
“Grand Duchess, yang mulia sudah kembali dari Istana. Sekarang beliau berada di ruangan kerjanya,” ujar Cecilia, memberi info kedatangan Althaf.
Aimee mengangguk mengerti, dia sekarang masih fokus menghias dessert yang ada di hadapannya. Kue berbentuk lingkaran sebesar kepalan tangan rasa strawberry adalah bentuk hasil dari jatuh bangun Aimee setelah berkali-kali mengganti adonan kue.
“Aku tidak tahu pria itu menyukai makanan manis atau tidak, karena aku tidak pernah melihatnya memakan makanan manis,” ucap Aimee, walaupun dia tidak membuat kue ini dengan perasaan tulus, tetapi tetap saja ada perasaan khawatir di hatinya. Jangan sampai pria itu menolak memakan kue buatannya setelah mencicipinya sedikit, karena itu akan sangat melukai harga dirinya sebagai wanita.
Setelah selesai menghias, Aimee segera melepas celemek yang ia gunakan dari awal memasak, kemudian mencuci bersih tangannya dan dengan bantuan Berlianda dan Cecilia, penampilannya kembali terlihat rapih.
“Sekarang tugas kalian adalah menyebarkan berita bahwa aku membuatkan dessert spesial untuk Grand Duke sampai ke telinga ibuku, mengerti?” ujar Aimee.
Berlianda dan Cecilia mengacungkan jempol mereka berdua. “Mengerti, yang mulia.”
Aimee tersenyum, kemudian dia segera berjalan keluar dari dapur menuju ruangan kerja Althaf. Seluruh penghuni Grand Duchy tersenyum hari ini karena melihat sang Grand Duchess mereka menunjukkan kepeduliannya terhadap Althaf, tuan mereka. Begitu juga sebaliknya, walaupun mereka semua tahu bahwa itu adalah sandiwara.
Saat Aimee masuk ke dalam ruangan kerja Althaf, mata wanita itu menyapu ke segala sudut ruangan untuk mencari sosok pria itu. Tetapi, Aimee tidak menemukannya di mana-mana.
“Di mana pria bere**sek itu?” gumam Aimee sambil terus mencari sosoknya. Aimee meletakkan piring dessert di meja tamu ruangan kerja Althaf.
Tak!
Kepala Aimee menoleh ke arah meja kerja Althaf, matanya melihat pena laki-laki itu jatuh ke lantai. Aimee berjalan ke arah meja kerja Althaf, kemudian mengambil pena pria itu yang terjatuh di lantai, mengembalikannya lagi ke atas meja. Saat Aimee hendak kembali ke sofa, tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat foto seorang wanita bersama beberapa lembar kertas dari meja Althaf. Sebenarnya Aimee tidak ingin peduli, namun saat Aimee mengenali wajah di foto tersebut, rasa penasaran Aimee muncul.
Aimee diam-diam mengambil tumpukkan kertas tersebut, ternyata tidak hanya satu foto dengan beberapa kertas, tetapi banyak. Ada lebih dari sepuluh foto dengan beberpa kertas yang di dalamnya tertulis data diri wanita yang ada di foto tersebut.
Aimee mengerutkan keningnya, dia bingung. Untuk apa hal seperti ini ada di meja kerja Althaf? Apa pria itu kini berubah menjadi penguntit? Gila. Aimee kemudian teringat akan sesuatu. Dia pernah melihat benda seperti ini di meja kerja mendiang ayahnya, tetapi tumpukan data diri dan foto-foto nona bangsawan ini untuk dipilih menjadi istri adiknya di masa depan nanti. Tunggu … apakah berarti ….
“Apa yang kau lakukan di meja kerjaku?” Tiba-tiba suara Althaf terdengar, membuat Aimee menoleh dan meletakkan kembali tumpukkan kertas itu ke atas meja.
“Seharusnya kau berterima kasih karena aku sudah mengembalikan pena-mu yang jatuh ke atas meja,” jawab Aimee kesal.
“Ya. Lalu … apa yang kau lakukan di sini? Jarang sekali kau masuk ke ruangan kerjaku tanapa dipanggil terlebih dahulu,” balas Althaf, dia malas berdebat soal pena.
Aimee memutar bola matanya malas, kemudian berjalan ke arah meja tempat ia meletakkan dessert buatannya. Setelah mengambil dessert tersebut, Aimee menyodorkannya ke arah Althaf, membuat Althaf menatap Aimee bingung.
“Apa ini? Racun?” tanya Althaf asal, mata dinginnya menatap dessert cantik buatan Aimee.
Aimee melotot kesal saat mendengar pertanyaan Althaf. “Ya, racun. Makan ini, agar kau cepat mati dan aku bisa menguasai Grand Duchy lalu menikah dengan pria yang lebih muda dan tampan!”
Althaf mengambil dessert itu dari tangan Aimee, kemudian berjalan menuju sofa dan duduk sambil membalas,”Maka arwahku akan mencekik lehermu.” Althaf mulai memakan dessert buatan Aimee, saat suapamn pertama, pria itu terlihat terdiam beberapa saat, membuat Aimee khawatir.
Mendengar pertanyaan Althaf di ujung kalimat pria itu, Aimee segera membalas,”Ini semua karenamu. Jika bukan karena akting kakumu yang buruk itu, aku tidak perlu repot-repot membuatku dessert ini untukmu. Ibu adalah orang yang cerdas, sikapmu yang kaku pasti akan menumbuhkan rasa kecurigaan di dalam hatinya tentang kita berdua. Jadi, aku membuat dessert ini agar ibu menepis semua kecurigaannya.”
Althaf mengangguk singkat, kemudian menaruh piring dessert yang kini telah bersih. Pria itu melahap habis dessert buatan Aimee tanpa tersisa sedikit pun. Althaf berdiri, setelah itu berjalan ke arah meja kerjanya sambil berkata,”Sudah habis, kau boleh keluar jika mau.”
Aimee mendengus kecil, pria itu sama sekali tidak memuji atau memberi apresiasi atas usahanya. Aimee tidak akan sudi membuatkan pria itu makanan lagi.
Tanpa bicara, Aimee mengambil piring bekas dessert buatannya dan berjalan keluar. Aimee kembali berjalan ke arah dapur, dia membuat dua dessert. Untuk Althaf satu dan untuk ibunya satu, setelah mengambil dessert tersebut, Aimee bergegas menujub kamar ibunya.
Aimee mendengar alunan music piano begitu masuk ke dalam kamar ibunya. Berlianda dan Cecilia menunggu di dekat pintu, begitu juga dengan pelayan pribadi ibunya, wanita paruh baya itu segera membungkuk anggun dan berjalan mundur menuju pintu kamar, memberikan ruang untuk Aimee dan ibunya Liliana.
“Ibu!” panggil Aimee, bibir wanita itu tersenyum dalam. Liliana segera berhenti dari aktivitasnya bermain piano, kemudian menoleh ke arah putrinya. “Sayang,” ucap Liliana begitu melihat Aimee.
“Aku membuat dessert ini untuk ibu,” ujar Liliana, sambil memberikan piring dessert itu secara pribadi ke Liliana. Liliana yang melihat ini tersenyum, senyumnya sangatlah hangat dan keibuan. “Astaga, terima kasih. Ini pertama kalinya aku mencicipi masakan yang dibuat langsung oleh seorang Grand Duchess, aku merasa terhormat.”
Aimee tertawa kecil saat mendengar ini, kemudian menjawab,”Ibu! Jangan menggodaku terus! Aku membuat kue ini untuk ibu dan Grand Duke. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu, aku selalu membuatkan dessert spesial untuk Grand Duke, seperti ibu dulu saat mendiang ayah masih hidup.”
Liliana mengangguk, kemudian segera memotong dessert kue tersebut. Saat dessert itu sudah masuk ke dalam mulutnya, kening Liliana mengernyit. “Kamu benar-benar membuat kue ini untuk Grand Duke?” tanya Liliana.
Aimee mengangguk. “Benar, ada apa?”
Liliana menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menyuapi Aimee dessert tersebut sambil berkata,”Sepertinya Grand Duke sangat menyukai makanan yang memiliki kandungan gula tinggi, ya?”
Mata Aimee terbelalak saat mencicipi kue buatannya sendiri. Astaga … kue ini kelewat manis, Aimee terlalu berlebihan dalam memberikan gulanya. Tetapi … mengapa pria itu diam saja dan tidak berkomentar apa pun? Bahkan dia mampu menghabiskan kue yang luar biasa manis ini hingga piringnya bersih.
“Apa reaksi Grand Duke saat memakan kue ini?” tanya Liliana, saat tangannya ingin kembali menyendokkan kue tersebut ke mulutnya, Aimee dengan cepat menahan dan merebut piring itu kembali. Hal ini membuat Liliana terkekeh pelan melihat tingkah putrinya.
“Grand Duke tidak mengatakan apa pun, dia hanya memuji dan menghabiskan dessert ini dalam sekejap,” jawab Aimee, wajahnya mulai memerah karena malu.
Liliana tersenyum semakin dalam. “Suamimu sangat mirip dengan mendiang ayahmu. Mereka berdua adalah suami yang sangat menyayangi dan menghargai usaha istri. Dulu pertama kali ibu membuatkan dessert untuknya yang ternyata terasa sangat manis seperti ini, pria itu tidak berkomentar buruk apa pun. Dia hanya memuji dan terus memuji, kemudian menghabiskan dessert tersebut hingga tidak ada sisanya.”
Aimee diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Beberapa menit kemudian, Aimee memilih keluar dari kamar ibunya karena malu. Dia keluar dengan alasan masih memiliki beberapa urusan mengenai bisnisnya, padahal tidak.
Aimee berjalan cepat ke arah ruangan kerja Althaf, dia ingin menginterogasi Althaf. Mengapa pria itu tidak mengatakan yang sejujurnya mengenai rasa dessert yang dia buat? Hal ini benar-benar membuatnya malu. Tetapi kemudian, di tengah jalan menuju ruangan kerja Althaf, Aimee teringat penggalan kalimat ibunya.
“Suami yang sangat menyayangi dan menghargai usaha istri.”
Memikirkan hal tersebut, pikiran Aimee terasa kusut dan tidak jelas. Tidak mungkin. Althaf adalah pria bere**sek, tidak tahu diri, egois, dan keras.