Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
8. Kehidupan Baru



Mata Anin membulat saat melihat dokumen di depannya. Ternyata Defan telah menyiapkan semuanya termasuk dokumen nikah mereka. "Ayo tanda tangani!" perintah Defan.


"Ayo! Katanya mau nikah sama aku!" lanjutnya.


Anin menghela nafasnya. Itu memang keinginannya untuk menikah dengan Defan. Dia secara sadar ingin menikah dengan Defan. Tapi tidak menyangka jika ternyata Defan telah menyiapkan semuanya.


"Aku tanya dulu sebelum aku tanda tangan."


"Silahkan!" Defan mempersilahkan Anin untuk mengajukan pertanyaan.


"Apa bener kamu nikahin aku sebagai pelampiasan karena calon istri kamu tidak ditemukan?" tanya Anin.


Defan terdiam. Dia terus menatap Anin dengan tangan melipat di dada dan kaki disilangkan. "Maaf,, maaf, lupain aja. Aku nggak peduli apa alasan kamu nikahin aku." Anin merasa bersalah karena menanyakan hal yang membuat Defan canggung.


Dia segera menanda tangani dokumen tersebut. Dan dia resmi menjadi istri Defan Aleandro.


"Oke.. Mulai sekarang, kamu akan tahu seberapa hebatnya sikecil." bisik Defan yang membuat Anin membulatkan matanya.


Awalnya dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Defan. Akan tetapi, kemudian dia teringat akan surat yang ia tulis waktu itu. "Ish.." Anin memutar bola matanya.


"Mau sekarang atau kapan?" tanya Defan dengan tersenyum jail. Dia juga mendekati Anin membuat Anin berteriak tak karuan.


"Apaan sih? Defan..." serunya dengan cukup kencang.


Meskipun Anin berteriak dengan lantang. Tapi, tidak seorang pun yang menolongnya. Semua assisten rumah tangga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Apalagi mereka menganggap jika majikan mereka sedang bercanda.


"Aku punya syarat." kata Anin mengalihkan pembicaraan.


"Apa lagi?"


"Aku nggak mau ada acara apapun untuk hubungan kita ini. Ya biarin seperti ini aja tanpa perlu dipublikasikan." pinta Anin. Dia sangat paham jika hubungan mereka terpublikasi, dia bukan hanya akan menjadi artis dadakan, tapi juga akan banyak orang yang membencinya.


"Setuju..." sahut Defan dengan cepat.


Alasannya, pertama, Defan tidak mau mengecewakan ibunya Ana. Kedua, itu lebih baik karena bisa membuat Anin terhindar dari kejahatan rival bisnisnya.


"Tapi kamu harus tetap layani aku sebagai suami." imbuh Defan.


"Hmm.. Mes*m.." Anin mendorong tubuh Defan pelan.


"Aku mau ke kampus." kata Anin saat beranjak dan hendak pergi.


"Mulai hari ini kamu pindah kesini! Nanti biar Rafa yang bawa barang-barang kamu." imbuh Defan.


"Ya.."


"Aku anter!" Defan berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Anin.


"Nggak usah."


"Keselamatan kamu adalah tanggung jawabku." Anin pun memutar bola matanya. Terpaksa dia menurut. Dia pergi ke kampus dengan diantar oleh Defan untuk pertama kalinya.


"Pulang dari kampus kamu masih ngelatih dansa?" Anin segera menganggukan kepalanya.


"Kalau itu boleh. Tapi kamu tidak diperbolehkan bekerja di bar!" perintah Defan.


"Ya.."


"Ini apa?" tanya Anin saat Defan menyodorkan sebuah kartu untuknya.


"Kamu bisa belanja dengan kartu ini sepuasnya."


"Nggak perlu-."


"Ini kewajiban kamu sebagai istriku. Menghabiskan uangku." kata Defan sembari tersenyum kecil.


Sementara Anin hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia baru memahami kehidupan orang kaya. Lagipula dia juga tidak mau berdebat dengan Defan jika menolak kartu tersebut.


....


"Masih dong.. Iya maaf, ceritanya panjang.." Anin memeluk Sandra untuk merayunya agar sahabatnya itu tidak marah.


"Terus siapa tuh temennya Defan? Rafa? Iya itu, brengs*k bener dia, awas aja kalau ketemu, pasti aku hajar dia..." cerocos Sandar mengutarakan kekesalannya terhadap Rafa akibat insiden pagi tadi.


Pagi hari.


Rafa diperintahkan Defan untuk membereskan barang-barang milik Anin. Karena mereka telah menikah, Defan ingin Anin tinggal satu rumah dengannya.


Namun, saat Rafa datang ke kos Anin untuk membereskan barang-barang Anin. Ia dihentikan oleh teman sekamar Anin, Sandra.


Sandra yang terkejut dengan apa yang Rafa lakukan mulai berdebat dengan Rafa. Keduanya terlibat perkelahian sampai akhirnya Rafa terkena pukulan Sandra.


Rafa meminta Sandra untuk membawanya ke rumah sakit. Kalau tidak, Rafa akan menuntun Rafa atas tuduhan penganiayaan.


"Ish brengs*k banget tuh cowok, nyebelin." seru Sandra saat teringat kejadian tadi pagi.


Sementara Anin malah terbahak mendengar cerita Sandra. "Awas jangan terlalu benci, nanti bisa bener-bener cinta loh.." kata Anin menggoda Sandra.


"Idih amit-amit.. Nggak akan pernah terjadi." seru Sandra dengan kesal.


Anin kembali hanya tertawa melihat ekspresi Sandra. "Oh iya, kenapa kamu akhirnya setuju menikah dengan Defan? kata kamu ceritanya panjang ceritain dong!" pinta Sandra yang penasaran.


Anin pun menghela nafas. Dia memilih tempat duduk di bawah pohon. Dia mulai menceritakan dari awal ketemu, sampai dirumah neneknya beberapa hari yang lalu. Kemudian tentang kejadian semalam.


"Aku sampai bilang dalam hati, kalau sampai ada yang tolongin aku, aku akan nikahin dia jika dia lelaki. Dan ternyata Defan yang selamatin aku."


"Aku nggak tahu kenapa Tessa bisa segitu bencinya sama aku. Apakah itu karena dia pernah ditolak oleh Arya dulu?"


"Terlaluan sekali Tessa. Dia tidak pernah bosan menyakiti kamu." Sandra langsung memeluk Anin dengan erat. Dia bersyukur karena Anin selamat dari kejadian mengerikan tersebut.


"Untung kamu nggak kenapa-napa." lirihnya.


"Tapi, kamu akan tinggal sama suami kamu. Aku tinggal sendirian." gumamnya.


"Jangan gitu dong. Gimana kalau kamu ikut tinggal sama aku? Aku akan bilang ke Defan, dia pasti setuju kok."


"Nggak usah. Aku nggak mau ganggu kalian. Aku nggak apa kok tinggal sendiri. Asal kamu jangan lupain aku!" Anin memeluk Sandra.


"Nggak mungkinlah. Kamu sahabat terbaik aku. Kamu sudah lebih dari saudara buat aku. Nggak mungkin aku lupain kamu." tutur Anin.


....


Di kantor.


Rafa mengeluh karena bibirnya bengkak akibat pukulan Sandra. "Emang kampret tuh cewek. Ah wajah tampanku.." katanya sembari bercermin.


"Untung cantik, kalau nggak udah aku, hih..." imbuhnya masih kesal.


"Def, kamu harus tanggung jawab!"


"Kamu hamil?"


"Ish.. Susah omong sama kamu." gerutu Rafa.


"Butuh bantuan?"


"Ah... Capek.." Rafa yang kesal kemudian meninggalkan ruangan Defan.


"Jangan lupa istirahat!"


Balm..


Rafa menutup pintu ruangan Defan dengan cukup keras. Sedangkan Defan hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. Untung saja dia sedang dalam suasana hati yang baik. Jadi dia tidak mempermasalahkan tindakan kesal Rafa barusan.


"Anin sedang apa ya?" Defan sedang memikirkan Anin.


Tiba-tiba dia terperangah. "Aish.. Kenapa aku nggak minta nomer hape dia?" dia mulai merasa kesal dengan kebodohannya sendiri.