The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 28. Membicarakan di Depan Wajah Yang Dibicarakan



Keesokan paginya, setelah terbangun, bersiap, lalu sarapan pagi bersama, Aimee dan Althaf bergegas mengunjungi Istana bersama.


Althaf yang masih memiliki urusan pekerjaan dengan Putra Mahkota tidak bisa menemani Aimee mengunjungi Istana Margaret lebih dulu, namun pria itu berjanji akan menyusul Aimee setelah urusannya dengan Putra Mahkota selesai.


Saat Aimee datang lalu masuk ke dalam Istana Margaret, dia melihat banyak sekali Lady bangsawan yang datang menjenguk Margaret. Saat melihat ini, Aimee tidak langsung bergabung. Wanita itu terdiam beberapa saat di belakang mereka, lalu pelayan yang tadi menyambut Aimee pun berkata,”Saat ini Putri sedang datang banyak sekali tamu untuk menjenguk beliau, anda tidak ingin bergabung, yang mulia?”


Aimee melirik pelayan tersebut, wanita itu adalah pelayan yang kemarin membantunya. Ternyata wanita itu adalah salah satu pelayan pribadi Margaret, namanya Hana.


“Siapa mereka? Aku tidak pernah melihat para Lady-lady ini sebelumnya,” tanya Aimee, dia benar-benar tidak mengenali para Lady bangsawan tamu Margaret.


Pelayan wanita itu tersenyum dan menjawab,”Wajar anda tidak mengetahuinya, yang mulia. Mereka adalah Lady bangsawan tingkat Baron dan Viscount. Ini pertama kalinya mereka memasuki Istana, salah satunya di sana adalah putri dari Baron Kalix. Bangsawan yang beberapa hari lalu berhasil melakukan transaksi besar Ventumia dengan kerajaan lain. Sang Baron mengajak putrinya ke Istana untuk menjenguk sang putri, namun saya yakin tujuannya adalah pergaulan kelas atas. Baron Kalix ingin putrinya memasuki pergaulan atas, Kaisar pun memberikan lampu hijau mengenai ini.”


Aimee menganggukkan kepalanya mengerti. Oh … jadi mereka adalah Lady bangsawan baru yang ingin memasuki pergaulan sosial kelas atas?


Aimee melangkahkan kakinya kembali, saat Aimee datang Margaret segera berdiri dan tersenyum ke arahnya. “Aimee!” Wanita itu menyapa Aimee dengan menyebut namanya langsung, jika ada Putra mahkota atau keluarga Kekaisaran lain yang mendengar ini, mungkin Margaret akan diomeli dianggap tidak sopan.


Kedua Lady bangsawan itu ikut berdiri, kemudian memberikan sapaan ringan. Aimee tersenyum tipis melihat ini, sepertinya mereka berdua tidak mengenali siapa Aimee karena mereka menyapa Aimee tanpa menyebut gelar-nya.


Aimee segera duduk dan bergabung di kursi meja lingkaran yang kini menjadi tempat mereka berkumpul.


“Perkenalkan, ini adaah Aimee. Dia adalah teman baikku sejak kecil.” Margaret memperkenalkan Aimee ke dua tamu Lady bangsawannya, anak itu tidak mnyebut gelar Aimee.


Kedua Lady itu tersenyum ke arah Aimee, lalu berkata,”Salam kenal. Lady Aimee. Saya adalah putri Baron Kalix , anda pasti mengenal Baron Kalix, bukan? Nama saya Shofia Kalix. Dan ini teman saya, dia adalah Lady Tya, putri dari Viscount Roger.”


Aimee menganggukkan kepalanya, keningnya sedikit mengerut saat mendengar nada dan cara bicara Shofia Kalix. Anak itu sepertinya sangat menganggap dirinya tinggi karena ayahnya. Tetapi Aimee tidak terlalu memusingkan hal itu, dia hanya diam dan tersenyum mendengarkan anak it uterus mengoceh membanggakan keluarga dan ayahnya.


Margaret dan kedua pelayan pribadinya yang berdiri di belakang mereka sedikit terdiam kaku begitu mendengar Shofia Kalix menyebut Aimee dengan ‘Lady’. Saat Margaret ingin menegur, Aimee mengangkat telapak tangannya sedikit, kemudian mata mereka bertemu dan kepala Aimee menggeleng. Hal ini membuat Margaret kembali terdiam.


Di tengah obrolan mereka yang mulai berjalan kembali, Shofia Kalix tiba-tiba mengangkat topik sensitif mengenai Aimee.


“Yang mulia, apa anda dekat dengan Grand Duchess?” tanya Shofia Kalix, membuat senyum Margaret kembali hilang dan melirik Aimee.


Belum sempat Margaret menjawab pertanyaan Shofia, Aimee sudah lebih dulu menjawab,”Memangnya ada apa dengan Grand Duchess?”


Shofia Kalix menggelengkan kepalanya, lalu membalas,”Tidak ada, hanya saya merasa penasaran dengan beliau. Baru-baru ini beliau sangat gencar menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan para bangsawan.”


Margaret sekarang benar-benar membisu seperti anak kecil yang ketakutan, sementara Aimee terus menanggapi Shofia. “Oh, benarkah? Astaga … apa saja yang dibicarakan oleh mereka?”


“Uhm … banyak sekali,” jawab Shofia Kalix, wajahnya seperti sedang berpikir keras tentang salah satu rumor Aimee.


“Saya mendengar gosip jika Grand Duchess tidak subur sehingga sampai saat ini Grand Duke belum mempunyai pewaris.” Shofia Kalix mengatakan ini sambil sedikit berbisik, wajah Margaret semakin pucat saat mendengar Shofia Kalix bicara seperti itu. Para pelayan pun sudah dihujani keringat di bagian belakang tubuh mereka.


Aimee mengerutkan keningnya. “Sepertinya gosip itu tidak benar, orang-orang bangsawan itu selalu merasa dirinya benar dan serba tahu. Aku sarankan kau jangan terlalu mendengarkan obrolan sampah mereka.”


Tya Roger yang mendengar ucapan Aimee menggelengkan kepalanya. “Tidak, Lady. Sepertinya rumor itu benar, karena kalau tidak seharusnya Grand Duchess saat ini sudah melahirkan pewaris untuk Grand Duke. Tidak mungkin jika masalah kesuburannya ada di Grand Duke, bukan?” Ucapan Tya Roger ini diangguki juga oleh Shofia Kalix.


Aimee tersenyum kecil. “Lalu jika benar apa? Kalian ingin menggantikan posisi Grand Duchess dan melahirkan pewaris untuk Grand Duke?”


Shofia Kalix dan Tya Roger tertawa pelan saat mendengar pertanyaan Aimee, setelah itu Shofia Kalix berkata,”Bagaimana mungkin kami dapat menggantikan posisi Grand Duchess? Beliau memiliki latar belakang bansgawan yang kuat di Kekaisaran, Leandra.”


“Lalu untuk apa kalian terus membicarakan hal ini? Ingin menjadi selir Grand Duke?” balas Aimee, bibirnya tersenyum dalam ke arah kedua Lady bangsawan di hadapannya.


“Selir? Seharusnya putri Baron dan Viscount bisa, bukan?” tanya Tya Roger, lalu terkekeh pelan. Keringat dingin Margaret mulai muncul mendengarkan percakapan Aimee dan dua Lady bangsawan yang akan bernasib buruk ini.


Aimee menganggukkan kepalanya. “Tentu saja bisa, seorang selir bisa dari kalangan apa pun. Latar belakang tidak lah penting, yang utama adalah dia berhasil membuat sang Grand Duke merasa bahagia.”


“Aish … jika ada aku ingin sekali menjadi selir Grand Duke, lalu menikmati hidup bahagia di Grand Duchy,” ucap Shofia Kalix dengan mata yang terpejam, membayangkan hidup bahagia di Grand Duchy.


“Sayangnya Grand Duke aku dengar tidak tertarik untuk memiliki seorang selir,” ujar Aimee, membuat khayalan Shofia Kalix pecah.


Shofia Kalix membuka matanya dan mendengus tipis. “Benar. Grand Duke saat ini terlihat sangat dibutakan oleh Grand Duchess, padahal menurut rumor yang saya dengar, Grand Duchess sering meninggalkan Grand Duke ke luar ibu kota dan tidak mempedulikan beliau.”


Ketika Aimee ingin membalas, Tya Roger sudah lebih duliu berkata,”Bukankah Baron Kalix baru-baru ini akan melakukan bisnis baru dengan Grand Duke? Anda bisa meminta bantuan ayah anda untuk mencari kesempatan, Lady Shofia.”


Aimee masih diam, dia terus mendengarkan dan menanggapi obrolan Shofia Kalix dan Tya Roger. Sampai akhirnya makanan datang, dessert manis dan minuman dihidanngkan di meja mereka. Shofia Kalix dan Tya Roger yang masih terus bicara mengenai keinginan mereka menjadi selir Althaf pun akhirnya berhenti karena makan.


Sebelum makan, Ventumia memiliki etiket bangsawan yang tidak boleh dilanggar. Salah satunya adalah mendahulukan yang paling tinggi gelar-nya untuk memulai makan, lalu disusul oleh orang yang gelarnya lebih rendah atau di bawah mereka.


Aimee dan Margaret seharusnya dapat langsung melakukan suapan makan secara bersamaan, karena walaupun Aimee tidak berstatus ‘Putri’, tetapi Aimee adalah istri dari seorang Grand Duke yang dulunya adalah pangeran Kekaisaran (adik Kaisar saat ini) yang kemudian beranjak dewasa dan diberi gelar ‘Grand Duke’. Otomatis, Aimee adalah bibi dari Margaret.


Aimee membiarkan Margaret makan lebih dulu. Begitu Margaret telah memasukkan makanannya ke dalam mulut, kedua Lady bangsawan itu segera mengambil sendok dan ingin memakan dessert mereka. Tetapi, seorang pelayan yang berdiri di belakang mereka berseru,”Lancang! Bagaimana bisa kalian mendahului Grand Duchess?!”


Shofia Kalix dan Tya Robert segera membatu, lalu kening mereka mengerut bingung. Grand Duchess? Di mana ada Grand Duchess? Kemudian mata mereka tertuju pada Aimee yang menatap dengan dingin sambil tersenyum. Setelah Aimee menjadi satu-satunya orang di antara mereka bertiga yang berani terus melanjutkan makan setelah peringatan dari seorang pelayan, sendok yang ada di tangan mereka jatuh ke meja.


Dengan cepat Shofia Kalix dan Tya Roger berdiri, lalu berlutut di samping kursi Aimee. Tubuh mereka bergetar ketakutan.


“Gr—Grand Duchess!”