The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 7. Rencana Aimee



"Grand Duchess, Grand Duke akan tiba di ruang makan lima belas menit lagi," ucap Cecilia, memperingati Aimee yang masih sibuk berkutat di meja kerjanya, padahal ini masih pagi.


Aimee mengangguk singkat tanpa menatap Cecilia. "Aku tahu."


Aimee saat ini mengenakan gaun berwarna merah, rambut panjangnya disanggul dan ditusuk mengenakan tusuk rambut dengan hiasan gantungan burung Phoenix. Penampilannya kini perpaduan antara Barat dan Timur, hal ini dia lakukan agar lebih menarik perhatian orang-orang Timur kepadanya.


Aimee mendapatkan tusuk rambut Phoenix ini setelah sempat melakukan bisnis besar dengan salah satu bangsawan besar yang ada di Timur, tusuk rambut Phoenix ini adalah kenang-kenangan dari bangsawan itu karena telah melakukan bisnis yang memuaskan dengannya.


Aimee menyudahi kesibukannya di meja kerja, setelah itu bergegas keluar sambil berkata,"Cecilia, Berlianda. Ayo." Cecilia dan Berlianda segera patuh mengikuti langkah Aimee.


Aimee berjalan cepat menuju ruang makan, lalu saat hampir sampai dia berpapasan dengan Althaf. Suasana canggung dan dingin mulai muncul, kini tidak ada seorang pelayan pun yang berani membuka mulut.


Althaf dan Aimee saling menatap, mereka diam di tempat. Tetapi tak lama kemudian Althaf melanjutkan langkahnya kembali, menghiraukan Aimee. Aimee hanya memutar kedua bola matanya malas, pagi ini pasti akan terasa membosankan dan canggung.


Aimee dan Althaf duduk di kursi mereka masing-masing, jendela ruangan terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari pagi yang hangat dan udara pagi yang sejuk masuk.


"Para perwakilan Kekaisaran Timur itu akan datang tiga jam lagi," ujar Althaf.


Aimee mengangguk singkat. "Aku mengerti. Aku sudah menghubungi Kalix Oaster untuk meminta bantuannya."


Setelah percakapan singkat itu, hening. Tidak ada lagi topik yang muncul. Aimee sesekali menatap Althaf, pria itu semakin lama semakin terlihat menyebalkan di matanya. Sikap pria itu yang dingin dan selalu bertindak semaunya, Aimee ingin sekali menunjuk tepat di depan wajahnya dan mengomel-omel.


Di tengah kesunyian, tiba-tiba Aimee teringat akan suatu hal. Ibunya, Liliana Leandra.


"Yang mulia," panggil Aimee.


Althaf yang dipanggil segera melirik Aimee sebagai jawaban, Aimee yang melihat Althaf meresponnya segera berkata,"Satu bulan lalu sebelum aku pergi meninggalkan Grand Duchy untuk berbisnis, aku menerima surat kiriman dari ibuku. Dia berkata ingin bertemu--" Belum selesai Aimee bicara, Althaf sudah memotong.


"Bawa ibumu ke Grand Duchy, kau dilarang keluar dari ibu kota lagi. Akan mengundang banyak perhatian dan kabar buruk jika kau terlalu sering keluar dari ibu kota," jelas Althaf.


Aimee mencengkeram pisau dan garpu sarapannya, bukan ini yang Aimee mau. Menolak usul Althaf bukan berarti Aimee tidak ingin membawa ibunya ke dalam Kastil atau bermaksud meninggalkan Kastil dengan alasan mengunjungi ibunya. Tetapi karena takut suasana Kastil ini terlalu dingin dan mencekam untuk ibunya. Ibunya adalah wanita yang hangat dan lemah lembut, jika harus satu atap dengan Althaf yang dingin, acuh tak acuh, keras kepala, dan egois ... Aimee takut ibunya akan merasa tidak nyaman.


"Tetapi, yang mulia--" saat Aimee mencoba berdalih, Althaf lagi-lagi memotong tegas.


"Aku tidak suka dibuat bicara dua kali mengenai hal yang sama."


Si*lan, Aimee kesal. Mengapa Althaf selalu memutuskan suatu keputusan tentang mereka berdua secara sepihak? Pria itu tidak pernah menanyakan apa alasan dia menolak. Lagi pula apa pria itu tidak sadar bahwa Aimee menolak usul itu karena sikap pria itu sendiri? Menyebalkan.


Selesai sarapan bersama, Aimee dan Althaf kembali ke kesibukan mereka masing-masing. Aimee bergegas keluar dari Grand Duchy dan memulai rencananya. Dia akan pergi ke toko kue yang dekat dengan gerbang pintu masuk ke ibu kota.


"Yang mulia, selamat menikmati kue toko kami. Ini adalah menu yang paling laris dan digemari banyak orang. Saya permisi, semoga anda merasa nyaman di sini," ucap pemilik toko, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Aimee, Cecilia, dan Berlianda.


Setelah dua jam menunggu, akhirnya Aimee melihat pintu gerbang masuk ibu kota terbuka. Aimee melihat kereta kuda dengan ukiran naga khas Tionghoa segera terlihat, tanpa diragukan lagi, Aimee berani bertaruh bahwa kereta kuda itu adalah milik perwakilan Kekaisaran Timur.


Seorang penjaga gerbang masuk ibu kota melirik ke arah Aimee, penjaga itu adalah bawahan Kalix Oaster, bangsawan yang bertanggung jawab mengawasi pintu masuk dan keluar ibu kota Ventumia.


Aimee mengangguk singkat dari atas, memberi sinyal bahwa rencana harus segera di mulai. Melihat kode dari Aimee, penjaga tadi segera melempar kode kepada teman-temannya yang lain. Dengan cepat, mereka semua mengangguk.


Dalam hitungan satu ... dua ... tiga ....


Pedang seluruh penjaga gerbang terangkat, menyilang menghalangi laju kereta kuda perwakilan Kekaisaran Timur. Rombongan perwakilan Timur semuanya bingung, mengapa tiba-tiba laju mereka dihentikan? Mereka adalah tamu yang terhormat.


"Ada apa ini?" tanya pria yang mengenakan baju adat tradisional China, di pinggangnya terdapat pedang yang digantung. Sepertinya dia adalah seorang pengawal pribadi dari perwakilan Kekaisaran Timur yang ada di dalam kereta.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan anda, namun kereta harus dicek dan digeledah. Hal ini wajib karena menyangkut keamanan Kekaisaran Ventumia," jawab salah satu penjaga gerbang.


Pria pengawal Timur tadi segera memasang wajah masam, dia tidak terima kereta majikannya digeledah tanpa penghormatan begitu saja. Majikannya adalah tamu terhormat, jika harus ada penggeledahan pun pihak Kekaisaran harus memberikan info terlebih dahulu. Tetapi ini tidak, kereta mereka diberhentikan secara tiba-tiba dan dengan etiket seadanya meminta menggeledah.


"Yang ada di dalam kereta adalah anggota keluarga Kekaisaran Timur, bagaimana mungkin Ventumia melakukan penggeledahan dengan cara seperti ini kepada seorang pangeran?!" marah sang pengawal Timur, dia sangat tersinggung dengan penjaga gerbang ibu kota Ventumia.


Saat Aimee mendengar gelar orang yang ada di dalam kereta, dia segera berdiri. Pangeran?! Kekaisaran Timur mengirim seorang pangeran ke Ventumia untuk dijadikan perwakilan? Aimee tidak pernah menyangka, dirinya pikir perwakilan yang dikirim hanya seorang bangsawan, bukan langsung keluarga Kekaisaran inti.


Aimee lantas bergegas berjalan turun, sandiwara ini tidak boleh terlalu lama jika yang di dalam kereta adalah seorang pangeran. Akan rumit nanti urusannya.


Saat penjaga gerbang dan pengawal Timur tersebut sedang asyik berdebat, tanpa ada orang yang tersadar satu pun, diam-diam dari belakang kereta ada yang mencoba merusak roda kereta kuda perwakilan Kekaisaran Timur. Orang itu lagi-lagi bawahan Kalix Oaster dan ini merupakan rencana Aimee.


"Ada apa ribut-ribut seperti ini? Tidak tahukah kalian di toko kue ini ada yang mulia Grand Duchess yang tengah melepas penat? Kalian semua mengganggu istirahat beliau!" Berlianda dengan cepat maju, secara tidak langsung memberitahukan keberadaan Aimee.


Tak berselang lama, Aimee muncul. Matanya menatap orang-orang sekitarnya dengan dingin. Seluruh orang yang melihat keberadaan Aimee segera membungkuk dan memberi salam hormat, termasuk orang-orang perwakilan Kekaisaran Timur. Sedangkan pangeran yang ada di dalam kereta, sampai Aimee datang pun dia masih belum bersuara.


"Ada masalah apa di sini?" tanya Aimee.


Saat penjaga gerbang pintu ibu kota ingin menjawab, pengawal perwakilan Kekaisaran Timur lebih dulu berkata,"Penjaga tidak sopan ini ingin melakukan penggeledahan sembarangan kepada kereta Tuan saya. Yang mulia, Tuan saya adalah seorang perwakilan Kekaisaran Timur yang terhormat, beliau adalah seorang pangeran Kekaisaran. Bagaimana mungkin Ventumia hendak melakukan penggeledahan dengan cara seperti ini?"


Selagi mendengarkan aduan pengawal Kekaisaran Timur, Aimee memperhatikan kereta kuda. Di balik ukiran bolongan-bolongan indah yang sangat kecil, Aimee menyadari ada sepasang mata yang melihat lekat ke arahnya.