
Dua bulan setelah kepergian sang ayah, mendiang Duke Leandra, kediaman Leandra menggelar acara besar yang terakhir kalinya untuk menghormati dan mengikhlaskan sang Duke. Pesta ini sangat besar, karena mengundang keluarga kerajaan seperti Putra Mahkota dan Pangeran kedua, lalu ... Grand Duke Aldrich.
"Saya ucapkan terima kasih atas ketersediaan para undangan untuk hadir di acara kami, selamat menikmati. Kali ini, mari kita mengikhlaskan kepergian mendiang ayah saya sang Duke Leandra dengan senyum bahagia. Sang Duke pasti akan ikut bahagia jika melihat kita semua bahagia merelakan kepergiannya." Abighail Leandra, anak itu berbicara di depan seluruh tamu undangan, menunjukkan bahwa dia adalah pewaris gelar Duke Leandra selanjutnya. Sedangkan Aimee, wanita itu berdiri di belakang Abighail sambil memasang senyum palsu.
Dari awal pesta ini direncanakan, Aimee sudah memiliki firasat bahwa nanti di tengah acara akan terjadi kerusuhan yang akan mengganggu pesta.
Satu jam pertama setelah pesta resmi dimulai masih belum terjadi apa-apa. Aimee masih mengobrol dengan para bangsawan, dia menggunakan skill berkomunikasinya yang hebat, hal inilah yang membuat siapa saja nyaman berkomunikasi dengannya.
Mata Aimee tidak sengaja jatuh kepada Althaf, dia melihat pria itu tengah berbicara dengan Putra Mahkota. Sejujurnya, dia tidak pernah menyangka bahwa Althaf akan menerima undangannya, karena sebelumnya Leandra pernah mengundang pria itu beberapa kali ke pesta yang dibuat Leandra, tetapi tidak ada satupun yang pria itu terima. Dan ... untuk Putra Mahkota dan pangeran kedua, Aimee juga tidak menyangka bahwa kedua pria itu mau datang ke acara yang sama bersamaan. Biasanya Putra Mahkota dan Pangeran kedua tidak pernah hadir di acara yang sama secara bersamaan, kecuali atas perintah Kaisar atau acara tersebut dilaksanakan di Istana.
Aimee berjalan mendekati Althaf dan Putra Mahkota, dia mau tidak mau harus mengajak mereka berdua bicara karena Aimee dan Abighail adalah tuan rumah. Terlebih lagi, mereka adalah seorang Grand Duke dan Putra Mahkota. Sedangkan Pangeran kedua, pria itu diurus oleh Abighail.
"Aimee menyapa yang mulia putra mahkota dan Grand Duke Aldrich." Aimee membungkuk ke arah dua pria tersebut, membuat keduanya menoleh dan menatap Aimee.
Putra mahkota tersenyum saat melihat Aimee, sedangkan Althaf masih dengan raut wajahnya yang semula.
"Wah, Grand Duchess Aldrich masa depan," ucap Issac dengan pelan dan nada yang berbisik. Althaf yang mendengar Issac berniat menggoda dirinya dan Aimee hanya memasang raut wajah acuh tak acuh.
Aimee tersenyum tipis ke arah Issac, lalu berkata,"Saya belum mengatakan pilihan saya secara pasti, yang mulia."
Benar. Aimee memang belum mengeluarkan pilihannya dengan pasti, antara Grand Duke atau Pangeran kedua. Walaupun firasatnya lebih condong ke Althaf, tetapi dia masih merasa ragu.
Ketika Issac ingin membalas, tiba-tiba datang seorang pelayan yang membisikkan sesuatu ke telinga Aimee. Aimee yang mendengarkan ini terdiam, raut wajahnya berubah menjadi dingin.
"Ada apa Lady Aimee?" tanya Putra Mahkota ketika melihat raut wajah Aimee berubah, bibir pria itu masih tersenyum.
Aimee menatap Putra Mahkota dan Grand Duke, kemudian tersenyum tipis. "Tidak ada, yang mulia. Ah ... bagaimana jika kedua yang mulia beristirahat di ruang tamu VIP Leandra? Saya perhatikan sepertinya kedua yang mulia sudah tampak lelah dan bosan dengan acara ini, saya sudah menyiapkan hiburan lain khusus untuk kedua yang mulia."
Althaf tidak menjawab, hanya diam. Sedangkan Issac mengangguk, kemudian menjawab,"Ide bagus, Lady Aimee memang sangat pengertian."
Aimee tersenyum seolah malu-malu, lalu menjawab,"Sebuah kehormatan bagi Aimee mendapatkan pujian dari yang mulia. Kalau begitu ... kedua yang mulia, mari ikuti saya."
Aimee membawa Althaf dan Issac ke sebuah ruangan lantai tiga Kastil, di dalam ruangan itu terdapat balkon yang dapat melihat seluruh bagian halaman belakang Leandra. Setelah mengantarkan keduanya ke ruangan tersebut, Aimee bergegas keluar. Tujuan dia menempatkan Althaf dan Issac di sana untuk berjaga-jaga. Seorang pelayan yang Aimee sadari, sebelumnya ia tidak pernah Aimee lihat di Kastil, tiba-tiba datang dan membisikkannya sesuatu. Pelayan itu berkata bahwa Abighail memanggilnya ke halaman belakang Leandra untuk membicarakan sesuatu, padahal Aimee tahu jelas bahwa Abighail saat ini sedang bersama Pangeran kedua. Walaupun memang pria itu tidak terlihat lagi setelah mereka berdua berpisah untuk berbaur dengan para bangsawan, tetapi Aimee yakin yang memanggilnya ke halaman belakang bukanlah Abighail. Abighail tidak pernah mengutus orang lain seperti pelayan secara sembarangan jika memang topik diskusinya sangat penting sampai harus dibicarakan di halaman belakang Kastil.
Tujuannya menaruh Althaf dan Issac di sana agar dia dapat meminta bantuan jika terjadi kejadian yang tidak mengenakan menimpa dirinya. Karena tempat balkon ruangan Althaf dan Issac berdiri adalah satu-satunya tempat yang dapat melihat keseluruhan halaman belakang Kastil Leandra.
Ketika Aimee sampai di halaman belakang, Aimee tidak melihat siapapun di sana. Aimee berjalan maju, dia memantapkan hati dan keberaniannya. Ketika Aimee mulai berjalan cukup jauh ke tengah halaman belakang, tiba-tiba dari arah samping muncul pisau yang melayang terbang seperti dilempar oleh seseorang menuju ke arahnya. Aimee reflek melompat tinggi, kemudian membuang high heels miliknya ke tanah.
Benar, ini jebakan. Aimee dengan cepat memasang kuda-kuda bertarung. Ya, Aimee pandai bertarung. Hanya mendiang ayahnya, ibunya, dan Abighail yang mengetahui ini. Aimee tidak pernah mengekspos kemampuannya ke khalayak umum karena aturan etiket seorang wanita bangsawan.
"Kep*rat, majulah! Aku sudah muak menahan emosi sejak dua bulan belakang ini!" seru Aimee, menantang orang di balik pisau terbang tadi.
Wush!
Tiba-tiba lebih dari lima orang mengepungnya. Aimee menatap semuanya dalam-dalam dengan tajam. Aimee mengepalkan kedua telapak tangannya, mereka semua adalah pembunuh bayaran. Tetapi siapa yang mengirim mereka?!
Satu persatu, semuanya mulai maju menyerang. Aimee merebut salah satu pedang mereka, bertarung. Wanita itu tidak ragu untuk melukai lawan, bahkan gaunnya kini sudah hampir rata dinodai tanah dan darah.
Serangan terakhir untuk lawan terakhir, Aimee menggores dengan kasar leher pria itu hingga memuncratkan darah yang sangat banyak.
Klontang!
Aimee menjatuhkan pedangnya ke tanah, mengambil napas. Tetapi belum sepenuhnya dia tenang, tiba-tiba anak panah tidak dikenal meluncur ke arahnya, beruntung anak panah itu meleset dan hanya menggores lengan kirinya dan menancap di pohon.
Aimee dengan cepat menoleh dan mengambil pedangnya lagi, dia melihat ada seseorang yang datang mendekat. Aimee dengan cepat bersembunyi dan naik ke atas pohon. Dari atas pohon, dia menatap dingin orang yang baru datang tersebut. Sambil menenteng busur panah, pria itu menatap para kelima pembunuh bayaran yang telah bersimbah darah sambil menggerutu,"Si*lan! Bagaimana bisa gagal?! Pembunuh bayaran tidak berguna!"
Aimee tersenyum dingin. "Thomas Leandra baju**an," gumam Aimee.
"K-- kau!" Thomas terkejut, menatap marah ke arah Aimee. Dia terkejut karena penampilan Aimee yang saat ini sangat kacau, dan karena tidak menyangka bahwa Aimee dapat bertahan dan membunuh lima pembunuh bayaran elit.
Aimee menyeringai tipis. "Terkejut?" Kemudian dia menempelkan permukaan pedang penuh darah yang dingin itu ke leher Thomas.
"Aimee ... aku bisa menjelaskannya!" ujar Thomas penuh dengan rasa panik.
Aimee tidak menghiraukan kalimat Thomas, tetapi kemudian bertanya,"Kau berada di pihak Pangeran kedua 'kan?" Begitu pertanyaan ini keluar, Thomas bungkam. Dia tidak bisa menjawab. Sepertinya sudah terlambat juga jika mencoba berbohong, karena Aimee sudah mengetahui semuanya.
Melihat Thomas bungkam, Aimee tersenyum lebih dingin lagi. "Kalau begitu, sudah tidak ada lagi alasanku memihak Pangeran kedua. Idemu ini pasti juga ada campur tangan Pangeran kedua, untuk apa aku memihak pembunuh yang ingin mengambil nyawaku."
Belum sempat Thomas mengatakan sesuatu, Aimee dengan cepat sudah mengangkat pedangnya tinggi dan menebas kepala Thomas Leandra hingga menggelinding di tanah.
"Banyak bicara, membuang-buang waktuku saja," gumam Aimee.
Aimee berbalik, kemudian matanya menatap balkon tempat Althaf dan Issac. Di sana, Aimee melihat Althaf berdiri di balkon menatap ke arahnya. Tidak ada Issac, entah ke mana pria itu. Beberapa detik kemudian, terlihat Issac hendak keluar menyusul Althaf ke balkon, namun Althaf dengan cepat berbalik dan menahan langkah Issac. Entah apa yang terjadi di sana, Althaf menutup pintu balkon dan tidak membiarkan Issac pergi ke balkon.
Aimee berjalan ke salah satu jasad pembunuh bayaran, setelah itu meletakkan pedang tersebut di tangannya. Aimee tersenyum tipis, sebelum akhirnya dia berjalan masuk kembali ke dalam Kastil. Jika barusan lawannya memberi dia kejutan, maka sekarang dia akan membalasnya.
Aimee menarik napas dalam sebelum dia membuka pintu aula Kastil dengan keras dan berlari cepat ke dalam. Dalam hitungan ketiga, wanita itu membuka keras pintu aula.
Brak!
Seluruh tamu undangan menoleh, kemudian mereka berteriak histeris ketika melihat penampilan Aimee yang gaunnya berlumuran darah. Aimee tanpa peduli segera berlari masuk sambil memasang wajah ketakutan.
"Abighail! Abighail!" seru Aimee, memanggil nama adiknya.
"Tolong! Pembunuh! Tolong!" lanjut Aimee.
Abighail yang mendengar suara kakaknya segera berlari menuju Aimee dan terkejut. Pria itu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi hingga kakaknya berlumuran darah seperti ini. Kepanikan yang dirasakan pria itu nyata, walaupun dia tahu bahwa kakaknya sangat pandai bertarung.
"Kakak! Bagaimana bisa?! Di mana pembunuh-pembunuh itu?!" tanya Abighail, kedua telapak tangan pria itu terasa dingin ketika menyentuh permukaan kulit Aimee.
"Aku akan bawa kakak ke ruangan lain untuk menenangkan diri, Louis! Kau cek seluruh Kastil ini bersama penjaga yang lain!" ujar Abighail tanpa menunggu jawaban dari Aimee. Abighail dengan cepat membawa Aimee keluar dari aula Kastil.
"Bawa aku ke tempat Grand Duke dan Putra Mahkota. Di mana kakak menaruh mereka?" tanya Abighail di tengah jalan, tempo jalan mereka mulai melambat dan santai ketika sudah berada di tempat sepi.
Aimee yang sebelumnya terus berada di pelukan Abighail karena berakting ketakutan, kini melepaskan pelukan tersebut. Tanpa menjawab pertanyaan Abighail, Aimee segera melangkahkan kakinya ke tempat Althaf dan Issac.
Begitu sampai, Aimee segera membuka pintu tersebut. Althaf dan Issac menoleh ke arah pintu, Althaf yang sudah mengetahui kondisi Aimee hanya diam dan terus menatap. Sedangkan Issac yang baru mengetahuinya segera terbelalak kaget. Pria itu spontan berdiri dan bertanya,"Apa yang terjadi?"
Abighail membungkuk hormat kepada Althaf dan Issac, sedangkan Aimee masih tegak berdiri. Tanpa menjawab pertanyaan Issac, Aimee menatap Althaf mantap dan berkata,"Nikahi aku."
Issac mengernyitkan dahinya, situasi macam apa ini? Dia tidak mengerti. Aimee tiba-tiba datang dengan berlumuran noda darah, lalu meminta dinikahi oleh Althaf padahal sebelumnya wanita itu masih penuh keraguan.
Althaf yang tetap diam duduk di sofa tersenyum tipis dengan dingin, setelah itu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menjawab,"Lusa acara pernikahan akan digelar."
Issac yang masih menyimpan ribuan pertanyaan di pikirannya akhirnya memilih diam dan bersabar, dia akan bertanya nanti kepada Althaf. Untuk sekarang, yang jelas Aimee telah memilih Althaf.
Issac beralih menatap Abighail, kemudian tersenyum dan berkata,"Aku harap kamu bukan penerus Duke Leandra yang mengecewakan, agar pengorbanan kakakmu tidak sia-sia."
Abighail menatap Issac sejenak, kemudian tersenyum dan menunduk kembali. "Saya berjanji."
*Flashback off*
Aimee beranjak naik ke tempat tidurnya setelah berurusan dengan Althaf. Mulai besok dia sudah harus bergerak, karena lebih cepat lebih baik. Dia harus tidur sekarang, karena besok harus melakukan sarapan pagi membosankan bersama Althaf, lalu mulai bekerja sesuai dengan apa yang Althaf minta kepadanya tadi. Dan lagi, sepertinya mengingat-ingat masa lalu itu cukup melelahkan, energi Aimee terasa dikuras habis. Masa lalu itu benar-benar suram.