The Grand Duchess Aldrich

The Grand Duchess Aldrich
Bab 24. Perasaan Gila Pangeran Kedua



Di tengah keramaian pesta, Aimee dan Althaf fokus berbicara dengan Kaisar, Putra Mahkota, Xiao Li, dan pangeran kedua. Walaupun pangeran kedua dan putra mahkota tidak aku di baliki layar, namun di depan Kaisar mereka berdua harus terlihat akur.


Saat sibuk mendengarkan, Aimee tiba-tiba menoleh karena mendengar seorang pelayan berdiri di belakangnya dan berkata,”Yang mulia Grand Duchess, yang mulia Putri Margaret memanggil anda ke Istana-nya.”


Seluruh orang yang mendengar ini menghela napas, mereka hanya bisa diam dengan sifat kekanakan Margaret. Bagaimana mungkin Margaret meminta Aimee mengunjunginya di pesta besar seperti ini? Sebenarnya hal ini sedikit tidak sopan.


“Grand Duke, apa anda tidak keberatan jika Grand Duchess mengunjungi Istana Putri sebentar?” tanya Kaisar, dia berusaha membujuk Althaf agar mengizinkan Aimee mengunjungi putrinya. Kaisar pasti akan menuruti seluruh kemauan putrinya bahkan jika harus dicap sebagai tindakan tidak sopan sekaligus.


Aimee hanya diam, dia sebenarnya sedang sibuk larut di dalam pikirannya sendiri. Margaret memintanya datang ke Istana wanita itu di acara besar seperti ini? Rasanya seperti tidak mungkin, bahkan jika Margaret memiliki sifat kekanakan sekalipun, Aimee yakin Margaret masih mengerti antara tindakan yang boleh dilakukan atau tidak. Mendengar wanita itu memintanya mengunjungi Istana-nya, itu agak aneh bagi Aimee. Terlebih lagi, dia dan Margaret telah berteman lama, Aimee sangat yakin Margaret tidaklah bodoh. Yang kekanakan itu adalah sifatnya, bukan otak Margaret sendiri.


Althaf yang ditanya seperti itu oleh Kaisar di depan umum tidak mungkin menjawab ‘tidak’, bisa-bisa bangsawan yang berada di pihak pangeran kedua dan memusuhinya akan mengambil celah untuk menjatuhkan martabatnya.


Sebelum benar-benar menjawab, Althaf lebih dulu melirik Aimee. Melihat wanita itu menatapnya dengan penuh keyakinan, Althaf pun menghela napas tipis diam-diam dan menjadi sedikit tenang. Baiklah … dia akan percaya bahwa Aimee akan baik-baik saja, dia yakin Aimee bukanlah wanita bodoh yang berani menghadapi risiko di luar kemampuannya.


“Tentu saja, yang mulia. Putri Margaret saat ini pasti membutuhkan teman untuk menenangkan dirinya,” ujar Althaf, membuat Kaisar tersenyum lega.


Aimee kembali tersenyum ke arah kaisar, kemudian membungkuk ke arah pria tersebut sambil berkata,”Kalau begitu, saya izin pamit undur diri untuk menemui sang Putri. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada para tamu undangan lain karena tidak bisa turut hadir dalam pesta sampai selesai.”


Aimee bergegas keluar dari ruang aula setelah mendapatkan jawaban dari Kaisar dan respon singkat yang ramah dari para bangsawan lainnya. Raut wajah Aimee berubah menjadi sangat dingin dan datar begitu keluar dari ruang aula, karena dia yakin, panggilan yang mengatas namakan Margaret adalah jebakan.


Kedua mata Aimee memperhatikan sekitar dengan waspada. Dia diam-diam selalu membawa belati yang terikat di paha kanannya dan ditutupi oleh lapisan gaun yang kini tengah ia pakai.


Di tengah perjalannya menuju Istana Margaret, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Aimee. Aimee terkejut, wanita itu mencengkeram balik tangan oramng tersebut, namun tenaganya kalah kuat. Tubuhnya ditarik ke sudut dinding Istana yang jarang dilalui para pelayan atau anggota Istana lainnya.


Mulut Aimee ditutup menggunakan telapak tangan kiri pria tersebut, kedua tangannya ditahan. Aimee melotot marah saat mengetahui pria itu adalah pangeran kedua, Elston Cieolo.


“Susah sekali menemuimu, kepulangan dan kepergianmu dari ibu kota sulit diketahui, sepertinya Althaf yang mempermainkan informasinya. Saat sampai di ibu kota pun kau jarang keluar dan lebih banyak berdiam diri di Grand Duchy,” ucap Elston, kemudian kanannya dengan cepat memencet sebuah titik akupuntur di leher Aimee, membuat Aimee kaku dan tidak bisa bergerak.


Elston melepas dekapan tangannya dari mulut Aimee dan cengkeraman tangannya. Elston menyeringai tipis, matanya yang seperti serigala menatap Aimee dalam. Pria itu meletakkan kepalanya di bahu Aimee, bersandar.


“Harum tubuhmu tidak pernah berubah,” ucap Elston, kedua matanya terpejam.


“Kep**at, lepaskan kunci ini dari tubuhku!” balas Aimee, dia benar-benar marah dan jijik dengan Elston.


Elston kembali membuka matanya, kemudian menatap wajah Aimee yang merah karena marah. Pria itu kemudian memeluk tubuh Aimee erat. “Yang seharusnya marah saat ini adalah diriku. Kau lebih memilih Althaf ketimbang diriku, padahal aku sudah menunggumu lebih dulu dari Althaf sejak kau masih dengan kekasih lamamu yang memiliki gelar rendah tersebut.”


Aimee menggertakkan giginya kesal. “Untuk apa aku memilihmu? Mendiang ayahku sudah lebih dulu memberiku amanat untuk menikah dengan Grand Duke!”


Elston mengeratkan pelukannya, kening pria itu mengerut kesal. “Aku lebih bisa melindungimu ketimbang Althaf. Aku juga lebih pandai memperlakukanmu dengan baik ketimbang pria itu. Jangan kira aku tidak mengetahui hubungan buruk rumah tangga kalian.”


“Kau bicara seperti orang gila!” balas Aimee, dia muak mendengarkan ocehan Elston.


Aimee menarik napas dalam, tubuh Aimee bergetar di dalam pelukan Elston. Wanita itu berusaha keras untuk melepaskan kunci syaraf yang tengah Elston lakukan pada tubuhnya.


“Mencintaiku? Malam itu … malam itu saja kau berusaha membunuhku melalui tangan Thomas Leandra!” ujar Aimee.


Elston yang mendengar ini segera menegakkan tubuhnya, kemudian menatap Aimee sendu. “Itu karena aku marah denganmu! Kau lebih memilih Grand Duke dan bahkan melakukan makan malam bersama pria itu dua hari setelah kematian sang Duke. Itu membuatku marah, cemburu. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka pria itu juga tidak akan bisa memilikimu. Aku lebih senang kau mati di tanganku, dan menyimpan jasadmu di ruang pribadiku. Hal ini agar hanya aku yang dapat memandangimu, hanya mataku yang tertuju padamu, tidak ada pandangan kotor lainnya dari mata orang lain.”


“Pria gila!” balas Aimee, dia tidak menyangka Elston memiliki pola pikir yan menyeramkan seperti itu. Pria di depannya ini sepertinya sudah gila karena perselisihan takhta dengan Putra mahkota dan berakhir menjadi psikopat gila.


Elston tiba-tiba terkekeh saat memandangi wajah Aimee, membuat Aimee bingung. Elston kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Aimee, lalu mengecup kening Aimee.


Elston mengelus leher Aimee yang jenjang, kemudian mengambil tangan kiri Aimee dan melepas sarung tangan yang kini Aimee pakai. Begitu melihat pergelangan tangan Aimee yang memar membentuk cengkeraman tangan Althaf, raut wajah Elston berubah menjadi merah padam karena marah.


“Pria itu yang melakukan hal ini kepadamu?” tanya Eslton, kilatan kemarahan terlihat di matanya. Rambut panjang Elston yang berwarna merah orange itu berkibar lembut terhembus angin.


Aimee menjawab ketus. “Bukan urusanmu!”


Elston mencengkeram pergelangan tangan Aimee yang memar karena respon ketus Aimee tadi, hal ini membuat Aimee meringis sakit. Elston tak lama kemudian langsung mengendurkan cengkeramannya, raut wajahnya berubah menjadi sendu. Pria itu memiliki perubahan suasana hati dan raut wajah yang sangat cepat, membuat Aimee menatap ngeri. Dia takut Elston akan melakukan yang tidak-tidak kepada dirinya.


“Sakit? Maafkan aku … tapi tolong lain kali saat aku bertanya jawab dengan benar, aku bertanya dengan perasaan yang tulus. Aku khawatir padamu,” ucap Elston sembari mengelus lembut memar Aimee dan pipinya.


Aimee memejamkan matanya, dari ujung kepala sampai kaki, wanita itu sudah merinding luar biasa karena sentuhan tangan Elston. Dia benar-benar merasa jijik.


“Jika Grand Duke tahu—“ Saat Aimee ingin bicara, Elston memotong cepat. “Apa? Grand Duke akan membunuhku? Pria itu bahkan tidak benar-benar peduli padamu, apa yang kau harapankan dari pria semacam itu?”


“Dia mencintaiku,” balas Aimee, membuat Elston terdiam. Tak lama kemudian, Elston tertawa. “Apa yang kau bicarakan? Kau percaya dengan sikap palsunya yang hanya terjadi jika kalian berada di depan umum tersebut? Kau mungkin bisa mengelabui semua orang, tetapi tidak dengan aku yang mencintaimu.”


“Tidak. Grand Duke memang mencintaiku,” ujar Aimee mantap, membuat Elston tersenyum kesal.


“Lalu … apa kau juga mencintainya? Kau yakin dengan cintamu?” tanya Elston, bibir pria itu masih tersenyum walaupun menahan kesal karena ucapan Aimee.


Aimee terdiam sesaat, lalu menjawab,”Ya. Aku, Aimee Aldrich, mencintai suamiku. Althaf Aldrich.”


Paa!!


Satu tamparan mendarat di pipi Aimee, Elston menampar pipi Aimee!


“Aku sangat kesal dan terganggu saat mendengarnya, maaf.” Raut wajah pria itu berubah datar dan dingin, tidak ada lagi senyum di sana.