The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 19. Penjara Cinta Dingin Althaf



Aimee mengepalkan kedua tangannya, dia mulai ikut memuncak setelah mendengar balasan Althaf. Pria itu ingin menarik gelar ‘Duke’ milik adiknya secara paksa jika mereka berdua bercerai? Gila. Aimee memutar badannya, hal ini membuat Althaf sedikit terkejut karena melihat wajah Aimee yang telah basah dengan air mata. Ini kedua kalinya dia melihat Aimee mengeluarkan air mata, dia sedikit tidak terbiasa melihat Aimee menangis seperti itu. Dia … hati Althaf terasa diremas saat melihat Aimee menangis. Perasaan seperti ini juga pernah ia rasakan saat Aimee menangis di perdana pertengkaran mereka.


“Lalu apa yang kau inginkan?! Kau mengacuhkanku, tidak peduli apakah aku hidup atau mati, namun kau masih tidak mau menceraikanku bahkan setelah tujuan utama kita menikah selesai!” seru Aimee, wanita berjalan mendekati Althaf sambil bertanya marah. Kini jarak mereka sangat dekat, satu langkah lagi Aimee maju, maka tubuhnya akan menempel dengan Althaf.


“Karena kau milikku!” balas Althaf, tinggi nadanya mengikuti Aimee. Pria itu mencengkeram lengan Aimee dan menarik Aimee semakin dekat. Tubuh mereka menempel tetapi tidak ada pelukan.


Aimee berusaha melepas cengkeraman Althaf, tetapi keras, tidak bisa. Tenaga pria itu besar bukan main. Althaf yang melihat Aimee berusaha melepas cengkeraman tangannya tidak menanggapi, pria itu menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram kedua pipi Aimee.


“Gelar Grand Duchess tidak bisa diisi oleh sembarang wanita, tidak hanya satu keluarga bangsawan yang menawarkan kerja sama seperti yang Leandra lakukan pada Aldrich. Tetapi tidak ada satu pun yang aku izinkan untuk mengisi posisi ‘Grand Duchess’. Semenjak malam itu, saat kau mendatangi aku dan Issac bersama Abighail dengan gaun yang kotor akan tanah dan darah, lalu meminta aku untuk menikahimu, maka di situ juga secara mutlak kau menjadi milikku! Aset pribadi milikku! Karena kau asetku, kau tidak akan bisa meninggalkan aku begitu saja, kecuali memang aku yang membuangmu!” ujar Althaf, ini adalah kalimat paling panjang dari pria itu yang pertama kali Aimee dengar darinya.


Aimee menggelengkan kepalanya, berusaha melepas cengkeraman tangan kiri Althaf dari kedua pipinya, saat sisi tangan Althaf dekat dengan bibirnya, Aimee dengan cepat menggigit tangan kiri Althaf.


Althaf yang digigit oleh Aimee segera melepas cengkeraman tangan kirinya, sesaat dia lengah karena gigitan Aimee, wanita itu memukul keras tangan Althaf dan berputar ke arah dinding yang memiliki pedang tergantung di sana.


Aimee menarik pedang itu tidak lebih dari satu detik, kemudian kembali berputar dan menghunuskan ujung pedangnya ke leher Althaf.


Althaf melirik mata pedang itu dingin, saat mencoba menyingkirkannya perlahan, Aimee menekan kencang posisi pedang tersebut dan mengembalikannya ke posisi semula. Althaf kesal, kemudian dengan paksa menggenggam pedang tersebut menggunakan telapak tangan kirinya dan membiarkan pedang tersebut melukai telapak tangannya. Darah segar perlahan mengalir dari telapak tangan Althaf, namun raut wajah pria itu tidak berubah sama sekali. Matanya masih fokus menatap Aimee.


“Apa yang membuat bersikeras tidak ingin melepaskanku sementara kau bahkan tidak perduli saat aku berada di situasi antar hidup dan mati! Saat perjalanan bisnisku keluar ibu kota beberapa waktu lalu, aku meminta bantuanmu, tapi tidak ada satu pun suratku yang kau balas! Jika bukan karena Baron--!” belum selesai Aimee bicara, Althaf sudah menyelak.


“Kapan aku tidak mempedulikan hidup dan matimu?! Saat perjalanan bisnismu yang di kota Forix itu?! Yang mengirim Baron itu adalah aku! Kau puas?!” Selak Althaf, membuat Aimee membisu.


Althaf melepas genggaman tangan kirinya di pedang yang Aimee pegang, perlahan juga Aimee menyingkirkan pedang itu dari Althaf. Althaf mengerutkan keningnya, tatapan matanya tidak lago terlihat datar dan dingin, yang Aimee lihat dari sorot mata Althaf saat ini adalah seperti berkata … ‘tolong mengerti aku’.


Aimee menarik napas dalam, kemudian bertanya,”Lalu … apa alasanmu melakukan itu semua?” Kini emosinya mulai kembali stabil. Ruangan yang tadinya penuh dengan suara bentakan yang terus beradu, kini mulai kembali tenang, walaupun belum benar-benar tenang.


Setelah pertanyaan Aimee keluar, kini giliran Althaf yang membisu. Gelap. Dia tidak tahu apa jawabannya. Dia tidak tahu apa alasannya, ada satu kata yang mengganjal di kepalanya, namun dia enggan untuk mengucapkan kata itu di hadapan Aimee.


Melihat Althaf masih terdiam, Aimee kembali bertanya,”Kau mencintaiku?” Ini puncaknya, Aimee selalu menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan pertanyaan semacam ini. Ini adalah pertanyaan terlarang yang tidak boleh dia keluarkan di hadapan Althaf.


Althaf membuang wajahnya, menggelengkan kepalanya pelan. “Pertanyaanmu tidak dapat aku mengerti.”


Aimee membuka pintu ruang kerja Althaf kencang, kemudian membantingnya. Saat keluar dia tidak melihat Berlianda, hanya ada Cecilia. Tetapi Aimee tidak terlalu mempedulikan hal ini, dia langsung berjalan cepat menuju kamar. Aimee sangat marah, muak, dan … sedih (?).


Daniel, begitu pintu terbuka dan Aimee keluar, pria itu segera masuk ke dalam ruang kerja Althaf untuk mengecek kondisi ruangan. Dia bernapas lega karena tidak ada barang yang pecah atau rasak, namun jantungnya serasa ingin loncat dari dalam tubuhnya ketika melihat telapak tangan kiri Althaf yang mengucurkan darah.


“Yang mulia! Tangan anda!” Pria itu dengan cepat kembali berlari keluar dan meminta pelayan lain untuk mengambil kotak obat darurat untuk Althaf. Sambil kembali berjalan masuk, kepala Daniel menggeleng. Astaga … pertengkaran kedua atasannya sangat menyeramkan. Beberapa bulan lalu mengorbankan berbagai macam benda di Grand Duchy, sekarang mereka bertengkar menggunakan pedang bahkan sampai melukai salah satu dari mereka.


Althaf tidak terlalu mempedulikan aliran darah yang ada di tangannya, pria itu berjalan ke sofa dan mendudukkan dirinya di sana, bersandar, kemudian memijit keningnya pelan menggunakan tangan kanannya yang baik-baik saja.


Sementara itu Aimee, Cecilia segera mengambil air dingin dan mengompres lengan kiri Aimee yang sebelumnya dicengkeram erat oleh Althaf hingga meninggalkan bekas seperti memar. Pergelangan tangan Aimee terdapat gambar dari telapak tangan Althaf berwarna biru, benar-benar membuat linu Cecilia.


“Yang mulia …” ringis Cecilia saat mengompres memar Aimee, wanita itu menangis.


Aimee yang melihat Cecilia menangis, tersenyum tipis. “Mengapa kau menangis? Yang bertengkar dengan Grand Duke adalah aku.”


Cecilia mengelap air matanya kasar, lalu menjawab,”Tetapi … hati saya ikut merasa takut dan sedih, saya mengkhawatirkan anda.”


Aimee yang mendengar hal ini hanya tersenyum, kemudian mengusap pipi Cecilia yang basah. Dia tidak bisa menjawab apa pun.


Sementara itu Berlianda, wanita itu tengah berada di kamar Liliana.


“Nyonya Duchess, apa yang harus kita lakukan? Grand Duke dan Grand Duchess bertengkar hebat,” adu Berlianda, kedua tangannya terasa dingin.


Liliana tersenyum, menggeleng pelan. “Biarkan, Berlianda. Biarkan mereka mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran mereka tentang satu sama lain. Hanya ini satu-satunya cara membuat mereka saling terbuka dan mengerti satu sama lain. Mereka tidak akan bercerita terbuka seperti ini jika tidak bertengkar, bukan?”


Berlianda mengangguk. “Benar, nyonya Duchess. Tetapi, situasinya sangat berbahaya. Grand Duke dan Grand Duchess di pertengkaran kali ini saling melukai, saya sangat mnecemaskan kondisi Grand Duchess.”


Liliana termenung, dia tidak tahu bahwa pertengkaran keduanya melibatkan fisik. Hati Liliana menjadi ikut cemas seperti Berlianda. Liliana bergegas berdiri, kemudian berkata,”Ayo kita temui Grand Duchess.”