
“Apa anda sudah menentukan pilihan anda? Wanita mana yang anda pilih?”
Suara pria paruh baya terdengar. Aimee diam mematung di depan pintu yang sedikit terbuka dan menguping pembicaraan. Sejujurnya, dirinya bukanlah orang yang gemar menguping, namun entah mengapa untuk yang kali ini Aimee tidak bisa menolak mendengarkan.
Aimee tak lama kemudian mengingat sebuah berkas menumpuk berisi biodata seorang Lady bangsawan yang lengkap dengan foto mereka. Sorot mata Aimee semakin dingin, apa pria itu berniat memiliki seorang selir? Jika iya, Aimee juga tidak akan mempedulikannya, tetapi jika memang benar dia tidak peduli, mengapa jantungnya berdebar saat mendengar dan mengingat dua hal tersebut? Dan … apa alasannya berdiri di sini menguping pembicaraan seperti orang bodoh?
“Tidak tahu, aku tidak sengaja membakar kertasnya, jadi tidak sempat melihat-lihat.” Terdengar jawaban Althaf dari dalam ruang kerja, membuat Aimee mengerutkan keningnya. Kertas-kertas berisi biodata dan foto Lady bangsawan itu Althaf bakar? Kenapa?
“Yang mulia, tetapi ini sudah lewat satu tahun pernikahan anda. Grand Duchess belum juga hamil, sedangkan anda harus mempunyai seorang pewaris,” ujar pria bangsawan paruh baya tersebut.
“Kapan dan di mana Grand Duchess hamil tidak ada hubungannya denganmu.” Nada bicara Althaf mulai terdengar dingin.
Sang pria bangsawan paruh baya tersebut menghela napas berat. “Tetapi … ini sudah satu tahun yang mulia. Satu tahun.” Dia menekan umur pernikahan Althaf dan Aimee yang sudah satu tahun namun belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
“Apa anda tidak curiga bagai kesehatam Grand Duchess?” tanya pria bangsawan paruh baya tersebut, yang tak lama kemudian Aimee mendengar gebrakan meja yang cukup keras. Sepertinya Althaf marah?
“Tutup mulutmu! Lebih baik kau kembali, sebelum aku benar-benar memotong lidahmu!” Suara Althaf yang membentak terdengar, membuat Aimee yang berada di luar ruangan kerja Althaf terkejut. Ketika mendengar suara langkah bangsawan tersebut yang ingin keluar, Aimee bergegas lari mencari tempat sembunyi.
Aimee menggelengkan kepalanya, kemudian memaki dirinya sendiir. Kenapa dia harus bersembunyi seperti ini? Bodoh.
Aimee berjalan keluar dari tempat sembunyinya setelah melihat bangsawan itu sudah keluar dari ruang kerja Althaf. Sebelum masuk, Aimee menarik napas dalam dan menghembuskannya. Ketika masuk, Aimee masih merasakan atmosfer tegang dan menekan dari Althaf, keningnya hanya mengerut sekilas untuk tetap terlihat biasa saja.
Althaf menatap Aimee, dia tiba-tiba jadi bertambah kesal karena teringat dengan ucapan bangsawan yang baru saja keluar dari ruangannya barusan.
“Ada apa?” tanya Althaf, nada bicaranya dingin. Perlahan Aimee merasakan situasi dan atmosfer yang kembali normal.
“Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu,” jawab Aimee. Althaf yang mendengar ini menaikkan alis kirinya sekilas. “Tentang apa?” tanya Althaf lagi.
“Ibu,” jawan Aimee singkat.
“Ada apa dengan Duchess?” Althaf diam-diam merasa sedikit kesal karena Aimee tidak menceritakan secara langsung ke intinya padanya.
“Ibu sudah mengetahuinya,” jawab Aimee lagi. Setelah Aimee menjawab demikian, Althaf terdiam. Tanpa dijelaskan panjang pun, kini Althaf mengerti.
“Lalu bagaimana maumu?” tanya Althaf, kemudian kepalanya kembali menunduk untuk melihat lembar-lembaran pekerjaannya.
Aimee menaikkan kedua bahunya. “Tidak tahu, namun apa lagi selain diakhiri?” Althaf yang mendengar jawaban Aimee mengangguk singkat, kemudian tidak bertanya lagi. Aimee kini merasakan kedinginin mulai menyelimuti hatinya. Aimee berbalik untuk keluar, namun langkahnya terhenti karena teringat percakapan Althaf dengan bangsawan tadi.
“Kamu mendengar semuanya?” tanya Althaf.
Aimee mengangguk, dia masih memunggungi Althaf. “Ya,” jawab Aimee singkat.
“Itu hal yang tidak penting, untuk apa kau menanyakan hal itu seperti orang bodoh?” tanya Althaf.
“Kau masih belum mengerti ya, Althaf Aldrich?” tanya Aimee balik, membuat Althaf mengerutkan keningnya.
“Tentang apa?” Althaf kembali bertanya.
Aimee menghela napas tipis, dia merasa hatinya kini terasa sangat dingin dan sesak. “Yang mengetahui seburuk apa hubungan kita hanya Putra Mahkota dan ibuku, orang-orang tidak akan pernah tahu apa alasan sampai saat ini kau belum memiliki pewaris dariku. Pandangan buruk tengtangku menyebar di mana-mana karena aku sering keluar dan masuk ibu kota. Mereka bilang aku tidak menghargai dan peduli pada suamiku, aku dinilai sebagai istri yang buruk oleh seluruh Ventumia. Jika aku tetap berada di Grand Duchy dan menjadi istri yang baik, kau pun tidak akan pernah peduli padaku. Kau tidak pernah menanyakan apa aku menyukai hal ini atau tidak, menghargai pendapatku, dan menganggapku ada. Jadi, untuk apa aku tetap berada di Grand Duchy jika harus menanggung beban pikiran? Lebih baik aku keluar melakukan bisnis dan melupakan masalah internal kita. Singkatnya, jika kau tidak mau memiliki pewaris dari wanita yang tidak engkau cintai dan engkau nikahi karena politik, lebih baik kau segera menemui wanita yang dapat kau cintai dan menikahinya karena cinta. Aku tidak keberatan jika kau harus memiliki seorang selir, asal wanitamu nanti tidak mengganggu bisnis dan kedudukanku. Lebih baik seperti ini dari pada tetap diam membiarkan cacian dan tuduhan tak mendasar atas kesehatanku sebagai wanita terus berjalan. Agar mereka berhenti bertanya kapan kau memiliki pewaris dariku, karena kau sudah memiliki pewaris dari wanita lain yang kau cintai.”
“Aimee, bisakah kau tidak membicarakan hal seperti ini?” tanya Althaf setelah Aimee berhenti bicara.
“Tidak. Althaf, mungkin kau belum lelah, tetapi aku sudah cukup lelah dan muak,” jawab Aimee, dia sudah tidak bisa menahan apa yang ada di dalam pikirannya lagi.
“Jika kau memiliki—“ Saat Aimee ingin melanjutkan bicaranya, Althaf tiba-tiba memotong dengan nada tinggi. “Aimee!”
Tubuh Aimee menegang karena terkejut, kedua telapak tangannya mengepal. Althaf juga saat ini berdiri setelah membentak Aimee.
“Berhenti menyalahkanku! Kau pikir aku tidak muak, Aimee?!” ujar Althaf, nadanya lumayan tinggi.
Bahaya, amarah Althaf mulai pecah. Masih dalam posisi memunggungi Althaf, Aimee membalas,”Kau muak dengan permainanmu sendiri, Althaf!”
Para pelayan yang berada di luar ruangan kerja Althaf menegang, mereka mulai takut dan was-was setelah mendengar kabar keributan dari dalam. Mereka semua saat ini sedang berdoa agar keributannya tidak sebesar beberapa bulan yang lalu, banyak barang rusak karena digunakan untuk melampiaskan amarah mereka masing-masing. Jangan salah paham, mereka tidak saling melempar barang masing-masing, namun hanya merusak barang untuk melampiaskan amarah mereka sendiri tanpa melukai satu sama lain dengan barang. Tetapi jika begini, kan sama saja cukup menyeramkan dan melelahkan juga bagi para pelayan yang lain.
“Aimee, apa kau pernah berpikir bagaimana posisiku?” tanya Althaf, kedua sudut alisnya menyatu. Nada bicara Althaf sudah tidak setinggi sebelumnya.
“Bagaimana dengan cerai?” Begitu Aimee mengeluarkan kalimat tanya seperti itu, Althaf berjalan keluar dari meja kerjanya dan berdiri di belakang Aimee lima langkah dari belakang wanita itu dan menjawab pertanyaan Aimee cepat. “Tidak!”
Aimee memejamkan kedua matanya. “Untuk apa terus dipaksakan, Althaf? Sampai kapan kita harus berada di situasi yang sangat tidak nyaman ini? Cerai adalah hal yang bagus, bukan? Setelah adikku—“
“Setelah adikmu menjadi Duke dan kau melepas gelar Grand Duchees, akan aku cabut paksa kembali gelar adikmu!” ancam Althaf, mata dingin Althaf menatap punggung Aimee. Dia mengatakan semua itu tanpa berpikir dua kali, setelah hening beberapa menit, Althaf baru menyadari apa yang sudah dia katakan.
Althaf merasa dirinya telah gila, bagaimana bisa dia berkata seperti itu?