
Setelah mendengarkan dua aduan dari pengawal Kekaisaran Timur dan penjaga gerbang masuk ibu kota, Aimee segera menganggukkan kepalanya secara natural, bersikap seolah dia adalah penengah yang baik.
Aimee menegakkan arah berdirinya ke arah kereta kuda lebih lurus lagi, kemudian menyunggingkan senyum dan berkata,"Mohon maaf atas ketidaknyamanan pangeran, petugas penjaga gerbang mungkin kurang dikoordinasikan lebih matang, saya akan menegur bangsawan yang bertanggung jawab atas gerbang untuk anda. Setiap pendatang biasanya memang dilakukan penggeledahan ketat oleh penjaga gerbang ibu kota kami, sekali lagi saya mengatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya."
Tak lama setelah Aimee mengucapkan permohonan maaf, tiba-tiba jendela kereta kuda tersebut terbuka. Muncul kepala seorang pria muda tampan, sepertinya dia lebih muda dari Althaf namun lebih tua dari dirinya. Pria itu menatap Aimee lebih dulu sebelum akhirnya seorang pelayan membukakan pintu kereta kuda untuknya.
Pria yang menyandang gelar Pangeran tersebut dengan cepat turun dari kereta kudanya dan berdiri di depan Aimee. Wajah pria itu putih seperti susu, khas putih orang-orang Timur. Matanya berbentuk kacang almond, alisnya sangat rapih dan sempurna membentuk pedang. Mata itu memiliki dua aura dingin yang tajam, Aimee merasa seperti sedang berhadapan dengan Althaf. Walaupun aura Althaf lebih mengintimidasi dari pada ini, tetapi tetap saja Aimee merasakan sensasi deja vu.
"Grand Duchess Aldrich," ucap pria itu, kemudian membungkuk singkat ke arah Aimee. Aimee membalas sikap hormat pria itu dengan sedikit menekan lututnya dan menumpukan kedua telapak tangannya di pinggang sebelah kanan.
Melihat Aimee membalas salam pangeran mereka dengan tatakrama Kekaisaran Timur mereka, semuanya terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa ada seorang bangsawan Ventumia yang mengetahui budaya mereka.
Pangeran Kekaisaran Timur hanya tersenyum tipis saat melihat Aimee mengetahui budaya memberi salam khusus wanita bangsawan di Kekaisaran. Aimee menegakkan kembali postur tubuhnya, lalu berkata,"Anda bisa--" belum selesai Aimee bicara, tiba-tiba dari arah belakang kereta terdengar sesuatu yang rubuh, kemudian disusul oleh kereta kuda yang terguncang dan sedikit miring ke samping.
Pengawal Kekaisaran Timur tersebut bergegas mengecek kereta, kemudian dia kembali muncul dan melaporkan kondisi kereta ke sang pangeran. "Yang mulia, roda belakang rusak. Kita sudah kehabisan roda cadangan, dan ada beberapa bagian kereta yang tiba-tiba patah."
Sang pangeran melirik kereta kudanya, raut wajahnya masih terlihat tenang walau kereta kuda miliknya rusak. Aimee yang melihat rencananya berjalan lancar tersenyum, kemudian kembali menatap pangeran Kekaisaran Timur dan menawarkan tumpangan. "Bagaimana jika kereta anda diperbaiki lebih dulu di kediaman Aldrich?"
Pangeran Kekaisaran Timur itu kembali menatap Aimee, kemudian mengangguk singkat. "Terima kasih."
Aimee mengangguk singkat juga, lalu membalas,"Bukan apa-apa, yang mulia."
Aimee segera mengantar pangeran Kekaisaran Timur itu naik ke dalam kereta kudanya, kemudian bersama-sama menuju kediaman Aldrich.
Di dalam kereta, Aimee berusaha memecah keheningan dan mulai memainkan rencana utamanya. Mengambil hati perwakilan Kekaisaran Timur agar mau diajak memihak kubu Putra Mahkota.
"Bagaimana perjalanan anda menuju kemari? Pasti sangat melelahkan, bukan?" tanya Aimee, tersenyum manis ke arah pangeran Kekaisaran Timur.
Pangeran itu balas tersenyum dan mengangguk, senyum pria itu terasa sangat sejuk. "Anda benar, karena saya sempat dua kali dihadang oleh perompak."
Aimee memasang raut wajah seolah terkejut, kemudian menjawab,"Astaga, sungguh? Apa anda baik-baik saja?"
Sang pangeran mengangguk. "Saya baik-baik saja, hanya beberapa pengawal ada yang terluka." Pria itu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan. "Sepertinya bahasa Mandarin anda sangat lihai, Grand Duchess."
Aimee membuka sebuah kipas lipat dan menutup setengah wajahnya. "Anda terlalu memuji saya hingga malu, saya merasa bahasa Mandarin saya masih banyak memiliki kekurangan."
"Dulu saya sempat melakukan bisnis dengan seorang bangsawan Kekaisaran Timur, Perdana menteri Qin. Beliau sangat baik, bisnis kami juga berjalan sangat lancar dan sukses. Kami sering melakukan rapat bersama, sesekali beliau memperkenalkan budayanya kepada saya, begitu juga saya. Kami berdua saling bertukar bahasa, lalu di hari pertemuan terakhir, beliau memberikan saya tusuk rambut Phoenix ini sebagai kenang-kenangan," jawab Aimee, kemudian menyentuh tusuk rambutnya lembut.
Sang pangeran Kekaisaran Timur itu mengangguk, dia mulai terlihat nyaman dengan Aimee. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba tersengat suara Louis yang memberitahu bahwa mereka telah tiba di kediaman Aldrich.
Pintu kereta segera dibuka, pangeran itu turun lebih dulu dan tanpa dugaan membantu Aimee turun dari kereta secara pribadi. Aimee mengucapkan terima kasih setelah menginjak rumput dengan sempurna.
Aimee mengajak sang pangeran masuk, ketika di depan pintu ia berpapasan dengan Daniel Zynx, tangan kanan Althaf. Aimee segera menghentikan langkahnya dan berkata,"Tuan Daniel, tolong kirim surat kepada istana bahwa perwakilan Timur telah tiba dan sekarang berada di Grand Duchy. Sebelumnya terjadi beberapa kejadian tidak terduga, aku yang akan bertanggung jawab jika ada masalah."
Daniel membungkuk ke arah Aimee dan Pangeran Kekaisaran Timur. "Baik, yang mulia. Kalau begitu, saya izin permisi."
Aimee mengangguk singkat, kemudian beralih menoleh ke arah pangeran Kekaisaran Timur. "Yang mulia, mohon maaf karena saya tidak bisa mengawal anda secara pribadi menuju tempat peristirahatan. Pelayan pribadi saya, Cecilia akan memandu anda. Saya harap anda dapat menikmati istirahat yang memuaskan di Grand Duchy. Beberapa jam lagi kebetulan jam makan siang akan segera dimulai, saya harap anda bersedia melakukan makan siang bersama kami."
Pangeran Kekaisaran Timur itu mengangguk dan tersenyum ramah. "Bukan masalah, Grand Duchess. Terima kasih karena telah bersedia membantu saya."
Aimee mengangguk tipis sambil terus tersenyum sebagai jawabannya.
Setelah Cecilia membawa pangeran Kekaisaran Timur itu ke kamar tamu, Aimee dengan cepat pergi menemui Althaf di ruang kerja pria itu. Tanpa mengetuk pintu, Aimee masuk dan langsung mendudukkan dirinya di sofa. Dia lelah memasang senyum sepanjang hari ke pangeran Kekaisaran Timur itu.
"Perwakilan Kekaisaran Timur saat ini berada di Grand Duchy," ujar Aimee, kemudian menggigit buah apel yang ada di atas meja.
"Bagus." Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Althaf, membuat Aimee merasa kesal. Susah payah Aimee membantunya, pria itu hanya memberikan apresiasi dengan satu kata. Tch, bahkan jawaban itu tidak pantas disebut sebagai sebuah apresiasi.
"Apakah anda tahu siapa perwakilan Kekaisaran Timur?" tanya Aimee lagi, dia berencana membuat Althaf terkejut.
"Pangeran kelima Kekaisaran Timur, Xiao Li. Dia orang ketiga yang dekat dengan kursi takhta setelah putra mahkota dan Pangeran ketiga Kekaisaran Timur. Pangeran kelima adalah saudara kandung dari putra mahkota mereka," jawab Althaf, pria itu sekaligus memberikan penjelasan latar belakang pangeran yang menjadi perwakilan Kekaisaran Timur.
Aimee menaikkan alis kirinya. "Dari mana anda tahu? Bukankah informasi mengenai siapa yang akan menjadi perwakilan Kekaisaran Timur tidak diketahui?"
Althaf menjawab tanpa melihat ke arah Aimee, pria itu sibuk dengan tumpukkan kertas yang ada di atas meja kerjanya. Dengan acuh pria itu mengangkat kedua bahunya dan berkata,"Aku juga baru mengetahuinya hari ini."
Aimee memutar bola matanya malas, kemudian berdiri dan berbicara asal sambil berjalan keluar dari ruangan kerja Althaf. "Jika begini terus aku bisa gila, lama-lama aku menawarkan diri untuk menjadi selir pangeran kelima."
Althaf yang mendengar ini segera menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap punggung Aimee yang berjalan keluar. Pria itu diam dan hanya menatap Aimee, tidak membalas apa pun.