The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 26. Grand Duke, Apakah Anda Cemburu?



Aimee mengingat-ingat kembali acara debutante-nya dulu, setelah berhasil mengingat, raut wajahnya sedikit memerah karena malu. Bagaimana tidak? Di acar debutante-nya dia bertengkar dengan Lady bangsawan lain lalu berdebat dengan Kaisar. Aimee tidak tahu Kaisar masih mengingat debat mereka atau tidak, Aimee harap tidak karena itu sangat memalukan.


“Tidak ada yang spesial dari acara debutante-ku,” jawab Aimee.


“Sungguh? Saya dengar … anda dulu sempat bertengkar dengan salah satu putri Marquess siapa ya … saya lupa, maaf ….” Issac mengatakan itu sambil tersenyum, membuat Aimee merasa malu. Jadi Putra mahkota mengetahui kisah memalukannya tersebut? Astaga ….


“Saat itu anda langsung menjadi topik pembicaraan hangat orang-orang Istana dan di beberapa kalangan sosialita berkelas karena berani melakukan perselisihan dengan seorang putri Marquess yang di mana ibunya adalah sepupu dari salah satu selir resmi Kekaisaran. Belum lagi dengan keberanian serta kecerdasan anda saat berdebat dengan Kaisar,” ujar Issac, membuat Xiao Li tersenyum.


“Sepertinya Grand Duchess memang sudah terlihat menonjol di usia muda. Anda cerdas, bijak, dan berani.” Xiao Li memuji Aimee dengan tulus, Althaf yang mendengar ini merasakan ketidak senangan luar biasa. Tetapi pria itu tetap diam di belakang Aimee, tidak mengucapkan apa pun.


“Ahah … benar, itu cerita lama yang sebenarnya saya malu untuk mengingatnya.” Hanya itu yang bisa ia gunakan sebagai balasan untuk Issac.


Issac terkekeh, kemudian kembali berbicara. “Mengapa anda harus malu? Bukankah di acar debutante tersebut anda mendapatkan bunga mawar paling banyak? Bahkan ada lebih dari sepuluh bucket bunga yang anda dapatkan dari debutante, belum lagi satuan-satuan bunga yang diberikan kepada anda. Saya dengar mendiang Duke Leandra sampai mengirimkan satu kereta kuda Leandra lagi ke Istana untuk membawa bunga-bunga tersebut.”


Aimee sedikit terkejut, mengapa putra mahkota mengetahui banyak hal pada saat acara debutante-nya? Seingatnya, pada debutante lima tahun lalu tidak ada kehadiran putra mahkota.


“Sepertinya yang mulia tahu banyak mengenai cerita debutante saya, namun … seingat saya saat itu anda tidak ikut serta dalam acara. Dari mana anda tahu semua itu?” tanya Aimee, penasaran.


“Margaret. Jika bukan dia siapa lagi? Anak itu selalu menceritakan banyak hal tentangmu,” jawab Issac. Tak lama kemudian Issac terkekeh dan berkata,”Kemarin dia sangat sedih karena tidak bisa mengunjungi Grand Duchy begitu mendengar kabar nyonya Duchess Leandra datang berkunjung. Dia selalu bicara bahwa dirinya merindukan dessert buatan nyonya Duchess.”


Aimee yang mendengar cerita Issac juga ikut terkekeh. Dulu, saat dia masih sering berkunjung ke Istana untuk bermain dengan Margaret, ibunya terkadang suka menyusul datang dan memberikan dessert cantik untuk mereka berdua. Dessert buatan ibunya adalah camilan favorit mereka berdua setiap bermain.


“Bagaimana dengan acar debutante di wilayah Timur?” tanya Aimee, dia sedikit penasaran dengan budaya Timur. Dia hanya mengetahui sekian persen dari seratus persen, Aimee sangat ingin sekali mengeksplor lebih banyak tentang Timur.


Saat Xiao Li ingin menjawab, tiba-tiba pengumuman tentang selesainya pesta penyambutan ini pun menarik seluruh perhatian mereka, membuat Xiao Li yang ingin bercerita tertahan.


Aimee yang menanti-nanti hal tersebut segera menoleh pada Althaf dan meminta pria itu agar mereka segera pulang ke Grand Duchy. Setelah seluruh orang membungkuk hormat kepada Kaisar saat pria pemegang takhta itu hendak berjalan keluar, Aimee bergegas mengajak Althaf kembali. Dia sudah tidak tahan berdiri terlalu lama, seluruh syaraf di tubuhnya belum benar-benar pulih.


Xiao Li yang melihat Aimee terlihat sangat kelelahan dan ingin buru-buru pulang sejujurnya sedikit merasa sedih, pria itu menginginkan Aimee lebih lama menghabiskan waktu di Istana agar mereka saling berbicara. Tetapi … Xiao Li tidak memiliki hak untuk menahan Aimee pergi.


Althaf yang melihat Aimee sangat kelelahan pun menuruti kemauan Aimee, diam-diam dia merasakan tatapan sedih Xiao Li, lagi-lagi keningnya mengerut tidak senang. Dan … dia merasa aneh pada Aimee, mengapa wanita itu terlihat sangat lelah sekali? Apa yang sudah terjadi padanya?


Saat di dalam kereta, Aimee melepas high heels yang ia kenakan, setelah itu menyenderkan tubuhnya di dinding kereta untuk menghela napas. Althaf yang memperhatikan ini pun keheranan, mengapa Aimee terlihat sangat lelah sekali?


“Apa yang terjadi? Mengapa kau tampak lelah sekali setelah mengunjungi Istana Margaret?” tanya Althaf.


Aimee yang mendengar ini pun menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak ada. Aku memang kelelahan karena pestanya.”


Althaf menaikkan alis kirinya satu. “Oh … lalu mengapa aku mencium harum tubuh pangeran kedua di tubuhmu? Dan lagi, tak lama setelah kau meninggalkan aula, pangeran kedua menghilang tanpa disadari orang-orang sekitar. Apa itu hanya sebuah kebetulan?”


Melihat Aimee diam, Althaf menambahkan sorot dingin di tatapannya untuk Aimee. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Aimee, lalu berkata,”Aku benci mencium wangi ini dari tubuhmu.”


Aimee spontan memundurkan wajahnya dari Althaf, jarak mereka berdua sangat dekat, belum lagi kereta kuda yang sedikit bergoyang. Jika terjadi guncangan yang cukup keras, mereka nanti bisa secara tidak sengaja saling mencium satu sama lain. Itu gila, Aimee tidak mau momen canggung datang di kereta yang sempit ini, tidak ada ruang lain untuknya kabur.


Althaf kembali ke posisi duduknya semula, lalu menatap ke arah luar jendela kereta dengan acuh sambil berkata,”Buang gaun dan semua yang kau pakai hari ini, aku tidak ingin melihatnya lagi. Apa lagi sampai mencium aroma tubuh pria itu dari tubuhmu.” Di akhir kalimat, Althaf menatap tajam Aimee.


Aimee mengerutkan keningnya, sepertinya Althaf sudah gila. Untuk apa sampai membuang seluruh apa yang ia kenakan sekarang hanya karena memiliki aroma pangeran kedua? Apa … pria itu cemburu? Senyum jahil muncul di wajah Aimee.


“Grand Duke, apa anda cemburu?” tanya Aimee, membuat Althaf kembali menatapnya. Althaf yang mengerutkan keningnya dalam, dia kesal dengan pertanyaan Aimee.


“Jangan karena aku ingin memperbaiki hubungan kita, kau bisa mengucapkan kalimat tanya menjijikan seperti itu seenaknya,” jawab Althaf sambil membuang tatapannya kembali.


Aimee semakin memperdalam senyumnya saat begitu Althaf menoleh untuk membuang muka kembali, matanya melihat kuping pria itu memerah.


“Yang mulia, kuping anda memer—“ belum selesai Aimee bicara, Althaf sudah langsung memotong cepat. “Tutup mulutmu!”


Aimee tertawa, Althaf terlihat konyol sekaligus menggemaskan di matanya saat ini. Ini pertama kalinya Aimee melihat Althaf malu-malu di hadapannya.


“Yang mulia ….” Panggil Aimee dengan nada bicara menggoda.


“Aimee, sekali lagi kau bicara aku turunkan kau di jalan sekarang juga,” ujar Althaf, kesal.


Aimee menghela napasnya. “Saya lebih senang melihat anda ketika sedang tertidur, terlihat damai dan tenang. Tidak saat membuka matanya seperti ini. Galak, menyeramkan, dingin, ketus!”


Althaf menaikkan alis kirinya, ketika ingin membela dirinya sendiri, Aimee menutup mulut pria itu menggunakan jari telunjuknya.


“Anda tidak perlu membela diri anda dengan mengatakan seluruh kekuranganku, kau sudah sering mengatakannya dan aku sudah mengetahuinya,” ujar Aimee.


“Yang mulia, kereta sudah sampai di Grand Duchy.” Suara Louis terdengar, lalu pintu kereta kuda segera dibuka. Althaf turun lebih dulu, dia kesal karena tidak sempat menyauti ocehan Aimee.


Setelah turun, Althaf menoleh dan mengulurkan tangan kanannya ke Aimee. Aimee dengan senang hati menyambut bantuan pria itu.


Setelah Aimee berhasil turun dengan aman, Aimee kembali tersenyum jahil dan bertanya,”Yang mulia, apa anda cemburu?”


“Aimee!” Althaf membentak Aimee, membuat seluruh pelayan terkejut, termasuk Louis. Kuping Althaf saat ini benar-benar merah, hal ini membuat Aimee tidak bisa menahan gelak tawa.


Aimee dengan mengangkat gaunnya tinggi, lalu berlari ke dalam Grand Duchy menuju kamar meninggalkan Althaf. Para pelayan yang tadinya sudah kahwatir bahwa Althaf sedang marah dan kemungkinan akan terjadi pertengkaran lagi pun menghembuskan napas lega. Ternyata Grand Duke dan Grand Duchess mereka sedang bercanda seperti anak kecil. Senyum para pelayan pun kembali muncul.