The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 15. Rasa Dessert Yang Sebenarnya



Aimee masuk ke dalam ruangan kerja Althaf tanpa mengetuk, kemudian berjalan ke arah meja kerja pria tersebut. Althaf yang melihat Aimee masuk ke dalam ruangan kerjanya tanpa mengetuk merasa kesal, namun rasa kesalnya segera tergantikan dengan heran saat melihat wajah Aimee memerah. Kenapa lagi wanita ini? Pikirnya saat itu.


“Di mana otakmu yang sudah belajar ribuan etiket sehingga masuk ke dalam ruanganku tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?” ucap Althaf, membuat Aimee mendengus kecil.


“Aku ingin bertanya yang sejujurnya padamu,” ujar Aimee, tidak mempedulikan Althaf yang mengomelinya karena tidak mengetuk pintu.


“Apa?” jawab Althaf singkat.


“Bagaimana rasa dessert yang aku buat tadi?” tanya Aimee, matanya menatap Althaf dengan penuh menyelidik.


“Lumayan, tidak terlalu buruk,” jawab Althaf sambil kembali melihat dokumen yang ada di mejanya.


“Aku ingin jawaban jujur, Althaf!” balas Aimee, tidak percaya. Althaf yang mendengar Aimee membentaknya sedikit terkejut, kemudian pria itu kembali menatap Aimee dan menjawab,”Ada apa denganmu? Gila? Aku sudah menjawab yang sejujurnya.”


Aimee menghembuskan napas gusar, kemudian berbalik dan berjalan ke arah sofa. Aimee duduk di sofa itu sambil terus menyauti Althaf. “Kau yang gila, kenapa sebelumnya kau tidak berkomentar jujur mengenai rasa dessert yang aku buat?”


Althaf tertegun, oh … dia baru mengerti, ternyata Aimee mempermasalahkan jawabannya mengenai dessert buatan wanita itu. Tetapi dari mana Aimee tahu? Apakah wanita itu membuat dua dessert dengan adonan yang sama? Sepertinya begitu ….


Aimee, menoleh ke arah Althaf, memperhatikan pria itu yang hanya diam dengan wajah datar di meja kerjanya.


“Karena kau sudah membuatnya dengan usaha yang keras.” Saat beberapa detik hening, suara Althaf kembali terdengar memecah keheningan yang membingungkan tersebut. Aimee yang mendengar ini mengerutkan keningnya lagi, dia takut telinganya salah mendengar. Oleh karena itu, dia bertanya,”Apa?”


“Karena kau sudah membuat dessert itu dengan usaha yang keras untukku,” jawab Althaf, menaikkan sedikit nada bicaranya dan lebih memperjelas kalimatnya.


Aimee terdiam, kemudian membuang wajahnya ke arah lain, tidak lagi menatap Althaf. Jantungnya tiba-tiba berdebar sangatb keras, wajahnya terasa panas. Aimee memaki dirinya sendiri di dalam hati, kenapa dia harus merasakan debaran tidak jelas seperti ini? Dan lagi, sejak kapan seorang Althaf bisa berpikir seperti itu? Pria itu peduli pada usahanya membuat dessert tersebut? Sulit dipercaya, bahkan lima bulan lalu Aimee hampir mati di negeri orang saja pria itu tidak meliriknya sama sekali. Beruntung Baron Oaster atau Kalix Oaster tiba-tiba muncul dan membantunya.


“Tetapi sejak kapan anda peduli?” tanya Aimee, wajahnya masih mengarah ke arah lain, tidak menghadap Althaf.


“Maksudmu?” tanya Althaf balik, kening pria itu mulai mengerut bingung. Althaf mencium bau-bau pertengkaran setelah ini.


Aimee berdiri dari duduknya, kemudian menatap Althaf. “Mengapa anda peduli dengan hal kecil tetapi tidak peduli dengan masalah besar yang menyangkut nayawa dan kehormatan saya?”


Althaf semakin bingung, mengapa pembicaraan seputar rasa dessert ini bisa tumpah sampai ke nyawa dan kehormatan?


Selama di perjalanan menuju kamar Althaf, Aimee menggerutu di dalam hati. Dia tidak mengerti tentang perasaan marah yang ada di dalam dirinya sekarang. Aimee tidak pernah sesensitif ini apa lagi hanya karena masalah sepele seperti rasa sebenarnya dari dessert yang ia buat. Perasaan ini sama seperti yang dulu ia rasakan saat pertama kali bertengkar dengan Althaf di ruangan kerja pria itu. Aimee merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dan terasa sesak, rasanya ingin marah dan menangis.


Sedangkan Althaf, pria itu masih duduk di meja kerjanya dengan perasaan bingung. Ini kedua kalinya dia melihat Aimee seperti sedang Manahan tangis, seperti yang dia lihat beberapa waktu lalu saat dia dan Aimee bertengkar hebat.


Di tengah lamunannya, Althaf mendengar pintu ruangannya diketuk. Setelah mendapat jawaban dari Althaf, pintu tersebut segera terbuka. Althaf melihat Liliana Leandra, masuk ke dalam ruangan kerjanya.


“Ah … ibu ….” Ucap Althaf, pria itu kembali berusaha berakting.


Liliana tersenyum hangat ke arah Althaf. “Apa kedatangan saya mengganggu waktu kerjamu, nak?”


Althaf menggelengkan kepalanya pelan. “Sama sekali tidak, ibu silahkan duduk di sofa.”


Liliana mengangguk mengerti, kemudian mengucapkan terima kasih. Setelah duduk, Liliana kembali berbicara. “Aku mengetahui apa yang terjadi beberapa menit sebelumnya di ruangan ini.”


Althaf diam, dia tidak berbicara apa pun. Dia memilih untuk terus mendengarkan.


“Dengar, nak Althaf. Sebelumnya ibu ingin meminta maaf kepadamu, karena kurang baik mendidik Aimee. Aimee terkadang masih bertingkah seperti anak kecil dan tidak dewasa di dekat orang-orang yang dia anggap dekat. Seperti dirimu, aku, adiknya Abighail, dan mendiang sang Duke Leandra. Apa lagi masa-masa tersulitnya baru berlalu satu tahun, pasti masih ada beberapa ingatan tidak mengenakkan di pikirannya yang masih dia ingat. Sejujurnya, aku ragu kalian akan benar-benar saling mencintai di pernikahan ini. Tetapi melihat kalian berdua saling menghargai dan peduli satu sama lain, aku merasa tenang. Ternyata putriku tidak menikah dengan pria yang salah. Grand Duke Althaf, aku bicara seperti ini tidak hanya berperan sebagai ibu, namun juga sebagai bawahan yang memohon kepada atasannya. Yang mulia, saya mohon tolong jaga dan bahagiakan Aimee, anak itu memerlukan pasangan seperti anda di hidupnya.” Liliana berbicara panjang, hal ini membuat Althaf semakin terdiam. Tak berselang lama kemudian Althaf mengikuti arah pandang mata Liliana, wanita itu menatap foto lukisan pernikahan mereka yang dipajang hanya sebagai formalitas, tidak ada maksud lain.


Liliana terkekeh kecil, kemudian kembali menatap Althaf. “Bisakah anda berjanji, yang mulia?” tanya Liliana, memastikan jawaban Althaf. Althaf terdiam beberapa detik sambil menatap mata Liliana yang teduh keibuan, kemudian pria itu mengangguk dua kali. Liliana yang melihat ini menghembuskan napas lega. “Jika begini, ketika aku mati, aku akan mati dengan tenang.”


“Oh … ya, apa kau sudah menerima sapu tangan dari Aimee? Anak itu menyulamnya sendiri untukmu,” timpa Liliana lagi.


Althaf menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ada.”


Liliana mengangguk mengerti. “Ah … begitu, mungkin anak itu lupa. Saat anda pergi ke Istana, aku dan Aimee menyulam sapu tangan bersama di taman Grand Duchy. Aku menyulam satu sapu tangan untuk Abighail, dan Aimee menyulam satu sapu tangan untukmu. Dia membutuhkan usaha yang lumayan agar sulamannya selesai, jari telunjuk kanannya sempat tertusuk jarum.”


Althaf balas mengangguk. Dia sedikit terkejut, hari ini Aimee banyak sekali melakukan hal merepotkan untuknya. Walaupun mereka berdua sepakat berakting, tetapi Althaf tidak menyangka bahwa wanita itu akan berakting dengan totalitas yang sangat besar.


“Aku akan bertanya soal sapu tangan itu dan membujuknya agar amarahnya reda,” balas Althaf.


Beberapa menit kemudian, Liliana memutuskan keluar dari ruang kerja Althaf, meninggalkan pria itu sendiri di meja kerjanya. Duduk termenung dengan pikiran yang tercampur aduk seperti Aimee sebelumnya saat berjalan keluar dari ruangan kerja Althaf.