The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 16. Terima Kasih, Grand Duchess, Istriku



Althaf menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, jika ditanya apa alasannya itu karena ucapan Liliana yang sebelumnya. Dan jika dia ditanya lagi mengapa harus peduli dengan perkataan Liliana mengenai Aimee, Althaf tidak memiliki jawabannya. Dia sendiri bingung, kenapa dirinya harus peduli seperti ini.


Saat sampai di dalam kamar, Althaf melihat Aimee sedang duduk di sofa sambil memegang beberapa lembar kertas. Sepertinya kertas itu berisi statistik pendapatan bisnisnya.


Berlianda dan Cecilia seger keluar dari ruangan tanpa sepatah katapun, hal ini membuat Aimee mengalihkan fokusnya dari kertas yang sedang ia pegang. Ketika Aimee menoleh, Aimee melihat Althaf berjalan masuk, kemudian mematung begitu saja saat tatapan mata mereka bertemu.


Aimee dan Althaf segera mengalihkan pandangan mereka secara bersamaan, kemudian tanpa disengaja juga mereka mengucapkan kata yang sama berbarengan.


“Soal ….”


“Soal ….”


Aimee kembali menatap Althaf, pria itu masih mengalihkan pandangannya dari Aimee. Althaf berjalan ke arah jendela kamar, memunggungi Aimee. Aimee kembali menunduk, menatap kertas-kertas yang ada di tangannya.


“Soal tadi di ruang kerja anda, saya meminta maaf karena sudah membentak anda dengan alasan sepele, dan … sudah membuat dessert dengan rasa yang—“ belum sempat Aimee menyempurnakan kalimatnya, Althaf telah memotong cepat. “Enak.”


Aimee kembali menatap Althaf, keningnya mengerut dan wajahnya kembali memerah malu. “Anda tidak perlu berbohong hanya karena saya sudah membuat kue itu dengan susah payah. Lagi pula, saya tidak menepis jika rasanya memang terlalu kelewat manis, tidak enak.”


Althaf menggelengkan kepalanya pelan, pria itu masih memunggungi Aimee. “Aku suka makanan manis.”


Aimee menatap punggung Althaf, dia merasakan ada sesuatu yang aneh dan berubah di diri Althaf. Hal ini membuatnya sedikit bingung, canggung, dan merasa aneh.


Althaf berbalik, kini mereka berdua saling tatap. Situasi ini benar-benar canggung, Aimee dan Althaf, keduanya sama-sama merasa tidak nyaman dan gugup.


“Aku dengar, kau membuatkan sesuatu untukku selain dessert bersama ibu selama aku pergi ke Istana,” ujar Althaf. Aimee yang mendengar ini sedikit membuka lebar matanya, wajahnya semakin memerah. Dengan cepat Aimee memalingkan wajahnya dari Althaf.


“Tidak ada, aku hanya … tidak-tidak, itu barang yang kurang bagus. Anda tidak akan menyukainya,” jawab Aimee gugup menahan malu, wanita itu kembali menoleh setelah mendengar langkah kaki Althaf yang berjalan mendekat ke arahnya. Aimee terkejut melihat pria itu sudah duduk di sofa depannya, kini mereka duduk berseberangan.


Althaf duduk sambil menyilang kaki kanannya ke kiri, wajah pria itu terlihat tenang dan datar, mata elangnya yang gelap menatap dalam Aimee. “Berikan.” Althaf mengucapkan kata itu dengan nada sedikit menekan.


Aimee mengerutkan keningnya kesal. “Aku tidak mau!”


“Bukankah barang itu untukku?” tanya Althaf, alis kirinya sedikit naik.


“Iya … tetapi aku tidak mau memberikannya,” jawab Aimee.


“Bukankah kau sudah membuat itu dengan susah payah sampai jari telunjuk kananmu tertusuk jarum?” tanya Althaf lagi, matanya melirik telunjuk kanan Aimee yang dililit pelester.


Aimee menatap Althaf jengkel. “Aku memiliki hak ingin memberimu barang ini atau tidak karena aku yang membuatnya.”


Aimee memutar bola matanya jengah. “Aku? Membuat masalah? Yang membuat masalah itu kau. Kau yang mendatangiku sendiri kemari.”


Althaf menggelengkan kepalanya pelan. “Wanita gila … ini kamarku.” Saat Aimee ingin membalas hinaan Althaf, pria itu tiba-tiba mengambil buah anggur yang ada di meja hadapan mereka, kemudian dengan cepat melemparkan buah anggur itu ke dalam mulut Aimee yang sebelumnya sempat terbuka untuk menyauti Althaf.


Melihat wajah Aimee yang semkain marah, Althaf segera berdiri dan berjalan kea arah pintu. Sebelum keluar dan membuka pintu kamarnya, dia berhenti dan meletakkan tangan kanannya di pinggang.


“Jam makan malam sudah tiba, kau ingin mati kelaparan di Grand Duchy? Cepat, Duchess Liliana pasti sudah menunggu,” ujar Althaf. Aimee mendengus kasar, lalu menaruh kertas yang dia pegang dengan kasar ke atas meja dan berjalan menuju Althaf. Wanita itu mengalungkan tangan kirinya di lengan kanan Althaf, kemudian Althaf membuka pintu kamar mereka, membuat Berlianda, Cecilia, dan Daniel yang menunggu Althaf untuk melaporkan sesuatu terkejut. Saat melihat Althaf dan Aimee berjalan keluar dengan jarak sedekat itu, Daniel mengurungkan niatnya untuk menyampaikan laporan. Dia dan Berlianda serta Cecilia tersenyum dan menahan tawa bersama.


Sesampainya mereka berdua di ruang makan, Aimee dan Althaf segera duduk di kursi mereka masing-masing. Liliana yang sudah hadir lebih dulub menyambut kedatangan mereka dengan senyum hangat khas milik seorang ibu.


Tanpa banyak berbasa-basi, malam itu mereka memulai makan bersama. Setelah makan, mereka tidak meninggalkan ruang makan begitu saja, karena Liliana masih mengajak mereka berdua mengobrol.


“Aimee, apa kamu sudah memberikan sapu tangan buatanmu untuk Grand Duke?” tanya Liliana, membuat Aimee hampir menyemburkan air putih yang tengah ia minum.


Aimee meletakkan gelasnya, kemudian menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum. “Ah … ya, belum. Aku lupa memberikannya.”


Althaf yang mendengar Aimee berbohong hanya diam, pria itu tidak ada niat untuk membongkarnya. Jika dia benar-benar membongkarnya di depan Liliana, setelah keluar dari ruang makan ini mereka berdua akan kembali berdebat. Althaf tidak mau waktunya terbuang sia-sia untuk mendengar ocehan Aimee.


“Astaga, sungguh? Kalau begitu kau bisa memberikannya sekarang,” ucap Liliana, tidak memberi celah untuk Aimee tidak memberikan sapu tangan itub kepada Althaf. Aimee sedikit menggerutu di dalam hati, mengapa ibunya sangat ingin sapu tangan itu diberikan kepada Althaf?


Aimee menghela napas tipis, kemudian tangan kanannya terangkat. Tak lama kemudian, Berlianda berjalan mendekat dan memberikan sapu tangan sulaman Aimee ke telapak tangannya. Aimee kemudian memberikan sapu tangan sulaman tersebut ke arah Althaf dengan perasaan menahan malu.


“Ini, maaf … aku tidak terlalu lihai dalam menyulam. Dan … maaf sedikit kusut karena sempat aku remas karena frustasi menyulam,” ujar Aimee.


Althaf menatap sapu tangan kusut di hadapannya, sapu tangan itu disulam dengan gambar lambang Aldrich dan terdapat nama serta tanggal pernikahan mereka. Althaf mengambil sapu tangan tersebut, kemudian melebarkannya agar gambar sulaman Aimee terlihat jelas. Tanpa sadar, pria itu tersenyum tipis dan mengucapkan,”Terima kasih, Grand Duchess. Istriku.”


Sial, jantung Aimee kembali berdebar. Suhu tubuhnya terasa naik, dia sedikit terkejut mendengar Althaf mengucapkan kalimat terima kasih dengan cara seperti itu.


Liliana yang melihat adegan ini ikut tersenyum, berselang kemudian dia berdiri dan keluar dari ruang makan lebih dulu dengan alsan sudah mulai merasa kantuk, padahal Aimee melihat jelas bahwa kedua matai bunya masih terlihat segar.


Kini di ruang makan hanya tersisa dirinya dan Althaf, Berlianda dan Cecilia ikut keluar dari ruangan bersama Liliana. Ini adalah suasana canggung dia dan Althaf yang kesekian kalinya. Aimee berdiri cepat dari duduknya. “Aku ingin kembali ke kamar,” ucap Aimee.


Althaf yang mendengar ini segera sedikit mendongak untuk menatap Aimee yang sudah berdiri, bersiap untuk pergi. Althaf mengangguk singkat. “Ya, aku ingin ke ruang kerja sebelum ke kamar.”


Aimee dan Althaf, berpisah di ruang makan.