
Setelah cukup lama menyulam bersama di taman, Liliana memutuskan untuk menyelesaikan acara menyulam bersama mereka dan bergegas ke kamarnya. Dia merasa lelah, hal ini mmebuatnya semakin sadar bahwa dirinya tidak lagi muda.
Setelah selesai mengantar ibunya ke kamar, Aimee kembali ke kamar Althaf. Wanita itu duduk di sofa kamar Althaf, beristirahat sambil memperhatikan sapu tangan buatannya. Matanya mengernyit melihat sapu tangan tersebut, dia merasa kurang puas dengan hasil sulamannya.
Sulaman sapu tangan tersebut berbentuk logo marga Aldrich, lalu di bawah pojok kanan sapu tangan terdapat nama Althaf dan tanggal pernikahan mereka berdua. Hal ini bukan disulam atas kemauannya, tetapi paksaan ibunya.
“Yang mulia, apa anda tidak ingin membuat dessert untuk Grand Duke? Sekarang adalah hari sabtu, bukankah dulu Duchess sering membuatkan dessert spesial untuk mendiang Duke Leandra?” tanya Berlianda, dia sebenarnya diam-diam senang ketika melihat nyonya dan Althaf selalu berdekatan walaupun Berlianda sendiri mengetahui bahwa kedekatan mereka hanya akting untuk membuat hati Duchess Liliana senang.
“Malas. Aku tidak setotalitas itu untuk berakting,” balas Aimee acuh.
Berlianda dan Cecilia segera saling tatap setelah mendengar jawaban Aimee, kemudian kini giliran Cecilia yang berusaha membujuk. “Yang mulia, apa yang dikatakan Berlianda benar. Duchess adalah orang yang cerdas, jika anda tidak berakting dengan totalitas yang penuh Duchess bisa saja mengetahui kebohongan anda dan Grand Duke. Dengan anda mengorbankan waktu dan tenaga di dapur membuat dessert cantik untuk Grand Duke akan menunjukkan totalitas anda lebih menonjol, Duchess juga tidak akan curiga dengan anda dan Grand Duke. Bukankah anda juga menyadari bahwa sesekali Grand Duke terlihat kaku dalam berakting? Hal ini pasti akan memicu kecurigaan di hati Duchess.”
Aimee terdiam. Sungguh, dia merasa muak. Dia harus membuat dessert untuk pria itu? Gila. Tetapi apa yang dikatakan oleh Cecilia ada benarnya juga.
“Grand Duchess, bagaimana?” tanya Berlianda.
Aimee meremas kesal sapu tangan yang dia buat, kemudian berdiri dari sofa dan berjalan keluar dari kamar. “Setelah memakan dessert buatanku, pria itu harus membayarnya dengan uang. Jika tidak akanm aku buat mulutnya mengeluarkan busa setelah memakan dessert itu.”
Berlianda dan Cecilia kembali saling menatap, kemudian mereka berdua tertawa diam-diam dan menyusul Aimee.
Sementara itu, Althaf yang berada di Istana baru saja selesai melakukan diskusi dengan putra mahkota, Issac. Issac menaikkan alis kirinya ketika melihat Althaf merenung.
“Ada apa dengan ekspresimu itu? Apa masih ada langkah yang salah di rencana kita berikutnya?” tanya Issac.
Althaf yang mendengar Issac bertanya demikian segera tersadar dan menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ada.” Issac yang mendengar jawaban Althaf beralih mengerutkan keningnya bingung. “Lalu mengapa kau merenung?”
Althaf hanyab menggeleng, kemudian memijit keningnya pelan. Issac yang melihat ini semakin bingung, namun tak lama kemudian bibirnya tersenyum menyebalkan layaknya mengejek. “Aku dengar Duchess Leandra, ibu dari Grand Duchess datang ke Grand Duchy, ya? Bagaimana rasanya bertemu dengan ibu mertua?”
“Duchess Liliana adalah wanita yang lembut, anggun, dan elegan. Aku harap dia tidak terkejut saat bertemu tiran dingin sepertimu,” lanjut Issac, membuat Althaf menatap kesal ke arahnya.
“Nikmati saja, Althaf, paman muda terkasihku. Mungkin sudah saatnya kau dan bibi cantikku saling mencintai,” ucap Issac, raut wajah pria itu terlihat sangat menyebalkan di mata Althaf.
“Gila,” balas Althaf singkat, namun cukup menusuk di hati Issac.
Issac mendengus kecil, kemudian membalas,”Lagi pula mau smapai kapan kalian terus dingin? Sampai istrimu menjadi istri pangeran kelima kekaisaran Timur itu, hah?”
Althaf tidak menggubris Issac, Issac yang diperlakukan acuh seperti ini sudah sangat terbiasa. Dia memang selalu banyak bicara sendiri jika berkomunikasi dengan Althaf.
“Aku dengar pangeran itu sempat singgah di Grand Duchy sebelum ke Istana?” tanya Issac, menumbuhkan topik baru.
“Ya, wanita itu yang mengajaknya dan menawarkan bantuan. Ini masuk ke dalam salah satu rencana kita untuk menarik pihak Kekaisaran Timur,” jawab Althaf.
“Bagaimana jika pangeran itu jatuh cinta kepada Grand Duchess?” tanya Issac dengan pertanyaan asal yang terdengar konyol di telinga Althaf, Issac tertawa sendiri karena pertanyaannya.
Issac menjawabnya sambil masih tertawa dan menggoda Althaf. “Tidak perlu terburu-buru untuk pulang, jarak Grand Duchy dan Istana tidak terlalu dekat, jadi pangeran itu tidak akan bisa menggoda istrimu.”
Sebelum membuka pintu, Althaf menoleh kesal ke arah Issac dan berkata,”Tutup mulutmu, Issac.”
Tawa Issac segera berhenti begitu Althaf berkata demikian.
Althaf berjalan di aula Istana menuju pintu keluar, dia ingin kembali ke Grand Duchy. Tetapi di tengah jalan dia melihat seorang pelayan yang sedang tergopoh-gopoh membawa makanan tanpa melihat jalan dengan benar, sesuai dugaan, pelayan itu menabrak Althaf. Kuah makanan tersebut yang memiliki wangi rempah-rempah yang sangat kuat mengenai pakaian Althaf.
“Gr—Grand Duke! Yang mulia! Tolong maafkan saya!” ucap pelayan itu, dia segera berlutut menghadap Althaf.
Althaf mengernyitkan keningnya kesal, wangi pakainnya kini benar-benar kacau. Hal pertama yang ada di pikirannya setelah tertimpa masalah ini adalah … sebenarnya makanan apa yang dibawa pelayan ini? Bagaimana bisa wangi rempah-rempah kuahnya sangat kuat?
“Asataga!” suara kepala pelayan wanita Istana terdengar, Althaf segera melirik kepala pelayan tersebut dengan mata elangnya. Kepala pelayan segera ikut berlutut di lantai menghadap Althaf dengan tubuh gemetar.
“Yang mulia, saya mohon … maafkan kelalaian saya dalam mendidik seorang pelayan Istana. Saya mohon … kasihani nyawa saya dan anak ini,” ucap pelayan itu, matanya berkaca-kaca, tubuhnya gemetar.
Saat Althaf hendak membuka mulutnya untuk bicara, dari belakang terdengar suara pangeran kedua, Elston Cielo. “Apa yang terjadi di sana?”
Althaf segera menoleh, mata dinginnya menatap Elston yang berjalan mendekat ke arahnya bersama Xiao Li. Sepertinya Elston berusaha keras juga menarik Xiao Li ke sisinya.
Saat Elston melihat pakaian Althaf yang kotor, dia segera menatap kedua pelayan yang sedang berlutut di lantai. “Bagaimana bisa kalian menabrak Grand Duke? Ceroboh.”
Kepala pelayan dan pelayan wanita di sampingnya semakin gemetar, Xiao Li yang sedari tadi diam kini memperhatikan kuah yang menimpa Althaf. Saat menyadari sesuatu, dia segera maju dan berkata,”Grand Duke, tolong ampuni kedua pelayan ini. Makanan yang dibawa pelayan ini adalah permintaan saya. Ini adalah salah saya karena meminta pelayan wanita ini membawanya ke kamar dengan terburu-buru.”
Elston menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, pangeran Li. Tidak ada yang sallah dengan perintahmu, ini memang kesalahan pelayan Istana kami karena tidak berhati-hati dan akhirnya melakukan kecerobohan.”
Ketika Xiao Li ingin membalas, Althaf sudah lebih dulu bicara. “Lupakan, ini tidak terlalu penting. Saya harus kembali ke Grand Duchy.” Saat Althaf ingin bergerak meninggalkan Elston dan Xiao Li, tiba-tiba Xiao Li bertanya,”Terima kasih, saya juga meminta maaf karena makanan yang dibawa pelayan ini memiliki wangi rempah yang sangat kuat. Orang-orang Timur memang sering makan makanan yang memiliki rasa rempah atau kaldu yang kuat.”
“Ah … ya, bagaimana kabar Grand Duchess, yang mulia?” lanjut Xiao Li, menanyakan kabar Aimee.
Althaf menatap Xiao Li dengan tatapan yang sedikit berbeda dari sebelumnya, entah mengapa dia jadi teringat dengan ledekan Issac barusan. Menyebalkan sekali rasanya.
“Baik, saat ini dia sedang sibuk menghabiskan waktunya dengan ibunya, Duchess Leandra. Pangeran Li, pangeran kedua, jika tidak ada lagi hal yang penting untuk dibicarakan, saya pamit undur diri. Masih ada beberapa pekerjaan penting di Grand Duchy, saya harap kita memiliki waktu lain yang pas untuk mengobrol nantinya,” jawab Althaf untuk pertanyaan Xiao Li, sekaligus memberi salam perpisahan. Belum sempat Xiao Li membalas, Althaf sudah lebih dulu melanjutkan langkahnya.
“Grand Duke memang orang yang dingin, tidak perlu dipikirkan,” ucap Elston.
Xiao Li mengangguk sambil tersenyum. “Saya tahu, tetapi saya juga tahu bahwa sepertinya Grand Duke adalah orang yang baik.”
Senyum di wajah Elston segera hilang perlahan saat mendengar ini. “Anda benar, pangeran Li.”