
“Aish … siapa ini yang datang? Bagaimana kabar anda, Grand Duchess?” Pria itu tersenyum dalam, rambut merah panjangnya dikepang, dua kancing kemeja atasnya terbuka. Issac benar-benar putra mahkota yang sangat tampan, dia masuk ke dalam daftar pria paling tampan di Ventumia.
Aimee tersenyum ke arah Issac sambil membungkuk untuk menghormati gelar tinggi Issac. “Sangat baik, yang mulia. Bagaimana dengan anda sendiri?”
Issac terkekeh lebih dulu sebelum menjawab,”Tidak terlalu baik, dan itu karena suamimu.” Aimee yang mendengar jawaban Issac pun segera menoleh ke Althaf, sedangkan orang yang lagi dibicarakan hanya memasang wajah datar acuh tak acuh.
“Jangan dengarkan omong kosongnya, itu hanya akan membuat pikiranmu rusak,” ucap Althaf tak lama kemudian, lalu menatap Issac dengan mata elangnya.
“Untuk sementara waktu aku menitipkan Grand Duchess sebentar di Istana-mu. Aku masih memiliki beberapa urusan dengan Kaisar, tidak lama.” Althaf menyampaikan niat sebenarnya membawa Aimee kemari.
Issac yang mendengar ini mengangguk. “Baiklah, tidak masalah. Yasudah, pergi sana.” Issac mengusir Althaf, kemudian matanya kembali fokus menatap Aimee dan kembali tersenyum. “Grand Duchess, silahkan duduk.”
Aimee mengangguk sambil tersenyum, lalu ia segera duduk di sofa yang ada di ruangan Issac. Althaf yang melihat tingkah menyebalkan Issac pun segera memincingkan matanya, menatap Issac tajam dan dengan nada mengancam berkata,”Sampai istriku terluka sedikit saja, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa menduduki takhta.”
Aimee ingin terbatuk saat mendengar Althaf berani mengatakan hal seperti itu, kemudian matanya buru-buru menatap Issac untuk melihat ekspresinya.
Issac yang mendengar ancaman Althaf hanya terkekeh, kemudian menoleh lagi ke Aimee dan berkata,”Lihat, suamimu sangat galak.”
Althaf malas menanggapi tingkah menyebalkan Issac, kemudian membuang perhatiannya dari Issac dan menatap Aimee. “Patahkan saja tangannya jika berani berbuat macam-macam. Aku yang akan bertanggung jawab, mengerti?” Lalu Althaf berlalu pergi sebelum Aimee sempat menjawab. Pria itu sangat terburu-buru.
“Aku masih merasa bertanya-tanya mengapa Grand Duchess dapat bertahan dengan sikap menyebalkan Althaf,” ucap Issac setelah tak lama kepergian Althaf.
Aimee menoleh ke Issac, kembali fokus ke pria itu. Aimee tersenyum tipis. “Saya juga tidak mengerti.” Jawaban Aimee berhasil membuat Issac tertawa.
“Pria itu terlalu sering bertarung dengan pikirannya sendiri sampai terlihat seperti orang gila,” ujar Issac, hal ini membuat alis kiri Aimee sedikit terangkat untuk bertanya,”Benarkah?”
Issac menganggukkan kepalanya. “Ya, pria itu terlihat tenang di luar namun berisik di dalam. Jika sudah melihat dia merenung, maka tandanya sudah banyak pikiran dan suara di kepala pria itu yang sedang berdebat.”
Aimee mengangguk singkat, dia kemudian berkata,”Sepertinya hubungan yang mulia dan Grand Duke sangat dekat.”
Issac tertawa lagi, kemudian pria itu berjalan mendekati sofa dan duduk di situ. Mereka berdua kini duduk dengan posisi saling berhadapan, Aimee dapat melihat dengan jelas dan dekat sosok Issac di kondisi yang tidak formal sekarang.
“Ya … bisa dibilang seperti itu. Sebelum meninggal, selir kakekku, Kaisar Ventumia sebelumnya, menitipkan Althaf ke mendiang ibuku yang saat itu kebetulan juga mereka memiliki hubungan yang cukup baik. Mendiang selir itu meninggal saat Althaf berumur sepuluh tahun dan aku masih sembilan tahun. Ketimbang menganggap pria itu sebagai paman, aku lebih senang menganggapnya kakak. Ya … walaupun itu terdengar menggelikan di telingaku saat aku mengucapkannya.”
“Pangeran kedua sepertinya masih senang mengganggu anda, ya?” tanya Issac, membuat Aimee sedikit terkejut. Pria itu mengetahui masalah antara dia dan Elston?
Putra mahkota terkekeh melihat raut wajah terkejut Aimee, kemudian berkata,”Anda terkejut? Aku sudah mengetahuinya dari pertama anda melakukan debutante di Istana. Pangeran kedua adalah salah satu orang yang memberikan bunga mawar merah pada anda, benar?”
Aimee terdiam, matanya menatap Issac dengan lekat. Issac Cielo, walaupun pria itu jarang terlihat di acara sosial atau perkumpulan bangsawan, namun dia dapat mengetahui hal-hal apa yang terjadi di acara tersebut dengan lengkap. Koneksi dan mata-mata Issac tidak bisa diremehkan.
“Yang mulia sepertinya memiliki koneksi yang luar biasa, saya tidak bisa berhenti terkejut setiap berbicara dengan anda,” ucap Aimee, bibirnya tersenyum simpul, raut wajah wanita itu sudah kembali tenang.
“Sedangkan saya tidak bisa berhenti tersenyum dan tertawa setiap berbicara dengan anda. Anda wanita yang sangat menarik,” balas Issac, membuat Aimee merasa agak aneh saat mendengarnya.
“Terima kasih atas pujian yang mulia,” jawab Aimee, hanya itu yang dapat dirinya berikan sebagai tanggapan.
“Apa anda tahu? Seharusnya gelar yang anda sandang saat ini bukanlah ‘Grand Duchess’.” Issac kembali memancing topik pembicaraan baru. Kalimat ini berhasil membuat Aimee penasaran. Apa yang pria itu maksud? Jika bukan ‘Grand Duchess’, gelar apa yang seharusnya ia sandang?
“Apa maksud yang mulia?” tanya Aimee, keningnya terlipat karena kalimat Issac yang cukup sensitive.
Issac memperdalam senyumnya, kemudian menjawab,”Putri mahkota. Seharusnya anda menyandang gelar ‘Putri Mahkota’ dan menjadi istri saya.”
Mendengar kalimat Issac, Aimee semakijn merasa tidak nyaman. Mengapa tiba-tiba pria ini membahas topik yang dapat dibilang sensitif? Apa lagi Aimee adalah istri Althaf.
Melihat Aimee terdiam, Issac kembali melanjutkan bicaranya. “Sesuai yang anda tahu, bangsawan Leandra adalah penghasil keturunan wanita terbanyak yang menjadi Permaisuri Ventumia. Satu tahun lalu, seharusnya yang menikahimu adalah aku, bukan Althaf. Tetapi sayang, mendiang ayah anda, Algaro Leandra, mengubah keputusan agar anda menikah dengan Grand Duke. Seharusnya tanpa ada kondisi Leandra di ujung tanduk pun, anda akan tetap menjadi Putri Mahkota. Anda pikir untuk apa Kaisar memperbolehkan anda keluar masuk Istana tanpa izin sedari kecil dan diperbolehkan menjadi teman dekat Margaret jika tidak ditargetkan untuk menjadi Permaisuri Ventumia selanjutnya?”
“Lalu mengapa Kaisar tidak menentang pernikahan saya dengan Grand Duke jika memang sedari awal saya ditargetkan untuk menjadi Putri mahkota?” tanya Aimee, matanya menatap dingin Issac.
Issac mengangkat kedua bahunya acuh. “Apa lagi jika bukan karena pria itu sendiri? Althaf. Sehari sebelum kabar pernikahan anda dan Grand Duke disebar luaskan, Kaisar sudah menyiapkan titah yang siap dikirim ke Duchy Leandra. Tetapi tiba-tiba Althaf datang dan meminta restu Kaisar agar dapat menikah denganmu. Althaf adalah salah satu elemen penting Kekaisaran yang mendukung Kaisar, Kaisar tidak mungkin menolak permintaan Althaf begitu saja. Apa lagi Althaf adalah adik kesayangannya yang sulit sekali dicarikan pasangan yang cocok dengan selera pria itu. Melihat dia tertarik dan sungguh-sungguh ingin menikahi anda, maka Kaisar mau tidak mau mengizinkan.”
Aimee terdiam saat mendengarkan cerita Issac, sedangkan Issac menghembuskan napas gusar sambil menyenderkan punggungnya ke sofa. “Aku sebenarnya cukup kesal saat mendengar kalimat anda malam itu, yang ingin dinikahi oleh Althaf. Tetapi aku tidak terlalu memikirkannya, namun tetap saja perasaan kesal terkadang hadir di dalam diriku saat tidak sengaja mengingat hal ini. Saya sedikit kecewa pada takdir dan Algaro Leandra karena membuat akku gagal dalam memiliki putri mahkota yang sempurna. Aku terkadang mengerti, mengapa Elston sangat tergila-gila kepadamu.”
Aimee tersenyum tipis, matanya menatap meja yang menjadi batas di antara mereka berdua. Dia tidak menyangka Issac akan menceritakan hal seperti ini padanya, sejujurnya Aimee jadi merasa agak canggung setelah mendengarnya.