The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 10. Anda Selalu Membuat Keputusan Sepihak Untuk Masalah Internal Kita



Setelah kepergian Xiao Li, Aimee bergegas kembali ke dalam Kastil. Baru saja kakinya melangkah masuk, Daniel tiba-tiba muncul dan menyampaikan,"Yang mulia, Grand Duke memanggil anda ke ruangan kerjanya."


Aimee menghela napas gusar setelah mendengar ini, mengapa belakangan ini pria itu sering sekali memanggilnya ke ruang kerja?


"Ya," jawab Aimee singkat, kemudian bergegas menuju ruangan kerja Althaf.


Begitu Aimee sampai, Cecilia segera membukakan pintu untuk Aimee. Aimee masuk dengan raut wajah datar menahan kesal.


"Ada apa lagi?" tanya Aimee, mulai kesulitan menahan perasaan jengkelnya terhadap Althaf.


"Mengenai ibumu," jawab Althaf.


Raut wajah kesal Aimee langsung menghilang saat mendengar Althaf berkata demikian. Aimee duduk di sofa ruangan kerja Althaf, lalu bertanya,"Ada apa?"


"Kita sepakat akan mengajak ibumu untuk singgah ke dalam Grand Duchy beberapa hari agar bisa mengobati rasa rindumu itu, oleh karena--" belum selesai Althaf bicara, Aimee segera memotong.


"Sepertinya itu hanya keputusan sepihak darimu, aku tidak pernah kau dengar, kan?" ucap Aimee, membuat Althaf terdiam.


"Dengar, Aimee. Aku mengerti maksudmu kenapa kamu menolak jika ibumu datang ke Grand Duchy, namun kamu harus tetap mempertimbangkan pandangan orang lain terhadap Aldrich. Posisi yang kau sandang bukan posisi sembarangan," ujar Althaf, berusaha menjelaskan apa yang dia pikirkan kepada Aimee.


Aimee diam, dia berusaha mengatur emosinya. Sebenarnya dia sangat mengerti apa yang dimaksud oleh Althaf, tetapi selain memikirkan pandangan orang lain terhadap dirinya nanti karena sering keluar masuk ibu kota sembarangan seolah tidak peduli kepada suami, Aimee juga memikirkan perasaan ibunya. Ibunya pasti akan sangat sedih jika mengetahui rumah tangganya yang terlampau jauh dari kata bahagia dan hangat.


"Aku mengerti," ucap Aimee setelah sekian lama terdiam. Althaf tidak berkata apa pun, masih diam menatap Aimee.


"Tetapi jika ibu--" Saat Aimee ingin kembali bicara, kini giliran Althaf yang memotong. "Aku juga mengerti tentang ini. Oleh karena itu aku memanggilmu kemari untuk berdiskusi."


Aimee menatap Althaf sedikit terkejut, tumben sekali Althaf mengajaknya berdiskusi mengenai masalah internal mereka berdua. Biasanya pria itu selalu mengambil keputusan sepihak.


"Tanggal berapa ibumu akan datang?" tanya Althaf setelah melihat raut wajah Aimee melunak.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Aimee sambil menatap Althaf lekat.


Althaf mengangguk singkat, pertanda dia mengerti, setelah itu ia berkata,"Perjalanan akan diatur hari ini, ibumu akan sampai di Grand Duchy besok malam."


Aimee membulatkan matanya, terkejut. Astaga ... apa pria di depannya ini sungguhan Althaf? Tetapi apa pedulinya tentang sosok di depannya ini Althaf atau bukan, yang pasti ibunya akan datang di Grand Duchy besok malam. Mereka berdua akan bertemu kembali setelah sudah cukup lama tidak bertemu.


Aimee berdiri dari duduknya, matanya masih menatap Althaf. "Apa aku harus membalasmu dengan sesuatu?" tanya Aimee, hal ini bukanlah hal yang aneh. Hubungan mereka memang berstatus suami dan istri, tetapi itu hanya status. Jika salah satu membutuhkan bantuan, maka pihak yang meminta bantuan harus memberikan imbalan. Seperti sekarang ini dan Althaf kemarin.


Althaf tersenyum tipis, senyum tipisnya terlihat menyebalkan dan licik di mata Aimee. "Kerjakan dengan baik permintaanku yang kemarin." Benar, setelah Althaf bicara wajahnya bertambah menyebalkan dan licik. Aimee menatap kesal ke arah Althaf, ini adalah cara agar pria itu tidak perlu membayarnya atas perintah yang ia berikan kemarin, merebut hati perwakilan Kekaisaran Timur.


Aimee meninggalkan ruangan Althaf dengan kesal, tapi ya ... keputusan ini lebih baik dari pada dirinya tidak bisa bertemu dengan ibunya sama sekali. Aimee tanpa sadar menyunggingkan senyum, dan hal ini disadari oleh Berlianda.


"Grand Duchess, mengapa anda tersenyum?" tanya Berlianda, dia merasa sedikit aneh saat melihat Aimee tersenyum tiba-tiba padahal raut wajah wanita itu yang sebelumnya terlihat datar kesal.


Aimee tersadar, lalu segera menghilangkan senyumnya dan menggelengkan cepat. "Tidak. Kau salah lihat." Berlianda dan Cecilia yang mendengar ini hanya bisa diam dan saling pandang dengan perasaan heran.


Aimee mempercepat langkah kakinya menuju ruangan kerjanya sendiri, diam-diam telinganya memerah.


***


"Yang mulia, sepertinya orang-orang Ventumia tidak terlalu buruk. Grand Duchess Aldrich sangat baik dan ramah," ucap pangawal pribadi Xiao Li.


Xiao Li melirik bawahannya, Yang Fu. Kini mereka sudah berada di Istana, posisi mereka sekarang berada di salah satu kamar tamu Istana yang sangat besar. Yang Fu terlihat sangat bersemangat, dia menyukai hal-hal baru. Berkunjung ke Ventumia menjadi hal yang sangat menyenangkan untuknya.


"Benar, aku bisa merasakan bahwa Grand Duchess adalah wanita yang baik," balas Xiao Li, wajahnya tersenyum saat membayangkan Aimee di otaknya.


Yang Fu yang melihat raut wajah Xiao Li menaikkan alis kirinya bingung. Dia sudah mengabdi dan bersama Xiao Li dari kecil, dan ini pertama kalinya dia melihat Xiao Li membicarakan seorang wanita asing dengan senyuman dan tatapan mata kosong selembut itu. Tatapan matanya yang kosong dan lembut seperti sedang menikmati imajinasi yang ada di kepalanya. Yang Fu berbatuk pelan, kemudian bertanya,"Menurut anda ... bagaimana penampilan Grand Duchess?"


Xiao Li termakan kalimat Yang Fu, pria itu tanpa sadar memperdalam senyumnya dan menjawab,"Jernih. Matanya, jiwanya, senyumnya, auranya. Aku tidak melihat titik kotor di dirinya."


Yang Fu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia tersenyum jahil sambil berkata,"Benar, Grand Duke memang pintar memilih istri. Mereka berdua adalah pasangan yang sempurna."


Begitu Yang Fu berkata demikian, senyum dan tatapan lembut Xiao Li runtuh dalam sekejap. Xiao Li berdiri, kemudian berjalan ke arah jendela memunggungi Yang Fu sambil mengusap wajahnya menggunakan telapak kanannya kasar.


Xiao Li memaki bodoh dirinya sendiri, mengapa tiba-tiba dia memikirkan tentang Grand Duchess sedalam itu? Gila. Grand Duchess adalah wanita bersuami, dirinya pasti sudah gila.


Sementara itu, kesibukan sepertinya bertebaran di seluruh Ventumia. Aimee sibuk menyiapkan persiapan kedatangan ibunya ke Grand Duchy, lalu mengurus permintaan Althaf. Lalu Istana juga tak kalah sibuk, sang putra mahkota dan pangeran kedua masih berselisih. Kemudian ditambah pesta besar yang akan diadakan di Istana Kekaisaran untuk perwakilan Kekaisaran Timur.


"Jangan memikirkan hal lain, Yang Fu. Tugas kita kemari untuk mewakili Kekaisaran Timur sebagai tanda persahabatan dua Kekaisaran antara Ventumia dan Timur," ujar Xiao Li.


Yang Fu terkekeh, lalu membalas,"Yang mulia, yakinkah anda bahwa yang berpikir aneh-aneh adalah saya?"


Xiao Li menghembuskan napas gusar, lalu kembali duduk di sofa sambil menatap Yang Fu tajam. "Jangan mencoba menggodaku, Yang Fu. Kita tidak boleh melakukan kesalahan di sini."


Yang Fu mengangguk sambil menahan tawa. "Baiklah yang mulia, bawahanmu ini mengerti."


"Setelah satu bulan, kita akan kembali ke Kekaisaran. Aku harap waktu berjalan cepat," ucap Xiao Li sambil menatap ke arah luar jendela. Ya, dia diwajibkan berada di Ventumia selama satu bulan. Sebagai perwakilan terhormat, tentu dia di sini tidak hanya diam dan menikmati Ventumia seolah sedang liburan gratis. Xiao Li akan membicarakan 'bisnis politik' antara Ventumia dan Timur di sini, akan banyak hal rumit yang akan terjadi kedepannya. Belum lagi, baru-baru ini Xiao Li mendengar kabar bahwa diam-diam putra mahkota dan pangeran kedua Ventumia saling menyikut di belakang Kaisar untuk meraih mahkotanya.