.”


Althaf tidak menjawab apa pun, pria itu akhirnya kembali mengingat saat pertama kali Liliana berbicara serius dengannya dan meminta dirinya berjanji. Liliana segera naik ke dalam kereta kuda setelah akhirnya mendapatkan anggukan dari Althaf.


Aimee yang mendengar dialog barusan tidak terlalu peduli, dia tidak tertarik mencari tahu maksud dari percakapan ibunya dengan Althaf.


“Hati-hati di jalan, bu,” ucap Aimee, berusaha tersenyum di samping Althaf. Liliana yang melihat senyum putrinya pun ikut tersenyum, dia melambaikan tangannya dari dalam kereta. “Ya, ibu akan sangat merindukanmu. Sampai bertemu kembali, sayang.”


Setelah kereta kuda yang membawa ibunya keluar dari Grand Duchy, Aimee bergegas masuk kembali ke dalam tanpa melirik Althaf sambil berkata,”Cecilia, perintahkan para pelayan untuk memindahkan barang-barangku kembali ke kamar semula.”


Raut wajah Cecilia dan Berlianda terlihat sedih, begitu juga dengan para pelayan yang lain. Hidup tenang mereka hanya berlangsung satu hari. Sementara itu, Althaf dan Daniel, kedua pria itu saling pandang dengan maksud yang sulit ditebak.