
Sebelum Defan pulang. Anin sudah menyiapkan makan malam untuk suaminya. Sepulang mengajar, dia segera pulang ke rumah. "Udah siap semua, tinggal mandi. Sekalian nunggu Defan pulang." gumamnya melepas celemeknya.
Beberapa assisten rumah tangga berbisik-bisik karena Anin mau turun ke dapur langsung untuk memasak. Mereka merasa senang, karena memiliki majikan yang begitu rendah hati.
Meskipun begitu, tetap aja ada yang nyinyir. Salah satunya pembantu rumah tangga yang paling muda. Dia menganggap Anin hanya beruntung saja memiliki suami seperti tuan-nya. "Halah, dia cuma beruntung aja.." katanya.
"Mau dia beruntung, tapi itu memang sudah sewajarnya nyonya bertemu dengan tuan Defan. Mereka sama-sama memiliki hati yang baik." kata salah satu dari mereka yang suka dengan kesopanan dan kebaikan Anin.
"Lagian kamu kenapa sih? Ingat, kamu cuma pembantu.." imbuhnya.
"Ya, ya, ya.."
"Buruan kembali kerja! Tuan sudah pulang!" perintah kepala pelayan di rumah tersebut. Dia telah mendengar suara mobil tuan-nya di depan rumah.
Defan masuk dan melihat makanan telah terhidang. Kelihatannya sangat lezat. Kruyukk. Kruyukk. Perut Defan pun berbunyi. Cacing di perutnya meronta minta makan.
"Tuan sudah pulang? Mari makan!" kata kepala pelayan.
"Nyonya sudah pulang?" Defan teringat akan istrinya.
"Sudah dari tadi. Ini semua yang masak nyonya." kata kepala pelayan itu lagi.
Defan memicingkan matanya. Dia mencicip salah satu masakan yang tersaji. "Hmm, enak juga." gumamnya.
"Nyonya dimana?"
"Kayaknya mandi.." Defan segera bergegas ke kamar. Dalam benaknya terlintas sesuatu hal yang untuk menjahili istrinya.
Dengan pelan dia masuk ke kamar. Dia melihat Anin sedang berdiri di depan cermin. Defan pun tersenyum kecil. "Emm, wangi bener.." kata Defan mengendus-endus tubuh Anin.
"Harusnya kalau mandi nungguin aku." Defan mencium ujung rambut Anin.
"Apaan sih mes*m.." Anin mendorong Defan agar menjauh.
"Kita mau honeymoon kemana?" tanya Defan lagi.
"Honeymoon apa sih, nggak usah aneh-aneh deh! Buruan mandi, terus makan! Udah aku masakin." Anin mengalihkan pembicaraan.
"Istri yang baik.." Defan tiba-tiba mencium pipi Anin membuat Anin terbelalak. Tapi, setelah itu Defan mulai berlari ke kamar mandi sebelum Anin mencak-mencak.
"Defannnn..." benar saja, Anin langsung berteriak.
"Iya sayank, mau mandi bareng?" kepala Defan nongol lagi.
Anin yang kesal segera mencari sesuatu untuk dilempar ke Defan yang begitu menjengkelkan. Dengan cepat, Defan masuk kembali ke kamar mandi.
"Dasar stress.." umpat Anin lalu kemudian dia menuju meja makan.
Sambil menunggu Defan. Ia main game di ponselnya. Tapi, lagi-lagi Defan berbuat usil dengan merebut ponsel Anin. "Defannn, kembaliin!" serunya dengan kesal.
Defan mencuri nomer Anin. Dengan sengaja melakukan panggilan ke nomernya sendiri. Lalu dia mengirim pesan ke nomer Anin. "Itu nomer aku. Di save dengan nama suami sayank!" kata Defan dengan tersenyum.
"Males.." Anin dengan kesal merebut ponselnya kembali.
"Baru sehari aja udah bikin stress.. Lama-lama aku bisa gila.." gerutu Anin.
"Tergila-gila sama aku?"
"Terserah.." Anin semakin kesal. Sedangkan Defan malah cengar cengir tak jelas.
Anin tidak mau lagi meladeni Defan yang usil. Tapi, dia tetap melayani menyiapkan makan untuk Defan.
Selesai makan. Defan dan Anin menonton televisi sambil ngemil. Untuk masalah selera film, kebetulan selera Anin dan Defan sama. Genre yang mereka suka adalah ber-genre horor.
"Kamu nggak takut lihat film kayak gini?" tanya Defan.
"Nggak. Kisah itu sama dengan kisah hidupku yang tragis." Defan menatap Anin dengan lekat.
"Aku sama sekali belum pernah lihat orang tuaku. Tragis nggak?" imbuh Anin dengan tersenyum kecil.
Defan mengakui jika mental Anin benar-benar kuat. Bahkan dia masih bisa tersenyum. Padahal jelas di dalam hatinya dia merasa sangat sedih.
Defan menarik Anin ke dalam pelukannya. "Kalau mau nangis, nangis aja!" katanya.
"Nggaklah, ngapain juga nangis. Aku nggak secengeng itu ya.." kata Anin.
****
Di sebuah kafe. Rafa sedang makan malam dengan seorang wanita. Mereka baru saja berkenalan. "Makasih ya karena udah mau ketemu. Nggak nyangka kalau kamu lebih cantik aslinya." kata Rafa memuji wanita tersebut.
Wanita itu tersenyum malu-malu. "Kamu juga ganteng." kata wanita tersebut sembari tersenyum.
Namun, tiba-tiba Sandra datang mendekat dan langsung mendorong kepala Rafa pelan. "Ini kelakuan kamu dibelakang aku? Kamu selingkuh? Kamu nggak tahu diri banget. Nggak inget siapa yang beliin baju ini, sepatu ini, dasi celana ini juga." kata Sandra membuat Rafa dan wanita itu terkejut.
"Dia siapa Raf?" tanya wanita yang bersama dengan Rafa tersebut.
"Aku pacarnya. Calon istrinya.." jawab Sandra dengan lantang membuat beberapa pengunjung menoleh.
"Bukan. Bukan." tentu saja Rafa menyanggahnya. Ia merasa kesal karena Sandra begitu sangat menjengkelkan.
"Sebaiknya kalian urus dulu urusan kalian." kata wanita itu kemudian meninggalkan kafe tersebut.
"Bukan, dia bukan pacar aku. Aku jomblo.." Rafa mengejar wanita tersebut dan mencoba memberi penjelasan.
Sementara Sandra terbahak karena berhasil membuat Rafa kesal. "Sukurin, siapa suruh rese ke aku.." gumamnya penuh kemenangan.
Sandra kemudian keluar dari kafe teresebut. Tadi, dia hanya melihat Rafa bersama wanita saat hendak bekerja. Tapi, muncullah ide jahil untuk mengerjai Rafa.
Sandra berjalan menuju kafe tempat dia bekerja. Tapi, Rafa yang marah segera menarik tangannya. "Ikut aku!"
"Nggak lepasin! Aku mau kerja." jawab Sandra berusaha meronta.
"Sebagai calon istri kamu harus nurut apa kata suami!" kata Rafa dengan kesal. Karena gara-gara Sandra, dia tidak jadi pedekate dengan wanita tadi.
"Siapa calon istri kamu? Lepasin!" Sandra masih berusaha meronta, tapi dia tidak bisa melawan kekuatan Rafa.
Bukk. Blam.
Rafa melempar Sandra ke dalam mobilnya. "Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Sandra berusaha membuka pintu tapi langsung ditahan oleh Rafa.
"Aku mau kerja." seru Sandra lagi.
"Karena kamu udah ganggu kencan aku. Kamu harus temani aku!" Rafa segera menjalankan mobilnya.
"Aku harus kerja buat bayar kos dan biaya kuliah." seru Sandra lagi.
"Aku ganti gaji kamu." jawab Rafa dengan dingin.
"Aku nggak mau."
"Kamu nggak punya pilihan."
Rafa mengendarai mobilnya sampai ke perbatasan kota. Di sebuah tempat yang berada di ujung tebing. Dia segera menghentikan mobilnya dan melempar jaket yang ia kenakan ke Sandra.
Rafa keluar dari mobil diikuti oleh Sandra. Matanya menatap jauh ke arah lautan lepas di depannya. "Ngapain kita kesini? Kayak nggak ada tempat lain aja." gerutu Sandra tapi tetap menemani Rafa.
"Kamu tahu nggak kalau kamu nyebelin banget." kata Rafa dengan kesal.
"Aku baru saja mau dekat dengan wanita, tapi kamu ganggu." imbuhnya dengan kesal.
"Sukurin." Rafa melotot mendengar jawaban Sandra yang seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
Ia pun mendorong kepala Sandra dengan jari telunjuknya. "Aish.. Pokoknya kamu harus gantu rugi gaji aku!" seru Sandra juga masih kesal. Karena gara-gara Rafa, dia tidak bisa bekerja.
"Sukurin." Rafa membalas perkataan Sandra.
"Ish.. Nyebelin..." seru Sandra sambil memukul lengan Rafa. Sementara Rafa berusaha menepis tangan Sandra yang selalu ingin memukulnya.
"Kalau dingin masuk ke mobil aja!" kata Rafa pelan.
"Aku masih ingin disini." imbuhnya.
Meskipun dia kesal dengan Rafa. Tapi dia tidak mau meninggalkan Rafa. Karena dari sorot mata Rafa, ada sesuatu yang membuatnya sedih.
"Anin kalau lagi sedih atau galau juga selalu pergi ke tempat dimana dia bisa melihat langit. Katanya dengan melihat langit dia melihat ayah dan ibunya diatas sana." kata Sandra.
"Lah, sama kayak Defan. Dia juga suka banget lihat langit. Alasannya juga sama, dia bisa melihat ibu dan papanya diatas sana. Mereka kayaknya benar-benar berjodoh." kata Rafa.
"Kalau kamu pasti suka kesini kalau sedih?" Sandra menebak.
"Hmm.." Rafa menganggukan kepalanya kemudian menunduk sebentar.
"Alasannya?"
"Hah.." terdengar helaan nafas pelan dari Rafa.
"Waktu aku masih kecil, orang tuaku mengalami kecelakaan pesawat yang jatuh disana." Rafa menunjuk laut di depannya.
"Saat melihat laut itu, aku merasa mereka berdiri disana dengan tersenyum ke arah aku. Seketika, rinduku terobati." lanjut Rafa dengan sedih. Suaranya terdengar serak.
Dan Sandra sama sekali tidak menyangka jika hidup Rafa begitu tragis. Sandra menepuk pundak Rafa pelan. "Kamu anak hebat. Orang tua kamu pasti bangga sama kamu." tutur Sandra dengan lembut.
Rafa menoleh dan tersenyum menyambut perkataan Sandra yang berusaha menyenangkannya.