Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
14. Kesal



Di kampus.


Mata Tessa melotot saat melihat Anin keluar dari mobil mewah. Wajahnya yang manis berubah menjadi kusam. Dia iri kenapa Anin bisa seberuntung itu. Kakinya melangkah mendekati Anin. "Oh, jadi om-om itu yang kasih uang ke kamu?" tanyanya dengan sinis.


Om?


Anin pun tersenyum kecil. Mungkin Tessa belum tahu siapa yang mengantar Anin tadi. Namun, Anin terlalu malas meladeni provokasi Tessa. Sehingga dia memilih untuk pergi begitu saja tanpa menanggapi ocehan Tessa. Tidak penting, menurutnya.


"Oh ya, kapan hari itu kamu bilang kamu nolak Defan Aleandro kan? Ternyata kamu cuma halu. Hahaha." tutur Tessa sembari tertawa kecil. Dia bahkan mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Anin.


"Tadi pagi Defan kirim pesan ke aku. Dia ajak aku ketemu malam ini." imbuh Tessa.


Akan tetapi, Anin tetap tidak mempedulikan perkataan Tessa. Meskipun sebenarnya dia agak kesal. Tapi, dia sadar siapa dirinya dan apa posisinya.


Anin mempercepat langkahnya meninggalkan Tessa yang bangga karena diajak kencan Defan. Entah kenapa hatinya terasa seperti tertusuk. Berulang kali dia memegangi dada dan mengatur pernafasannya. Ada sesuatu yang aneh dan terasa tak enak di dalam hatinya.


Bahkan saat bertemu Sandra, wajah Anin masih murung. Membuat Sandra menjadi bertanya-tanya. "Kenapa muka kamu kusut gitu? Belum sarapan?" tanya Sandra menyodorkan sebungkus roti untuk Anin.


"Makasih, tapi aku udah sarapan tadi." Anin menolak pemberian Sandra. Bukan karena apa, tapi karena dia memang sudah kenyang.


"Terus kenapa murung?" Sandra kembali memasukan roti itu ke dalam tasnya.


Anin terdiam. Dia bingung gimana ngomongnya ke Sandra. Nggak mungkin kan dia bilang dia kesal karena Defan mengajak Tessa kencan. "Nggak kenapa kok, cuma capek aja." jawab Anin.


"Defan pasti hebat banget yak sampai kamu kelelahan kayak gini?" Sandra tersenyum senang sembari menatap Anin lekat.


"Idih, apaan sih.." wajah Anin seketika menjadi merah.


"A..cieee.." Sandra menggoda Anin kembali.


"Yuk masuk!" Anin yang malu menarik tarik Sandra agar segera masuk ke kelas.


Sementara di kantor Defan.


"Gimana?" tanya Defan kepada salah satu anak buahnya.


"Sesuai rencana bos." jawab anak buah tersebut.


"Bagus. Pastikan tidak ada masalah sama sekali. Kasih pelajaran ke dia karena sudah berani melakukan hal keji!" perintah Defan. Wajahnya berubah menjadi bengis.


Rafa dan Julian pun sempat terkejut melihat perubahan Defan. Orang yang selama ini nampak tenang. Bahkan tidak peduli saat dihina atau direndahkan. Bisa berubah menjadi kejam dan bengis.


"Def, kamu yakin?" Rafa sempat bertanya dengan ragu-ragu.


"Hmm.." jawab Defan singkat.


"Kak Defan kenapa?" Julian menjadi penasaran.


"Lebih sedikit kamu tahu. Akan lebih baik." jawab Rafa yang membuat Julian seketika terdiam.


"Mama tahu kalau kamu ikut aku?"


"Sudah pasti tahu. Kemana lagi aku pergi kalau nggak ke tempat kakak." jawab Julian dengan santai.


"Kak Reno ingin ketemu kakak, nanti malam kita makan bareng di kafe biasa yuk!" ajak Julian.


Mendengar nama Reno. Wajah Defan berubah lembut. "Oke. Kamu jemput Reno nanti sama Rafa!" jawabnya.


Sejujurnya, Defan juga kangen dengan kebersamaannya bersama Reno dan Julian. Dulu, sewaktu papa mereka masih hidup. Mereka sering diajak makan malam di kafe milik kerabat papa mereka.


Ketiganya merasa sangat bahagia. Sampai mereka tumbuh dewasa, sesekali mereka akan makan bersama di kafe yang penuh dengan kenangan tersebut.


Namun, karena kesibukan masing-masing. Mereka sudah sangat jarang bisa berkumpul bersama lagi.


....


Hari semakin siang. Sinar matahari semakin terik. Anin berjalan bersama dengan Sandra di taman sekitar kampus. "Panas banget. Kamu mau es nggak?" keluh Sandra. Dia juga menawari Anin minuman dingin.


"Boleh." jawab Anin yang juga kepanasan.


"Kamu tunggu disini aja, biar aku beliin." kata Sandra.


"Oke thanks."


Anin pun menemukan tempat duduk yang rindang. Dibawah pepohonan besar ada sebuah bangku. Anin menunggu Sandra disana.


"Iya. Aku aja sempat nggak percaya. Tapi ini beneran dia." Tessa menunjukan foto profil Defan.


"Waow.."


"Menurut kalian aku harus gimana? Aku harus dandan yang cantik.." Tessa dengan heboh pamer di depan Anin.


"Yang pasti kamu nggak boleh sok jual mahal. Jangan sok nolak Defan, padahal deketin om-om." sahut Wina sengaja mengatakan hal tersebut sembari menatap Anin.


"Maksud kamu apa?" tanya Anin yang mulai tersulut.


"Kenapa? Kamu tersinggung? Itu kan fakta." jawab Wina dengan sinis.


"Fakta apa? Jangan sok tahu!" seru Anin dengan kesal.


"Lagian aku nggak percaya kalau itu Defan. Bisa aja orang yang ngakunya Defan." Anin tersenyum kecil sembari memutar bola matanya. Dia masih ingin berpikiran positif terhadap Defan.


"Bilang aja kalau kamu iri." ejek Rani.


"Ngapain aku iri sama orang halu." jawab Anin dengan santai. Dia masih tetap berpikiran bahwa lelaki itu hanya mengaku-ngaku saja sebagai Defan.


"Buktikan Sa, kalau itu memang Defan Aleandro, biar dia mingkem!" kata Wina. Ia menyuruh Tessa untuk menelepon Defan agar Anin percaya jika itu beneran Defan.


Tessa menelepon nomer tersebut. Awalnya tidak diangkat. Dan tentunya itu membuat Anin tersenyum meledek. Tapi, Tessa tidak menyerah. Sampai akhirnya panggilan kedua, Defan menerima panggilan tersebut.


"Kenapa? Aku masih meeting. Nanti aku hubungi!" kata seseorang dari balik telepon.


Anin terbelalak karena suara itu memang suara Defan.


"Nanti malam jadi kan makan malam? Aku harus pakai baju warna apa ya biar kamu suka?" Tessa bertanya dengan gaya genit. Sekaligus dia pamer di depan Anin.


"Nanti aku kirim gaun ke rumah kamu." jawab Defan lalu segera mematikan teleponnya.


"Kenapa diem? Iri ya? Makanya jangan sok jual mahal." ucap Wina ke Anin yang seketika langsung terdiam.


"Yuk ke salon, aku harus siap-siap dan harus tampil cantik di depan Defan." Tessa mengajak temannya meninggalkan tempat tersebut. Meninggalkan Anin yang mematung seorang diri.


Entah kenapa dia merasa sangat kecewa. Hatinya terasa begitu amat sakit. Mungkin karena Tessa adalah rivalnya. Itu yang membuat hati Anin terasa sakit.


"Dasar brengs*k, banyak wanita yang lebih cantik kenapa harus sama Tessa?" gumam Anin dengan kesal.


"Nin, kamu kenapa?" tanya Sandra yang melihat wajah Anin begitu kesal.


"Maaf tadi antri jadi lama." Sandra mengira jika Anin kesal karena dia pergi terlalu lama.


"Nggak apa kok. Aku cuma kesel aja sama Defan." Sandra memicingkan matanya.


"Defan? Emang Defan kenapa?" Sandra menoleh ke kanan dan ke kiri, dia juga mengira Defan ada di tempat tersebut.


"Dia kan udah aku kasih tahu kalau aku sama Tessa itu musuh. Eh, dia malah ajak Tessa makan malam, kan brengs*k tuh orang." kata Anin dengan kesal.


"Kamu cemburu?" Anin seketika menoleh.


"Nggak mungkin lah, males banget cemburu sama tuh laki-laki brengs*k. Kayak nggak ada lelaki yang lebih baik dari dia." Anin semakin kesal. Dia merebut minuman ditangan Sandra kemudian menyedotnya habis dalam satu teguk.


"Kamu yakin itu Defan suami kamu?" tanya Sandra mencoba menenangkan Anin.


"Siapa lagi kalau bukan dia? Aku hafal suaranya." jawab Anin dengan kesal.


Tak lama kemudian, Anin menerima pesan dari Defan yang mengatakan jika Defan makan malam diluar dengan Julian dan kakaknya. Dia meminta Anin supaya jangan menunggunya.


Mata Anin membulat saat melihat pesan tersebut. "Tuh kamu baca sendiri, emang dasar laki-laki kampret, mana nggak jujur." Anin semakin kesal.


Karena kesal, Anin berniat tidak pulang sekalian. "Aku nginep di kos kamu ya!" katanya.


"Eh.. Bukannya nggak boleh, tapi aku ada urusan, aku mau ke rumah saudara nggak pulang malam ini. Gimana?" Sandra merasa tak enak hati. Tapi dia memang ada urusan.


"Ya udah deh." jawab Anin dengan tak bersemangat.


"Mian." Anin menganggukan kepalanya. Dia tidak mau membuat Sandra merasa bersalah.


Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah. "Ah, biarin aja. Dia mau kencan sama siapapun, bukan urusan aku." gumamnya seorang diri untuk menenangkan perasaannya sendiri.