The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 31. Lucu



“Ada apa dengn raut wajah anda? Tergiur mengubah gelar anda menjadi ‘Putri mahkota’?” tanya Issac, nada bicara pria itu terdengar serius.


Aimee menaikkan alis kirinya sekilas. “Bukankah anda sudah memiliki tunangan, yang mulia? Enam bulan lalu—“ belum selesai Aimee bicara, Issac sudah lebih dulu memotong. “Tinggal singkirkan saja, di mana susahnya?”


Tatapan kedua mata Aimee berubah menjadi dingin, kemudian hening beberapa detik. Aimee kembali tersenyum, namun kali ini nampak dingin. “Lalu bagaimana dengan Grand Duke?”


Issac mengerutkan keningnya, berpikir. Tak lama kemudian pria itu menyeringai tipis, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, jika tidak ada meja maka mungkin jarak mereka akan menjadi sangat dekat.


“Kalau itu, saya membutuhkan bantuan anda,” ucap Issac. Pria itu mengatakan jawaban-jawaban mengerikan tanpa berpikir dua kali, seolah cerita kedekatannya dengan Althaf sebelumnya tidak pernah ada.


“Bantuan untuk apa?” Suara berat Althaf terdengar, membuat Aimee dan Issac menoleh. Pria itu sudah kembali dari menemui Kaisar.


Aimee bergegas berdiri setelah melihat kehadiran Althaf, kemudian berjalan mendekat ke arah pria itu dan memegang pergelangan tangan Althaf. Althaf sedikit merasa aneh saat Aimee mendadak bertingkah seperti ini.


“Yang mulia, bisakah kita kembali sekarang? Kepala saya agak berat.” Aimee mengerutkan keningnya, memasang ekspresi seolah menahan sakit kepala. Althaf yang melihat ini pun segera mengangguk singkat, kemudian menatap Issac dan berkata,”Pihak pangeran kedua sudah satu langkah di depan kita, tolong kedepannya kau lebih memperhatikan hal-hal penting.” Setelah itu Althaf berbalik sambil menenteng Aimee keluar dari ruangan Issac.


Sebelum benar-benar keluar, Aimee sempat menoleh ke belakang untuk menatap Issac. Issac yang melihat Aimee menoleh pun segera tersenyum, kemudian mengedipkan satu matanya sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


“Shutt ….”


Aimee yang melihat ini pun bergegas kembali menatap lurus ke depan, dia tidak bisa menahan perasaan merindingnya. Tidak pernah Aimee duga bahwa Issac adalah orang yang sangat berbahaya. Issac dan Elston tidak ada bedanya, mereka berdua sama-sama berotak gila.


Saat di dalam kereta kuda, Althaf menyandarkan punggungnya, kemudian menyeringai tipis. Aimee yang melihat tingkah tidak biasa pria di hadapannya ini pun bertanya,”Ada apa?”


Althaf menggelengkan kepalanya. “Tidak ada.”


Aimee mengerutkan keningnya, lalu kembali bertanya. “Katakan!”


Begitu Aimee membentaknya, senyum tipis Althaf berubah menjadi tawa. Melihat tingkah Althaf di hadapannya ini, membuat Aimee semakin penasaran. Apa yang sudah ditemui Althaf hari ini sehingga ia bertingkah aneh seperti sekarang.


“Baiklah-baiklah … aku tertawa hanya karena … merasa lucu dengan sesuatu saja,” ujar Althaf setelah berhenti dari tertawanya.


“Apa yang lucu?” tanya Aimee lagi.


“Mereka,” jawab Althaf singkat, bibir pria itu masih tersenyum menahan tawa.


“Issac dan Elston,” jawab Althaf dengan menyebut nama mereka langsung tanpa menggunakan gelar. Aimee yang mendengar ini sedikit terkejut, apa lagi informasi baru yang akan membuatnya terkejut? Hari ini dia banyak terkejut.


“Ada apa dengan putra mahkota dan pangeran kedua?” tanya Aimee, dia mulai penasaran. Sepertinya di antara mereka bertiga banyak sekali rahasia, bahkan Issac yang terlihat sangat dekat dengan Althaf pun memiliki niat buruk. Walaupun pikiran seperti itu hanya akan tersimpan di kepala Issac, namun ada kemungkinannya dia akan menusuk Althaf dari belakang karena seorang wanita.


“Aku tahu bahwa putra mahkota dan pangeran kedua memiliki obsesi tentangmu, hanya saja Issac tidak berani benar-benar menunjukkan taringnya karena terhalang olehku.” Althaf menatap Aimee, senyum pria itu masih setia di bibirnya. Melihat wajah Althaf yang tersenyum, Aimee tertegun. Sebelumnya dia memang sudah pernah melihat senyum Althaf, namun tetap saja Aimee masih belum terbiasa.


"Lalu di mana bagian lucunya?" tanya Aimee, masih merasa bingung.


"Dari awal mereka saling bersaing, bahkan kasus perselingkuhan sahabat dan mantan kekasihmu dulu adalah ulah Putra Mahkota. Dia ingin kau cepat-cepat menjadi Permaisuri-nya, namun ternyata di luar dugaan, mendiang Duke Leandra malah memberimu padaku yang tidak pernah berusaha bersaing dengan kedua orang bodoh itu," jawab Althaf.


"Mendiang Duke Leandra tahu tentang obsesi Putra Mahkota dan Pangeran kedua kepadamu, dia meminta kamu menjadi Grand Duchess bukan karena ia tidak ingin kau menjadi Permaisuri, namun karena tahu bahwa berada di dekat dua pria itu tidak aman untukmu, obsesi mereka berbahaya. Lalu Duke Leandra mencari orang lain yang memiliki posisi besar dan kuat di Kekaisaran, siapa lagi jika bukan suamimu ini? Aku hanya diam dan tidak melakukan apa pun, namun menjadi pemenang. Bagaimana mungkin aku menolak putri Duke Leandra?" Sambung Althaf, dia terlihat sangat percaya diri.


Aimee memutar bola matanya malas. "Bukankah dulu kau memandangku sebelah mata?"


Althaf memperdalam senyumnya, membuat Aimee kembali terpesona. Gila, senyum pria itu sangat berbahaya. Aimee sekarang mengerti mengapa Tuhan menciptakan Althaf menjadi orang yang jarang tersenyum, karena jika pria itu sering tersenyum maka wanita di seluruh Kekaisaran ini akan menggila di bawah kakinya. Senyum menggoda Putra Mahkota dan Pangeran kedua tidak ada apa-apanya dengan senyum yang Althaf miliki.


"Ya, aku baru menyadari keberhargaan-mu sekarang," jawab Althaf.


Aimee tersenyum, kali ini senyumannya benar-benar tulus. Walaupun pria itu selalu mengatakan kalimat yang menyakitkan, namun Aimee dapat merasakan ketulusan Althaf dalam mencintainya. Saat Putra Mahkota dan Pangeran kedua berlomba untuk mendapatkannya bahkan dengan cara kotor dan rencana licik, Althaf tidak pernah peduli padanya. Bahkan sampai satu tahun pertama pernikahan mereka, pria itu sama sekali tidak melirik ke arahnya dan benar-benar fokus melakukan tujuan pertama mereka menikah, membantu adiknya Abighail Leandra mendapatkan kekuatan dan pondasi kokoh untuk mempertahankan kedudukan 'Duke Leandra'. Melihat Althaf kini mulai menunjukkan sikap lembut ditambah dengan rangkaian drama mereka berdua, Aimee menjadi semakin yakin bahwa cinta dan kasih sayang pria itu tulus untuknya.


"Grand Duke," panggil Aimee.


Althaf mengangguk, merespon panggilan Aimee. Aimee ikut tersenyum lebar melihat kebahagiaan Althaf, kemudian tangan kanannya bergerak untuk mengusap kepala Althaf.


"Terima kasih," ucap Aimee, membuat Althaf yang masih asyik tertawa menertawakan Putra Mahkota dan Pangeran kedua, terdiam. Pria itu tertegun, menatap Aimee.


"Untuk apa?" tanya Althaf, raut wajahnya kembali datar seperti biasa.


"Untuk banyak hal. Anda memegang ucapan dan janji untuk membantu Leandra, anda pemimpin dan suami yang baik. Mendiang ayahku memilih pria yang tepat untuk putrinya," jawab Aimee.


Althaf kembali terdiam, dia sedikit tertegun karena Aimee tiba-tiba bicara seperti itu. Biasanya Aimee hanya membuat masalah dan melakukan hal-hal yang membuatnya jengkel, melihat Aimee terlihat teduh saat ini, Althaf pun tidak bisa untuk menahan senyumnya.


Althaf kembali tersenyum, kemudian menarik tangan kanan Aimee yang tadi digunakan untuk mengelus kepalanya. Kemudian Althaf mencium punggung tangan Aimee.