
Aimee tengah menyisir rambutnya di depan cermin. Berlianda dan Cecilia, kedua wanita itu sudah keluar beberapa menit yang lalu.
Tiga menit kemudian, Althaf keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Pria itu sudah mengenakan baju tidurnya di dalam kamar mandi. Aimee menatap sosok pria itu di cermin, mata mereka kemudian berhasil bertemu.
“Mau aku bantu mengeringkan rambut?” tawar Aimee, dia sudah memikirkan ini ratusan kali di dalam kepalanya untuk menawarkan bantuan atau tidak.
Althaf mengangguk, kemudian melempar handuknya ke arah Aimee, lalu berhasil mendarat tepat di atas kepala Aimee. Hal ini membuat Aimee kesal, dia sudah menyisir rambutnya dengan rapih, namun dihancurkan begitu saja oleh Althaf.
Dengan dengusan kecil, Aimee menarik handuk yang menutupi kepalanya, lalu berdiri dan berjalan mendekati Althaf. Aimee sedikit menjinjitkan kedua kakinya agar mencapai kepala Althaf, namun kembali berdiri normal saat Althaf menarik lembut tangannya ke arah kursi rias Aimee. Pria itu duduk di sana menghadap Aimee, sedangkan Aimee berdiri menghadap cermin.
Tinggi tubuh Althaf menjadi lebih rendah, hal ini memudahkan Aimee untuk mengeringkan rambut pria itu.
Dengan lembut Aimee mengeringkan rambut Althaf, kemudian menyisir rambut pria itu.
“Kamu orang kedua yang berani memegang kepalaku,” ucap Althaf, membuat Aimee tersenyum tipis lalu bertanya,”Benarkah? Lalu siapa orang pertamanya?”
“Ibuku,” jawab Althaf singkat, kemudian menyenderkan wajahnya ke dada Aimee. Aimee tersenyum semakin dalam, melihat Althaf seperti ini membuat ia merasa sedang mengurus seorang anak kecil.
“Kapan terakhir kali kepalamu disentuh oleh beliau?” tanya Aimee lagi, tangannya masih sibuk menyisir lembut rambut Althaf.
“Lima belas tahun lalu,” jawab Althaf, kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aimee.
Aimee yang mendengar jawaban Althaf pun segera menghitung mundur antara umur Althaf yang sekarang (dua puluh lima tahun) dengan lima belas tahun yang lalu, berarti sekitar saat Althaf masih berumur sepuluh tahun. Sudah lama sekali ….
Aimee meletakkan sisir yang ia gunakan barusan ke meja rias, kemudian menangkupkan kedua pipi Althaf menggunakan kedua tangannya. Aimee mengangkat wajah Althaf yang masih terpejam, namun kemudian perlahan mata pria itu terbuka.
“Apa?” tanya Althaf dengan suara berat pria itu.
“Hari pertama kita memulai, apa saja yang sudah kau rasakan?” tanya Aimee, dia ingin tahu apa yang Althaf rasakan. Apakah sama sepertinya? Berdebar?
Althaf melepaskan kedua tangan Aimee pelan dari wajahnya, lalu menjawab,”Kesal.” Jawaban Althaf berhasil membuat Aimee bingung. Kesal? Hal ini membuat Aimee kembali mengingat-ingat kejadian hari ini yang mana yang membuat Althaf kesal.
Aimee tersenyum tipis. “Karena aku menggodamu tadi di kereta kuda?” tanya Aimee.
Althaf menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan itu.” Wajah pria itu terlihat memelas, sosok kaku dan dingin pria itu hilang entah ke mana.
“Lalu apa?” tanya Aimee penasaran.
“Pangeran kedua,” jawab Althaf.
Aimee terdiam. Pangeran kedua? Apa Althaf memiliki konflik dengan pangeran kedua? Ya … tentu saja punya, tetapi kan bukan konflik internal antara dia dan pangeran kedua langsung. Lalu … apa? Tidak mungkin pria itu cemburu kepada pangeran kedua kan?
“Aku tidak suka ada wangi pria lain di tubuhmu,” ucap Althaf, kemudian terdiam beberapa saat untuk melanjutkan,”Aku tidak suka kau saling bertukar tatapan kepada pria lain terlalu lama.”
Aimee semakin terdiam. Althaf … cemburu?
Aimee tersenyum tipis, kemudian menanyakan hal yang sama seperti yang telah ia tanyakan sebelumnya di kereta kuda. “Apakah anda cemburu, Grand Duke?”
“Ya,” jawab Althaf singkat, wajah pria itu yang jarang terlihat memerah, kini merah padam. Aimee yang mendengar ini pun ikut merasa malu, wajah mereka berdua sama-sama memerah.
Althaf menarik Aimee ke dalam pelukannya, lalu memangku wanita tersebut dan memutar tubuhnya ke arah cermin. Aimee menatap dirinya dan Althaf melalui cermin, wajahnya semakin memerah saat melihat jarak mereka berdua sangat dekat.
Aimee mendengus kecil. “Berkacalah, bodoh!”
Tak lama kemudian, terdengar suara tawa Althaf. Aimee pun tak bisa menahan senyum, ini pertama kalinya dia mendengar suara tawa Althaf. Wajah pria itu tidak sekaku biasanya, hal ini menambah perasaan bahagia lebih di dalam diri Aimee.
Althaf menundukkan kepalanya sedikit, lalu menempelkan dahinya di dahi Aimee. Kedua mata mereka terpejam, membiarkan masing-masing dari mereka menikmati desiran lembut darah mereka yang terasa panas karena sesuatu di antara mereka.
Beberapa saat kemudian, Althaf menggendong tubuh Aimee ke tempat tidur, meletakkan dengan lembut wanitanya di sana. Ketika Althaf ingin menegakkan kembali tubuhnya, Aimee tiba-tiba mengalungkan kedua lengannya di leher Althaf dan menarik pria itu jatuh ke tempat tidur. Beruntung kedua tangan Althaf sigap menahan tubuhnya, kalau tidak tubuh kekarnya akan menibani Aimee.
“Astaga …” ucap Althaf setelah berhasil diam beberapa detik karena terkejut ditarik oleh Aimee.
Aimee terkekeh, kemudian berkata,”Kau melupakan sesuatu! Sesuatu yang biasa dilakukan seorang orang tua setelah meletakkan anaknya di kasur.”
“Tetapi aku suamimu,” jawab Althaf, membuat Aimee mengerutkan keningnya.
“Sama saja. Bukankah tadi kau memperlakukanku seperti anak kecil?” tanya Aimee.
Althaf yang masih dalam posisi menahan tubuhnya menatap Aimee dan bertanya balik,”Apa yang biasa dilakukan para orang tua setelah meletakkan anaknya di kasur?”
Aimee tidak langsung menjawab, wanita itu melirik ke atas, menunjuk dahinya menggunakan lirikan mata. Althaf menaikkan alis kirinya.
“Bisa langsung katakan saja? Kau terlihat seperti orang bodoh,” ucap pria itu.
Aimee kesal, wanita itu kembali menatap Althaf dan membalas,”Kau yang bodoh. Bagaimana mungkin kau tidak mengerti isyarat sejelas itu?”
Althaf menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, bisa langsung kau katakan saja?”
Aimee menggeleng. “Tidak mau. Aku tidak mau memberitahumu menggunakan kata-kata.”
Althaf menganggukkan kepalanya mengerti setelah mendengar ini, kemudian menjawab,”Baiklah … kalau begitu bisa kau beri contoh langsung melalui tindakan? Jika tidak kita akan terus berada di posisi ini sampai pagi karena aku tidak berhasil menebak.”
Aimee tertawa kecil saat mendengar itu, lalu dengan cepat memerintahkan Althaf menutup matanya. Tanpa banyak tanya, Althaf dengan cepat menutup matanya. Aimee sedikit menaikkan kepalanya yang berbaring di bantal, lalu mengecup kening Althaf menggunakan bibirnya.
Cup!
Althaf tersenyum tipis, kemudian membuka matanya dan mengucapkan,”Terima kasih.” Pria itu mengelabui Aimee agar wanita itu yang lebih dulu mencium keningnya.
Aimee terdiam beberapa detik. Saat sadar Althaf mengelabuinya, wajahnya kembali emrah padam dan berkata,”Kau curang!”
Althaf terkekeh kecil. “Di mana curangnya?”
“Kau mengelabuiku …” jawab Aimee, kemudian memukul Althaf dengan pukulan kecil.
Melihat wajah Aimee yang memerah lagi, Althaf dengan cepat menundukkan kepalanya dan mengecup kening Aimee. Setelah itu ia dengan cepat berdiri dan berjalan ke sisi ranjang satunya. Aimee memperhatikan Althaf, dia masih sedikit terkejut karena Althaf tiba-tiba mengecup keningnya lalu pergi dengan cepat ke sisi ranjang satunya.
Althaf naik ke atas ranjang, kemudian mencari posisi yang nyaman di sebelah Aimee. Pria itu menarik tubuh Aimee ke dalam pelukannya sambil mengelus lembut rambut panjang istrinya.
“Aku ingin menjenguk Margaret besok,” ucap Aimee saat telah berada di pelukan Althaf sambil memejamkan kedua matanya.
“Aku temani,” jawab Althaf singkat, pria itu juga menjawab dengan kedua mata yang terpejam.