The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 25. Sudah Pasti Jebakan



Aimee menggertakkan giginya kesal, dia sudah tidak tahan ditahan seperti ini oleh Elston. Aimee mengerahkan seluruh tenaganya, kedua tangannya gemetar karena memaksakan tekanan kunci syaraf yang Elston lakukan padanya.


Dia melupakan rasa panas bercampur pedas yang ada di pipinya setelah ditampar Elston. Elston yang melihat Aimee tidak pernah mau menyerah tertawa, raut wajah datar dan dingin pria itu menghilang.


“Sayang, apa yang kau lakukan?” tanya Elston sambil mencengkeram pelan kedua tangan Aimee yang gemetar karena memaksakan diri.


“Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikan seperti itu!” Marah Aimee, dia sama sekali tidak senang mendengar Elston memanggilnya seperti itu.


Elton tertawa lagi, setelah itu mencium lama kening Aimee. “Aku tidak mengerti, mengapa kau tidak pernah melihat cintaku.” Tak lama kemudian, pria itu memencet kembali dua titik akupuntur yang berada di leher Aimee.


Tubuh Aimee melemas, wanita itu jatuh duduk di lantai Istana lemas karena paksaan yang sebelumnya ia lakukan. Matanya menatap tajam Elston, sedangkan pria itu hanya menyeringai tipis dan berjalan pergi dengan cepat meninggalkan Aimee.


Aimee berusaha berdiri, seluruh tubuhnya saat ini terasa lelah luar biasa. Memaksa untuk melepaskan titik kunci syaraf memang sangat berisiko besar, tenaga Aimee benar-benar terkuras habis.


Ada sekitar dua puluh menit Aimee berdiam diri di pojok dinding Istana yang sepi itu, dia sedang mengumpulkan tenaga agar bisa kembali tampil normal.


“Yang mulia.” Suara seorang wanita terdengar, Aimee melihat pelayan wanita Istana.


“Bantu aku,” ucap Aimee, meminta bantuan kepada pelayan wanita Istana.


Dengan cepat, pelayan wanita itu segera membantu Aimee untuk berjalan. Dia membawa Aimee ke tempat peristirahatan tamu undangan Istana.


“Yang mulia, anda baik-baik saja? Apa saya perlu memanggil dokter?” tanya pelayan tersebut.


Aimee menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, aku hanya perlu beristirahat. Jangan beritahu siapa pun, termasuk Grand Duke tentang ini. Jika ada yang menanyakan keberadaanku, katakan aku pingsan di tengah perjalanan menuju Istana putri Margaret karena terlalu lelah. Mengerti?”


Pelayan wanita itu menganggukkan kepalanya cepat. “Mengerti, yang mulia. Tetapi … maaf, apa anda benar ingin mengunjungi Istana Putri?” tanya pelayan wanita tersebut.


Aimee mengangguk. “Benar, katanya putri memanggilku. Ada apa?”


Pelayan wanita itu tersenyum canggung. “Yang mulia, saya adalah salah satu pelayan yang bekerja di dekat putri. Saat pertama kali putri kembali ke Istana sampai sebelum saat ini, saya selalu berada di samping putri. Tetapi putri sama sekali tidak ada meminta anda untuk menemuinya karena tahu anda sedang mendampingi Grand Duke di Pesta.”


Aimee yang mendengar ini tersenyum tipis, dia sudah menebaknya. “Ya, aku tahu. Tolong jaga rahasia ini, jangan biarkan Putri dan orang-orang yang lain mengetahuinya, mengerti?”


“Baik, yang mulia,” jawab pelayan tersebut patuh. Dari pada tidak menurut dan dia terlibat dalam masalah para orang-orang elit Kekaisaran, nyawanya bisa dalam bahaya. Dia mencium aroma perseteruan di sini.


Aimee menyenderkan punggungnya di papan ranjang, wanita itu berusaha memulihkan energinya.


“Kapan acara ini selesai?” tanya Aimee kepada pelayan wanita yang saat ini tengah memijit kakinya.


“Sekitar sepuluh menit lagi, yang mulia,” jawab pelayan wanita tersebut.


Aimee yang mendengar ini pun mengangguk, setelah itu berkata,”Hentikan, aku harus kembali ke aula Istana sebelum acara selesai.” Pelayan wanita itu dengan patuh menuruti perintah Aimee, kemudian membantu Aimee berdiri dan berjalan di belakang Aimee untuk menjaga keseimbangan Aimee.


Begitu Aimee melihat Althaf, dirinya bergegas berjalan ke samping Althaf yang masih berada di dekat Kaisar. Kaisar yang melihat kehadiran Aimee segera bertanya,”Bagaimana kondisi putri?”


Aimee tersenyum tipis. “Putri baik-baik saja, yang mulia. Anda tidak perlu kahwatir.” Kaisar segera menghembuskan napas lega saat mendengar jawaban Aimee setelah itu mengucapkan terima kasih.


Althaf memperhatikan Aimee diam-diam, dia menyadari ada yang aneh pada Aimee. Pria itu sama sekali tidak menggeser tatapannya dari Aimee.


Aimee yang sadar dengan tatapan mata Althaf segera mendongak untuk melihat pria itu, saat mata mereka berhasil bertemu, Althaf dengan cepat menarik pandangannya. Aimee yang menangkap basah Althaf pun hanya bisa tersenyum ke arah pria itu.


Selain tatapan Althaf, sejujurnya, Aimee juga merasakan tatapan lekat lainnya. Begitu Aimee cari pemilik tatapan tersebut, dirinya melihat Elston yang berdiri di samping Marquess Darrel sedang menatapnya. Saat mata mereka bertemu, Elston segera melempar senyum secara diam-diam ke arah Aimee.


Aimee benar-benar merasa muak dengan Elston, pria itu gila. Sebelumnya mereka tidak pernah memiliki hubungan yang sangat dekat, Aimee entah kenapa tidak pernah mau berhubungan dengan pria itu. Dia merasa terlalu banyak hal buruk yang terjadi jika dia berada di dekat Elston.


Saat sedang larut di dalam rasa kesal karena saling tatap dengan Elston, tiba-tiba dia merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya, lalu tak lama kemudian Aimee ditarik oleh Althaf lebih dekat ke sisi pria itu.


Aimee mendongakkan kepalanya, dia melihat Althaf mengobrol dengan para bangsawan elit lainnya sambil menarik Aimee ke sisinya lebih dekat. Sepertinya pria itu menyadari kontak matanya dengan Elton. Saat lawan bicara Althaf tengah sibuk menjelaskan sesuatu, Althaf tiba-tiba bebricara dengan nada suara yang sangat rendah yang hanya dapat didengar oleh mereka berdua, namun matanya masih tetap tertuju pada lawan bicaranya.


“Sekali lagi kau melakukannya, akan aku congkel kedua bola matamu keluar,” bisik Althaf.


Aimee tertegun, matanya sedikit melotot, namun dia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya.


Tak lama kemudian, Althaf perlahan mengendurkan rangkulan pinggangnya dari Aimee. Aimee menghela napas gusar, dia cukup lelah sekarang, namun pesta masih tersisa beberapa menit lagi.


Aimee melirik ke arah Xiao Li yang sedang berdiskusi dengan Putra mahkota, karena jarak mereka tidak terlalu jauh, jadi Aimee memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Althaf dia tinggal mengobrol sendiri bersama kerabat bangsawannya. Althaf mengerutkan keningnya sekilas saat mengetahui Aimee hendak pergi meninggalkannya, namun ketika melihat Aimee ingin bergabung bersama Issac, hatinya sedikit tenang.


Mata elang Althaf tidak sengaja menangkap sosok Xiao Li di samping Issac, membuat keningnya kembali terlipas tidak senang. Althaf dengan sopan dan terburu-buru menyudahi obrolannya dengan kerabat bangsawan tadi, lalu menyusul Aimee.


“Apa yang kalian bicarakan di sini?” tanya Althaf begitu datang bergabung.


“Membicarakanmu,” jawan Issac tanpa peduli siapa Althaf, kemudian terkekeh. Aimee yang mendengar ini pun ikut terkekeh, begitu juga dengan Xiao Li.


Althaf menaikkan alis kirinya bingung, untuk apa mereka semua membicarakannya?


“Aku? Tentang apa?” tanya Althaf.


“Saat pertama kali melakukan debutante, seluruh anak laki-laki bangsawan diminta untuk memberikan bunga kepada Lady yang akan diajak berdansa dengannya, namun Althaf malah memberikan bunga itu ke mendiang ibuku. Kaisar kemudian memarahinya sambil tertawa, Althaf dituding sebagai penggoda istri Kaisar,” jawab Issac sambil menceritakan ulang kisah yang sebelumnya sudah ia ceritakan kepada Aimee dan Xiao Li sebelum Althaf datang.


Aimee terkekeh. “Saya sangat penasaran seperti apa penampilan Grand Duke remaja. Saya dan Grand Duke berbeda lima tahun, acara debutante kami jelas tidak dilaksanakan bersama.”


Issac mengangkat kedua bahunya acuh. “Tidak ada yang spesial, sama saja dengan yang sekarang. Saat debutante banyak Lady yang tertarik padanya, namun tidak ada satupun yang berani mendekati Althaf karena wajahnya yang galak. Ada satu wanita yang memiliki mental besar saat itu, namun tak lama kemudian dia menangis karena malu. Althaf mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan kepada seorang perempuan.”


“Bagaimana dengan debutante Grand Duchess?” Tiba-tiba Xiao Li bertanya tentangnya lagi, membuat Althaf sedikit merasa tidak senang, namun pria itu tidak menunjukkan apa yang dia rasakan ke wajahnya. Issac yang melihat Xiao Li berbicara terus menerus kepada Aimee hanya bisa tersenyum meledek ke arah Althaf.