The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 29. Jika Mereka Melukaimu, Maka Mereka Juga Melukaiku



“Gr—Grand Duchess!”


Margaret menghembuskan napasnya untuk melepaskan rasa gugup yang sedari tadi ia tahan. Aimee masih dengan tenang menikmati dessert yang disajikan untuknya. Kepalanya sama sekali tidak menoleh ke arah Shofia Kalix dan Tya Roger. Kedua wanita itu masih terus berlutut di samping kursi Aimee dengan wajah pucat, mereka sama sekali tidak menyangka orang yang sedari tadi mereka bicarakan ada di depan mereka.


Sampai akhirnya suara Althaf terdengar, sepertinya pria itu telah selesai mengurus urusannya dengan putra mahkota.


“Ada apa ini?” tanya Althaf sambil mengerutkan keningnya melihat dua wanita yang tidak ia kenali berlutut menghadap Aimee.


Baron Kalix yang saat itu datang bersama Althaf karena mereka baru saja menemui putra mahkota untuk membahas bisnis bersama pun terkejut melihat putrinya sudah berlutut menghadap Aimee. Keringat di wajah pria paruh baya itu muncul, dia menebak-nebak kejadian terburuk yang telah terjadi menimpa putrinya sampai harus berlutut ke arah Aimee.


Aimee hanya menoleh ke arah Althaf sebentar, lalu matanya beralih ke Baron Kalix. Bibir Aimee tersenyum, yang justru membuat Baron Kalix semakin ketakutan.


“Tuan Baron, sepertinya anda harus mengajari putri anda lebih baik lagi,” ujar Aimee, kemudian menaruh sendok dessert-nya dan mengelap mulutnya menggunakan tissue dengan elegan dan Nampak tenang.


Baron Kalix mengepalkan kedua tangannya untuk menekan rasa takutnya, setelah itu ikut berlutut di samping putrinya dan berkata,”Grand Duchess, tolong maafkan putri saya. Dia masih muda dan baru saja ingin masuk ke dunia pergaulan sosial kelas atas, dia tidak memiliki mentor dan masih sangat polos. Pikirannya masih sempit dan belum bisa berpikir jernih.”


“Margaret.” Althaf memanggil Margaret langsung dengan namanya, namun tidak ada yang berani protes atau marah.


Margaret yang dasarnya memang takut dengan Althaf segera berdiri dengan kepala menunduk. “Iya … Grand Duke?” Nada bicara wanita itu memelas.


“Jelaskan masalahnya,” perintah Althaf, kemudian melepas jas yang tengah ia pakai karena menyadari udara di Ventumia semakin dingin. Sepertinya musim dingin akan segera dimulai. Melihat Aimee tidak mengenakan baju yang cukup tebal dari yang lainnya pun membuat Althaf berinisiatif.


Shofia Kalix, Tya Roger, dan Baron Kalix menjadi semakin gemetar melihat kepedulian Althaf pada Aimee. Jika Aimee mengadu pada Althaf, Althaf pasti akan membela Aimee dan habislah sudah hari kebahagiaan mereka. Baron Kalix mengutuk kebodohan putrinya sendiri di dalam hati.


“Lady Shofia dan Tya bicara bahwa … bahwa Aim—mak … maksudku Grand Duchess!” ucap Margaret gugup, lalu berhenti sejenak dan kembali melanjutkan. “Mereka mengatakan bahwa Grand Duchess tidak subur dan ingin menjadi selir anda agar dapat menggantikan Grand Duchess sebagai orang yang melahirkan keturunan anda secara terang-terangan di hadapan Grand Duchess.”


Baron Kalix semakin lemas saat mendengar putrinya berani mengatakan itu semua, matanya dengan cepat melirik tajam Shofia Kalix. Shofia Kalix hanya bisa menunduk dalam, tangan wanita itu sudah basah dengan keirngat dingin dan terlihat gemetar. Dia ketakutan sampai tidak bisa membuka mulut.


Althaf yang mendengar hal tersebut dari Margaret terdiam, kemudian matanya menatap Aimee yang masih terlihat tenang. Aimee tak lama kemudian berdiri, matanya menatap dingin Shofia Kalix dan Tya Roger.


“Grand Duke, Lady Shofia sepertinya sangat ingin melahirkan pewaris untukmu. Bagaimana menurutmu? Sepertinya Lady Shofia sangat cocok untuk—“ belum selesai Aimee bicara, Althaf langsung memotong cepat. “Jangan gila.”


Pria itu menggenggam pergelangan tangan Aimee dan menarik wanitanya pergi. Sebelum pergi, matanya menatap Baron Kalix dan berkata,”Yang menjadi rekan bisnis utamamu bukanlah aku, tetapi Grand Duchess. Pemilik bisnis tambang permata yang mengatasnamakan Aldrich adalah istriku, jadi untuk persetujuan bekerja sama atau tidak dengan Aldrich, istriku yang menentukan.” Kemudian mata Althaf bergeser ke Margaret. “Lain kali jangan memasukkan orang yang tidak penting ke dalam Istana, apa lagi ada istriku di dalamnya.” Setelah itu Althaf baru menarik Aimee pergi.


Baron kini benar-benar jatuh lemas ke tanah, dia tidak menyangka nasib sial langsung datang dengan sangat cepat begitu nasib baiknya baru saja datang. Kini kesuksesan bisnisnya berada di ujung tanduk. Jika Aimee tidak menyutujui tawaran kerja samanya, maka tamat sudah karirnya.


Sementara itu Aimee yang diseret oleh Althaf keluar masih dengan raut wajah datar yang sebelumnya. Saat Aimee dan Althaf telah berjalan cukup jauh dari Istana Margaret, Althaf segera menghentikan langkahnya yang membuat Aimee otomatis juga berhenti.


“Ada apa?” tanya Aimee bingung, menatap punggung Althaf yang membatu seperti orang bodoh.


Althaf menoleh ke arah Aimee, wajahnya datar, namun Aimee dapat merasakan kesedihan dari tatapan mata pria itu yang menatap seperti anak anjing yang menahan tangis.


“Kau baik-baik saja?” tanya Althaf hati-hati.


Aimee mengangguk. “Iya, memangnya kenapa?” Kening Aime sedikit mengerut.


Althaf menghembuskan napasnya lega, kemudian kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, seperti pencuri yang sedang memastikan situasi sepi agar lancar melakukan tindak kriminalnya. Mendapati lingkungan sekitar sepi, Althaf segera menarik Aimee ke dalam pelukannya, setelah itu mencium ubun-ubun kepala Aimee dan berkata,”Jangan dengarkan apa yang mereka katakan.”


Aimee tidak bisa menahan senyum mendengar dan diperlakukan seperti ini, kemudian dia mendongak untuk melihat wajah Althaf. Telapak tangan kanan Aimee mengelus pipi pria itu, lalu menjawab,”Aku tidak pernah memusingkan hal seperti itu, mengapa kamu yang justru terlihat sedih dan sangat memikirkan hal itu?”


“Jika mereka membicarakanmu, berarti mereka juga membicarakanku. Jika mereka menyakitimu, berarti mereka juga menyakitiku,” jawab Althaf, kemudian mengeratkan pelukannya.


Aimee terkekeh mendengar kalimat puitis dan penuh kedramatisan dari Althaf, kemudian ia segera melepas pelukan mereka berdua dan berjalan pergi meninggalkan Althaf sambil berkata,”Dari pada sibuk memikirkan omongan tidak mendasar itu, lebih baik kau sibuk memikirkan boneka salju seperti apa yang akan kau buat nanti.” Lalu kepla Aimee mendongak menatap langit. “Sepertinya besok akan turun salju.”


Althaf bergegas menyusul Aimee dan berjalan di samping wanita itu, kemudian berkata,”Bagaimana jika bermain lempar bola salju? Yang kalah harus memberikan saham kekuasaannya entah itu di bisnis atau politik sebanyak dua puluh persen.”


Aimee yang mendengar ide konyol dari Althaf segera memukul punggung pria itu.


Pakk!


“Pria gila, berhenti bermimpi!” Kesal Aimee, hal ini membuat Althaf tersenyum tipis.


“Ingin bermain ke Istana putra mahkota? Kebetulan aku masih memiliki urusan dengan Kaisar, dari pada membiarkanmu menunggu di Istana Margaret, lebih baik kau berada di tempat Putra mahkota,” ucap Althaf, dia ternyata tidak bisa mengajak Aimee pulang langsung.


Aimee yang mendengar ini pun menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya hatinya merasa ragu. Aimee dan putra mahkota tidak terlalu dekat, mereka berdua melakukan komunikasi hanya jika menyangkut masalah Althaf dan Margaret.


Setelah Althaf mendapatkan persetujuan dari Aimee, pria itu segera membawa Aimee ke Istana Issac. Sesampainya di sana, Issac dengan ramah tersenyum dan menyambut mereka berdua.


“Aish … siapa ini yang datang? Bagaimana kabar anda, Grand Duchess?” Pria itu tersenyum dalam, rambut merah panjangnya dikepang, dua kancing kemeja atasnya terbuka. Issac benar-benar putra mahkota yang sangat tampan, dia masuk ke dalam daftar pria paling tampan di Ventumia.