
"Yang mulia, putri Mahkota datang hendak menemui anda. Apa anda--" belum selesai pelayan pribadi Margaret bicara, Margaret sudah memotongnya. "Persilahkan beliau masuk."
"Baik, yang mulia ..."
Margaret duduk di gazebo kediaman pangeran kedua yang terletak di belakang kediaman. Wanita itu menggunakan cardigan putih, rambutnya yang berwarna pirang digerai begitu saja. Penampilannya saat ini polos, tidak ada hiasan apa pun.
Wajah wanita itu terlihat pucat dan tirus, matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Matanya menatap kosong ke arah kolam ikan yang ada di hadapannya. Kedatangan Anabella ke kediaman pangeran kedua membuatnya terkejut, namun Margaret tidak memiliki tenaga untuk berhias atau melakukan hal lain untuk menyambut kedatangan Anabella lalu berpura-pura baik-baik saja.
"Putri Margaret ...." Suara Anabella terdengar, membuat Margaret menoleh ke arah wanita tersebut.
Anabella berdiri mengenakan gaun berwarna hijau, tangan wanita itu memegang kipas mahal dengan warna senada. Wajahnya nampak terkejut melihat kondisi Margaret walaupun sebenarnya wanita itu telah mengetahui kondisi dan cerita Margaret selama hidup bersama pangeran kedua.
Margaret yang baru saja keluar dari hukuman kurung tanpa makan dan minum pangeran kedua berusaha menyunggingkan senyuman, kemudian perlahan berdiri dan membungkuk ke arah Anabella.
Anabella dengan cepat menahan gerakan Margaret dan membawa wanita itu kembali duduk di gazebo-nya. Anabella duduk di samping Margaret, kemudian menggenggam kedua tangan Margaret dan bertanya,"Ada apa? Mengapa anda terlihat sangat kacau putri Margaret?"
Margaret kembali memaksakan senyumnya, lalu menggeleng perlahan. "Saya baik-baik saja."
Anabella terdiam, napas dan tatapannya berubah menjadi dingin. Tak lama kemudian, wanita itu berkata,"Ini semua karena Aimee Aldrich."
Mendengar apa yang dikatakan Anabella, Margaret menatap Anabella dengan perasaan sedikit terkejut. Lalu tak lama kemudian tatapan mata Margaret kembali berubah sendu.
"Wanita itu benar-benar duri di dalam daging rumah tangga seseorang. Benar-benar memuakkan! Tidakkah anda berpikir demikian, putri Margaret?" tanya Anabella, berusaha memancing Margaret. Dia berniat membangkitkan perasaan benci dan amarah Margaret.
Margaret kembali menatap Anabella, kini tatapannya terlihat bingung. Anabella menegakkan posisi duduknya lurus ke depan, lalu berkata,"Wanita itu juga merenggut hati calon suamiku, putra mahkota."
Margaret tertegun, dia terkejut. Aimee ternyata tidak hanya menyita cinta suaminya, namun juta putra mahkota? Memikirkan ini kepala Margaret terasa berat. Dia belum makan karena baru saja keluar dari kamarnya setelah menerima hukuman, Margaret hanya meminum teh hangat yang disediakan para pelayan untuknya. Tubuhnya juga masih sangat lemas, belum lagi saat ini dia tengah mengandung. Pasti kondisi janin-nya saat ini sangat lemah. Tetapi Margaret berusaha tetap stabil dan menekan seluruh rasa ketidaknyamanan miliknya.
"Anda tidak pernah berpikir untuk melakukan sesuatu kepada Grand Duchess?" tanya Anabella, dia mulai memasuki topik utama secara perlahan.
Margaret menggelengkan kepalanya pelan. "Saya tidak pernah berpikir demikian."
Margaret terdiam cukup lama mendengar apa yang dikatakan oleh Anabella. Tetapi, tak lama kemudian Margaret kembali tersenyum dan menjawab,"Putri Mahkota, sudah berapa lama waktu yang berlalu ketika kita berbincang?"
Mendengar pertanyaan tersebut dari Margaret, wajah Anabella berubah buruk. Matanya semakin dingin menatap Margaret. Jawaban berupa pertanyaan milik Margaret barusan adalah jawaban menolak halus dari Margaret.
Di Ventumia, para bangsawan memiliki cara tersendiri untuk menolak negosiasi atau tawaran secara halus dengan bertanya berapa lama waktu yang sudah mereka gunakan untuk berbincang-bincang. Itu artinya, seseorang yang ditawarkan menolak tawaran pengajak dan merasa tidak tertarik dengan tawarannya. Atau, orang yang menjawab dengan pertanyaan seperti itu sudah merasa tidak nyaman dan ingin cepat-cepat keluar dari topik pembicaraan tersebut.
Anabella menyunggingkan senyum tipis, lalu bertanya lagi. "Anda yakin?" Margaret yang mendengar pertanyaan Anabella hanya tersenyum dan mengangguk tipis menggunakan wajah pucatnya.
"Anda ingin menerima nasib menyedihkan begitu saja?" tanya Anabella.
Margaret menghela napas tipis, matanya kembali menatap ke arah kolam ikan dengan kosong. "Saya ingin pangeran kedua mencintai saya dengan kemauan hatinya sendiri tanpa ada paksaan dan rencana berbelit yang saya ciptakan. Jika saya harus menyingkirkan masalah utamanya sesuai apa yang anda katakan sebelumnya, saya khawatir pangeran kedua justru akan menjadi kacau dan sedih. Melihat orang yang saya cintai sedih, saya tidak akan tega dan ikut bersedih. Saya tidak bisa merasa senang atas kesedihan yang pria itu rasakan. Saya pun tidak mengerti, mengapa saya sangat mencintainya dengan segala kekurangan, kelebihan, atau hal gila yang ada di dalam diri pria itu. Saya tidak ada hati untuk membuatnya sedih."
"Pemikiran anda sangat naif, anda rela menjadi yang tersakiti untuk orang yang anda cintai, yang bahkan orang itu tidak dapat memberikan konstribusi apa pun di diri anda," ujar Anabella.
Margaret tetap memasang senyumannya, kini tangan kanannya bergerak mengusap perutnya. "Bukankah cinta memang seperti itu, putri Mahkota?"
Anabella berdiri dari duduknya, kemudian berkata,"Kalau itu adalah keputusan anda, maka saya tidak akan bisa memaksa. Tetapi jika anda akhirnya muak dan ingin sejalan dengan saya, saya tidak akan pernah menolak anda."
Margaret mengangguk tipis. "Terima kasih, putri Mahkota. Saya akan menutup mata dan mulut tentang masalah dan pembicaraan barusan."
Setelah itu, Anabella memutuskan untuk pergi. Margaret masih duduk di gazebo-nya, dia hari ini ingin menghabiskan waktunya dengan merenung dan menikmati udara segar. Kepalanya terus memikirkan sosok Elston pangeran kedua, wanita itu memiliki perasaan yang sangat tulus.
"Yang mulia, kapan anda akan mencintai saya?" gumam Margaret sambil terus mengelus perutnya lembut. Perlahan, air matanya kembali berkumpul dan menetes. Margaret kembali terisak, membuat pelayan pribadinya segera mendekat dan memeluk Margaret.
"Yang mulia, anda tidak ingin masuk ke dalam? Cuaca saat ini sangat dingin, kemungkinan akan turun hujan salju yang lebat. Anda juga harus menghangatkan tubuh dan makan untuk mengisi perut dan membuat kondisi janin anda kembali sehat, benar?" tanya pelayan pribadi Margaret, dia berusaha membuat Margaret mengalihkan pikirannya dari Elston.
"Di mana pangeran saat ini?" tanya Margaret, dia menghiraukan ucapan pelayan pribadinya yang barusan. Di kondisinya yang mengenaskan ini pun dia masih memikirkan Elston.
"Yang mulia masih berada di Istana, mungkin akan pulang larut malam. Anda tidak perlu menunggu beliau lagi, karena kondisi anda masih cukup parah. Anda harus banyak istirahat dan makan untuk memulihkan kondisi," jawab pelayan pribadi tersebut.