The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 11. Berakting Seperti Suami dan Menantu Yang Baik



Aimee duduk di kursi meja kerjanya, wanita itu tengah menunggu kedatangan ibunya. Grand Duchy saat ini terlihat sangat tenang setelah seharian sibuk karena berita kedatangan Liliana Leandra ke Grand Duchy diumumkan secara tiba-tiba.


Beberapa barang penting Aimee telah dipindahkan ke kamar utama, kamar Althaf. Mereka berdua sepakat, selama Liliana Leandra berada di Grand Duchy, maka Aimee akan tidur di kamar pria itu.


Langit sudah sangat gelap, namun belum ada tanda-tanda bahwa ibunya telah tiba di Grand Duchy. Aimee menggigit jari-jarinya, kebiasaan yang sudah lama hilang ketika gugup itu tiba-tiba muncul kembali. Aimee jarang sekali gugup, Berlianda dan Cecilia yang melihat nyonya mereka gugup sedikit terkejut. Mereka sudah lama sekali tidak melihat Aimee bertingkah seperti ini, karena semenjak menikah dengan Grand Duke Aldrich, Aimee jarang mengekpresikan perasaan gugup dan takutnya sejelas ini.


Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba suara ketukan dari pintu kamarnya terdengar. Berlianda dengan cepat berlari ke arah pintu dan membukanya, sosok Louis muncul tak lama kemudian. Aimee menatap Louis dengan penuh harap, berharap pria itu membawa kabar bahwa ibunya telah tiba di Grand Duchy.


“Grand Duchess! Beliau sudah tiba!” seru Louis, pria itu juga sangat bersemangat.


Senyum di wajah Aimee segera muncul, mata wanita itu berbinar. Tanpa berbasa-basi, Aimee langsung berlari keluar dari kamarnya. Berlianda dan Cecilia sampai sulit mengimbangi langkah Aimee.


“Grand Duchess! Hati-hati!” seru Cecilia, khawatir saat melihat Aimee berlari sangat cepat menggunakan gaunnya.


Di tengah jalan, Aimee tidak sengaja bertemu Althaf yang juga ingin turun ke bawah, sepertinya pria itu turun juga dengan maksud yang sama, yaitu menyambut kedatangan Liliana Leandra. Aimee tidak berhenti setelah melihat Althaf, justru dia menambah laju larinya. Althaf yang melihat Aimee berlari sangat kencang seperti anak kecil sedikit terkejut, wajahnya mengernyit kesal karena Aimee barusan hampir menabraknya.


“Ibu!” seru Aimee begitu sudah dekat pintu utama masuk dan keluar Grand Duchy, matanya melihat sosok Liliana yang sudah berdiri di depan pintu sambil melemparkan senyum keibuan yang hangat ke arahnya. Kerutan kesal di wajah Althaf segera menghilang setelah melihat ini.


Aimee memeluk ibunya erat, Liliana tidak bisa tidak tersenyum ketika bertemu putrinya. Althaf memperhatikan Aimee dari belakang, ini pertama kalinya dia melihat sisi Aimee yang seperti ini.


Liliana Leandra yang menyadari kehadiran Althaf mau tidak mau segera melepas pelukannya dari Aimee, kemudian membungkuk ke arah Althaf. “Liliana Leandra, menyapa yang mulia Grand Duke Aldrich dan—“ Belum sempat Liliana menyebut gelar putrinya, Aimee sudah menyelak.


“Ibu! Ibu tidak perlu menyapaku dengan kalimat formal!” ujar Aimee, keningnya mengerut sebal. Dia tidak suka jika ibunya memperlakukannya dengan formal, karena Aimee akan merasakan jarak hubungan yang jauh dengan ibunya jika demikian.


Althaf balas membungkuk ke arah Liliana Leandra, membuat Aimee menaikkan alis kirinya heran. Ini pertama kalinya Aimee melihat Althaf membungkuk kepada orang lain selain Kaisar.


“Ibu tidak perlu sungkan terhadap saya,” ucap Althaf, membuat Aimee merinding. Apa-apaan pria itu? Memanggil ibunya ‘ibu’? Sejak kapan dia terlihat layaknya menjadi suami dan menantu yang baik seperti ini?


“Apa tidak masalah?” tanya Liliana ragu, sebenarnya diam-diam dia merasa canggung dengan Althaf. Walaupun Liliana sudah genap satu tahun berada di luar ibu kota, tetapi sebelumnya dia pernah tinggal di ibu kota dan melakukan pergaulan di kalangan bangsawan. Sepengetahuannya, Althaf adalah pria yang dingin, keras, dan kaku.


Althaf mengangguk lembut. “Mengapa harus menjadi masalah? Saya adalah suami dari Aimee.”


Kuping Aimee panas saat mendengar Althaf berkata demikian. Sungguh, seluruh bulu yang adai di tubuhnya berdiri dari balik gaun yang ia pakai sekarang. Satu tahun mereka menikah, ini pertama kalinya Aimee melihat Althaf bertingkah seperti ini.


Liliana yang entah bagaimana mulai merasa yakin dan nyaman dengan Althaf, lalu dia bertanya,”Bagaimana jika saya memanggil anda ‘nak’? sama seperti saya memanggil putri saya. Apa tidak masalah?”


Aimee yang berdiri di belakang ibunya diam-diam memijat keningnya pelan, situasi tidak jelas macam apa ini. Althaf sudah pasti tidak akan mau.


Aimee membelalakkan matanya saat mendengar jawaban Althaf. Dengan cepat Aimee melemparkan pelototan kea rah Althaf, namun Althaf hanya melihatnya sekilas dan tidak menanggapi tatapannya.


Liliana tertawa lembut, lalu menoleh ke arah Aimee. Aimee segera menormalkan raut wajahnya, wanita itu kembali tersenyum.


“Aimee, sepertinya kau mendapatkan suami yang sangat baik,” ucap Liliana Leandra.


Aime mengangguk, kemudian menjawab dengan nada yang kaku. “Haha … ibu benar, suamiku memang sangat lembut dan baik. Eh … bu, bagaimana jika sekarang saya mengantarkan ibu ke kamar? Sekarang sudah larut malam, Grand Duke juga harus beristirahat karena besok dia ada urusan di Istana. Benar kan, sayang?” Mata Aimee menatap Althaf, melemparkan kode keras bahwa dia tidak mau berlama-lama dalam situasi ini.


Althaf sedikit kaget. Dia tahu bahwa dia dan Aimee akan berakting akur, tetapi Althaf tidak pernah menduga bahwa Aimee akan memanggilnya seperti itu. Althaf mengangguk kecil. “Benar.”


Aimee kembali menatap ibunya, sejujurnya dia kurang puas dengan jawaban Althaf. Pria itu masih sangat kaku, membuat Aimee kesal.


Liliana Leandra mengangguk, kemudian kembali menatap Althaf. “Kalau begitu baiklah, ibu tidak bisa menahan kalian berdua terlalu lama di sini, terutama suami dari anakku.” Senyum lembut Liliana Leandra entah mengapa sedikit memberikat perasaat hangat di hati Althaf, walaupun apa yang ia rasakan diam-diam itu tidak terpancar langsung di raut wajahnya.


Sedari tadi saat pria itu berakting layaknya menantu dan suami yang baik, raut wajahnya tidak berubah. Wajah Althaf datar, tidak ada senyuman. Inilah salah satu penyebab Aimee semakin merinding geli ketika melihat adegan beberapa menit lalu.


Saat Aimee hendak mengantar ibunya ke kamar, tiba-tiba Liliana menghentikan pergerakannya sambil berkata,”Apa yang sedang kamu lakukan?”


Aimee yang mendengar ini segera mengerutkan keningnya heran dengan pertanyaan ibunya. “Mengantar ibu ke kamar.”


Liliana menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata,”Kembalilah ke kamar bersama suamimu, ibu bisa diantar oleh seorang pelayan.”


Aimee segera menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak. Aku ingin mengantar ibu ke kamar. Bagaimana mungkin aku—“


“Sekarang kamu sudah menjadi istri Grand Duke, Aimee. Bukankah kamu yang mengatakan bahwa Grand Duke sebentar lagi akan beristarahat? Seharusnya kau ada di sampingnya untuk melayani suamimu. Ibu akan ke kamar sendiri dengan bantuan para pelayan,” selak Liliana Leandra.


Aimee terdiam, apa-apaan ini? ‘Melayani’? Aimee sedikit tidak menerima kata itu saat mendengarnya. Tetapi … apa yang bisa ia lakukan? Aimee tidak pernah bisa membantah ucapan ibunya, wanita itu segera menoleh ke arah Althaf. “Baiklah, bu. Aku mengerti.” Walaupun tatapan Aimee terlihat biasa saja, namun Althaf dapat merasakan aura kekesalan dari tatapan Aimee.


“Berlianda, Cecilia, kalian berdua bantu ibu menuju kamarnya,” ujar Aimee, memberi perintah ke Berlianda dan Cecilia.


“Baik, yang mulia,” balas Berlianda dan Cecilia dengan patuh secara bersamaan.


Liliana Leandra tersenyum puas saat melihat putrinya patuh, dia lega bahwa Aimee tidak terlalu banyak berubah setelah menikah. Setelah Liliana Leandra pergi, kini tersisa Aimee dan Althaf. Aimee berjalan lebih dulu meninggalkan Althaf.


“Maaf, karena aku akan merepotkanmu sampai dua hari ke depan,” ucap Aimee sambil terus berjalan. Althaf mengikuti langkah Aimee dair belakang, pria itu tidak menjawab apa yang Aimee ucapkan barusan.