The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 32. Agatha Malio, Istri Pangeran Kedua



"Di mana Pangeran?" Seorang wanita cantik mengenakan gaun biru mendatangi ruangan kerja Elston Cielo, Pangeran kedua.


"Ada di dalam, yang mulia," jawab penjaga yang bertugas menjaga ruangan kerja Elston.


Agatha Malio, istri sah dari Elston Cielo. Atas perintah Kaisar, saat tiga bulan lalu, mereka berdua resmi menikah. Tetapi sepertinya tidak ada cinta di dalam pernikahan mereka, namun ... tidak. Agatha, wanita itu tulus menikah dengan Elston.


Pintu ruangan kerja Elston dibuka, Agatha bergegas masuk dan melihat suaminya masih sibuk berkutat di meja kerjanya. Ketika Elston menyadari kedatangan Agatha, pria itu segera mendongak dan melihat Agatha berjalan mendekat ke arahnya sambil membawa secangkir teh.


"Yang mulia, sudah larut malam. Anda masih sibuk?" ucap Agatha, memberikan perhatian. Elston yang mendengar ini mengangguk singkat. "Ya, kembalilah ke kamarmu lebih dulu. Tidak perlu menungguku seperti kemarin malam."


Agatha menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, saya ingin menemani anda menyelesaikan pekerjaan." Elston yang mendengar Agatha tidak mau diusir akhirnya diam, membiarkan Agatha menunggunya.


Agatha duduk di sofa, wanita itu memandang Elston dengan senyum tipis, namun tak lama kemudian Agatha menghela napas tipis. Tatapan mata Agatha menjadi sendu, sepertinya wanita itu tahu bahwa di hati Elston tidak ada dirinya, hanya ada Aimee, Grand Duchess Aldrich.


Agatha tidak sengaja melirik ke arah bingkai foto yang ada di meja kerja Elston, tatapannya berubah menjadi dingin. Kedua telapak tangan Agatha mengepal erat. Menahan rasa cemburu dan marah, Agatha mengatakan,"Saya sangat mengagumi Grand Duchess Aldrich."


Elston yang mendengar gelar Aimee disebut segera menatap Agatha, saat melihat mata Agatha tertuju pada bingkai foto Aimee, Elston segera meniduri bingkai foto tersebut, membuat Agatha tidak lagi bisa melihat foto Aimee.


"Lalu?" tanya Elston acuh, pria itu kembali fokus kepada pekerjaan yang ada di atas mejanya.


Agatha kembali menatap Elston setelah melihat bingkai foto itu ditutup oleh Elston, kemudian bertanya,"Saya terkadang tidak mengerti, mengapa anda tetap menerima titah Kaisar untuk menikahiku."


"Kalau begitu, kamu tidak perlu berusaha mengerti," jawab Elston, dia benar-benar memberikan sikap dingin kepada Agatha.


Kedua mata Agatha berkaca-kaca, dia tidak pernah diperlakukan seburuk ini selama hidupnya. Sebelum menikah, seluruh orang sangat menyayangi dan memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi setelah menikah, hidupnya berubah drastis. Dia benar-benar merasa kesepian, pernikahan yang sebelumnya dia anggap anugerah, justru menjadi awal mulai kehancuran hidupnya.


Agatha berdiri dari duduknya, kemudian bertanya,"Anda masih mencintai Grand Duchess?"


Elston kembali berhenti fokus kepada pekerjaannya, beralih menatap Agatha. Kedua mata mereka saling bertukar pandangan untuk waktu yang cukup lama, namun kemudian Elston menarik tatapannya dari Agatha sambil menjawab,"Ya, tidak ada alasan perasaanku dapat berubah."


Agatha memejamkan matanya, dia merasakan tombak besar menghujam jantungnya. Dadanya saat ini terasa sangat sesak. Suaminya sendiri, tanpa menyangkal berkata bahwa dia mencintai wanita lain, padahal yang menjadi istrinya adalah dirinya.


"Di hati anda benar-benar hanya ada Grand Duchess?" tanya Agatha sekali lagi, matanya kembali terbuka untuk menatap Elston.


Elston kembali menegakkan bingkai foto Aimee, menatap foto tersebut sambil menyunggingkan senyum tipis. "Ya."


Agatha tidak dapat menahan air matanya, butiran air bening menetes dari mata sebelah kirinya. Agatha kemudian meletakkan telapak tangannya ke perutnya, lalu kembali bertanya. "Bagaimana dengan ibu dari anakmu?"


Elston yang melihat serta mendengar ini segera mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"


"Gugurkan!" perintah Elston, membuat Agatha membulatkan matanya. Mendengar ini, ketenangan Agatha sudah tidak dapat dikontrol. Agatha dengan cepat membalas,"Tidak!"


"Bagaimana mungkin anda meminta saya menggugurkan anak kita?!" sambung Agatha, napasnya memburu karena marah dan sakit di hatinya.


"Aku tidak tertarik untuk memiliki keturunan dari rahim wanita lain yang bukan Aimee," jawab Elston, pria itu menatap Agatha kesal.


Tubuh Agatha sedikit terhuyung ke belakang, beruntung wanita itu segera berpegangan pada sofa dan menahan berat tubuhnya di sofa.


Agatha menangis sambil memegangi perutnya, dia tidak menyangka bahwa Elston sampai rela melakukan dan mengatakan hal setega itu untuk anak mereka. Agatha pikir setelah dia mengatakan tentang kehamilannya, Elston akan senang, namun ternyata sebaliknya.


"Anda ingin menggugurkan anak kita demi wanita lain?" Agatha menatap Elston, wajah cantik Agatha kini sudah basah dengan Air mata.


"Aimee bukan wanita lain, kau lah yang menjadi wanita lain!" balas Elston, pria itu sudah berdiri dari kursi kerjanya.


"Tetapi yang Anda nikahi adalah aku! Aku yang menjadi istrimu!" ujar Agatha, tubuhnya gemetar karena emosi kini tengah bergejolak di hatinya. Kedua tangan Agatha terasa dingin, jantungnya berdegup sangat kencang.


"Tidak! Kau tidak mengerti! Aku tidak pernah memintamu untuk mau menjadi istriku! Titah Kaisar tidak dapat aku bantah, namun keluarga-mu bukankah memiliki hak untuk bernegosiasi? Kau yang datang sendiri untuk menjadi istriku, karena kau, langkahku untuk merebut Aimee menjadi terbatas!" balas Elston, pria itu melepaskan semua amarahnya pada Agatha yang tengah mengandung anaknya.


Agatha mengelap kasar air matanya, dia tidak sangat sakit hati dengan perkataan Elston barusan. Elston hanya memikirkan Aimee, pria itu tidak pernah memikirkannya.


"Aimee Leandra sudah menjadi seorang Grand Duchess, istri dari paman termuda anda! Grand Duke Aldrich! Bagaimana mungkin anda masih ingin merebutnya?! Anda harus berhenti!" Agatha tidak menyerah, dia masih ingin terus menyadarkan Elston.


"Tutup mulutmu! Jangan mengatakan sesuatu yang membuat aku semakin membencimu! Kau tidak pantas menyebut nama Aimee langsung tanpa menggunakan gelar!" balas Elston sambil menunjuk Agatha menggunakan jari telunjuknya dengan penuh emosi.


Elston berjalan cepat keluar dari ruangannya, membuka pintu kerjanya kasar dan membanting pintu kerjanya. Seluruh pelayan dan penjaga terkejut. Saat Elston melihat pelayan pribadi Agatha, Elston segera berkata,"Bawa wanita itu ke kamarnya! Kurung dia! Jangan ada pelayan yang berani memberinya makan selama dua hari!"


Pelayan pribadi Agatha menegang, kemudian segera menangis dan memohon pada Elston. "Yang mulia, namun tuan putri saat ini tengah mengandung! Tuan putri mengandung anak anda, yang mulia!" Pelayan itu bersimpuh di kaki Elston.


Elston menatap pelayan pribadi Agatha jijik, lalu menendang pelayan wanita itu sambil berkata,"Apa peduliku?" Lalu Elston segera pergi meninggalkan pelayan wanita Agatha yang masih menangis sambil terus memanggil Elston untuk memohon.


Sedangkan Agatha, wanita itu jatuh duduk di lantai ruangan kerja Elston. Wanita itu menangan sambil memegangi perut dan dadanya. Dada Agatha terasa sangat sesak, wanita itu menangis sesenggukan.


"Putri ...." Pelayan wanita Agatha yang tadi memohon pada Elston masuk, kemudian memeluk Agatha dan membantu wanita itu berdiri.


"Di mana salahku?" tanya Agatha sambil menangis terisak, lalu menunduk menatap perutnya dan berkata lagi. "Anak ini juga tidak memiliki salah. Namun, belum sempat ia lahir, ayahnya sudah sangat membenci dia."


Pelayan pribadi Agatha semakin terisak, dia sangat sedih dengan takdir yang menimpa majikannya.