
Saat Aimee masuk ke dalam kamarnya, tubuhnya mematung shock. Tidak hanya Aimee, namun Berlianda dan Cecilia juga demikian.
“Yang mulia ….” Ucap Cecilia sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar menggunakan tangan kanannya.
“Kalian tahu ini?” tanya Aimee sambil terus menatap ruangan kamarnya.
Berlianda dan Cecilia segera menggelengkan kepalanya berbarengan. “Tidak, bagaimana mungkin kami berani?”
Aimee memijit keningnya. Saat ini ruangan kamarnya terlihat kosong, beberapa barang yang dia tinggalkan di kamar ini saat ibunya datang pun menghilang. Barang-barang Aimee semuanya hilang, dirinya seperti baru saja diusir.
Di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba Daniel datang dengan mengetuk pintu. Membuat Aimee, Berlianda, dan Cecilia menoleh. Daniel membungkuk ke arah Aimee dan berkata,”Grand Duchess, Grand Duke meminta anda menemui beliau di kamarnya.”
Aimee mengerutkan keningnya, namun tidak banyak bicara dan tanya, Aimee bergegas berjalan cepat menuju kamar Althaf. Dia sangat yakin, jawaban atas kebingungannya ini ada di Althaf.
Ketika sampai di kamar pria itu, kedua mata Aimee dibuat terbelalak. Pasalnya, dia melihat seluruh barang-barangnya yang ada di kamar sebelumnya pindah ke kamar utama. Aimee kesal, kemudian menatap Althaf tajam yang tengah duduk di sofa kamar sambil membaca koran.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Aimee, menahan rasa kekesalan yang tengah ia rasakan. Althaf yang mendengar suara Aimee dari arah pintu segera menoleh, kemudian menjawab,”Kau buta? Menurutmu aku sedang apa?” Kedua tangan Althaf sedikit mengguncang kertas koran yang ada di tangannya.
Aimee berdecak kesal. “Ck, bukan itu maksudku! Maksudku, apa yang sudah kau lakukan terhadap seluruh barang-barangku yang ada di kamar? Mengapa semuanya menghilang dan malah pindah ke kamar utama bersamamu?!”
Althaf terlihat menghela napas tipis, kemudian melipat korannya dan menaruh itu di meja. Pria itu beralih mengambil cangkir teh yang ada di hadapannya, lalu menyeruputnya santai setelah itu baru menjawab,”Apa lagi? Untuk ke depannya kita akan berbagi ruangan kamar. Sampai sini paham?”
Aimee menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau!”
Althaf mengernyitkan keningnya. “Bukankah semalam kau yang berteriak tentang banyak hal yang intinya ingin memperbaiki hubungan kita atau aku mempunyai selir baru sebagai gantinya?”
“Lalu?” tanya Aimee balik.
“Aku menolak opsi mempunyai selir baru,” jawab Althaf, jawaban ini sukses membuat Aimee terdiam.
Aimee tertegun, apa maksudnya? Pria itu lebih memilih memperbaiki hubungan mereka dibandingkan memilih selir baru? Sulit dipercaya … apa yang membuat Althaf berubah seperti ini?
“Apa yang membuatmu menyetujui hal yang biasa kau anggap konyol dan bodoh?” tanya Aimee.
Althaf yang mendengar ini termenung sesaat, kemudian kembali menatap Aimee dan menjawab,”Tidak tahu, aku tidak tahu apa alasannya. Yang jelas, saat aku memilih diam dan membiarkan masalah internal kita mengalir begitu saja, perasaanku tidak bisa tenang.”
“Apa anda yakin?” tanya Aimee, raut wajahnya mulai melunak.
Althaf mengangguk dua kali untuk menunjukkan keseriusannya. “Ya.”
Tatapan mata Aimee kembali normal, dingin. Kedua tatapan mata dingin mereka bertemu lama, saling membekukan satu sama lain dari dalam. Althaf berdiri dari duduknya, kemudian berjalan ke arah Aimee dan menyentuh tangan kanan wanita itu. Althaf mencium punggung telapak tangan Aimee, kemudian kedua mata mereka bertemu semakin dekat.
Althaf kembali menunduk, lalu mengecup memar Aimee. Aimee merasakan jantungnya kita berdegup sangat kencang, dia berharap Althaf tidak mendengar debaran jantungnya. Ini pertama kalinya dia melihat Althaf memperlakukannya sangat lembut. Dia seperti bukan melihat Althaf.
“Maaf,” ucap Althaf dengan volume yang sangat kecil, nyaris tidak terdengar oleh kuping Aimee. Aimee yang mendengar ini diam-diam merasakan sensasi merinding di punggungnya, ini pertama kalinya dia mendengar kata ‘maaf’ dari bibir Althaf setelah satu tahun mereka menikah dan ratusan kali terlibat perselisihan.
Aimee mengatur napasnya yang mulai sedikit berat karena debaran jantungnya sendiri yang sangat tidak beraturan, kemudian dia dengan hati-hati membalas segala sentuhan Althaf tadi dengan giliran memegang lengan kiri pria itu yang dibalut perban di telapak tangannya.
“Seharusnya malam itu aku tidak menghunuskan pedang ke arahmu, aku tidak menyangka kau akan benar-benar menggenggam badan pedang dengan tangan kosong,” ujar Aimee.
Althaf menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, ini hanya luka ringan.”
Aimee mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Althaf, tangannya masih menggenggam lembut tangan kiri Althaf yang terluka. “Apa yang kau rasakan?”
Althaf memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membukanya dan menjawab,”Tidak jelas. Jantungku agak ….” Althaf menggantung kalimatnya, kemudian menarik pelan salah satu tangan Aimee ke bagian dadanya. Wajah Aimee memerah saat melakukan ini, saat dia dia benar-benar bisa merasakan dada bidang Althaf meski terhalang pakaian. Dan … dia tidak menyangka bahwa Althaf juga merasakan hal yang serupa dengannya.
Althaf yang melihat wajah Aimee memerah, tanpa sadar tidak bisa menahan senyum tipis di bibirnya. Pria it uterus menatap wajah Aimee sampai kuping belakangnya sendiri ikut memerah. Althaf mengelus pelan rambut Aimee, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel di wajah Aimee agar tidak mengganggu pandangannya untuk melihat wajah merah Aimee dengan jelas.
Aimee merasakan sesuatu menggerayang di kepalanya, sepertinya Althaf berusaha melepas ikatan rambutnya. Dan benar saja, tidak berselang lama setelah dia berpikir demikin, rambutnya segera terurai bebas.
Althaf menyibakkan seluruh rambut Aimee ke belakang, kemudian mencium ubun-ubun Aimee, membuat Aimee merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Aimee menggertakkan giginya keras, ada sesuatu yang saat ini sedang dia tahan. Dia merasakan sensasi terbang yang tidak dapat dia jelaskan di dalam dirinya, hal ini mendorong hasratnya untuk mencium bibir Althaf.
Melihat Aimee yang terlihat seperti sedang di posisi tidak nyaman diam-diam membuat Althaf kahwatir. Dia takut perlakuannya yang barusan terlalu berlebihan sehingga membuat Aimee merasa tidak nyaman.
“Ada apa, Grand Duchess?” tanya Althaf.
Aimee yang mendengar ini kembali mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Althaf, kemudian wanita itu tanpa menjawab segera berjinjit dan mengalungkan kedua lengannya di leher Althaf dan mencium pria yang semalam ribut besar dengannya.
Althaf membelalakkan matanya, dia terkejut karena tiba-tiba Aimee bergerak agresif dan mencium bibirnya. Tetapi kemudian, Althaf mulai terbiasa dengan ‘permainan’ dan ikut memejamkan matanya seperti Aimee. Pria itu menarik pinggang Aimee agar lebih dekat dengan tubuhnya dan memeluk tubuh Aimee erat.
Ciuman pagi mereka saat itu terasa panas, Althaf terus mendorong Aimee sampai mentok ke dinding kamar mereka. Aimee menyenderkan tubuhnya di dinding, tatapan mata keduanya menjadi sayu dan penuh gairah.
Ketika Aimee melihat Althaf berusaha membuka kancing bajunya, Aimee dengan cepat menghentikan gerakan pria itu dan bertanya,”Bukankah … bukankah beberapa jam lagi kita harus bersiap menuju Istana untuk acara penyambutan perwakilan Timur itu?”
Althaf menggenggam kedua tangan Aimee dan menahannya di dinding menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk membuka kancing pakaiannya sambil terus bicara,”Apa peduliku. Bahkan jika kita telat sampai acara ingin selesai pun tidak akan ada yang berani berkomentar.”
Aimee sedikit tertegun, dia tidak pernah melihat sisi Althaf yang seperti ini. Tak lama kemudian Althaf kembali mencium bibir Aimee, membuat Aimee larut kembali ke dalam ‘permainan’ tersebut.
Apakah … pernikahan dingin mereka akan berakhir di sini? Apakah ini awal yang baru untuk hubungan mereka? Aimee tidak pernah memikirkan hal seperti ini akan benar-benar terjadi, dia tidak pernah berharap banyak akan pernikahannya dengan Althaf selain bantuan pria itu untuk Leandra. Tetapi sekarang ….