The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 33. Dinding Grand Duchy Lebih Tebal Dari Pada Dinding Istana Kekaisaran



"Sekali lagi aku mengetahui kau merencanakan sesuatu yang macam-macam untuk Grand Duchess, aku tidak akan membiarkan kepalamu tetap utuh!"


Di dalam ruangan megah bercat putih yang dihiasi oleh barang-barang mewah, Issac menunjukkan sisi aslinya kepada seorang wanita yang kini berada di hadapannya dengan raut wajah dan tatapan memberontak. Issac mencengkeram tangan kanan wanita tersebut, menatapnya dengan penuh amarah.


Wanita itu adalah tunangan Issac, Anabella Holio, putri dari Marquess Holio. Atas izin Kaisar, wanita itu secara resmi diizinkan dipanggil menggunakan gelar 'Putri Mahkota'.


Anabella menepis dan menghempaskan tangan Issac sekuat tenaga, kemudian berkata,"Menyedihkan!"


"Apa yang kau maksud?" tanya Issac, kilatan kemarahan tersirat jelas di matanya.


"Dirimu, apa lagi? Anda, yang mulia Putra Mahkota," jawab Anabella, bibirnya menyeringai tipis. Issac yang mendengar ini diam, matanya masih terus menatap Anabella garang.


"Kau menginginkan sesuatu tetapi tidak bisa kau dapatkan karena takut dengan Grand Duke, bukan?" Timpal Anabella, membuat Issac menggerakkan giginya kesal dan kembali meraih tangan Anabella dan mencengkeramnya kuat-kuat.


"Tutup mulutmu!" ucap Issac, hal ini semakin membuat seringain Anabella dalam. Wanita itu tidak gentar dan takut dengan sosok Issac yang kini tengah meletup-letup karena fakta menusuk yang telah dia katakan.


"Cintamu tidak dapat dikatakan cinta yang besar, kau adalah pengecut. Kau masih takut dan ragu karena sesuatu, sejatinya kau adalah pengecut, Issac!"


Plak!


Issac menampar pipi Anabella keras, suasana mencekam itu semakin bertambah saat hujan mulai turun di ibu kota Kekaisaran Ventumia. Issac memanggil Anabella ke ruangannya tak lama setelah Aimee dan Althaf pergi. Pria itu mendengar bahwa Anabella hendak melakukan sesuatu untuk mengganggu Aimee, sebelum wanita itu benar-benar melakukannya, Issac memanggilnya lebih dulu. Dari dulu, Anabella selalu mengincar keberadaan Aimee jika wanita itu berkunjung ke Istana. Beruntung Issac selalu mendapatkan informasi, hal semacam ini selalu dapat dirinya cegah seperti hari ini.


"Aku tidak mengerti bagaimana otak gilamu bekerja. Grand Duchess tidak pernah merebut apa pun darimu, dia juga tidak pernah mengganggumu. Tetapi kau mengincarnya seperti musuh bebuyutan. Kau sudah memiliki segalanya, seperti gelar Putri Mahkota! Kau akan menjadi Permaisuri Kekaisaran! Kau masih belum puas?!" ujar Issac, matanya menatap Anabella dingin.


Anabella memegang pipinya yang terasa mati rasa karena tamparan Issac, kemudian menatap pria itu dengan bibir yang masih tersenyum. Saat mata mereka bertemu, senyum di bibir Anabella perlahan menghilang. Tatapan matanya mengikuti tatapan mata Issac, sangat dingin.


"Calon suamiku. Aku tidak memiliki suamiku. Suamiku ada padanya," jawab Anabella, hal ini membuat Issac bungkam.


Issac mendesis kesal, kemudian melepaskan cengkeraman tangannya dan berbalik memunggungi Anabella. "Kau tahu tentang perasaanku pada Grand Duchess, itu tidak akan pernah berhasil. Aku bukan pengecut karena tidak berani melawan Grand Duke, tetapi karena ada yang harus aku utamakan dari pada perasaanku. Kekaisaran, dan ..." Belum selesai Issac bicara, Anabella sudah memotong.


"Kebahagiaan Grand Duchess dan hubunganmu dengan Grand Duke," ucap Anabella, Issac tetap diam saat mendengar Anabella memotong ucapannya.


"Kau takut wanita itu tidak bahagia saat bersamamu jika kau rebut dengan paksa, dan jika aku boleh jujur, alasan keduamu adalah kebohongan. Sejak kapan kau memiliki rasa solid yang luar biasa seperti itu? Mengkhawatirkan hubunganmu dengan Grand Duke? Omong kosong! Yang membuatmu tertahan hanyalah alasan yang pertama, bukan kedua. Jika Grand Duchess mengizinkan dirimu untuk mengambilnya dari Grand Duke, aku bertaruh kau akan berani menyerang Grand Duchy," sambung Anabella.


Melihat Issac masih terus terdiam memunggunginya, Anabella kembali bicara. "Alasanku ingin sekali membunuh karena Grand Duchess karena sudah terlanjur dibuat muak luar biasa dengan keadaan saat ini. Kau dilema karena perasaanmu, setengah dari konflik yang kau jalani dengan pangeran kedua adalah tentang Grand Duchess, dan aku yang tidak tahu apa-apa diseret ke dalam lingkaran gelap kalian. Aku bertunangan dengan calon suamiku dengan tulus, namun ternyata perasaanku tidak pernah dianggap ada dan dibuang tanpa dilirik terlebih dahulu. Kunci dari perdamaian ini adalah kematian Grand Duchess!"


Plak!


Issac berbalik dan menampar pipi Anabella lagi setelah mendengar kalimat akhir wanita itu.


Anabella menepis kasar tangan pelayan yang ingin menyentuhnya, kemudian berjalan keluar dari ruangan Issac tanpa pamit atau memberi hormat kepada pria itu.


Anabella meremas gaunnya mengenakan kedua telapak tangannya untuk meredam emosi yang kini bergejolak luar biasa di dalam hatinya. Di sama sekali tidak bisa menerima perlakuan Issac, dia sebelumnya adalah seorang putri Marquess yang terhormat. Bagaimana mungkin dia bertunangan dan kelak akan menikah dengan Putra Mahkota hanya untuk mendapatkan nasib serta perlakuan seperti ini?!


"Sudah ada kabar dari putri Margaret?" tanya Anabella kepada pelayan pribadi saat dia hendak menaiki kereta kuda.


Pelayan pribadi Anabella menggeleng, kemudian menjawab,"Belum, yang mulia."


Anabella tersenyum dingin saat mendengar jawaban dari pelayan pribadinya, setelah itu bergumam,"Sepertinya Elston mengurung istrinya lagi."


Di sisi lain, Grand Duchy. Althaf dan Daniel tengah mengobrol. Althaf berdiri menghadap jendela, menatap halaman depan Grand Duchy yang megah. Sedangkan Daniel, pria itu berdiri di belakang Althaf sambil menatap punggung pria itu.


"Bagaimana jika Putra Mahkota menggigit tangan anda?" tanya Daniel, raut wajahnya tampak sangat serius.


Althaf tersenyum dingin. "Tidak akan pernah terjadi."


"Tetapi tatapan matanya setiap kali melihat Grand Duchess, itu membuat saya merasa tidak nyaman untuk anda," jawab Daniel, keningnya mengerut karena mengingat tatapan mata Issac terhadap Aimee.


"Anak itu tidak akan berani menunjukkan taringnya kepadaku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bukankah Kaisar hendak menikahinya dengan putri dari Marquess Holio? Keluarga Marquess Holio pasti akan berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan posisi putrinya, jadi sekeras apa pun Issac berusaha mengisi posisi Putri Mahkota dengan Aimee, bocah itu akan menghadapi intrik Marquess Holio terlebih dahulu. Dia akan sibuk dengan Marquess Holio dan Elston, tidak akan ada waktu dan tenaga yang cukup untuk menyerangku," jelas Althaf.


Daniel menghembuskan napasnya, dia terlalu khawatir dengan Althaf dan Aimee. Dia tidak akan membiarkan Putra Mahkota atau Pangeran kedua merusak atau mencuri 'kebahagiaan' dari Tuannya, karena bertahun-tahun Daniel menjadi kaki dan tangan Althaf, ini pertama kalinya dia dapat melihat Althaf berbahagia sungguhan katena 'kebahagiaan' tersebut. Melihat Putra Mahkota dan Pangeran kedua menjadi ancaman hubungan Althaf dan Aimee, hati Daniel menjadi tidak tenang.


Althaf berbalik, menatap Daniel yang masih merenung memikirkan Putra Mahkota dan Pangeran kedua. Althaf kemudian berjalan melewati Daniel sambil berkata,"Lebih baik sekarang kau pulang dan beristirahat. Temui anak dan istrimu, kemudian berikan kecupan sebelum tidur."


Daniel yang mendengar ini segera tersadar dari lamunannya dan menatap Althaf dengan terkejut. "Dari mana anda tahu kecupan sebelum tidur?"


Althaf yang mendengar ini dengan santai menjawab sambil membuka pintu ruangan kerjanya. "Istriku. Siapa lagi?" Kemudian dia menutup pintu kerjanya dan meninggalkan Daniel mematung di sana.


Althaf berjalan ke arah kamarnya dan Aimee, kemudian Cecilia dan Aimee yang berjaga di depan pintu kamar segera membungkuk ke arah Althaf. Mereka diperintahkan Althaf untuk tetap berada di depan pintu kamar jika Aimee sendirian di kamar tanpa dirinya.


"Wanita bodoh itu sudah tertidur?" tanya Althaf dengan nada bicara yang acuh.


Berlianda dan Cecilia mengangguk bersama, kemudian Berlianda menjawab,"Sudah, yang mulia."


Althaf tersenyum samar, kemudian berjalan masuk setelah Cecilia dan Berlianda membukakan pintu untuknya. Cecilia dan Berlianda bergegas menutup pintu kembali setelah Althaf masuk, kemudian mereka berjalan pergi meninggalkan kamar tersebut dan kembali ke kamar mereka berdua.


Althaf menatap sosok Aimee yang tertidur pulas di ranjang mereka. Althaf berjalan ke sisi tempat Aimee berbaring, kemudian mengecup singkat kening Aimee dan bergumam,"Mereka tidak akan bisa menyentuhmu. Dinding Grand Duchy lebih tebal dari pada Istana Kekaisaran."