The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 22. Gosip Mengenai Grand Duchess



Aimee membuka matanya, lalu dia sedikit terkejut karena mengingat acara pesta penyambutan yang sedikit lagi akan dimulai namun mereka berdua belum melakukan persiapan apa pun. Saat Aimee ingin bangkit, tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang menahan tubuhnya. Aime menunduk, lalu wajahnya segera kembali memerah saat menyadari Althaf tengah tertidur di pelukannya. Pria itu merebahkan kepalanya di dada Aimee.


Aimee kembali berbaring tenang, kemudian memperhatikan wajah Althaf yang terlihat sangat teduh dan damai. Dia tidak pernah melihat wajah Althaf yang sangat damai dan teduh seperti ini.


Tangan Aimee bergerak perlahan untuk mengelus kepala pria itu, mereka berdua saat ini benar-benar tanpa busana di balik selimut. Aimee tersenyum tipis, pria ini terlihat lebih manis saat tertidur, dari pada terbangun dan hanya menampilkan raut wajah galak yang dingin.


“Grand Duke,” panggil Aimee pelan untuk membangunkan pria itu sambil terus mengelus lembut kepala Althaf.


Dalam kondisi masih memejamkan mata, Althaf menjawab,”Althaf. Panggil namaku.”


Aimee terdiam sejenak, kemudian dengan hati-hati menyebut nama pria itu. “Althaf ….” Dia tidak pernah menyebut nama pria itu secara langsung kecuali ketika bertengkar, di luar dari itu Aimee selalu menyebut gelarnya.


“Kita harus menghadiri pesta—“ Belum selesai Aimee bicara, Althaf sudah memotong cepat. “Tidak perlu dipikirkan. Lagi pula yang datang hanya seorang pangeran, bukan Kaisar mereka.”


Aimee mngerutkan keningnya. “Tetapi bukankah sama-sama penting? Lebih baik kita hadir tepat waktu untuk menghormati undangan Kaisar dan kedatangan pangeran Li.”


Althaf menghela napas tipis, lalu membuka matanya perlahan. Bola mata hitam indah itu menatap bola mata cokelat milik Aimee. “Kau merindukan pangeran itu?”


Aimee yang mendengar pertanyaan Althaf semakin memperdalam kerutan di keningnya. “Merindukan?”


Althaf menarik kembali tatapannya, lalu memeluk Aimee lebih erat dan menempelkan kepalanya lebih dalam, seolah Aimee akan direbut oleh seseorang jika dia tidak memeluknya dengan benar.


“Kau terlihat sangat senang jika berada di sekitar pangeran itu,” ucap Althaf.


Aimee menaikkan alis kirinya sekilas. “Aku baru sekali bertemu dengannya, bukankah kamu yang memintaku untuk mendekati pria itu?”


Althaf mengerutkan keningnya, kedua matanya masih terpejam. “Aku menyuruhmu untuk mengambil dukungan pria itu untuk Putra mahkota, namun sepertinya yang terambil dari pria itu adalah hatinya.”


Aimee menghela napas tipis, lalu ikut memejamkan matanya. “Jangan gila.” Lalu bibir Aimee diam-diam tersenyum.


Aimee dan Althaf beberapa menit kemudian pun menyudahi acara pelukan mereka, Althaf memakai bajunya lebih dulu dan berjalan keluar dari kamar. Dia akan bersiap di ruangan lain agar Aimee dapat bersiap di kamar mereka dengan nyaman. Berlianda dan Cecilia bergegas masuk dengan senyum mereka di wajah mereka, sepanjang melayani Aimee, senyum mereka tak kunjung hilang.


Ketika Aimee tengah merias dirinya di depan cermin, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Tanpa menunggu jawaban Aimee, pintu itu langsung terbuka. Aimee menoleh dan melihat Althaf berjalan masuk dengan penampilan yang sangat rapih.


Dia dan Althaf memakai pakaian dengan warna senada, yaitu biru dongker. Keduanya tampak elegan jika dilihat bersandingan nanti.


Berlianda dan Cecilia segera berjalan mundur saat Althaf hendak berdiri di belakang Aimee. Aimee masih duduk di depan cermin, matanya menatap bayangan dirinya dan Althaf yang ada di cermin. Aimee sedikit tersenyum, sedangkan Althaf masih tetap dengan raut wajahnya yang biasa.


Althaf mengadahkan tangan kanannya ke arah Berlianda dan Cecilia, kemudian Cecilia dengan cepat maju dan memberikan kalung yang akan Aimee kenakan ke pesta penyambutan. Kalung dengan liontin berlian unik berwarna putih yang akan Aimee pakai adalah kalung milik bangsawan Aldrich.


Kalung yang hanya ada satu di dunia itu adalah kalung warisan turun temurun dari para Grand Duchess Aldrich sebelumnya, dan kini adalah milik Aimee karena dia menjadi istri Althaf. Althaf memakaikan kalung cantik itu di leher istrinya, kemudian menatap lekat bayangan mereka yang ada di cermin.


“Sudah berapa tahun kau mengenakan kalung ini?” tanya Althaf berbisik.


Aimee terdiam sejenak untuk berpikir, kemudian menajwab,”Satu.”


Althaf menganggukkan kepalanya, lalu mengecup sekilas kepala Aimee dan berkata,”Pakai itu selamanya.”


Di tengah momen menyenangkan ini, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, membuat semuanya menoleh dan melihat Daniel berdiri di sana. “Yang mulia, kereta sudah siap.”


Althaf mengangguk singkat, kemudian menyodorkan sopan telapak tangan kanannya ke Aimee yang disambut dengan senang hati oleh Aimee. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kereta kuda.


Para pelayan yang baru mengetahui dan pertama kali melihat adegan mesra Aimee dan Althaf mematung kaku, kemudian kedua mata mereka berkaca-kaca sambil memberikan salam ke arah Aimee dan Althaf. Setelah Aimee dan Althaf pergi dari Grand Duchy, seluruh pelayan yang ada di Grand Duchy terduduk di lantai dan menangis.


“Astaga … ini adalah akhir dari hidup tegang kita di Grand Duchy,” ucap mereka semua. Untuk orang luar yang melihat adegan ini mungkin akan menganggap mereka terlalu berlebihan, tetapi orang-orang yang tinggal di Grand Duchy tidak akan peduli tentang itu. Mereka yang tinggal di luar Grand Duchy tidak akan pernah bisa mengerti betapa bahagianya mereka saat ini.


Setelah sampai di Istana, kereta kuda yang memiliki lambang keluarga Aldrich itu langsung menarik perhatian besar para tamu undangan. Mereka semua menatap penuh penasaran ke arah kereta Aldrich. Begitu pintu kereta terbuka, rasa penasaran mereka semakin tinggi.


Althaf turun lebih dulu, kemudian mengulurkan tangan kanannya ke dalam kereta. Aimee menyambut tangan Althaf, lalu turun dengan hati-hati dari kereta. Saat Aimee turun inilah, bisikkan demi bisikkan diam-diam berjalan.


“Itu dia Grand Duchess, dia sering keluar ibu kota meninggalkan suaminya karena urusan bisnis. Keberadaannya di Grand Duchy dapat dihitung dengan jari, atau jangan-jangan dia lebih senang menghabiskan waktu di luar karena memiliki simpanan? Haha ….”


“Bukankah mereka sudah satu tahun menikah? Namun mengapa Grand Duchess belum juga hamil? Tidak mungkin Grand Duke tidak subur, pasti masalahnya ada di Grand Duchess.”


“Aku dengar Grand Duke dan Grand Duchess pernah bertengkar hebat beberapa bulan lalu, masalahnya ada di Grand Duchess karena keras kepala. Beliau sepertinya lebih mementingkan bisnis dari pada mengurus suami dan Grand Duchy. Melihat ini, apakah ia benar-benar layak menyandang gelar Grand Duchess? Astaga … Grand Duke terlalu sabar dan dibutakan oleh cinta.”


Aimee sedikit mengeratkan pegangannya pada Althaf saat mereka tengah berjalan masuk ke dalam Istana bersama, dia samar-samar mendengar apa yang orang-orang katakana tentangnya. Aimee tidak takut, tetapi kesal. Wanita itu ingin menarik keluar lidah orang yang baru saja membicarakannya.


Ketika mereka hendak memasuki aula Istana, seorang penjaga pintu mengumumkan kedatangan mereka.


“Yang mulia Grand Duke dan Grand Duchess memasuki ruangan!”


Para undangan elit yang sudah lebih dulu sampai di aula bergegas menoleh ke arah pintu, mereka semua tersenyum dan menyambut Althaf serta Aimee dengan penuh hormat. Aimee menyebat senyum ramah, sedangkan Althaf, pria itu tidak merubah raut wajahnya sama sekali.


Mereka berdua terus berjalan sampai di depan kursi Kaisar. Kaisar melambaikan tangannya ke arah Aimee dan Althaf, mereka berdua pun membungkuk ke arah Kaisar.


“Semoga kejayaan Ventumia berada di tangan anda, panjang umur yang mulia,” ucap Althaf dan Aimee, setelah itu mereka berdua kembali berdiri tegak. Aimee tersenyum ke arah Kaisar.


“Grand Duchess, bagaimana kabarmu? Apa bisnismu lancar?” tanya Kaisar, pria paruh baya itu bertanya dengan aura khas seorang bapak-bapak tua, namun memiliki wibawa yang luar biasa.


Aimee mengangguk. “Lancar yang mulia, semua ini karena dukungan suami saya dan restu yang mulia Kaisar.”


Kaisar mengangguk, saat pria itu hendak bicara lagi, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita.


“Grand Duchess!”


Aimee yang mengenali suara itu segera menoleh, lalu tersenyum saat melihat wanita dengan gaun merah muda. Wanita itu adalah anak ketiga dari Kaisar, Putri Margaret. Margaret adalah teman masa kecilnya, mereka berdua sering bermain bersama karena memang Aimee ditunjuk langsung untuk menjadi teman Margaret kala itu. Hanya anak dari kalangan Duke lah yang diperbolehkan menjadi teman dekat Margaret di Istana. Kaisar sangat menjaga ketat dan menyayangi putri satu-satunya ini.


Margaret bukan anak dari mendiang Permaisuri yang telah meninggal tiga tahun yang lalu, dia adalah anak dari selir pertama Kaisar. Issac, Elston, dan Margaret adalah saudara yang berbeda ibu. Margaret jauh dari dunia politik, karena Kaisar memang tidak membiarkan putrinya ikut campur dalam urusan politik hingga nanti dapat membahayakan putrinya.


Margaret juga dekat dengan Putra mahkota dan pangeran kedua, bahkan wanita itu sampai saat ini tidak mengetahui perseteruan takhta antara kedua kakak laki-lakinya tersebut.


“Bagaimana kabar anda, Putri?” tanya Aimee.